The Mafia Millioner

The Mafia Millioner
Karma


__ADS_3

BERBIJAKLAH DALAM MEMBACA KARENA ADEGAN INI BUKAN UNTUK DITIRU NAMUN HANYA SEBAGAI HIBURAN. 😊


TERIMA KASIH. 🙏


JANGAN LUPA BERI LIKE👍 DAN FAVORITKAN KARYA SAYA


.........


Vita pergi ke klub bersama dua krucul yaitu Nakula dan Sadewa. Mereka memasuki klub malam dengan membawa kartu identitas palsu sebab mereka masih di bawah umur untuk memasuki klub malam dan selalu lolos dari dua penjaga.


Suasana weekend di klub malam semakin ramai begitu banyak lautan manusia yang menikmati lantunan musik yang di mainkan oleh Dj.


“Malam ini aku ingin bersenang-senang di klub malam tanpa ada gangguan, Let’s go”, kata suara hati Vita di tengan dance floor untuk ikut berjoget dengan berbaur di tengah lautan manusia.


Vita menikmati weekend nya dengan berjoget seperti orang gila dengan mengenakan pakaian singlet yang dilapisi jaket hitam dan celana jins mini hitam. Namun kenikmatan itu hanya sebentar setelah merasakan deringan ponsel di saku jaket. Vita berhenti berjoget lalu mengambil ponsel dan langsung mengangkat.


“Hallo!”


“Hallo! Kamu di mana?! Sangat Bising!”


“Hallo! Apa?!”


“Kamu keluar dari situ ke tempat sepi!”kata Duran dengan amarah yang mendidih dan air liur yang mencuat.


Kemudian Vita melihat layar ponsel untuk melihat tertera nama di layar yang telah mengganggu hari Weekend nya. Vita terkejut melihat siapa yang menghubungi dirinya. Kemudian Vita pergi ke pojokkan agar tidak terlalu kebisingan dan menarik nafas dalam-dalam.


“Hei.. Pak bos ada apa?”


“Ada apa, Ada Apa? Kamu kenapa lama cari tempat!” teriak Duran dengan air liur terus mencuat ke wajah Reino. Reino yang berada di depannya hanya pasrah.


“Sorry, sorry pak tua. Kenapa hari weekend saya anda mengganggu?”, kata Vita dengan santai


“Saya tidak mau tahu hari ini weekend kamu atau bukan, sekarang yang paling penting malam ini aku perintahkan kau untuk urus Sutomo!”.


“Ta. .ta.. pi itu tugas Reino pak tua”.


“Dia gak becus!”, teriak Duran ke wajah Reino yang sejak tadi menahan bau liurnya Duran.


“Aku ingin kamu menemui dia dan tagih tanggung jawabnya sebelum ia pergi menghilang ke antah berantah. Aku beri kamu waktu tiga hari. Jika tidak dapat semua seluruh ruangan ini tidak akan pernah dapat komisi! Haichuuu!” ucap Duran dengan diakhiri suara bersin.


“Vit, tolong kami!”, kata Reino


“Iya tolong kami!” teriak anak buah Duran


Vita yang mendengarkan itu langsung matiin ponsel dengan jengah.


Setelah selesai mematikan ponsel tiba-tiba banyak pesan berderet dari Duran


“drrt.. drrt..drrt”


Vita melihat isi chat yang berantai dari Duran dan krucul-kruculnya.



Setelah melihat isi chat berantai dari mereka Vita mengumpat sendiri sambil berlalu keluar dari klub malam dengan meremas handphone yang di genggamnya di tangan dan menggertakkan gigi.


“Aishhhh, dasar para b*j*ng*n!”


“ Dasar Reino tidak pernah beres saja”.


“Dia pasti menumbalkan aku!”


“B*r*ngs*k”.


“Si*l”.


“Buatku jengkel saja”.


“Bikin naik darah”.


“Hari weekend tapi banyak saja masalahnya”.


“ Ahhh” Vita menghembuskan nafas kasarnya dan menendang kaleng yang ada di parkiran “Klotak!”.


