The Mafia Millioner

The Mafia Millioner
Perayaan di Bali, Kemenangan Leon 2


__ADS_3

BERBIJAKLAH DALAM MEMBACA KARENA ADEGAN INI BUKAN UNTUK DITIRU NAMUN HANYA SEBAGAI HIBURAN. 😊


TERIMA KASIH. 🙏


JANGAN LUPA BERI LIKE👍 DAN FAVORITKAN KARYA SAYA


.........


Night Party tiba, Leon tengah bersiap menyambut tamu undangan dengan memakai pakaian tuxedo hitam dan terlihat sexy bagi kaum hawa yang menatap dirinya. Suasana pesta di bali begitu meriah menyambut kebahagiaan Leon atas kesuksesan yang ia raih bersama keluarga, teman terdekat, kekasih, dan kolega. Di tengah-tengah pesta ada penyiar kondang menyambut seluruh tamu yang di undang oleh Leon baik dari berbagai negara maupun lokal atas berpartisipasi untuk ikut serta menikmati pesta yang diadakan oleh Leon dalam rangka acara pemindahan saham dan kesuksesannya sebagai pemimpin pengembangan resort Cardion.Presenter kondang memberikan selamat dan memanggil Leon segera naik ke podium untuk memberikan pidatonya sebagai pemimpin muda yang sukses. Tepukan meriah dari para tamu untuk menyambut Leon ke atas podium meskipun para karyawannya Leon terkejut sebentar dan tetap mengikuti untuk bertepuk tangan.


Sementara Ana yang berada di tengah kerumunan masih terkejut dengan tatapan kosong melihat pidato Leon diatas podium. Ana segera kembali menyadari ketika ada sebuah tepukan di pundaknya.


“Lisa!”


“Yah! Dari tadi kamu bengong. Makanya aku panggil tidak menyahut”.


“I’m sorry”.


“Tidak apa-apa karena kamu pasti terkejut begitu pula denganku yang selama ini aku menganggapnya teman biasa namun dia ternyata luar biasa. Aku jadi kagum menjadi temannya An. Karena dia adalah seorang pemimpin milioner yang banyak di impikan oleh para kaum hawa” kata Lisa dengan tangan bersedekap di dada.


Ana tidak menggubris kata Lisa karena dia merasa terkhianati olehnya. Ana meninggalkan pesta pergi menjauh tapi ketika akan melangkah pergi tiba-tiba ada yang menarik lengannya. Ana berbalik badan melihat Leon yang terlihat cemas. Ana masih tidak percaya bahwa kekasihnya yang selama ini selalu di sampingnya dan bekerja dengannya adalah seorang pemimpin utama Cardion.


“Le.. Leon apa maksud dari ini semua?” tanya Ana dengan air mata menetes. Leon mengusap air mata dan membawa Ana pergi jauh dari kerumunan pesta. Leon membawanya ke pinggiran ombak dimana lampu-lampu temaram.


Leon langsung meminta maaf dengan Ana karena dia sejak awal sudah membohonginya. “I’m sorry Ana, aku tidak maksud membohongi kamu. Mungkin awal-awal aku sudah...


Ana memotong perkataan Leon, “ Ja.. Jadi kamu anak Lorenzo” dengan membekap mulutnya.


Leon mengiyakan perkataannya.


Ana kembali melontarkan pertanyaan, “Kenapa kamu berbohong Leon? Aku benci kamu,” dengan memukul dada Leon.


“Dengarkan penjelasan aku..”


Lagi-lagi perkataan Leon di hentikan oleh Ana. Kemudian Ana mengucapkan kalimat “putus, kita hentikan sampai di sini. Karena kita tidak sepadan”, Ana langsung pergi meninggalkan Leon yang masih terpaku kata-kata Ana.


“Oh ****!” Leon menjambak rambutnya karena kesal pada dirinya, lalu ia bergegas menyusul Ana untuk meminta maaf pada dirinya agar kekasihnya tidak meninggalkannya. Entah persetan apa di pesta ia tidak memedulikannya yang dia peduli hanyalah Ana. Leon kemudian mengetuk pintu, “tok... tok...tok. Ana! I’m sorry, aku tidak bermaksud untuk membohongimu” frustrasi Leon dari luar kamar hotel.


Ana tidak menggubris seolah telinganya dibuat tuli. Ia masih termenung di kamar dengan mata sembab. “Kenapa kamu harus berbohong tentang pekerjaannya?. Meski suatu saat nanti kita tidak pantas untuk berpsangan paling tidak kamu jujur dan memberitahukan pekerjaanmu”, batin Ana.


