The Mafia Millioner

The Mafia Millioner
Selanjutnya....


__ADS_3

BERBIJAKLAH DALAM MEMBACA KARENA ADEGAN INI BUKAN UNTUK DITIRU NAMUN HANYA SEBAGAI HIBURAN. 😊


TERIMA KASIH. 🙏


JANGAN LUPA BERI LIKE👍 DAN FAVORITKAN KARYA SAYA


.........


Ana melangkah terburu-buru ke halte agar Leon tidak melihat jika dia juga merindukannya sambil menghapus air mata sembari menunggu taxi online yang ia pesan dan Leon berada di jarak satu meter mengamati Ana di balik kemudi sampai taxi itu datang. Sudah lima belas menit taxi tak kunjung datang namun yang datang teman lama Ana yaitu Dion.


“Ana!”, panggil Dion yang memarkirkan mogenya di depan Ana di halte.


“Kamu siapa?”, tanya Ana dengan memincingkan mata.


“Aku, Dion teman SMA kamu. Kapten basket dan pacar Anisa ketua OSIS. Masa kamu lupa?”, ucap Dion dengan mengingatkan Ana kembali. Kemudian Ana mengingat-ingat kembali dan mengagetkan Dion ketika Ana telah mengingat dengan teriak, “Ahhh! Dion!”, sambil tertawa.


“Wahh kamu tambah ganteng aja”, puji Ana dengan menepuk pundak Dion.


“Iya dong, bagaimana kabar kamu dan adik kamu Liora?”, ucap Dion.


Ketika dalam obrolan menyangkut keluarganya, Ana merasa sedih dengan nasibnya yang selalu saja dibedakan dengan adik tiri oleh ayahnya.


“Ana!”, panggil Dion dengan melambaikan tangan saat Ana melamun.


“O..o..o ya, dia sehat dan sudah bahagia kok”, ucap Ana dengan berbohong dan tersenyum yang dipaksakan.


Pada saat akan melontarkan kalimat Leon lewat dengan membunyikan klakson panjang membuat mereka kaget. Api kecemburuan Leon memuncak setelah selesai mengobrolnya dengan sahabatnya dan melihat Ana sedang berbicara dengan laki-laki di depannya dengan tetawa bahagia. Entah persetan apa dalam hati Leon terasa panas dan mengemudikan mobilnya pelan di depan Ana dengan membunyikan klakson panjang dengan wajah dingin dan marah.


“tinnnnnn! !!!!!”, bunyi klakson panjang dari dibalik pengemudi mobil sedan hitam.


Ana yang terkejut memicingkan mata siapa mobil yang tiba-tiba membunyikan klakson tanpa etika dengan panjang dan membuatnya kaget begitupun dengan Dion.


“Apa itu mobil Leon kah?”, batin Ana.


“Sudahlah tidak penting”, batin Ana kembali.


Sudah empat puluh lima menit akhirnya taxi datang dan Ana berpamitan dengan Dion.


“Dion aku pulang dulu, taxi nya sudah datang”, pamit Ana


“Tunggu An, apa aku boleh tahu no ponselmu gak?”, tanya Dion


“Yap, tentu”, ucap Ana dan memberikan kartu nama.


“Thanks”, ucap Dion


“Ya, aku pulang dulu. Good night and see you”, ucap Ana dengan melambaikan tangan. Setelah ditinggalkan, Dion menghidupkan mogenya dan melesat pulang ke apartemen.


Pada pagi hari Ana sudah berada di ruang kerja Leon, membersihkan debu dan mengganti bunga lalu membuatkan teh dan kopi panas sebelum Leon datang. Setelah itu Ana kembali berkutat dengan komputernya hingga Leon datang dengan wajah dingin dan datar.


Setelah duduk di meja kerjanya Leon tiba-tiba mengomel tidak jelas denagn hati membara karena kecemburuan semalam yang ia lihat.


“Kamu pasti bahagia sudah menemukan sosok orang yang bisa membuat kamu tertawa. Sekarang pun kamu jadi semangat bekerja karena sudah dapatkan suntikan vitamin dari cowok semalam kamu temui. Apa hati kamu sekarang berbung-bunga?”, ucap Leon dengan menininggikan nada suaranya sambil menyeruput kopi yang sudah dibuatkan oleh Ana. Tetapi omelan Leon oleh Ana dianggap angin lalu dengan masih fokus berkutat denagan komputernya.


“ Apa kamu tidak ingin membela diri? Atau kau pura-pura tuli sekarang dan mengabaikan laki-laki yang sudah beberapa kali memohon, Ana!”, ucap Leon kembali dengan masih bernada tinggi dan menggebrak meja. Entah persetan apa, api kecemburuan dari hati Leon meluap dan berjalan menghampiri Ana yang acuh kepadanya lalu membalikkan kursi duduknya sambil mencengkeram dua sisi pipinya.


