
Para tamu undangan memberikan selamat kepada kedua mempelai dan berfoto hingga Dominic bertemu dengan sosok yang ia benci bernama Raymon merupakan sosok paman yang selalu mengincar posisi miliknya.
“Congratulation atas pernikahan kalian”, ucap Raymon sambil mengulurkan tangannya.
“Thank you”, ucap Dominic dengan ekspresi dingin.
Lalu Raymond mengulurkan tangannya kepada Rosiana namun Dominic terlebih dahulu menyambar tangan Raymon dengan tatapan dingin dan memberikan kode untuk menyuruhnya segera pergi. Raymon tersenyum smrik seolah meremehkan Dominic. Raymon berjalan menuruni tangga sambil mengusap dagu dan menoleh menatap kedua mempelai sambil bergumam, “ kelemahan kalian pada seorang wanita. Sangatlah menarik”.Ia bergegas pergi meninggalkan pesta milik sang keponakannya. Dominic yang berdiri di atas panggung memberikan kode kepada Henry untuk menguntit Raymon.
Raymon yang merasakan bahwa dirinya sedang diikuti mencoba mempermainkan. Raymon berjalan menelusuri halaman rumah dengan tenang. Lalu ia mengambil alat genggam di saku celana kanan dan berpura-pura menghubungi seseorang diseberang sana.
Henry yang bersembunyi di balik dinding pun mencoba mendekat dengan bersembunyi di balik pohon yang cukup besar. Henry mencoba menguping namun nihil. Ia tidak dapat mendengarkan pembicaraan Raymon dengan seseorang diseberang sana.
...
Di dalam gedung Dominic tengah menyapa teman-temannya dan rekan bisnis. Para pria saling membicarakan hal-hal bisnis sementara para perempuan menikmati ngobrol mengenai sosialita dan ada mengenai gosip yang tak pernah lepas dari diri mereka.
“Katanya Ana tengah mengandung buah hati?” tanya Clarisha.
“Ana, apakah benar?” tanya Rosiana dan Arletta secara bersamaan.
Ana tersenyum lalu mengangguk kepala.
“Oh my god, selamat”, ucap Arletta dengan diikuti teman-teman lainnya.
“Ini sungguh kabar yang luar biasa An”, ucap Camelia.
“Ya”, ucap Ana.
“Apakah Leon sudah diberikan kabar soal ini?” tanya Rosiana.
__ADS_1
Ana menggelengkan kepala. “Aku akan memberikan kejutan saat ia berulang tahun nanti.”
“Ya, itu pasti sangat luar biasa beb”, ucap Camelia.
Sementara Vita lebih memilih menikmati berbagai hidangan di pesta pernikahan Rosiana. Di tengah menikmati hidangan tiba-tiba Dante dan Devan mengganggunya.
“Girl, apa kau tidak ikut bergabung dengan mereka, menikmati obrolan-obrolan penting yang mereka bahas?” tanya Dante dengan menunjukkan sekelompok wanita asyik tertawa bersama.
“Apakah harus?” tanya Vita dengan mengunyah daging steak.
“Tidak harus, tapi, bukankah lebih baik ikut bergabung untuk menambahkan pengalaman dalam obrolan bersosialisasi”, ucap Devan.
“Sosialisasi? Dengan bergosip atau menerka-nerka kesulitan hidup orang lain?” tanya Vita.
“Entahlah. Aku gak pernah tahu obrolan wanita. Aku hanya tahu soal bisnis”, ucap Devan dengan dibenarkan oleh Dante.
“Ya. Makanlah yang banyak girl”, ucap Devan dengan mencubit pipi Vita.
“Makanlah, buat badanmu berisi. Lucas pasti menikmati tubuh montokmu”, ejek Devan.
“Auww, sakit bodoh”, adu Vita dengan menampik tangan kanan Devan.
Lucas melihat dari jarak cukup jauh menghampiri lalu ikut bergabung dengan menggeser kursi ke belakang sambil berkata, “apa yang kau lakukan pada gadis kecil ini?”
“Dia mencubitku. Adikmu begitu keterlaluan”, adu Vita sambil memijit pipi kanannya.
“Enggak kakaknya, enggak adiknya, semua sangat keterlaluan dan membuatku selalu kesal”, gumam Vita dengan melanjutkan makannya sambil mengusap pipi kanannya.
Dante mendengar gumaman Vita gemas sampai mengusap kepalanya. Sedangkan Lucas mendengar keluhan Vita yang pelan mencoba mendekat dengan mengusir Devan.
__ADS_1
“Minggirlah Dev. Aku ingin memberikan manjaan untuk gadis kecilku yang merasa menderita di sampingmu”, ucap Lucas.
“Baiklah, aku juga gak mau berlama dengan gadis kecilmu yang menyebalkan”, sindir Devan.
“Ya. Tapi, kamu yang lebih menyebalkan”, ucap Vita.
“Aku akan pergi, karena aku gak mau mengganggu sejoli yang mau bermesraan”, sindir Dante.
“Siapa bermesraan?” tanya Vita.
“Kita”, sambar Lucas dengan memegang kepala miliknya untuk menghadap kepadanya.
Lucas melihat pipinya yang merah, ia memberikan kecupan. Vita malah protes, “apa-apaan sih uncle.”
“Aku hanya ingin mengobati pipimu yang merah akibat cubitan dari Devan.”
“Aku gak butuh”, ucap Vita.
“Tolong lepaskan”, senyuman paksa Vita.
Lucas tidak mengindahkan. Malahan ia memberikan kecupan berkali-kali di pipinya. Vita kesal dengan mencubit tangan milik Lucas.
“Sakit gak”, kesal Vita dengan mata mendelik.
Lucas tersenyum menyungging. Ia malah menambahkan aksinya dengan memberikan kecupan di bibirnya. Kecupan itu berubah menjadi ciuman percintaan. Vita tak bisa menghentikannya. Ia sudah berusaha dengan mencoba meronta. Beberapa lama kemudian Lucas melepaskan ciuman. Vita mengambil nafas karena sesak akibat pasukan oksigen terhambat oleh ciuman darinya.
Di belakang Lucas dan Vita, Alena tersenyum karena mendapatkan momen romantis mereka. Ia menyimpan hasil jepretannya dan pergi ke arah suaminya dengan ekspresi bahagia.
“Sebentar lagi aku akan mendapatkan menantu”, kata hati Alena.
__ADS_1