Di sela-sela jengkelnya, Vita melihat dua preman menarik rambut wanita dengan balutan gaun merah sexy dengan mendorong kasar hingga tersungkur dan memukul wajahnya. Vita yang berada di kejauhan melihat wanita yang dipukuli membuatnya mendidih apalagi di kejutkan anak kecil yang lari ke arah wanita tersungkur itu. Vita melihat adegan itu geram kemudian membantu wanita itu dengan menendang kaleng di depannya kearah kepala gundul, “tak” tendangan Vita tepat pada kepala gundul dan pria itu mengumpat, “br*ngs*k! Siapa yang berani melempar kaleng?!” teriaknya.


Vita melangkah maju dengan berani, “Aku!” ucapnya dengan berjalan santai kearah dua preman kekar.


“Ada urusan apa kamu, wanita j*l*ng?” tanya berambut kucir


“Kamu benar-benar ingin cari masalah!” geram pria gundul yang masih memegang kepala belakangnya.


“Aku hanya menghentikan kekerasan saja. Apa kalian tidak malu dengan tubuh kekar tapi beraninya hanya menganiaya tubuh wanita dan anak kecil” ejek Vita.


“Itu bukan urusan kamu!”, kata berambut kucir


“ Dasar wanita j*l*ng!”, geram si gundul yang sudah tersulut emosi dengan melangkah kearah Vita dan melayangkan bogeman ke wajahnya namun dapat di hindari oleh Vita. Setelah bogeman melesat, Vita menyerang balik tepat kearah alat vit*lnya kemudian si pria kucir tidak terima ia juga melayangkan tinjunya dan teruslah terjadi baku hantam yang ditonton oleh beberapa orang yang berada di luar dengan diakhiri kemenangan Vita meski terkena hantaman bagian wajahnya sedikit tapi terselesaikan olehnya.

__ADS_1


Dua preman tersungkur dan pria gundul menanyakan pada Vita, “Kamu siapa sebenarnya ? Ada hubungan apa kamu dengan wanita j*l*ng itu?”


“Aku malaikat pelindung bagi orang lemah”, dengan berjalan mendekati dua preman yang terduduk di lantai sambil mengibaskan rambut.


“B*r*ngs*k”, ucap pria gundul yang masih tidak terima dan mel**ah, “cuihhh".


“Kamu tidak tahu permasalahannya dan menghajar kami, huk huk”, kata pria berkucir dengan terbatuk karena perutnya terkena hantaman dari balok yang di temu oleh Vita.


“Suami dia memiliki hutang dua milyar di Kasino dan suaminya kabur. Kami harus dapat modal kembali jika tidak kami yang terkena pukul dengan sebagai gantinya kami di suruh memperkejakan dia”, kata pria gundul yang masih memegang perutnya.


“Oh ya, jika itu benar akan aku tangguhkan namun aku memiliki syarat siapa bos kalian?”


“Dia adalah Rajaswara pemilik Kasino di berbagai cabang baik di lokal maupun luar negeri”, ucap pria berkucir


“Syarat kedua aku ingin mengobrol sebentar dengannya aku mau mengetahui suaminya, dimana?”


Permintaan Vita diangguki oleh dua preman kekar yang masih tersungkur meski hati Vita saat ini ingin membalaskan dendam pada pria bajingan yang notabenenya sudah dianggap mati.


Vita melangkahkan kakinya dan mendekati wanita yang masih duduk di tanah dengan tubuh bergetar dengan memeluk anaknya. Vita menyentuh bahunya dan wanita itu mendongak ke arah Vita kemudian Vita menyilakan rambutnya lalu ia terkejut melihat wajah yang dia kenal waktu kecil dengan penuh lebam.


“Melisha”, panggil Vita dengan sedikit bergetar


“Sekarang aku mengerti arti sebuah karma apa yang kita perbuat entah memupuk kebaikan atau memupuk keburukan pasti ada balasan suatu saat. Sungguh Tuhan benar-benar adil”, kata suara hati Vita.


Melisha yang melihat wajah Vita hanya mampu memalingkan wajahnya karena malu yang dulu pernah ia perbuat.


