The Mafia Millioner

The Mafia Millioner
Menemukan yang Telah Lama Hilang 3


__ADS_3

Kini Vita sedang menunggu hasil operasi Reino bersama Duran dan Koreng di bangsal. Ketika dalam keadaan mencengkam tiba-tiba ibunya Reino datang dan langsung menampar Vita,”plak”. Keadaan semakin memburuk dan Duran juga semakin sakit kepala melihat ibunya Reino yang berteriak histeris di depan Vita.


“Kamu benar-benar anak si*l dari dulu aku tidak menyukaimu apalagi dengan nenekmu yang sudah mat*! Huhuhu.., jika sampai kenapa-napa dengan anakku aku akan membalas kematian anakku. Ingat itu baik-baik”, ucap ibunya Reino dengan menarik kaos Vita sambil menangis berderai. Lalu Duran yang melihat itu membela namun oleh Vita dihentikan.


“Sekarang pergilah dari sini”, usir ibunya Reino. Vita melangkah keluar dari bangsal mengikuti perintah dari ibunya Reino dan ia duduk di ruang tunggu di area pintu keluar. Setelah kepergian Vita, Duran mulai aksinya untuk membela Vita.


“Tuan Duran”, panggil ibunya Reino, “terima kasih membawa anakku kesini”, ucapnya sambil menangis dan mengusap ingus.


“Ya, sama-sama”, ucap Duran dengan kedua tangan berada di saku celana. “Anda salah telah melakukan hal buruk kepada Vita.., yang sudah menolong anak kamu. Semua yang menimpa Reino itu kesalahannya sendiri!”, bentak Duran yang tidak bisa menahan emosi lagi di wajah ibunya Reino yang terus menyangkal membuatnya ingin memukul wajah tebal milik ibunya Reino bernama Widayanti. Ketika akan menampar wajahnya, dua anak buah Duran menenangkan agar tidak membuat keributan.


Setelah satu setengah jam lamanya dokter keluar dari ruang ICU dan mengatakan bahwa pasiennya baik-baik saja. Membuat selurung orang yang berada di ruang ICU lega begitu juga dengan Vita yang mendengarkan secara diam-diam dibalik tembok dan langsung melesat pergi dengan kaki terpincang-pincang.


Setelah Duran mendengarkan jika Reino baik-baik saja ia akan melangkah pergi namun diurungkan dan membalik badan lalu mengancam kepada Widayawanti selaku ibunya Reino. “Saya peringatkan, jika kamu sekali lagi semena-mena dengan anakku..., aku akan buat dia tidak dapat penghasilan dan kamu juga tidak bisa menikmati harta seperti sekarang ini..,”jeda Duran dengan menghadap ke belakang, “asalkan kamu tahu harta yang telah kamu nikmati itu hasil kerja keras Vita. Reino anak kamu yang bodoh itu tidak pernah memberikan hasil apa-apa dan aku punya bukti juga saksi”, ucap Duran dengan geram sambil meludahkan di depan orang tua muka tebal. Lalu dia pergi meninggalkan bangsal ICU.


Kini Vita berada di apartemen sedang membersihkan luka memar di wajah dan luka sobek di kaki. Dia mengobati dirinya dengan lihai setelah ritual mandinya. Lalu merebahkan badan di ranjang dan menangis dalam dekapan kemudian terlelap.


Sedangkan Ana dan teman-teman lainnya berfoto untuk melepaskan masa lajang Ana dan Leon. Setelah itu memberikan ucapan selamat dengan meniupkan terompet kemudian mereka berpamitan setelah jam tengah malam sesuai ajuan dari pak Rt.


Paginya Vita terbangun dari tidurnya karena suara deringan ponsel lalu ia mendeal up.


“Hallo Vit”, sapa orang di seberang sana.


“Hallo, siapa ya?”,sapa dan bertanya dari Vita.


