
“Kring.. kringg..kringgg” suara alarm berbunyi namun dia tetap tidak terbangun. Sedangkan Jinwoo yang menyetel alarm sudah bangun sebelum alarm berbunyi dan selesai berkutat dengan sarapan pagi. Setelah itu Jinwoo melirik jam dinding dan bergegas pergi ke kamar membanhunkan Vita yang masih terlelap dalam tidurnya.
“Vita bangun! Vita! Nanti kamu telat!”, panggil Jinwoo dengan sabar membangunkan.
“Uhmm”, lenguh Vita dengan membalikkan tubuh membelakangi Jinwoo yang dipinggir ranjang.
“Vita!”, panggil kembali dengan memencet hidungnya.
“Oppa sebentar lagi, aku masih mengantuk”, ucapnya dengan mata masih tertutup seolah enggan membuka mata.
Jinwoo yang sudah kehabisan untuk membangunkan Vita, ia menggendong dengan membendong tubuh Vita dengan selimut dan membawanya ke kamar mandi. Jinwoo membersihkan wajah Vita yang masih matanya tertutup dan membuat Vita mengaduh karena usapan tangan Jinwoo di wajahnya. “auchh.. Oppa pelan-pelan, aku mau bolos saja ya oppa. Aku malas ke sekolah”, ucap Vita yang dibalas oleh Jinwoo dengan membasuhkan air ke wajahnya dengan mengadu sedikit kesakitan, “auch.. Oppa!”, dengan memegang tangan Jinwoo.
Vita akhirnya menyerah dan menyuruh Jinwoo untuk keluar. “Baiklah, aku akan lakukan sendiri untuk membersihkannya. Sekarang Oppa keluarlah!”, kesal Vita yang sudah lepas dari lilitan selimutnya. Jinwoo keluar dan menunggu Vita keluar dari kamar di meja makan yang sudah tersedia sarapan pagi yang ia buat dengan membaca beberapa file penting yang dikirim oleh karyawannya.
Sudah lebih dari tiga puluh menit Vita keluar dari kamar enggendong ransel di pundaknya dengan lesu dan duduk di sebelah Jinwoo.
“Oppa lebih baik aku bolos saja ya, badanku gak enak nih”, ucap Vita dengan memohon.
“pletak”, pukul Jinwoo di kepalanya.
“Auch..”, Vita mengadu kesakitan.
“Bodoh, ayo makan. Nanti kamu, aku akan antar ke sekolah setelah selesai makan dan jangan menghindar, mengerti”, ucapnya dengan mengancam.
Vita hanya pasrah sambil memakan soup yang dibuat oleh Jinwoo dengan tidak bertenaga. Setelah menyelesaikan sarapan Jinwoo menarik lengan Vita dan meminta kunci motornya. Ia menyerahkan kuncinya pada Jinwoo.
“Ayo naik, nanti kamu telat Vita!” ajak Jinwoo dengan gemas.
“iya, iya..”, jawab Vita dengan tidak semangat.
Jinwoo menyalakan motor dan langsung melesat mengatar Vita ke sekolah dengan melewati jalanan macet dengan menyusuri jalan panjang di Jakarta menuju sekolahnya. Dengan membutuhkan sedikit waktu yang lama akhirnya mereka tiba di gerbang sekolah Vita. Jinwoo menyuruh Vita turun.
“Turunlah, sudah sampai”, perintah Jinwoo.
Vita menerima perintahnya dan melepaskan helm lalu diberikan kepada Jinwoo dengan mengatakan, “Kita kembali lagi yuk Oppa. Aku sedang tidak mood nih”, ucap Vita kembali.
“Yahh, jangan buat aku marah. Sekarang masuklah ke kelas. Nanti aku jemput, jangan banyak mengeluh”, ucap Jinwoo dengan marah.
Vita lalu memasuki gerbang sekolah yang masih diamati oleh Jinwoo dengan kepalanya menoleh ke arah Jinwoo untuk menyuruhnya keluar namun nihil. Jinwoo tetap pada pendiriannya menunggu Vita sampai masuk dan menghilang. Kemudian Jinwoo pergi meninggalkan gerbang sekolah.
Vita berjalan menyusuri pelataran kelas hingga sampai pada kelasnya. Ketika sudah di dalam kelas dan duduk tiba-tiba ada suara bariton memanggil namanya,”Vita!” dengan menghampirinya.
Vita menyapa kembali, “ohh kamu dit”, dengan bertanya, “ada apa?”. Adit yang mendengarkan pertanyaan dari Vita, ia memukul kepalanya, “pletak”, Vita mengadu kesakitan,”auchhh”, dengan kesal dan menggerutu, “ kenapa akhir-akhir ini banyak sekali yang suka mrmukul ke palaku? Lama-kelamaan bisa-bisa benjol besar”.
