
Dominic membawa Rosi ke balkon kamar milik Rosi. Dominic memasukka. kedua tangannya di dalam saku celana. Lalu Dominic membuka suara.
"Apa kau bahagia melihatku?", tanya Dominic.
Rosi tidak mampu menjawab karena suaranya tiba-tiba tak dapat keluar karena menenangkan suara jantungnya yang terus berdebar.
"Apakah kamu benar-benar tidak menginginkan aku di sampingmu?", tanya Dominic dengan memegang bahu Rosi.
Rosi kembali tidak menjawab dan hanya menundukkan kepala.
"Jawablah? Lihatlah mataku. Jika kamu tidak menginginkan aku akan berusaha lebih keras agar kau memikirkan aku", ucap Dominic dengan membawa tangan Rosi ke dada kanannya.
"Detak jantung Dominic berdetak cepat seperti milikku. Inikah namanya takdir cinta sejati", batin Rosi.
Ketika pikiran Rosi sedang melayang Dominic mengangkat dagu Rosi lalu mengecupnya begitu lama dan tidak ada pergerakan apapun dari Rosi sehingga Dominic memberikan ciuman lebih dalam. Rosi menikmati apa yang dilakukan oleh pria tersebut. Lalu Dominic mengangkat tubuh Rosi dan membawanya ke atas ranjang. Kemudian suasana panas menjadi pecah ketika suara ketukan itu terdengar di telinga mereka. Rosi mendorong tubub kekar Dominic. Dominic mengumpat kasar dan beranjak dari ranjang untuk membuka pintu. Saat melangkah Dominic memberikan pesan ancaman dengan berkata, "sweety, tunggulah tanggal pernikahan kita tiba. Aku akan membawamu ke surga dunia sampai kau tak bisa bangun dari ranjang panas nanti".
Rosi mendengar pesan ancaman dari bibir Dominic bergidik ngeri.
Dominic membukakan pintu dan terpampanglah wajah calon ibu mertuanya.
"Dom, turunlah, kita makan bersama bisa melanjutkan obrolan di lain waktu", ucap Grace.
"Baiklah mom", ucap Dominic.
"Panggilkan Rosi sekalian. Momy turun dulu", ucap Grace.
"Baik mom", ucap Dominic.
Dominic menutup pintu setelah calon ibu mertuanya pergi. Dominic menghampiri Rosi yang duduk di pinggir ranjang.
"Sweety, sebenarnya aku tidak sabar ingin memakanmu. Tapi apalah daya aku harus bersabar dan aku tidak ingin menyakiti buah hatiku", usap Dominic di perut Rosi. Rosi merasakan diperutnya terasa tergelitik seolah ada sesuatu yang berterbangan dalam perutnya.
"Momy dan lainnya sudah menunggu kita di ruang makan. Yuk kita ke bawah", ajak Dominic menggandeng tangan Rosi.
Rosi dan Dominic datang ikut bergabung ke ruang makan. Suasana di ruang makan begitu hening. Tatapan Eric begitu dingin dan ekspresi datar. Suasana hening yang mencengkam juga dirasakan oleh orang-orang sekitar. Sea mencairkan suasana dengan membahas soal menantunya.
"Ehem..", Sea berdehem.
"Menantuku, besok kita jalan-jalan bersama momy mu yuk. Membahas gaun pengantin yang akan kau pakai nanti", Ucap Sea.
__ADS_1
"Tentu Sea", balas Grace.
"Aunty akan selalu memperhatikanmu. Apalagi kalau Dominic nakal, kamu bilang saja. Aunty akan sembelih lehernya", ucap Sea dengan tawa.
"Sea", panggil Efrat.
Sea tidak peduli dengan panggilan Efrat. Sea terus berceloteh hingga Eric menghentikan makannya.
"Kalian benar-benar menghancurkan rencanaku untuk tidak lagi berhubungan kalian.."
"Sudah takdirnya Tuhan", sela Sea memotong perkataan Eric.
"Aku berharap kalian jangan membahayakan putriku setelah dia hidup di keluarga kalian", tukas Eric.
"Tentu, kami akan melindunginya terutama aku", ucap Dominic.
"Baguslah", ucap Eric dengan mendorong kursi ke belakang dan beranjak pergi melangkah ke ruang kerja.
Eric menghembuskan nafas kasar lalu menuangkan segelas whisky kemudian sekali meneguk.
Efrat mengetuk pintu dengan keras.
Eric menyuruh orang diluar masuk dengan lugas.
"Ada apa?", tanya Eric dengan dingin.
"Kamu masih saja sama dengan dulu. Kamu masih ketakutan bayang-bayang dari Emil dan Lidya. Kamu harus move on dan lebih kuat lagi untuk binasakan musuh-musuhmu. Kita sebagai mafia harus menerima kenyataan bahwa kita akan terus dibayangin oleh musuh - musuh baru yang muncul. Jika kau seperti itu terus kamu gak akan bisa melindungi keluargamu terutama untuk putrimu. Dia hampir dihancurkan oleh kekasihnya dan sahabatnya. Kini kau menjerumuskan putrimu di jurang dengan menjodohkan dia dengan Adrian.."
