
Malam Pertama Dominic dan Rosiana
Acara sakral telah usai dengan aman dan penuh haru, kini Rosiana tengah duduk di pinggir ranjang dengan gugup.
“Ini seperti mimpi bagiku. Aku yang tadinya amat tidak menyukai pria itu. Sekarang aku telah sah menjadi miliknya. Aku begitu gugup di dalam kamar ini. Meski pun pernah melewati malam pertama karena kecelakaan namun ini merupakan malam pertama dimana usai acara sakral.”
Rosiana menatap cermin sambil memegang dadanya yang sedikit sakit akibat degupan jantung. Ketika tengah melamun, Rosiana mendengar suara ceklekan pintu dari kamar mandi. Rosiana beranjak dari duduknya dan berjalan cepat untuk berbaring dengan berpura-pura tidur. Ia belum siap menerima ritual malam pertamanya dalam keadaan sadar.
Dominic melihat istrinya tengah berpura-pura tidur menyeringai dan berjalan dimana istrinya tidur tanpa sehelai kain kecuali handuk yang melilit dipinggangnya. Dominic mengusap pipi putihnya dan memberikan kecupan sambil memberikan bisikan, “sweety, kamu harus siap malam ini. Kewajiban sebagai istri sah harus dilaksanakan. Jika tidak maka kamu akan berdosa.”
Rosiana mendengarkan bisikan dari bibir Dominic mencoba tidak menghiraukan dengan tetap berpura-pura tidur. Dominic mengetahui istrinya tidak menghiraukan perkataannya ia malah menggoda istrinya mulai dari meniup telinga, memberikan kecupan di pipinya berkali-kali, dan sampai di area yang membuat Rosiana tak bisa mengelak. Rosiana terbangun dengan duduk.
“Dom, apa yang kamu lakukan. Aku lelah sekali”, ucap Rosiana dengan pura-pura menguap sambil mengucek matanya dengan melirik otot-otot tubuh suaminya.
Dominic menyadari lirikan istrinya, ia langsung mengambil tangannya dengan memberikan kecupan dan membawa tangannya untuk menyentuh bagian dadanya.
Rosiana tanpa sadar mengusap bagian dada milik Dominic. Dominic tersenyum menyungging.
“Bagaimana otot-otot di tubuhku? Bukankah sangat menawan otot yang ada di tubuhku?”
Rosiana tanpa sadar mengangguk.
__ADS_1
Dominic tersenyum melihat tingkah istrinya yang malu-malu tapi mau.
“Kalau begitu kita mulai malam ini”, bisik Dominic di telinga Rosiana. Rosiana mulai kelimpungan dengan menjauhkan tangannya. Namun tangan miliknya terlebih dulu Dominic mencekal lalu membaringkan Rosiana di ranjang. Dominic mulai mengecup bagian area wajah sampai ia tak bisa menahan hasrat karena begitu sexy-nya istri yang baru ia nikahi. Ia mulai aksinya dan Rosiana pasrah juga menikmati apa yang diperbuat suaminya.
...
Sinar matahari menembus disela-sela korden. Kini pukul 09.00, ada dua insan pasutri yang masih baru tengah bergelung dalam selimut. Dominic mulai terusik dengan pergerakan Rosiana. Dominic membuka mata dengan pelan-pelan menyusaikan cahaya yang menelisik di sela-sela korden.
Dominic tersenyum menemukan istrinya yang masih betah di bawah alam mimpi. Dominic memberikan kecupan dikeningnya. Dominic masih betah memandangi wajah tidur Rosiana.
“Sweety, kamu sangat sexy”, bisiknya.
Dominic bergegas turun dari ranjang lalu mengangkat tubuh istrinya yang tidak ingin bangun. Dominic membawanya ke dalam bathtub. Dominic menyalakan shower.
Ketika Rosiana sedang berusaha menyadarkan diri tiba-tiba dari belakang Dominic berkata, “morning sweety.”
“Ups, bukan morning. Namun ini mau menjelang siang”, sanggah Dominic.
Rosiana membalikkan badan dengan ekspresi terkejut.
“Apa, yang kau lakukan? Kenapa aku bisa sampai ke bathtub? Jangan-jangan kamu?” Rosiana memincingkan matanya.
__ADS_1
Dominic mengedikan bahunya.
...
Semenjak keluar dari kamar mandi Rosiana masih saja kesal. Dominic begitu keterlaluan. Ia selalu meminta banyak dan tidak pernah memberikan jeda kepadanya.
“Tuan Xavier, harusnya kau tidak bertindak mes*m terus. Aku lelah harus melayanimu tiap jam. Apa kau gak ada puas-puasnya?”
“Tentu saja tidak. Aku selalu merindukanmu. Kamu sekarang milik tuan Xavier. Aku akan memberikan kamu jeda karena hari ini aku ada rapat darurat. Kamu bisa menikmati harimu tanpa aku”, ucap Dominic santai.
“Benarkah?”
Dominic menganggukkan kepala.
Rosiana mengubah ekspresinya menjadi sedih.
“Apakah kamu ingin aku mengganggumu? Terus disampingmu?”
Rosiana mengelak, “tidak, aku hanya memikirkan apa yang harus aku lakukan saat kamu pergi.”
“Benarkah?”
__ADS_1
“Tentu.” Rosiana melahap roti selainya yang tinggal satu gigitan lagi.