
BERBIJAKLAH DALAM MEMBACA KARENA ADEGAN INI BUKAN UNTUK DITIRU NAMUN HANYA SEBAGAI HIBURAN. 😊
TERIMA KASIH. 🙏
JANGAN LUPA BERI LIKE👍 DAN FAVORITKAN KARYA SAYA
.........
Malam minggu diributkan dengan para remaja yang ugal-ugalan menikmati adrenalin balapan motor di pertengahan malam. Begitupun dengan Vita setelah menyelesaikan beberapa urusan serta preman-preman lintenir yang selalu menghantui kehidupan Marisa telah terselesaikan meski ada sedikit baku hantam di klub malam milik Gilang.
Vita berjalan menyapa beberapa temannya yang ada di arena balapan liar.
“Hallo Vit”, sapa beberapa temannya yang ia kenal.
“Hallo”, sapa kembali untuk teman-temannya.
“Vit!”, panggil Reino dari jarak radius satu meter.
“Dia benar-benar tidak bertanggung jawab dan membuatku kesal setiap kali melihat wajahnya yang tanpa dosa”, batin Vita dengan menatap wajahnya merasa ingin memukulnya.
“Apa?!”, tanya Vita dengan ketus.
“Vit, kamu mau ikut gak taruhan”, tawar Reino.
“Jika aku ikut taruhan dengannya apa kau bisa percaya".
Wajahnya saja tidak meyakinkan. Aku coba dulu deh”, batin Vita dengan berbagai pertimbangan.
“ Vita sudahlah gak usah banyak menimang. Ini kita taruhan dengan harga lumayan sekitar puluhan juta. Ikutlah balap”, kata Reino terus membujuk.
“Baiklah akan aku coba”, ucap Vita.
“Kamu yang terbaik Vit”, ucap Reino dengan merangkul dan langsung dihempaskan oleh Vita.
Di saat para remaja sedang adrenalin kendaraan yang melewati harus putar balik karena kemacetan. Seluruh remaja memulai pertandingan balap motor. Vita bersiap untuk memulai. Pemandu perempuan mulai mengaba aba dengan bendara merah kuning.
“Satu.., dua.., tiga...,”, ucap pemandu.
“Goooo”,sorak para penonton.
“Vita ayo, jangan kalah kami akan berdoa dari sini”,sorak Reino.
“Ayo semua bersorak untuk teman kita Vita”, teriak Reino.
“Go.. Vita..Go..”, sorak para penonton.
Di belokan kiri Vita terjatuh karena kesengajaan dari lawan main dengan menendang motornya namun Vita mampu bangkit kembali dan menyelip lawan hingga terjadi ketegangan antar dua pemain dengan saling selip menyelip dan menerobos. Para penonton melihat dua motor yang adu sengit untuk mencapai garis start dan pada akhirnya dimenangkan oleh Vita. Mereka bersorak-sorak. Reino meminta uang hasil taruhan. Ketika sedang membagi uang tiba-tiba polisi datang, “wiu... wiu... wiu”, dengan sura sirine membuat seluruh para remaja bubar dan kejar-kejaran dengan polisi. Para pengguna jalan menjadi terganggu dengan aksi polisi dan para remaja nakal. Lucas yang sedang menyetir hampir menabrak segerombolan remaja yang berlarian.
“Oh sh*t”, umpat Lucas.
__ADS_1
“wao.. Ini keren man”, pujian dari Jorse.
“You crazy”, ucap Martin di samping Jorse.
“Perjalanan kita untuk kembali ke hotel akan lama karena kemacetan”, lanjut Martin.
“Yap”, ucap Lucas sambil memijat kening.
Di mobil lain pun juga terus pada meluapkan amarah karena kemacetan membuatnya yang ingin segerah beristirahat harus terperangkap di jalanan.
Vita yang telah lolos dari kejaran polisi akhirnya dapat merebahkan tubuh di ranjang dengan kaki terluka yang belum diobati hingga pagi hari.
Suara deringan ponsel membuatnya harus mengangkat dengan mata masih tertutup.
“Hallo!”, ucap Vita yang masih bergelut di kasurnya.
“Hallo Vita, sekarang kamu dimana?” tanya orang diseberang sana.
“Aku Reino, bodoh”, umpatnya.
“Ada apa?”, ucapnya dengan malas.
“Aku mau memberikan uang hasil taruhan lebih baik kamu turun. Aku akan segerah sampai rumah kamu”, ucapnya dengan langsung mematikan ponsel dan menghidupkan motornya.
Vita hanya mendengus nafas kasar, “ahhh”.
“ting tong ting tong”, Ana membukakkan pintu dari dalam dengan berteriak, “sebentar”.
“Cklek”, Ana langsung menanyakan laki-laki di depannya, “ Anda siapa? Dan keperluannya?”, tanya Ana bertubi-tubi.