"Apa maksudmu?", sarkas Eric sambil meneguk minuman.
"Adrian merupakan bayangan milik Gerald. Dia menyewa orang tua palsu untuk di jadikan tameng mendapatkan sesuatu yang kau miliki", ucap Efrat dengan menyodorkan flashdishk kepada Eric.
"Terimalah kenyataan hidup dan jalankan hidupmu seperti dulu. Emil dan Lidya pasti memaafkan kamu jika kamu mau berubah dan memperjuangkan keluargamu yang hampir diambang bahaya. Kendalikan emosimu", lanjut Efrat.
"Aku pergi dulu", pamit Efrat dengan menepuk bahu Eric.
Eric memegang dan menatap flasdishk.
"Apa aku harus mulai kembali? Identitasku sebagai mafia tidak akan pernah hilang meski aku sudah pensiun dan tidak melakukan lagi. Namu apalah daya, darah mafia dalam diriku tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Aku tidak mau keluargaku dalam bahaya. Ya, benar apa yang dikatakan oleh Efrat".
__ADS_1
................
Rosi sedang menikmati hembusan malam di balkon kamarnya. Detak jantungnya berdebar ketika mengingat Dominic yang membuat dirinya terbuai dari pelukan hangat, ciuman dan lain-lain. Membayangkan saja jantung miliknya tak bisa berhenti untuk berdebar. Apalagi perutnya terus menggelitik seakan ada sesuatu yang berterbangan dalam perutnya. Rosi mengusap perut miliknya yang sedikit membuncit dengan mengulum senyum bahagia.
"Sayang, kita akan bahagia bersama daddy. Jangan nakal di sana ya", monolog Rosi.
Rosi masuk karena angin semakin kencang dan dingin. Lalu ia menaiki ranjang dan terlelap tidur ke alam bawah sadar.
Kring kring kring
Suara alarm berbunyi mengganggu tidur nyenyaknya seorang pria yang tengah tengkurap menikmati mimpinya. Ia terbangun dengan merenggangkan otot-ototnya. Lalu pergi ke kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor menyelesaikan pekerjaan sebelum pernikahan tiba.
Ketika Dominic tengah menyemprotkan parfum di kemeja tiba-tiba Dante datang tanpa mengetuk pintu.
"Brother!!", teriak Dante dengan memeluk tubuh Dominic.
Dominic mendorong tubuh Dante dan berkata, "kamu kenapa?"
"Aku bangga denganmu Dom. Kamu sebentar lagi memiliki istri dan malam pertama kamu sungguh top car sekali dayung mendapat bongkahan emas", ucap Dante dengan tawa.
"Berhentilah menggodaku", ucap Dominic dengan membenarkan lengan baju.
"Bagaimana pemantauan kamu di pelabuhan? Apakah ada sesuatu yang kau dapatkan setelah berhari-hari mematai mereka?", tanya Dominic.
"Tentu", ucap Dante.
"Apa yang kau temukan?", tanya Dominic.
"Mereka mengirimkan barang-barang haran di beberapa negara asia dan sekitaran Amerika. Tak hanya barang itu saja yang mereka selundupkan. Mereka juga secara ilegal menguasai makanan laut untuk di jual ke beberapa perusahaan. Mereka benar-benar cerdas jika masalah uang", jelas Dante.
"Apakah gak ada lagi yang kau curigai?", tanya Dominic.
"Ada satu lagi yaitu mereka memanfaatkan para remaja jalanan untuk bertransaksi soal barang-barang haram dan senjata ke berbagai pemasaran. Mereka juga memanfaatkan para wanita sebagi penghibur di kasinonya tanpa dibayar utuh", jelas Dante kembali.
"Aku tidak terkejut perbuatan mereka. Hanya saja dalam kegiatan pemasaran mereka terlalu licik untuk mendapatkan suatu kekuasaan terutama Charles dan Raymon", ucap Dominic sambil membenarkan dasinya.
"Kalau begitu aku harus segera pergi menyelesaikan pekerjaan sebelum hari pernikahan aku tiba. Aku ingin menghabiskan waktuku dengan Rosi setelah pernikahan untuk waktu cukup lama. Aku gak mau terganggu setelah pernikahanku nanti ada yang mengganggu", jelas Dominic.
"Harusnya begitu. Lebih baik kau minta tolong Lucas untuk menangani anak cabang di beberapa wilayah agar musuh tidak mudah masuk", ucap Dante.
__ADS_1
"Kalau begitu kau hubungi dia dan ajak Johan juga untuk menangani wilayah lain", suruh Dominic dengan keluar kamar dan diikuti Dante.
"Baiklah, selamat menikmati hari lemburmu brother", seru Dante.