“Apa aku bisa bertanya dengan kamu? Jika kamu belum siap juga tidak apa-apa sih. Tapi aku tidak bisa menolong kamu jika tidak menjawab”, ucap Vita


Melisha masih syok dan tidak bisa menceritakan yang terjadi di hidupnya hanya mampu diam dan ketakutan. Vita yang melihat tubuh bergetarnya Melisha akhirnya menyerah untuk mengajukan pertanyaan untuknya.


Vita berdiri melangkah kearah dua preman yang sudah beranjak meski masih memegang perutnya.


“Hei kalian! Jawab jujur jika ingin mendapatkan uang”, kata Vita


“Siapa nama suami dia?” tanya Vita


“Agus”, jawab pria gundul


“Dia tinggal dimana?” tanya Vita kembali


“Jika kami tahu, kami tidak akan memperkerjakan dia”, jawab pria gundul kembali


“Dia tinggal di gubuk area gang yang banyak di tempati oleh para pengemis, anak punk, dan anak jalanan lainnya”, ucap Melisha yang ikut menimbrung dan beranjak dengan menggendong anaknya.


“Semua info sudah kamu dapatkan. Kapan kamu akan membayar kami?” kata pria berkucir yang masih sakit karena pukulan balok.


“Ini untuk jaminan, harga jam tangan ini sekitar 200-450 juta kalian bisa jual sisanya kita ketemuan di sini tanpa bunga”,


“Baiklah”, kata pria gundul dengan menuntun temannya yang masih kesakitan lalu mereka pergi membawa jam tangan.


Kemudian Vita mengajak Melisha ke rumah sakit dan memesan taxi online. Vita melangkah meninggalkan klub malam ke halte yang diikuti oleh Melisha yang terpincang-pincang dengan menggendong anaknya. Mereka duduk dengan suasana hening hanya terdengar kendaraan berlalu lalang. Vita yang melihat keadaan Melisha mengingatkan masa lalu yang teraniaya.


Flashback


“Kalian bisa kerja gak sih dasar nenek dan cucu bikin repot di warung”, kata kasar yang di lontarkan mbak Elly pemilik warung.


“ Iya tuh, apalagi neneknya memiliki penyakit jamur nanti nular lagi ke pelanggan kamu jeng”, fitnah Bu Darmi


“Humm, aku liat kok saat lewat depan rumah tante”, fitnah Melisha.


“Iyakah, jika begitu lebih baik kalian tidak perlu bekerja lagi. Sekarang keluarlah dari warung saya. Nanti pelanggan saya pada melarikan diri”, kata mbak Elly yang terkena kompor dari ibu dan anak temannya.


“Usir”, ajak Bu Darmi.


“ Iya tante usir aja”, ajak Melisha.


“Itu fitnah bu”, kata Vita membela diri dengan memohon.


“Tolongi kami, jangan pecat bu”, kata Vita kembali.


“Kami masih sanggup”, kata nenek Lia yang masih tersungkur di lantai.


Mbak Elly tetap mengusir mereka dengan kejam yang telah memfitnah merasa senang dan puas.


“hu..hu..hu”, tangis Vita pecah tapi tidak dihiraukan dan akhirnya mereka meninggalkan warung mbak Elly.


Vita menuntun neneknya kembali ke rumah dan menyiapkan handuk membasuh tubuh neneknya yang sudah tidak kuat lagi menahan tubuhnya akibat dorongan keras dari Darmi dan Elly. Setelah selesai membereskan rumah Vita menyuapi makan dan menemani neneknya tidur.


Di malam harinya Vita keluar diam-diam agar tidak membuat neneknya terbangun pergi ke warkopnya pak Qomar untuk bekerja meski hanya di suruh mencuci piring.


Keesokan paginya Vita menyiapkan sarapan dan saling menyuap makan bersama neneknya. Tiba-tiba ada suara gedoran pintu, “dok.. dok..dok”


“Ya sebentar! Siapa?” teriak Vita dari dalam


Kemudian Vita membuka pintu dan melihat para warga datang bersama Darmi juga Melisha. Vita pun bingung dengan kedatangan mereka.


“Ada apa ya?” tanya Vita dengan sedikit gugup

__ADS_1


“Hei kamu! Kecil-kecil sudah jadi maling ya!” serobot Darmi dengan memfitnah


“Saya gak maling”, kata Vita dengan mengernyit dahinya.