“Jawab aku Ana!”, perintah Leon dengan mengetatkan giginya.


Ana masih diam beribu bahasa dengan air mata mengalir karena kesakitan akibat cengkeraman Leon di dua sisi pipi sangat erat membuatnya kesakitan. Dia menyuruh Leon melepaskan meski sedikit takut dengan sorot bola mata hitam yang menyala.


“Lepasin Leon! Ini sakit”, perintah Ana dengan meneteskan air mata. Leon yang melihat air mata yang menetes membuatnya merasa teriris. Tetapi persetan bagi Leon tetap kasar melepaskan cengkeramannya dengan mengusap wajah kasarnya lalu meninggalkan Ana yang sesegukan.


Leon pergi meninggalkan tugasnya dengan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia tidak peduli dengan peraturan lalu lintas dan membanting pintu mobil setelah sampai di rumah megahnya yang ia bangun dari jerih payahnya sendiri. Lalu membanting vas bunga dan mengobrak abrik dokumen diatas meja kerjanya. Para pembantu yang mendengarkan amukan Leon merasa takut dan pucat, apalagi dengan bibi Minah yang membukakkan pintu dia lebih pucat melihat wajah dominan Leon yang tiba-tiba auranya dingin dengan sorot mata menyala. Mereka hanya diam dan menunggu tuannya memanggil. Sedangkan Chalvin bersama dengan Jhorse datang mendengarkan suara pecahan kaca dari dalam ruang kerja Leon membuat mereka khawatir. Tetapi mereka tetap mengurungkan niat untuk masuk agar tidak mengganggu emosinya yang memuncak.


Chalvin bertanya para pembantu yang berada di pantry yang terlihat ketakutan, “Bi tuti, ada apa dengan Leon?”.


“Saya tidak tahu den, pulang-pulang tuan Leon membanting pintu kerjanya dan membanting seluruh bara yang ada di ruang kerjanya”, jawab Bi Tuti dengan meremas tangannya.


Sudah satu jam Leon berdiam diri dengan meminum alkohol yang tersedia di ruang kerja dengan ditemani banyak pecahan kaca dan dokumen berserakan dengan air mata menetes karena frustasi dengan kisah percintaannya. Chalvin dan Jorsh mengkhawatirkan keadaan Leon memberanikan diri mengetuk pintu, “tok..tok..tok..”. Leon mempersilakan orang yang berada di luar untuk masuk tanpa tahu siapa dia yang berani mengetuk. Mereka masuk dan menanyakan keadaannya.


“Hei man, what are you doing?”, tanya Jorse dengan merentangkan tangan setelah melihat ruang kerja seperti kapal pecah.


“Kamu kenapa Leon? ”, tanya Chalvin anak buah kepercayaannya.

__ADS_1


Leon menjawab dengan mengedikkan bahunya sambil meminum alkohol sebotolnya.


“Ada apa kalian ke sini?”, tanya Leon


“Aku kesini mau ambil barang yang tertinggal semalam yang kau serahkan padaku, Leon”, jawab Chalvin


“Apa kamu mendapatkan informasi dari Riyan yang membawa kabur uang kita?”, tanya Leon dengan dingin.


“Ya, aku sudah mendapatkan dan aku menyuruh mereka menghajarnya. Dia juga berkata karena terilit utang”, kata Chalvin yang duduk di sofa bersama Jorsh.


“Man, apa kau sedang patah hati?”, ucap Jorsh teman dari Canada ikut menimbrung obrolan untuk memecahkan suasana tegang.


“Kamu b***t!”, jawab ketus dari Leon


“Ayolah man, hari ini Dominic ingin mengadakan pesta barberque. Tapi belum tahu tempat yang cocok untuk bersenang-senang”, ucap Jorsh mengalihkan kalimat lain agar tidak menyinggung kalimat mengarah pada persoalan hatinya dengan tidak memperdulikan omongan Leon.


Ketika mendengar pesta barberque Leon memiliki ide kemana pesta bisa diadakan. Dia menyuruh Jorsh menghubungi Dominic.


“Aku tahu tempat yang cocok”, ucap Leon dengan senyum sinis.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian kasual Leon berangkat bersama Chalvin dan Jorsh berbelanja untuk dibawa ke rumah yang di tempati oleh Ana dan temannya. Mereka tiba di rumah Vita yang di koskan untuk Ana dan Lisa dengan kendaraan mewah.


“tin..tin..”, Lisa mendengarkan suara klakson mobil lalu keluar dan mempersilahkan mereka masuk.


