
Adrian terkejut atas apa yang diungkapkan oleh Dominic.
“Cinta satu malam?”
“Rosiana pernah melakukan hubungan intim dengan Dominic. Bagiku sebenarnya tidak begitu mengejutkan namun kenapa hatiku merasa nyeri. Padahal aku mendekati Rosiana hanya permainan bidak catur untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh Raymond”.
“Aku lebih merasa kecewa dari pada tidak terlihat sama sekali”.
Ketika Adrian berkecamuk dengan otak kecilnya, Rosiana datang dan Dominic tersenyum menyeringai.
“Kau..!” Rosiana mengetatkan giginya melihat Dominic bersama Adrian.
“Hai, sudah lama kita tak berjumpa”, sapa Dominic sambil mengedipkan sebelah mata.
Rosiana mengacuhkan sapaan Dominic karena ia tahu kalau Dominic mempermainkannya semenjak dia menggeretnya pergi tadi.
“Adrian, apakah kita bisa berlanjut pergi?” tanya Rosiana.
“Kenapa pergi?” tanya Dominic dengan alis sebelah terangkat.
“Adrian, Apa kau masih ingin di sini?” tanya Rosiana dengan mengabaikan keberadaan Dominic yang terus mempermainkannya.
“Tentu tidak”, ucap Adrian.
Rosiana berjalan mendahulu Adrian. Adrian mengikuti dari belakang. Dominic yang masih duduk santai menyeringai sambil melihat punggung Rosiana yang semakin jauh.
......
...
Adrian menyetir sedikit tidak fokus karena teringat perkataan Dominic yang terus berdengung di telinganya. Lalu Adrian memutuskan untuk bertanya kepada Rosiana untuk menghilangkan rasa penasarannya.
“Rosi!” panggil Adrian. Rosian menoleh ke arah Adrian. “Ada apa?”
Adrian mengusap tengkuknya yang terasa gatal sambil mengambil nafas.
“Aku mau bertanya hubunganmu dengan Dominic”ucap Adrian.
“Hubunganku dengannya hanya ..” ragu Rosiana sambil menautkan jemarinya.
“Hanya apa?” tanya Adrian dengan ekspresi penasaran.
“A..ku dan d..dia uhmm..” jeda Rosiana dengan penuh keraguan. “Aku takut jika Adrian akan kecewa apa yang akan aku ungkapkan. Namun jika tidak ku ungkapkan akan semakin kecewa jika ia tahu dari orang lain. Suatu hari kebohongan akan terbongkar. Lebih baik aku jawab dengan jujur”, ucap hati Rosiana.
Rosiana menghebuskan nafas dalam-dalam lalu ia mengungkapkan hubungannya dengan Dominic dengan menutup matanya.
“Aku dan dia hubungan satu malam” ucap Rosiana dengan cepat.
“What?!” Adrian terkejut dengan menginjak pedal dadakan.
“Akan aku jelaskan baik-baik” ucap Rosiana dengan mata tertutup.
“Katakanlah” perintah Adrian.
“Kami se..sebenarnya tak sengaja bertemu saat itu di Italy. Waktu itu aku tengah hancur, dan malam itu merupakan kecelakaan yang tidak ku duga bahwa aku telah melewati satu malam dengannya” jelas Rosiana dengan menundukkan kepalanya.
“Maaf” ucap Rosiana.
Adrian tak bisa merespon, ia hanya dapat menghela nafas dengan berat, lalu ia melanjutkan perjalanannya sampai di kediaman Rosiana dengan suasana hening.
......
...
__ADS_1
Perjalanan cukup panjang, kini Adrian telah berhenti dikediaman Eric. Rosiana keluar dari mobil Adrian dengan rasa bersalah. Adrian pun hanya diam dan langsung pamit pulang tanpa ada kata manis yang keluar dari bibirnya.Adrian langsung melesat pergi membawa mobilnya. Rosiana menghela nafas kasar sambil berkata dalam , “maaf jika membuatmu kecewa”.
Rosiana berjalan masuk ke rumahnya dengan perasaan antara sedih dan kecewa.
Ketika ia berjalan sambil melamun tanpa memperhatikan sekitarnya, ia terkejut ada yang menepuk pundaknya.
“Mom!” Rosiana berjingat.
“What happen sweety?” tanya Grace.
Rosiana hanya menundukkan kepala karena dia tidak mampu mengangkat kepalanya sebab dirinya telah mengecewakan kedua orang tuanya yang selama ini ia hormati.
Grace pun mengabaikan pertanyaan tadi dan mengalihkan pembicaraan lain dengan menyuruh Rosiana untuk beristirahat. Rosiana pun pergi tanpa kata.
Grace melihat punggung putrinya merasa sedih melihatnya galau setelah pergi bersama Adrian. Grace bertanya-tanya, “apa yang dilewati putriku hari ini? Kenapa ia terus menekuk wajahnya? Aku akan tanyakan setelah ia beristirahat nantinya”. Grace pergi ke teras belakang menemui suaminya yang tengah asyik membaca.
Grace duduk di sampingnya dan melanjutkan acara minum teh manisnya tanpa menceritakan kejadian putrinya hari ini karena Grace takut jika menceritakan ekspresi Rosiana, suaminya akan mencerca beryubi-tubi sampai emosi yang tak terkontrol.
......
...
Di dalam kamar Rosiana tengah memikirkan bagaimana caranya untuk menebus rasa bersalah kepada Adrian sambil membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya. Lalu tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan perutnya terasa tak karuan seperti ingin memuntahkan sesuatu dalam perutnya. Rosiana beranjak dari ranjang ke kamar mandi lalu ia memuntahkan sesuatu namun tak ada yang keluar cuman hanya ludah saja.