“Alah mengaku saja, kamu tadi malam keluyuran pasti kamu maling”, fitanh Darmi tanpa henti.


“Iya nih, kaya ibunya yang gak bener, hihi”,ucap Melisha sambil mengipaskan tubuhnya.


“Saya tidak maling, tadi malam saya keluar bantu pak Qomar di warkopnya”, kata Vita membela diri. Nenek Lia yang berada di kamar tidak bisa membantu karena sakit punggungnya. Dia hanya berharap cucunya bisa menyelesaikan masalah.


“Bohong kamu!, Kita geledah aja rumahnya siapa tahu dia yang ambil kan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, nyinyiran Darmi.


“Semoga dia terusir dari sini. Aku sebel dari mereka yang selalu dapat perhatian terus apalagi sejak ibunya dulu tinggal di sini”, batin Darmi dan Melisha.


Saat Darmi, Melisha akan menggeledah isi rumah milik Vita dan neneknya tiba-tiba pak Qomar datang sang pemilik warkop juga satu kampung dengan Vita.


“Itu fitnah!”teriak pak Qomar membuat para warga berhenti melangkah untuk mengobrak-abrik isi rumah kecil neneknya.


“Saya saksinya jika dia tidak maling. Dia membantu saya di warkop setiap malam dan pulangnya saya yang mengantar Vita sampai ke rumahnya”, jelas pak Qomar.


“Bu Darmi dan Melisha kalian keterlaluan. Suatu saat kalian akan kena imbasnya yang lebih keji dari ini”,geram pak Qomar.


“Jika kalian tidak melihat jangan main hakim sendiri ini bisa di pidana karena menggeledah tanpa bukti dan ijin”, kata pak Qomar kembali yang masih gedek dengan warga.


“Saya bawa saksinya kemana gelang dan kalung mereka”, kata Pak Qomar penuh keyakinan.


“Rani Kemari!” perintah Qomar. Rani muncul dari belakang tubuh pak Qomar. Melisha dan Darmi kaget dengan rasa gugup juga hawa panas dalam tubuhnya dengan disertai kedatangan Randy notabenenya suami dan ayah dari Melisha.


“Ini gelang dan kalung yang saya beli dari bu Darmi yang di temani Melisha karena katanya mereka butuh uang untuk membantu suaminya mencalonkan diri sebagai lurah”, kata Rani.


“Huuuuu......” sorak warga untuk Darmi dan Melisah yang ketakutan karena mendapatkan tatapan tajam dari Randy.


Pak Randy kemudian menarik lengan Melisha ynag diikuti Darmi dengan lari terbirit-birit. Setelah krjadian fitnah memfitnah akhirnya kehidupan Vita damai dan merawat neneknya tanpa ada lagi kekejaman dari orang lain. Sedangkan keluarga Randy menjual rumah dan pergi berpindah ke tempat lain karena malu akibat hasil perbuatan istri dan anaknya.


Flashback off


“Itu taksinya!” ucap Vita.


Mereka menaiki taksi menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Vita pergi kebagian administrasi dan mengambil no urut. Kemudian mereka menunggu di kursi yang telab di sediakan. Banyak orang yang menatap tubuh dan wajah lebam milik Melisah dengan pakaian terlalu ketat lalu Vita yang melihat itu menyerahkan jaket kulit hitamnya untuk menutupi tubuh yang terekspos.


Empat puluh lima menit kemudian mereka di sebut dan memasuki ruang dokter Deni. Ketika kami duduk dokter Deni terkejut melihat wajah Melisha yang penuh lebam lalu dokter Deni menyuruh Melisha untuk langsung berbaring dan melepaskan jaket yang di pinjamkan oleh Vita.


“Kenapa tubuh kamu banyak lebam?” tanya dokter Deni. Namun Melisha hanya diam dan tidak mampu berbicara. Sedangkan anaknya yang masih adalam gendongan Vita menoleh melihat ibunya yang membuat dokter Deni tambah terkejut dan menggeleng kepala.