“Yak, kamu masih tidur”, teriak orang di seberang sana. Membuat Vita terkejut melihat nama yang tertara di layar ponselnya lalu terbangun dari alam mimpinya.


“Hallo,onnie.Aigoo..sudah lama kita tidak berjumpa. Ada gerangan apakah ini?”, ucap Vita dengan kekehan dan kantuknya yang menguap.


“Aku ada di depan pintu apartemen kamu. Bukalah, aku dan Soobin lelah menunggumu di luar”, ucap Yoora dan langsung mematikan ponselnya sepihak. Vita beranjak dari tidurnya membuka pintu apartemen sambil menggaruk rambut dengan wajah kusut penuh lebam dan mulut yang menguap terus.


“Kamu tadi malam habis ngapain sih?”, tanya Yoora dengan berjalan menuju sofa dan membawa oleh-oleh untuk Vita.


“Aku ada bisnis”, ucapnya dengan duduk di sofa single.


Yoora terkejut dengan wajahnya dibalik rambut yang menutupinya dan kaki penuh perban lansung berteriak.


“Yak, kamu habis ngapain sih wajah kamu kok bisa ancur begini dan lagi kaki kamu penuh perban..,” ucapnya dengan keras sambil memegang kepala Vita di toleh ke kiri-kanan.


“Waoo, kamu benar-benar tidak pantas jadi wanita. Jika kamu seorang wanita harus menjaga tubuhmu tanpa ada goresan apapun”, omel Yoora yang diikuti diam-diam oleh anaknya tanpa sepengetahuannya.


“Onnie, aku mau mandi dahulu”, ucap Vita sebelum bibir itu keluar kalimat lagi. Ia langsung melesat dan Yoora pergi ke dapur meracik makanan untuknya.


Beberapa lama kemudian Vita keluar dan menyantap makanan buatan Yoora dengan mendengarkan suguhan omelan.


Alena bersama Hana sedang berjalan-jalan di mall dengan mencoba beberapa gaun. Mereka mencoba memilihkan gaun malam untuk Ana yang akan menikah dengan Leon. Setelah itu mereka pergi ke pusat perbelanjaan makananan.


“Alena coba gaun dress pendek dengan dilapisi brokat warna merah. Gaunnya sangat cantik”, ucap Hana dengan langsung memanggil pelayan wanita.


“Mbak kami ingin gaun ini, apakah gaunnya masih ada lagi. Kami ingin memakai gaun yang serasi dengan teman saya”, ucap Hana.


“Masih ada satu lagi namun modelnya tidak sama tetapi gaunnya terlihat serasi jika dipadukan”, tawar sang pelayan sambil mengambilkan gaun dress warna merah dengan lapisan brokrat.


Saat pelayan membawakan gaunnya, mata Alena dan Hana berbinar melihat gaun yang ditunjukkan oleh pelayan.


“Sangat indah ya, Han” puji Alena.


“Iya, tapi cocoknya untuk remaja bukan orang tua seperti kita” dengan disetai kekehan.


“Umm, gimana gaun ini aku ambil, aku ingin memberikan kepada seseorang yang telah lama hilang”


“Bagus itu, untuk pacarnya Lucas atau Devan? “, tanya Hana namun Alena hanya menjawab dengan senyuman.

__ADS_1


Kemudian mereka keluar dengan membawa beberapa gaun yang dibeli meskipun tidak menemukan gaun serasi bagi mereka orang tua pakai gaun apa saja tetap sama.


Jalan-jalan di mall mengasyikkan bagi Yoora karena dia memilih banyak gaun yang ia beli. Sedangkan Vita dan Soobin amat lelah mengikuti Yoora sana kemari.


“Apa eomma tidak lelah?”, tanya Soobin.


“Tidak”, jawab Yoora.


“Yuk, kita makan saja”, ajak Vita.


“Sebentar Vit aku itu masih perlu cari sepatu yang cocok untuk kakiku”, ucap Yoora.


“Jika begitu, kami pergi makan dahulu saja”, ucap Vita yang sudah lelah.


