The Mafia Millioner

The Mafia Millioner
Misi 3


__ADS_3

Setengah bulan kemudian Leon beserta teman-temannya kembali ke Indonesia. Setelah mengurusi para musuh dari Crips. Leon langsung berpamitan kembali ke mansion.


“Gaes, kita harus berpisah sampai di sini. Aku harus cepat kembali. Ada seseorang yang sudah menungguku cukup lama”, ucap Leon


“Ok bro, salam untuk Ana”, ucap Chalvin. Leon hanya melambaikan tangan untuk lainnya. Setelah menghilang punggung belakang Leon mereka bergegas kembali ke tempat peristirahatan.


“Johan, aku nebeng kamu ya”, ucap Calvin dengan ekspresi wajah puppy eyes.


“Ayo”, ajak Johan, “Lucas kami duluan”, ucap Johan yang diikuti oleh Calvin.


“Bye bro”, pamit Calvin yang masuk ke mobil Johan. Lucas hanya mengangguk dan masuk ke mobil lamborghini hitam yang di sopiri oleh Gary.


Lucas kembali ke apartemen mewah lalu pergi ke kamar mandi setelah sampai untuk membersihkan badan yang setengah harian melakukan perjalanan dari Jerman ke Indonesia.


Sesudah itu, Lucas pergi bergegas ke rumah Vita tanpa sopir. Sesampainya di pelataran Lucas membunyikan bel rumah di samping pintu, “ting tong, ting tong, ting tong.


Lalu Ana membukakan pintu dan menyapa Lucas.


“Hai, ayo masuk makan camilan bersama sudah ada lainnya ke sini juga”, ucap Ana.


Lucas masuk setelah dipersilakan saat berjalan di ruang tamu semua yang ia kenal datang berkunjung. Johan menyapa, “hai bro, duduklah. Makanan yang kami pesan masih banyak nih”.


“Thanks”, ucap Lucas ikut bergabung bersama mereka.


“Oh ya, An kamu tahu Vita dimana gak?”, tanya Lucas.


“Wah,kalau itu aku kurang tahu”, ucap Ana yang duduk di samping Leon.


“Dia kemana ya?”, batin Lucas.


“Tidak usah cari dia Lucas, soalnya Vita itu sering ngilang kayak jelangkung, datang tiba-tiba muncul pergi entah tahu dia kemana. Jadi, kamu tidak perlu khawatir pasti dia pulang”, ujar Lisa.


Sementara Vita yang sedang diomongin saat ini dia sedang mengembara mencari informasi detail tentang Lisa dengan beberapa pria yang pernah disekelilingnya.


“Hallo Gilang, apakah benar alamat yang kamu kirimkan ke aku soalnya tempat yang aku cari tahu sangat aneh seperti banyak sampah disekelilingnya”, ucap Vita.


“Iya benar kok Vit”, ucap Gilang yang masih berkutat pada layar monitor.


“Coba aku ketuk rumahnya yang seperti gubuk ini”, ucap Vita dari aerphone.


Vita lalu mengetuk pintu, rumah yang dijabani oleh Vita. “tok, tok, tok, permisi!”, ucap Vita.

__ADS_1


“Apakah ada orang di rumah?”, ttanya Vita dengan suara keras.


“Permisi! Adakah orang di dalam”, teriak Vita dengan mengetuk pintu dengan keras.


“Lang sepertinya kita salah alamat deh, lingkungan di sini serem amat tahu”, ucap Vita sambil melihauct lihat area lingkungan.


“Tenanglah Vit, kamu sudah mengalami berkali-kali”, ucap Gilang di seberang sana. Vita yang mendengarkan ucapan Gilang berdecak. Saat Vita sedang mengobrol tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundak Vita membuat ia terkejut dan menjerit, “arghh”, suara teriakan Vita memembuat Gilang ikut kaget.


“Ada apa Vit?”, tanya Gilang tetapi Vita tidak menggubris malah mengobrol dengan orang yang menepuk pundaknya.


“Bapak siapa ya?”, tanya Vita.


“Perkenalkan saya Bejo, ketua rumah kumuh di sini”, ucapnya


“Eneng siapa dan ada keperluan apa dengan rumah gubuk milik mas Dika?”, tanya Bejo bertubi.


“Saya kesini, hanya ada keperluan yang memiliki gubuk ini pak. Ya, keperluan semacam seperti interview kayak berita gitu pak”, ucucap Vita dengan menggaruk dagu yang tidak gatal.


“Ouwh gitu, tetapi pemilik rumah gubuk ini sudah tiga bulan yang lalu meninggal dan mayatnya ditemukan berada ditumpukan sampah mbak. Dia mati terbunuh. Orang yang membunuh belum ditemukan mbak. Sumpah saya merinding saat melihat tubuh mayat milik mas Diki. Organnya ada beberapa yang hilang”, ucap Bejo yang menceritakan tanpa jeda.


“Bapak tahu tidak, mas Diki bekerja dengan siapa?”, tanya Vita.


“Terima kasih pak informasinya”, ucap Vita.


“Sama-sama neng”, ucap Bejo.