“Hei semua”, sapa Lisa


“Wao.. pesta bersenang-senang dimulai”, ucap Jorsh dengan antusias.


“Ayo masuk”, ucap Lisa mempersilahkan mereka masuk ke rumah dengan membantu membawakan belanjaan milik mereka ke dalam rumah.


Mereka membagikan tugas agar pesta malam ini berjalan dengan lancar. Para pria mendapatkan tugas menata pemanggang dan meja sedangkan para wanita menyiapkan bumbu untuk steak dan lain-lain. Mereka mempersiapkan dengan canda dan tawa juga obrolan yang terkadang kurang berfaedah.


“Lis, Ana mana?”, tanya Adele sambil memotong bawang bombay.


“Dia sepertinya masih di kantor”, jawab Lisa yang sedang mengaduk adonan kue.


“wahhh, di sini kulkasnya terisi penuh ya. Ada susu juga tapi anehnya warna kuning dan tertulis produk korea”, ucap Zella yang sedang mengamati isi kulkas.


“Ooo itu semua bukan milik aku atau Ana itu seluruhnya punya pemilik rumah ini. Jadi kalian jangan menyentuhnya karena kita belum ijin”, ucap Lisa yang sedang mencetak cookies.


“Hai Ana!”, sapa Adele.


“Hallo”, balas Ana dengan bingung dan menatap Lisa.


“Hehe aku lupa memberitahu kamu. Leon meminta ijin padaku untuk meminjam tempat buat pesta untuk temannya. So, aku mengizinkan..”,jawab Lisa menguyah cookies yang ia buat.


“Apa kamu sudah memberi tahu Vita?”, tanya Ana


Lisa menjawab dengan kekehan dan menggaruk tengkuk belakang. Pada saat Lisa dan Ana sedang mengobrol tiba-tiba Leon, Johan, dan Dante datang.


Dante menyapa, “Hai..”.


Ana membalas dengan senyum. Sedangkan Leon melihat pria yang ada di belakang Ana mulai hatinya panas, giginya mengeras dan tangan mengepal karena api cemburu yang sedang ia rasakan. Raina yang sejak tadi mengamati sosok pria di belakang Ana. Kemudian Raina menimbrung obrolan untuk meminta Ana memperkenalkan dia kepada teman-temannya.


“Ana di belakang kamu itu siapa?”, tanya Raina yang sejak tadi memperhatikannya.


“ Oo dia, aku lupa untuk memperkenalkan pada kalian. Dia itu Dion teman SMA aku”, ucap Ana


“Hallo my name is Dion”, ucap Dion memperkenalkan diri. Ketika mereka sedang saling memperkenalkan diri tiba-tiba ada suara bel berbunyi dan Ana pergi membukakan pintu dengan dikejutkan banyak warga datang dan satu pria memimpin.


“Ada apa ya pak?”tanya Ana


“Mohon maaf neng dan tuan-tuan di sini maksud saya datang kemari banyak warga melaporkan ke saya selaku Rt di kompleks ini bahwa rumah milik Vita sedang mengadakan pesta. Apa itu benar?”


“Iya itu benar”, ucap Lisa di samping Ana


“Kalau boleh tahu, mohon maaf neng.., Ini bukan pesta narkoba atau barang haram kan. Soalnya lagi marak sekarang di berita. Saya bukan maksud menyinggung sekalian di sini”


“Bukan pak, ini pesta barbeque. Mereka juga baik dan free barang-barang haram”, ucap Lisa kembali.


“Tapi kok tidak ada yang melapor..,karena di kompleks ini ada ketentuan dan berkewajiban melapor ketika ada pesta dengan orang-orang asing. Demi keamanan dari warga komplek sini, neng” senyum pak Rt.


“Apa saya boleh bertemu Vita pemilik rumah ini?”, tanya pak Rt

__ADS_1


“Boleh, tapi saya akan hubungi karena dia sedang tidak di rumah”, ucap Ana dengan mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


Jorsh dan aunty Alena yang ada di belakang bertanya pada Raina.


“Ada apa nak?”, tanya aunty Alena


“Uhmm masalah sederhana saja kok aunty”, ucap Raina


“Nanti kita minta penjelasan saja pada Lisa atau Ana”, ucap kembali Raina yang mengunyak keripik kentang. Aunty Alena menganggukan kepala dan mengerti maksud ucapan Raina lalu duduk di meja makan. Begitupun dengan Jorsh mengikuti langkah Alena dan ikut duduk sambil meminum soda yang ada di meja makan.


Ana menghubungi Vita yang sedang di pusat balapan liar. Ketika sedang menyapa teman-temannya tiba-tiba ada deringan telephone lalu ia mengangkatnya.