“Satu kali saja, jika tidak mendapatkan sepatu yang cocok, kita makan”, mohon Yoora membuat Soobin dan Vita terpaksa mengikuti permohonan Yoora masuk ke pusat sepatu kembali dengan lesu daripada mendengar suaranya yang mengeluh tanpa jeda.


Sudah cukup lama akhirnya Vita dan Soobin makan dengan makanan besar sedangkan Yoora mengatakan jika tubuh perlu dijaga karena kalian itu gadis. Membuat Vita dan Soobin jengah.


“Soobin kamu mau pesan apa? “,tanya Yoora.


“Aku mau chiken spesial sama humberger dan minumannya coca cola”, jawab Soobin langsung kena pukulan dikepala membuatnya mengadu kesakitan, “yak, makan kamu banyak, itu bukan kriteria seorang gadis, Soobin”, omel Yoora.


“Tidak apa-apa onnie, dia itu kelelahan dan dayanya sudah habis ngikuti onnie. Tidak ada salahnya kan dia kelaparan”, bela Vita yang diangguki Soobin.


“Saya pesan dua chiken flied tanpa nasi, nugget ayam, dan minumannya coca cola”, pesan Vita yang ditulis oleh pelayan wanita


“Saya mau pesan stek ayam dan minumnya samain saja”, pesan Yoora.


“Silahkan ditunggu”, ucap pelayan wanita dengan berjalan berlalu.


Sambil menunggu makanan datang Soobin, Yoora, dan Vita saling mengobrol dengan asyik.


“Soobin, bagaimana mainan yang aku tinggalkan untukmu, waktu itu?”, tanya Vita


Vita terkekeh sedangkan Yoora masih belum bisa mengalihkan pandangan dari belanjaan yang ia beli. Di sela kesibukan dengan benda masing-masing, makanan siap saji datang dan pelayan wanita meletakkan makanan yang dipesan oleh mereka. Lalu sang pelayan pergi berlalu menuju tempat pantrynya.


Setelah mengantar Yoora dan Soobin ke apartemen, Vita langsung bergegas ke rumah sakit menengok Reino. Ia berjalan ke ruangan pasien dimana ia dirawat dengan membawa buah-buahan. Sesampainya Vita mengetuk, “tok, tok, tok”, pintu terbuka melihat wajah ibunya Reino dengan raut wajah tidak suka.


“Masuklah”, tawar dia dengan ekspresi judes. Vita masuk di sapa oleh Reino yang terduduk diatas ranjang.


“Bagaimana keadaan kamu?”, tanya Vita.


“Ya, sedikit sakit diperut”, jawab Reino.


“Kenapa dengan raut wajah ibumu?”, tanya Vita kembali.


“Biasa hanya sedikit masalah”, ucap Reino


“Oh ya, nih aku bawain buah-buahan untukmu biar cepat sehat”, dengan meletakkan di meja nakas samping ranjang pasien.


“Thanks”


“Sekalian juga aku mau memberikan uang hasil balap motor malam itu”, sambil menyerahkan uang kepada Reino namun menolaknya.


“Tidak perlu”, tolak Reino


“Why?”


“Karena kamu telah menolongku untuk administrasi, jika tidak mungkin nyawaku tidak tertolong. Padahal itu kesalahan aku”, senyim kikuk Reino dengan menggaruk tengkuk tidak gatal


“Yakin ini”.

__ADS_1


“Iya bawel, sekarang mending kamu masukan uang itu sebelum aku rebut dan kupaskan buah jeruk untukku”.


“Kupas sendiri aja”.


“Auch perutku sakit karena satjam” rintih Reino.


“Ya, udah aku kupasin”.


Reino menikmati beberapa buah segar yang dibawa Vita dengan senang. Lalu Reino terbaring kembali dengan mengucapkan, “maafkanlah makku itu”, kemudian menutup mata. Vita bergumam, “aku sudah memaafkan sejak hari-hari selalu mengomeliku”, sambil terkekeh dan meninggalkan Reino isirahat.