Vita memberi kode untuk dokter Deni yang sering kali mengobatinya saat dia terluka. Dokter Deni memeriksa lalu di beri suntikan vitamin dan beberapa olesan obat untuk tubuh Melisha. Kemudian di lanjutkan pengobatan anaknya Melisha. Vita membaringkan tubuhnya dengan tubuh sedikit bergetar.


“Nak, jangan takut saya hanya memberi sedikit olesan pada wajah kamu dan sedikit sakit dengan jarum. Jangan menangis ya, jika ingin cepat sembuh”, kata dokter Deni menenangkan gadis kecil itu.


Setelah menyelesaikan penanganan untuk Melisha dan putrinya lalu mereka keluar dari ruang dokter Deni hanya tertinggal Vita yang sedang berbicara empat mata. Sepuluh menit kemudian Vita keluar membawa kertas resep obat lalu mengajak Melisha bersama putrinya ke apotik menembus obat.


“Apa ada yang bisa saya bantu mbak?” kata pelayan apotik


Vita menyerahkan kertas reseo obat ke pelayan apotik dan menunggu mengambilkan obatnya lalu membayar dan di lanjutkan pergi ke tempat baju kemudian beranjak ke resto. Mereka duduk di pojokan dekat dengan jendela. Vita memanggil pelayan. Kemudian sang pelayan memberikan menu makanan. Vita menawarkan menu kepada Melisha dan putrinya.


“Mel kamu mau beli apa dan kamu gadis kecil?”


Melisha menjawab, “sama in aja”


Vita mengangguk dan menyuruh pelayan membawakan susu kocok, milk tea 2, nasi goreng tiga, dan ayam crispy satu porsi. Pelayan perempuan mencatat dan mengulangi pesanan kami kemudian pergi .


Ku mulai berbicara dengan tatapan sedikit jengah, “ Kenapa kamu bisa begini? Ceritakanlah agar aku bisa memberimu jalan keluar? Jika tidak juga gak apa-apa.


Melisha terdiam dengan tiga detik dan aku mengotak atik handphone. Kemudian dia mulai bercerita mengenai bagaimana ia bisa hamil di luar nikah hingga suaminya meninggalkan tanpa cerai dan pamit. Juga mengenai ibunya yang tiba-tiba menjadi gila atas siksaan menantunya yang menghilang dan semua hutang yang ia tanggung sendiri bersama putri semata wayangnya akibat suami yang sering judi.


Setelah berselang sepuluh menit makanan telah tiba. Kami pun mulai melahap sedangkan gadis kecil itu mulai ceria.


Vita bertanya pada Melisha, “Siapa nama putrimu?”


Melisha menjawab, “ bulan”.


Nama yang bagus untuk menerangi kegelapan ketika sinar tidak ada. Melisha mengangguk dengan membenarkan.


Melisha mengucapkan terima kasih kepada Vita. Vita menganggukkan kepala. Vita juga menawarkan rumah kecil yang pernah disinggahi jika ia mau. Melisha langsung menerima tawaran Vita. Vita memberikan alamat dengan nota kecil di saku jaketnya dan pena yang selalu dia bawa ke mana-mana.


Setelah semua urusan dan pekerjaan selesai Vita pulang dengan pesan ojol. Vita tertidur tanpa mandi. Pagi hari nan cerah menjelang siang Vita baru menyelesaikan semua ritualnya setelah mandi dan pergi ketengah ruangan menonton komedi warkop rebon.


“Hahaha” suara gelak tawaku ternyata menyeruak hingga keluar.


Ana masuk ke ruang tengah memberikan pukulan pada kepalaku yang ketawa tanpa batas. “Pletak! ”Aww ash. Sakit Ana! Aku memegang kepala yang sakit akibat pukulan Ana.


Vi kamu kapan kembali? Tanya Ana ikut bergabung menonton film komedi.


Aku kembali tadi malam, jawabku singkat dengan menguyah kripik ketela.


Ana merebut camilan kripik ketela milikku. Membuatku cemberut karena yang direbut merupakan camilan terakhir yang rasa balado kesukaanku.


Gelak tawaku dan Ana terdengar oleh Lisa. Lisa menerobos masuk tanpa mengetuk ke ruang tengah. Kami bertiga menikmati film komedi hingga berakhir.

__ADS_1


__ADS_2