“Kalau begitu saya pamit pak, ada yang harus saya selesaikan”, ucap Vita dengan berlalu pergi meninggalkan tempat kumuh itu.


“Setelah menjauh dari Bejo, Vita berbincang kembali dengan Gilang lewat aerphone di telinganya.


“Lang tadi kamu dengar sendiri kan?”, ucap Vita dengan berjalan menuju tempat parkir mobil yang ia bawa.


“Iya Vit, aku akan cari tahu lagi informasi ini. Lebih baik bergegaslah kembali. Kita bahas lagi masalah ini”, ucap Gilang.


“Baiklah”, ucap Vita.


Vita lalu mengemudika mobilnya meninggalkan tempat kumuh itu. Ketika Vita sedang fokus menyetir tiba-tiba ada suara ponsel berdering dan Vita men deal up warna hijau sambil memasang aerphone.


“Hallo”, panggil Vita.


“hallo Vit, aku mau ngasih informasi bahwa anak-anak akan ikut tawuran masalah kecurangan balapan motor itu”, ucap Reino.

__ADS_1


“Gila! Aku juga mau ikut, nanti aku akan ke sana”, ucap Vita dengan mematikan ponsel dan melesat ke dailer untuk mengembalikan mobil yang ia pinjam.


Beberapa lama kemudian Vita telah sampai ke arena tongkrongan anak-anak jalanan.


“Hallo Vit”, sapa Ruben.


“Hallo”, sapa balik Vita, “bagaimana persiapan untuk membantai mereka?”, tanya Vita.


“Rebes Vit”, ucap Ruben. Saat Vita sedang berbincang-bincang dengan Ruben tiba-tiba Reino dari ujung memanggil, “Vita!Vita!”, lambai tangan Reino untuk menyuruhnya menghampiri dia. Vita berjalan ke tempat Reino dimana ia berkumpul.


“Vit, kali ini banyak wanita yang ikut tawuran karena sekelompok dari mereka ada yang dikhianati dan diberi janji palsu”, ucap Reino.


Vita yang mendengarkan ucapan Reino berdecak, “ck”, lalu melihat beberapa wanita yang duduk dipojokan sana.


Sedangkan Ana bersama lainnya masih menikmati pesta bersama di rumah Vita. Mereka bercerta berbagai momen bahagia baik bersama suami ataupun masa pacaran. Sementara para laki-laki hanya membicarakan seputar bisnis dan sebagian lagi memainkan playstation milik Vita.


“An, kamu sudah membuat program mempunyai anak belum?”, tanya Calista.


“Belum, aku masih ingin berduaan dulu dengan Leon”, ucap Ana.


“Ciee, aku jadi iri”, ucap Lisa.


“Aku malah ingin cepat – cepat mmelahirkan, agar Asthon tidak mengekang aku terus. Tiap kali aku bergerak sedikit dia bilang jangan lakukan sendiri. Mintalah bantuan pada pembantu di rumah ini. Dia itu overprotective. Akunya jadi lelah.Apalagi saat dia berada di rumah seharian”, ucap Zella dengan menghebuskan nafas kasar.


“Kalau aku sedang menguji mas Aresh, jadi aku belum ingin menikah. Tapi dia nya sudah kebelet ingin cepat nikahnya”, ucap Hyucy dengan tertawa renyah yang diikuti lainnya.


Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba ada siaran berita yang menyatakan di daerah Jakarta barat sedang terjadi tawuran sekelompok geng motor. Amanda yang melihat di layar ponsel terkejut melihat wajah wanita yang tertangkap polisi. Lalu Amanda memberitahukan kepada Ana.


“An, coba lihat ini”, ucap Amanda yang beranjak dari tempat duduk menghampiri Ana.


“Aku melihat gambar wajah Vita terpampang di berita, saat ini dia digiring ke kantor polisi”, ucap Amanda kem.Orang-orang disekitar mereka yang mendengarkan Vita tertangkap lalu heboh dan Ana menyuruh Johan tv nya diganti siaran berita tv dengan wajah panik. Para pria bingung lalu ikut menonton. Lucas yang berada di sana giginya lalu mengetat saat melihat wajah Vita terpampang.


Lucas beranjak berdiri dan langsung melesat pergi yang disusul oleh Leon untuk menenangkan Lucas yang tersulut emosi.


“Lucas! Lucas!”, panggil Leon dengan mencekal lengannya, “tenanglah dulu bro”, ucap Leon. Kemudian Lucas menghembuskan nafas kasar, “haahh”, dengan ekspresi wajah gusar.


“Kita temui dia, dan membebaskannya. Tapi tenangkan emosi kamu dulu. Aku akan ikut bersamamu. Sedangkan lainnya biarkan berada di rumah”, ucap Leon.


“Baiklah”,dengan mengusap wajah kasar.


“Sweety, tinggalah di rumah. Aku, Lucas dan Johan pergi ke kantor polisi. Kamu tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja”, ucap Leon dengan memberikan kecupan singkat dikeningnya dan berlari masuk mobil bagian kemudi. Ia menawarkan diri menyopiri agar tidak terjadi kecelakaan di saat Lucas sedang tersulut emosi.

__ADS_1


__ADS_2