Vita kembali ke rumah untuk mengambil barang milik Jinwoo untuk dititipkan kepada Yoora sebelum ia kembali ke Korea. Saat tiba di rumah Vita bertemu Alena di pelataran rumah. Lalu ia memanggil Vita, “Vita”, dan dia menoleh kemudian menyapanya, “hallo aunty”, dengan membukukan badan namun tangannya dicekal oleh Alena.


Alena bertanya wajah milik Vita yang terluka.


“Nak wajahmu kenapa banyak lebam?”, tanya Alena dengan mengusap wajah Vita.


“Biasa aunty kenalan anak muda”, ucap Vita dengan terkekeh sambil menggaruk tengkuk tidak gatal.


“Pasti sakit”, khawatir Alena.


“Terus di kaki kamu kenapa nak? “, tanya Hamilthon dari belakang Alena.


“Ouwh ini, jatuh dari motor”


“Kalau begitu saya maauk dahulu”, pamit Vita dengan berjalan cepat dan pincang-pincang.


Alena yang menatap punggung menggeleng kepala dan khawatir. Halminthon mengajak Alena masuk ketika menatap nanar belakang punggung gadia itu penuh khawatiran.


“Sweety, ayo masuk”, ajak Halminthon dengan merangkul pundak istrinya.


Ketika Vita sedang masuk Lisa berteriak dari meja makan. Membuat seluruh orang yang berada di ruangan menatap.


“Vita! Kemarilah”, teriak Lisa


Ana beranjak mendekati Vita mengajakia ikut bergabung dan wajah terkejut ketika melihat wajahnya dibalik topi penuh lebam.


“Vit, wajah kamu kenapa?”,


“Ini itu, hanya sedikit tonjokan dan karena kenakalan dari anak muda”


“Oh my god, kaki kamu juga. Sekarang ikutlah duduk bergabung. Aku tidak ingin kamu menolak karena kemarin kamu tidak ikut bergabung bersama dalam pesta melepas masa lajang”, ucap Ana dengan memaksa meski ia sempat menolak. Pada kahirnya ia duduk diantara tamu tidak dikenal.


“Vit, kemarin kamu kemana saja?”


“Ada bisnis di luar kota”


“Hai kenalin aku Adele” sapanya dan Vita hanya memberi senyuman.


“Dan aku Calistha, teman baik Lisa dan Ana” senyum Claistha sambil menggigit roti sobeknya.


“Vit kemarin kamu berpapasan dengan aksi brutal di area perbatasan Jakarta dan Bandung gak?”, tanya Lisa dan Vita menjawab menggelengkan kepala.


“Syukurlah Vit”, ucap Lisa.


“Aku tidak lewat tapi aku juga yang melakukan tawuran balapan liar”, batin Vita.


“Disana ada beberapa pria tertusuk dengan satjam dan ada yang meninggal. Kami jadi khawatir untuk para anak muda sekarang”, ucap Adele ikut menimbrung.


Lucas yang duduk disamping Leon sejak tadi mengamati obrolan para wanita begitupun Vita yang terlihat canggung. Lima belas menit Vita ikut bergabung dan pamit ke kamarnya.


“Aku ke kamar dahulu, belum mandi nih”, pamit Vita beranjak dan berjalan dengan sediki pincang membuat Ana menyadari jika kakinya juga terluka. Alena yang berada di ruang tamu masih memperhatikan Vita dengan rasa khawatir. Lucas juga memperhatikan luka di kakinya saat ia menaiki tangga.

__ADS_1


“Kenapa kakinya juga terluka?”, batin Ana yang tidak disadari oleh Lisa saja. Lainnya memperhatikan luka pada kaki milik Vita.


Vita di kamar merasa lega, “uhhh.. ahh”, lalu pergi ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah itu ia berbaring dan tertidur karena lelah.


__ADS_2