Ana masih saja tetap tidk menggubris ketukan dari luar, yang Ana inginkan hanya untuk sendirian. Kemudian Leon yang berada luar kamar villa pergi ke bar yang ada di dekat villa hotel. Leon sudah tidak peduli persetan di pesta. Saat ini yang ia pedulikan bagaimana dapat bersatu dengan Ana.


Karena Ana masih tidak ingin melihat dirinya Leon pergi meninggalkan pintu kamar hotel milik Ana ke bar dekat hotel untuk menghilangkan jenuh ketika dihadapkan masalah dengan kekasihnya. Ia memesan dua botol whisky ke bartender. Ketika Leon sedang menghabiskan dua botol whisky tiba-tiba Dave dan Dante datang lalu menepuk pundaknya.


“Hai bro!”, sapa Dave.


“Sepertinya kamu sedang ada masalah”, kata Dominic yang menimbrung omongan yang tiba-tiba datang dan duduk di samping Dave.

__ADS_1


“Ahhhh”, hembusan nafas kasar dari bibir Leon. “Ya, aku sedang ada masalah yang membuatku gila. Kenapa wanita pikirannya begitu rumit?”, frustrasi Leon.


“Ya, wanita terlalu sensitif”, jawab Dominic.


“Benar, wanita terlalu sensitif. Apa yang mereka pikirkan belum tentu kita bisa memahami”, kata Dante si playboy.


“Tapi menurutku kelemahan kalian ketika membahas sosok wanita yang kalian sukai membuat seperti dunia runtuh. Ayolah bro, kita biarkan mereka untuk sendiri suatu saat dia akan memaafkan kita”, kata Dante lagi


“Yap kita buat aja happy”, kata Jorsh yang ikut nimbrung dari belakang.


.........


Setelah selesai merayakan pesta mereka mulai membereskan barang-barangnya untuk kembali ke Jakarta. Pestanya terasa mencengkam bagi Leon tanpa ada kebahagiaan bersama sang kekasih Ana. Leon masih merasakan pusing di kepalanya karena terlalu banyak minum anggur.


Ana yang sedang di cari oleh sahabatnya ternyata sudah kembali ke bandara sejak pagi buta. Sekarang ia tertawa bersama Vit yang sedang asyik menikmati waktu istirahatnya.


“Ha ha ha ha, mereka sungguh konyol. Lihatlah Vit”, teriak Ana sambil tertawa.


“Iyakah, bentar aku lagi ambil chiken goreng sama kripik kentang”, kata Vita.


Vita membawa nampan yang terisi penuh dengan camilan.


“Hahaha”, Vita juga ikut tertawa


“Huk huk huk”, Ana tersedak makanan karena terlalu tertawa ketika mengunyah camilan.


“Aku juga nitip minum sekalian”, kata Vita yang masih fokus nonton film warkop.


Ana pergi ke pantry mencari minum kemudian ia menemukan minuman air putih tinggal satu gelas. Setelah meminum tenggorokan dan dada berasa lega. Lalu Ana melihat di dalam kulkas apakah masih ada minuman untuk dibawa ke ruang tengah. Ternyata habis juga minumannya karena gara-gara dirinya yang sejak pagi terlalu banyak makan dan minum tanpa menyisakan satu pun dalam kulkas.


“Vit!” panggil Ana.


“Why!” jawab Vita yang masih fokus makan dan menonton warkop.


“Minumannya habis, aku akan pesan dulu”, kata Ana yang lansung mencari ponsel di sofa.


“What!”, kaget Vita.


“Iya, karena tadi pagi aku terlalu berlarut-larut...ehmmm”, kata Ana masih mencari kata yang pas agar tidak ketahuan jika dirinya sedang patah hati. “Aku tidak boleh bilang karena patah hati, ayo dong An cari kata tepat”,batin Ana yang langsung di jawab Vita dengan tepat sasaran, “Patah hati”.


Ana hanya diam tanpa berkedip. Vita membeo dan memutar bola mata karena ia juga pernah mengalaminya. Kemudian Vita beranjak ke bawah tangga mengambil kardus yang isinya banyak minuman soda. Ana yang sejak tadi heran terkejut melihat di bawah tangga ternyata Vita menyimpan banyak minuman dan makanan entah sejak kapan ia memiliki banyak stok di bawah tangga. Ana yang merasa heran lalu bertanya, “Vit sejak kapan kamu memiliki banyak stok sekardus lagi? Terus kamu dapat darimana?” dengan penasaran dan memilah minuman soda yang memiliki beberapa macam rasa.