“Hallo!”


“Hallo Vit, kamu dimana!”, ucap Ana yang tidak kedengaran.


“An, yang keras disini bising”


“Kamu lebih baik cari tempat yang tidak bising”, ucap Ana yang diikuti oleh Vita


“Ada apa An?”


“apa kamu bisa kembali ke rumah. Ada sedikit kesalahan di sini. Jadi, kami di datangi oleh pak Rt”


“Apa?!” ucap Vita dengan terkejut


“Kok, bisa sih”, ucap Vita kembali sambil memijat keningnya


“Kamu ke sini saja pokoknya”, ucap Ana dengan langsung mematikan ponselnya dan memberitahukan kepada pak Rt bahwa dia akan datang dua puluh menit lagi. Kemudian Ana menyuruh pak Rt dan bu Rt duduk sambil menunggu Vita dengan suasana tegang.


Sudah dua puluh menit lebih dari lima menit akhirnya Vita datang dengan mogenya. Ia turun dari mogenya membuat seluruh di rumah itu terkagum-kagum. Vita menyapa pak Rt.


“Hallo pak, ada apa?”


“Apa kamu mengetahui jika ada pesta di rumah kamu?”


Ketika akan melontarkan kalimat, Ana menarik lengan Vita dan membisikkan situasinya. Setelah mengerti Vita terkekeh.


“Aigooo, pak Rt ganteng nan tampan dan bu Rt cantik yang membahenol maafkan wargamu yang satu ini atas keteledoran yang saya ciptakan. Saya sebagai warga selalu memberikan yang terbaik apalagi soal cuan”, dengan merangkul dan sambil menengok ke belakang dengan terkekeh yang aneh.


“Bagaimana saya untuk menyelesaikan masalah ini?”


“Lain kali laporkan ke saya agar para warga tidak negatif neng”, ucap Bu Rt yang ikut menimbrung.


“Tenang bu Rt saya akan tanggung jawab sagai diapensasinya bagaimana saya membayar aturan yang tertera pada peraturan pak Rt dengan denda 500.000 dan dimasukkan ke dalam kas warga”


“Baiklah, saya terima dan di masukkan ke kas warga ya”, ucap Bu rt dengan menyerobot uang dari Vita.


Setelah banyak berdiskusi dengan baik, pak Rt membubarkan para warga dengan sorakan, “uuu”. Semua warga telah kembali ke kediaman masing-masing dan pak Rt pamit. Kemudian saat akan melontarkan kalimat dari ujung loteng sana di balik tembok berteriak memanggil Vita.


“Vita! Masakan baunya harum”, teriak Mawar sambil melambaikan tangan.


“Onnie, kapan pulang?”, teriak Vita dari bawah


“Aku pulang tiga hari lalu”, teriaknya


“Kamu kemari dong!” teriak Mawar kembali dan Vita mengkode dengan jari berbentuk “O” menandakan Okay.


Setelah saling berteriak dan membuat orang memperhatikan dirinya Vita kembali pada permasalahan.


“Siapa yang memulai duluan mengadakan pesta?”, tanya Vita sambil menginterogasi.


Jari telunjuk Ana menunjukkan ke arah Lisa. Vita melototi Lisa dan akhirnya Lisa menjawab, “A..aku lupa Vit”, sambil terkekeh dan menggaruk tengku tidak gatal. Ketika mereka sedang mengobrol, Leon menimbrung dan menyalahkan dirinya.


“Saya yang salah, karena saya memaksa Lisa untuk mengizinkan jadi dia lupa untuk menghubungi pemimpin komplek ini karena pesta yang kami adakan terlalu mendadak”.


Vita yang mendengarkan ucapan dari sosok pria blasteran hanya menghembuskan nafas kasar “Ahhh”, dan obrolan diakhiri dengan suara ponsel miliknya.


“Hallo Vit, kamu tidak usah kembali. Karena polisi datang kami juga sudah keluar dari arena. Jadi kamu beruntung tidak kejar-kejaran dengan polisi. Aku tututp”, kata pria di seberang sana. Vi memasukkan ponselnya dan menendang helmnya dengan mengeluarkan amarah. Orang-orang yang berada disekitarnya bingung dan heran karena Vita sudah mengakhiri permasalahan dengan warga sekitar.


“Kalian lanjutkan pestanya dan sekarang masalah selesai”, ucap Vita berlalu meninggalkan mogenya melangkah keluar.


“Apa kamu tidak ingin ikut pesta?”, teriak Lisa

__ADS_1


Vita membalikkan badan dengan tawa sinis lalu pergi keluar ke rumah Mawar bermain playstation bersama gembul hingga pagi.


__ADS_2