Adit yang mendengarkan gerutuan Vita terkekeh. Ia bertanya pada Vita, “Kenapa tumben masuk?”.
Vita menanggapi, “Cielahh baru juga satu minggu tidak berbulan-bulan”, jeda Vita, “Kamu kangen ya ama aku”, ucapnya dengan kepedean.
“Enak aja kangen..”, jeda Adit.
“Aku kesini itu mau meberikan catatan yang selama ini kamu tinggali”, ucap Adit sambil mengusap kepala Vita dan tersenyum.
“Makasih, baik banget sihh”, kata Vita dengan ucapan yang dibuat-buat sambil mencubit pipi Adit.
Adit menanggapi ucapan Vita, “Aku itu bukan baik tapi hanya kasihan saja dan aku akan tetap menagih balas budi kamu”.
“Yahhh, harus balas budi”, ucapnya kecewa.
“Tenang balas budinya tidak susah kok, kamu harus mentraktir aku selama dua minggu dan mengajak aku jalan-jalan. Biar uang aku ngirit”, jelasnya dengan menaik turunkan alis tebalnya.
“Baiklah..”, Vita menyangguhi permintaan Adit.
Bel masuk berbunyi ketika Adit akan beranjak ke kelasnya Vita mengucapkan terima kasih kepadanya. Lalu Adit yang mendengarkan itu mengatakan,”Ok”, dengan menujukkan ibu jari dan telunjuk berbentuk huruf “O”.
Pelajaran pertama sejarah di mulai dengan mengumpulkan tugas rumah, ketika Vita mendengarkan perintah Bu Nisa, dia langsung kelimpungan karena lupa mengerjakan tugas minggu lalu. Ketua kelas yang sedang menarik tugas rumah akan mendekatnya dan Vita melihat buku berwarna coklat diatasnya tertempel nota kecil lalu langsung mencabutnya ketika ketua kelas sudah berada di mejanya setelah mengeceknya dan langsung dikumpulkan dengan senyum. Ia tidak mau kena semprot lagi dengan air liur bu Nisa. Selama tiga jam berturut-turut pelajaran akhirnya bel sekolah berbunyi waktu istirahat dan diakhiri dengan ucapan salam. Vita yang sedang membereskan buku ke tas tiba-tiba Adit datang dan mengajaknya pergi ke kantin menagih janji untuk mentraktirnya.
“Vita!”, panggil Adit sambil melangkah kearahnya.
__ADS_1
Vita yang di sapa mengacuhkan dan memilih membereskan bukunya.
“Ayo Vit, kamu harus menepati janji buat mentraktir kapan saja. Jangan mengingkarinya lho, hari ini aku lagi ngirit”, ajak Adit sambil terkekeh dengan menarik lengan Vita. Mereka berjalan beriringan menuju ke kantin dan sampainya di kantin Adit mencari tempat duduk yang masih memegang tangan Vita.
“Kita duduk di sana saja!”, ajak Adit.
“Okay”, yang diangguki oleh Vita.
“Kita mau pesan apa?” tanya Adit.
“Aku mau pesan bakso, siomay, batagor, dan jus jeruk”, jawab Vita dengan senyum terpaksa.
“Baiklah, kalau begitu aku akan pesankan ke sana”, ucap Adit dengan beranjak berdiri. Ketika Adit akan memesankan makanan Vita menghentikan langkahnya dan menawarkan diri untuk memesankan makanan.
“Aku saja yang pesankan dan kamu duduk disini. Kamu tinggal katakan padaku apa yang ingin kamu makan?” ucap Vita yang masih duduk.
“Jangan biar aku”.
“Aku saja”.
Perdebatan mereka tidak akan berakhir jika tidak segerah pesan bisa-bisa waktu istirahat berakhir. Pada akhirnya Vita duduk berdiam dan Adit yang memesankan menu makanannya.
Di tempat lain seorang wanita sedang berdebat lewat ponsel dengan kekasihnya di kantor dan menjadi objek rekan kerjanya yang melihatnya.
“Aku tidak akan mau jadi sekretaris kamu, mengerti!”, ucap Ana dengan mengetatkan giginya dan berbisik agar tidak terekspos hubungan mereka yang sudah dekat menjadi bahan gosip dari rekan kerjanya.
“Ana jika kamu tidak mau, saya akan menjemput kamu biar seluruh karyawan tahu kamu adalah kekasihnya Ceo di kantor ini”, perintah Leon dengan mengancam.
“Aku sudah bukan kekasih kamu dan berhenti”, ucap Ana yang masih berbisik.
“Oh ya, jika begitu aku akan menjemput kamu”, ucap Leon yang tidak menyerah.