Rosiana berjalan ke ranjang untuk membaringkan diri dengan kepala berputar-putar sampai ia pingsan tanpa diketahui siapa pun di rumahnya sampai makan malam tiba.
Grace yang sudah selesai menyiapkan hidangan di meja makan, Grace tak menemukan tanda kalau putrinya sudah keluar dari kamarnya.
Grace pergi memanggil Rosiana di kamarnya sebelum Eric banyak tanya soal putrinya yang tidak muncul setelah kepulangannya kencan dengan Adrian.
Grace mengetuk pintu beberapa kali sambil berteriak memanggil putrinya tak ada respon membuat Grace gelisah memanggil suaminya.
“Eric!”
“Eric!”
“Eric!”
“Ada apa?” tanya Eric dengan mengerutkan dahinya.
“Putri kita..” panik Grace
“Kenapa?”
“Dia sejak tadi di kamar. Lalu aku memanggilnya namun gak ada respon. Aku takut dia kenapa-napa” sedih Grace.
“Ayo, kita coba buka pintunya dengan kunci cadangan” ajak Eric dengan melangkah lebar.
Eric mengambil kunci cadangan kamar milik Rosiana. Ia memutar kuncinya lalu membuka dengan pintu di banting sedikit keras. Grace berlari menghampiri putrinya yang tertidur pulas. Grace menepuk kedua pipinya dengan bergantian sambil menyebut putrinya namun tak kunjung ada respon. Kemudian Eric memanggil dokter langganannya.
“Hallo Andy, tolong datang ke rumahku sekarang. Putriku sekarat” jelas Eric dengan panik.
“Baiklah, aku akan ke sana” ucap Andy.
Eric mematikan sambungan secara sepihak. Eric membantu Grace menyadarkan Rosiana yang tak kunjung sadar. Grace sangat gelisah sampai ia mengeluarkan air mata. Beberapa lama kemudian Andy datang dan langsung melesat ke kamar Rosiana.
Andy langsung mengeluarkan alat medisnya dalam tasnya. Andy mencoba memeriksa Rosiana dengan telaten.
Grace yang sejak tadi gelisah tak sabaran bertanya perihal putrinya.
“Bagaimana putriku?”
“Dia kelelahan” jawab Andy.
__ADS_1
“Jika dia kelelahan bukankah tak sampai dia begini” ragu Eric.
“Dia kelelahan karena bawaan hamil” ucap Andy.
“What’s?!” terkejut Eric dan Grace bersamaan.
“Hamil?!” seru Eric.
“Apa kamu tak mengtahui itu?” tanya Andy.
“Siapa yang berani menghamili putriku?” Eric marah dengan mengepalkan ke dua tangannya sampai kuku jari memutih dan otot-otot di tangannya terlihat.
Saat amarah Eric memuncak, Rosiana tersadar dari pingsan. Eric langsung memberinya pertanyaan kepada putrinya yang baru saja bangun.
“Siapa yang menghamilimu?” tanya Eric dengan gigi mengetat dan ekspresi garang.
“Tunggulah, biarkan Rosiana beristirahat dulu. Jangan kamu cerca pertanyaan” seru Grace sambil membantu Rosiana mengambil posisi duduk.
“Jawab daddy! Siapa yang menghamilimu?!” sentak Eric.
Rosiana mulai ketakutan ketika melihat mata ayahnya menyalang.
“Jawablah Rosi!” ucap Eric dengan nada rendah sambil memegang kedua pundak putrinya.
“Sabar Eric” ucap Andy.
“Eric, kamu jangan terlalu keras dengannya. Ia baru saja terbangun dari pingsan” marah Grace.
Eric menghembuskan nafas dengan kasar sambil teriak untuk menghilangkan emosinya dan berjalan pergi.
Grace menenangkan Rosiana.
“Sayang, kamu minum dulu” ucap Grace menyodorkan air untuk putrinya.
Andy berdehem untuk menetralkan suaranya. Grace mendengar deheman Andy menatapnya.
Andy berpamitan pergi. Grace menganggukkan kepalanya.
Usai kepergian Andy, Grace menyuruh Rosiana beristirahat.
Rosiana kembali berbaring dengan ditemani Grace. Grace ikut berbaring menemani putrinya.
“Ceritanya besok sweety. Sekarang beristirahatlah. Jangan pikirkan soal ayahmu. Dia akan mengerti posisimu” ucap Grace sambil mengusap dahi milik Rosiana.
Esok harinya, Rosiana berhadapan dengan Eric usai sarapan pagi di kamar. Eric langsung bertanya ke intinya tanpa menghiraukan ketakutan Rosi terhadapnya.
“Siapa yang menghamilimu?”
“Jawablah, daddy gak mau mengulang pertanyaan yang sama”, ucap Eric dengan nada rendah.
Grace berada di samping Rosiana mengusap pundaknya sambil membisikkan kalimat penenang.
“Jangan ragu nak. Momy selalu di sampingmu. Jawablah”.
Rosiana menarik nafas lalu ia hembuskan kemudian menjawab dengan lirih.
“Dominic”
“Siapa?!” bentak Eric.
“Dominic dad”.
Eric mengumpat kasar lalu ia pergi dengan langkah terburu-buru.
__ADS_1
Rosiana yang berada di kamar memeluk ibunya dengan isak tangis sambil merutuki dirinya. Grace hanya mampu mengusap punggung putrinya.