“Hehe”, dengang menggaruk tengkuk tidak gatal sambil memperlihatkan senyum konyol, “Kamu pasti heran ya?” tanya Vita


“Iyalah, gimana gak heran kamu memiliki banyak stok, coba aku lihat kardus-kardus ini”.


“Wow, kamu juga menimpan susu pisang produk korea, jeruk mandarin, strobery, mie korea, lalu ini dan ini, wow gila Vit. Kamu benaran holang kaya”,ucap Ana dengan memuji Vita sebagai orang kaya yang membuatnya terkekeh.

__ADS_1


“Bisa aja kamu Ana”, sambil ngedorong Ana hampir sampai terjungkal.


“Sudahlah, yang penting kan kita bisa menikmatinya. Ya, gak”, dengan memainkan dua alis mata pada Ana.


“Yuk, kembali nonton nanti filmnya habis” ajak Vita


Mereka menikmati film warkop dengan tertawa terbahak-bahak dengan di temani banyak camilan hingga tiga film warkop habis. Setelah itu Vita mendapatkan panggilan dari temannya Reno. Vita mengangkat ponselnya ke belakang sedangkan Ana membereskan semua sampah dan mengisi kulkas dengan baranv dari Vita.


“Hallo Ren, ada apa?”


“Vit kamu di suruh pak tua untuk menagih hutang pada si gembrot Jamil”.


“Ya, udah nanti sore aku akan tagih si gembrot itu”.


“Baiklah, jangan buat si tua itu marah-matah”.


“Siapa yang sering membuat pria tua itu marah-marah?", tanya Vio dengan sinis dan Reno yang berada di seberang sana terkekeh sambil menggaruk tengkuk tidak gatal.


“He he, sorry Vit. Habis aku seringkali ada yang membuatku tidak tega”, ucap Reno.


Vita langsung mematikan ponsel sepihak dari Reno. Kemudian ia pergi membereskan sampah bersama Ana dengan diakhiri mereka beristirahat di sofa. Mereka baru istirahat sebentar disuguhi oleh teriakkan Lisa.


“Hallo! I coming!”, dengan menggeret koper yang dia bawa.


Ana dan Vita memutar bola mata karena mereka lelah membereskan pekerjaan rumah.


“Ana! Oh my god! Tadi aku di hotel nyariin kamu malah sudah kembali ke Jakarta. Apa kamu sedang berantem dengan Leon?” tanya Lisa sambil melepaskan sepatu dan menaruh oleh-olehnya.


“Aku sedang lagi badmood” jawab Ana sekenanya.


“Tadi aku melihat wajah dan penampilan Leon berantakan seperti orang patah hati”, kata Lisa.


Ana mendengar itu sedikit terkejut kemudian menormalkan kembali wajahnya dengan berkata, “oh, ya.


Lisa mengangguk kepala dan beranjak pergi ke pantry dapur mengambil susu pisang yang baru saja di taruh dalam kulkas.


Ketika saat kembali Ana dan Vita sudah meninggalkannya sendirian di ruang tengah. Membuat Lisa kesal saat ingin menceritakan bagaimana penampilan Leon dan teman-temannya yang mengkhawatirkan Ana. Namun orang yang akan di ceritakan sudah tidak ada lagi batang hidung dan membuatnya kesal.


Lalu Lisa malah merebahkan tubuhnya di sofa dengan memainkan ponsel sambil tertawa kemudian tertidur.


Waktu menunjukkan pukul 16.00 sore Vita pergi dan berpamitan pada dua temannya. “Gaes, aku pergi dulu. Ada janji nih sama teman. Bye...” dengan melambaikan tangannya.


“Hei! Vit kamu mau kemana lagi?! Kita kan baru ketemu..!”, teriak Lisa


Namun tidak dijawab oleh Vita karena ia sudah terlalu menjauh dan tidak mendengarkan teriakan Lisa. Tetapi malah membuat telinga Ana berdengung karena teriakan Lisa dekat dengan telinga Ana di sampingnya.


“Lisa!”, peringatan Ana yang sedang makan.

__ADS_1


“Iya, iya deh maaf”, kata Lisa sambil cengengesan


__ADS_2