“Baiklah, aku akan ke ruangan kamu”, ucap Ana yang menyerah dan langsung beranjak.
Ketika Ana sudah pergi meninggalkan meja kerjanya Vera langsung bertanya ke Lisa.
“Masa sih Lis kamu tidak tahu. Kamu kan teman dekat Ana satu kos lagi”, ucap Rangga yang menimbrung dan diikuti lainnya.
“Aku tidak tahu, emang kalau dekat harus tahu semuanya gitu”, ucap Lisa yang masih berkutat dengan komputernya agar tidak dicerca dengan lainnya. Sedangkan orang yang sedang diomongin sedang meluapkan amarahnya pada Leon.
“Aku tidak suka Leon, masalah pribadi kamu campur adukan dengan pekerjaan. Harusnya kamu itu pro.fe.sio.nal”, ucap Ana dengan nada tinggi.
“Saya Ceo kamu, terserah saya mau menepatkan karyawan saya dimana?” tanya Leon sang penguasa perusahaan yang di tempati oleh Ana untuk bekerja.
“Pokoknya aku tidak mau”, gemas Ana dengan menghentakkan kakinya.
“Please An, maafkan aku yang sudah membohongimu. Aku sebenarnya tidak ingin membohongimu, soal aku jadi atasan kamu. A..aku mendekati kamu bukan mengejek kamu matre tapi aku ingin kamu menerima aku apa adanya”, ucap Leon dengan wajah menyesal dan sedih.
Ana tersentak dengan pembicaraan Leon pada kalimat, “matre”, membuat darah Ana mendidih.
“Jadi kamu kira selama ini aku itu hanya suka harta kamu. Aku menyukaimu karena kamu itu baik dan mengisi hati aku yang selama inj kosong Leon”, ucap Ana.
Lalu Ana menghembuskan nafas panjang dan mengatakan, “Aku tidak ingin dengar alasan kamu titik”, ucapnya dengan amarah dan akan melangkah pergi dari ruangan namu di tahan lengannya oleh Leon.
“Kamu mau kemana?”, tanya Leon dengan sorot mata tajam.
“Aku mau kembali ke tempat kerjaku, sekretaris bukan fashionku”, suara Ana dengan nada rendah.
“Jika kamu berani melangkah.., aku akan menjemput kamu dan mengekspos bahwa kita dulunya pasangan kekasih dan jangan pernah coba.., kamu ingin mengundurkan diri karena kontrak kerja kamu belum selesai.. dan kamu harus ganti rugi 480 juta”, ancam Leon dengan dingin dan kejam.
Ana yang mendengarkan ancaman Leon menganga dan membalikkan tubuhnya dengan mengatakan, “kamu egois!”, lirih Ana. Leon yang mendengarkan perkataan Ana hanya mengedikan bahu.
Ketika Ana akan keluar Leon bertanya, “Kamu mau pergi kemana?”, dengan iris mata tajam.
“Aku mau membereskan barang-barang”, ucap Ana
“tidak perlu, barang-barang kamu sedang si bereskan oleh kaki kanan saya Dion. Kamu duduk di meja yang sudah di sediakan”, kata Leon yang sudah terduduk di meja kerjanya dan berkutat dengan dokumen. Ana melangkah dengan penuh amarah dan menghentakkan kakinya. Setelah perdebatan panjang, mereka terdiam dan mengerjakan tugas masing-masing dengan suasana hening hingga jam istirahat tiba. Leon beranjak dari tempat duduknya dan mengajak Ana untuk makan siang bersama namun diacuhkan olehnya.
__ADS_1
“Ana, kita pergi makan bersama”, ajak Leon yang sudah berada di depan meja kerja.
“Aku masih ingin mengetik. Makan sianglah sendiri. Aku akan pergi makan siang ke kantin”, jawab Ana yang masih fokus pada layar komputer.
“Jika begitu kita makan di kantin”, ucap Leon yang tidak menyerah.
“Aku tidak mau dengan kamu”, ucap Ana.
“Jika begitu, kita makan bersama-sama di ruangan ini dan saya akan pesankan makanan lewat online”, ucap Leon sambil mengeluarkan ponsel di dalam saku celana samping kiri. Pada saat akan memesankan makanan, Ana beranjak dari duduknya lalu melangkah keluar dan Leon yang melihatnya mematikan ponsel lalu mengikuti langkah Ana keluar tetapi tiba-tiba dua sahabatnya datang Johan dan Dante. Ana yang berada di ambang pintu menyuruh kedua sahabatnya masuk lalu pergi meninggalkan Leon yang sedang mengumpat, “Oh shitt”, dan menyalahkan sahabatnya, “ kenapa kalian datang tidak di waktu yang tepat”, kesal Leon.
“I’m sorry”, permintaan maaf Dante dengan mengangkat kedua tangan.