“Oh ya, perkenalkan saya Reino, mbak”, dengan menyodorkan tangan dan dibalas, “Apa Vita ada di rumah?”, tanya Reino
“Dia.., sepertinya..”, ucapan Ana terpotong karena tiba-tiba Vita datang dengan muka kusut bangun tidur dan sedikit terpincang.
“Rein!”, panggil Vita.
“Hai bro”, menyapa Vita dengan mengangkat tangan kanan.
“Vit, kamu mengenalnya”, ucap Ana heran
“Ya”, ucap Vita sambil mengajak Reino mengobrol di luar dan Reino menyerahkan amplop coklat dengan duduk di bangku yang tersedia di luar rumah. Ketika mereka sedang mengobrol tiba-tiba ada dua laki-laki turis datang dan langsung masuk.
“Vit muka kamu lebih baik di basuh dulu deh”, dengan menunjukkan muka kusutnya, “Jangan malu-maluin, di dalam kan ada tamu turis”, ucapnya.
“Mereka sebenarnya siapa sih?”, lanjut Reino dengan bertanya dan melongok ke dalam.
“Mana ku tahu”, dengan mengangkat bahu, “Lebih baik kamu pulang deh. Gak usah kepo”, ucap Vita sambil berlalu masuk. Ketika akan menaiki tangga Lisa memanggjl, “ Vita!”
Dia menjawab, “Why?”
__ADS_1
“Di luar tadi siapa?” tanya Lisa dengan kepo yang sedang menyiapkan hidangan dengan Ana.
“Kepo”, jawab Vita singkat.
“Ikutlah makan bersama setelah wajah kamu yang baru bangun di basuh”, ucap Ana dengan menimbrung obrolan.
“Ok”, jawab singkat Vita yang langsung melesat dengan di tatap orang yang di sekitarnya yang ia tidak kenal.
Setelah Vita memasuki kamar Adele mulai berbisik dengan Lisa karena penasaran.
“Lis, dia siapa”, bisiknya
“Dia itu Vita sang pemilik rumah dan memiliki bahan makanan yang tersedia cukup banyak seperti susu pisang yang kamu minum itu miliknya”, bisik Lisa dan Adele beroh-ria.
“Apa dia sering terluka?”, ucap Lucas tiba-tiba.
“Tidak tahu. Kami jarang ketemu. Karena soalnya kami bertemu hanya waktu pagi”, ucap Ana.
“Iya betul, Pagi pun tidak sering bertemu dengannya. Kadang dia pulang dan kadang tidak. Entah dia habis darimana? Kami menanyakan dia selalu bilang menginap di rumah teman karena ada urusan bisnis”, cerita Lisa sambil meletakkan ayam goreng yang sudah matang dan duduk di dekat Johan.
Pada saat mengobrol dan sambil menunggu Vita, Jinwoo Kang datang lalu menyapa dan bertanya.
“Anyeonghasseo (Hallo apa kabar?)”, ucap Jinwoo dengan menundukkan badan.
“Anyeong”, ucap Lisa dengan melambaikan tangan.
“Vita sedang membersihkan badan, mari ikut bergabung”, ucap Ana.
Jinwoo akan melangkah naik Vita datang dari tangga dan langsung meloncat tanpa memeperdulikan nyeri di kakinya.
“Oppa!”, teriak Vita dari arah tangga dan langsung memeluknya.
“Yak”, ucap Jinwoo dengan memukul dikepalanya dengan pelan.
“Kamu jangan pernah lagi membuatku khawatir, mengerti”, lanjutnya dengan mencubit ke dua pipi Vita.
“Iya, mengerti”, dengan melepaskan tangan Jinwoo dari pipinya, “Ayo ikut bergabung”, ajaknya dengan menarik lengan Jinwoo dan ikut berdalih di meja makan yang sejak tadi menjadi pusat perhatian.
“Vita Jinwoo itu kekasih kamu ke berapa?”, tanya Lisa agar terdengan Jinwoo.
“Dia itu list ke dua puluh dua”, ucap Vita yang di dengar Jinwoo. Vita hanya terkekeh ketika Jinwoo melototinya.
“Oppa, masih lapar. Kita akan makan di luar nanti. Aigooo”, ucap Vita dengan wajah cengir sambil menepuk pundak Jinwoo.
“Apa kalian pacaran?”, tanya Adele ikut menimbrung obrolan Vita.
“Tentu, tampan kayak Lee minho gak?”, tanya Vita sambil mencubit kedua pipi Jinwoo dan mengecup pipinya.
“Iya, seperti dibilang oleh Lisa. Dia mirip dengan idol korea di tv. Coba Zella ada ke sini pasti dia heboh”, puji Adele dengan mendapatkan sorotan tajam dari suaminya. Dia lalu pura-pura batuk, “uhuk uhuk uhuk”, dengan mengambil minumannya. Kemudian setelah itu memberi kecupan dan memujinya agar tidak mara, “Kamu lebih ganteng honey”, dengan memberi senyum. Begitupun dengan Lisa yang langsung memberi ******* dibibir dan semuanya terkekeh yang ada di meja makan.
__ADS_1