“Ada apa kalian kesini?”, tanya Leon
“Apa kamu tidak mau mempersilahkan kami duduk”, ucap Johan menawarkan diri. Lalu Leon mempersilahkan duduk ke dua sahabatnya.
“Jadi?”, tanya Leon.
“Ini dokumen mengenai black dog yang di bentuk oleh Charles dan Raymond. Mereka ternyata sudah membentuk gengnya sampai merambah di kancah asia terutama di Indonesia”, ucap Johan
Leon mengambil dokumennya dan melihat seksama wajah-wajah pada gambar di kertas dan membaca asal usul mereka. Sedangkan Johan dan Dante menjelaskan secara detail.
“Geng yang ada di sini bernama “Drak” yang dipimpin oleh Rajaswara”,jelas Dante
“Apa susunan rencana kalian?”, tanya Leon sambil meletakkan dokumennya.
“Kami masih belum rencanakan karena mereka terlalu berbahaya”, ucap Johan.
“So, Dominic ingin kita berkumpul malam ini di vila penginapan milik Johan”, ucap Dante.
Sedangkan Ana yang berada di kantin dan di temani oleh Lisa, sedang makan seperti kesetanan membuat Lisa bergidik ngeri cara makan Ana.
“Hei An, kamu itu harusnya memaafkan Leon”, saran Lisa
“Gimana aku memaafkan, dia sudah bilang jika aku itu matre”, kesal Ana yang masih mengunyah sisa makanan di mulutnya.
“Dimana Leon bilang matre ke kamu. Dari tadi aku mendengarkan cerita kamu Leon tidak bilang kamu itu matre”.
“Pokoknya dia bilang, jika percaya dia tidak harus menyembunyikannya kan, Lisa” sambil menelan nasinya
“Iya juga sih”.
“Dia itu pria egois, seenaknya, dan kejam”, ucapnya dengan meminum es lemon tea.
Mereka kemudian berdiam menikmati makanan tanpa obrolan. Ketika Ana sudah menghabiskan seteguk air lemon tea, Ana memberitahukan Lisa bahwa kekasihnya berada di ruangan Leon.
“Oh ya Lis, tadi aku bertemu Johan di ruangan Leon”, ucap Ana sambil membersihkan mulutnya.
Lisa tersentak dan menyalahkan Ana, “Kenapa kamu baru bilang sekarang? Harusnya dari tadi. Apa Johan sudah pergi?”
“I don’t no”, ucap Ana mengangkat bahunya.
Lisa langsung beranjak pergi dengan berlari terbirit-birit menuju lift ke ruangan Leon. Sesampainya di sana, ruangan Leon kosong dan Lisa kecewa. Lisa kembali ke meja kerja dengan lesu dan mengambil ponsel menghubungi Johan tapi sambungan telephonenya tidak aktif dengan menggerutu, “kenapa dia tidak menghubungiku? Aku kan rindu dengannya. Dasar cowok berengsek. Vera yang lewat mendengar umpatan Lisa bertanya, “ada apa Lis, dengan kqmu?”. Lisa tidak menjawab dengan kepala disandarkan ke mejanya.
Sudah pukul 08.00 malam lewat Ana bersiap-siap memebereskan barang untuk pulang. Setelah menyelesaikan Ana beranjak pergi dan melangkah keluar. Ketika sudah sampai ke ambang pintu, Leon mencekal lengan Ana.
"Kita pulang bersama dan sudah malam tidak baik perempuan pulang sendiri", ucap Leon dengan menawarkan diri.
"Tidak perlu, aku akan pulang bersama Lisa dan aku sudah pesan taxi online", sambil menghempaskan tangan Leon lalu melangkah pergi keluar dan memencet lift yang diikuti oleh Leon.
"Ting", Ana masuk kedalam lift yang masih diikuti Leon dan Ana merasa lelah dengannya. Dia tidak ingin berdebat kembali. Di dalam lift suasana hening tanpa adanya obrolan hingga lift berdenting kembali. Lalu Ana memanggil Lisa yang menunggu di parkiran ketika ia sampai di pelataran kantor.
"Lisa!", panggil Ana
"Kenapa lama?", tanya Lisa dengan wajah kusam
"Sorry, ayo masuk ", ajak Ana yang sudah di tungguin taxi online yang ia pesan dan meninggalkan Leon sendirian yang sedang menatap punggung kekasihnya. Leon tidak ingin berdebat pada saat ini dan mengurungkan niatnya untuk menghentikan Ana dan melepaskannya biar pulang dengan temannya. Ia juga masih ada janji dengan teman dan rekan kerjanya di villa Johanson Jones.Leon harus mengalah saat ini dan meyalakan mesin mobilnya meninggalkan perusahaan yang ia pimpin.
__ADS_1