The Mafia Millioner

The Mafia Millioner
Hari Bahagia Ana dan Leon 1


__ADS_3

BERBIJAKLAH DALAM MEMBACA KARENA ADEGAN INI BUKAN UNTUK DITIRU NAMUN HANYA SEBAGAI HIBURAN. 😊


TERIMA KASIH. 🙏


JANGAN LUPA BERI LIKE👍 DAN FAVORITKAN KARYA SAYA


.........


Pada saat ini Ana sedang fighthing gaun bersama Leon untuk pengambilan Photoshop. Mereka melakukan berbagai gaya untuk pengambilan gambar mulai dari mesra, saling menatap, ciuman, dan macam gaya yang di request Leon tanpa dikutahui Ana. Membuat Ana terus kelimpungan.



Setelah selesai photo preweding, Leon mengajak Ana pergi ke restoran untuk makan. Mata Ana berbinar melihat restoran megah nan klasik. Lalu ia berbisik, “Leon apa kamu yakin, restoran ini mahal sekali Leon. Kamu terlalu banyak membuang duit untuk hal ini”, Leon menenangkan Ana, “tenang saja sweety, apa kamu mengenalku hanya sehari? Kamu telah mengenalku cukup lama, jadi kamu jangan meremehkan aku”, ucapnya membanggakan diri.


“Iya, aku tidak meremehkan Mr. Leon yang wajahnya ganteng, banyak uang, dan bos terkenal”,puji Ana


Leon memanggil sang pelayan dan pelayan perempuan datang dengan membawa menu.


“Pelayan!”, panggil Leon


“Ini tuan, nona silahkan pilih menunya”, ucap pelayan wanita itu dengan sopan


“Aku samain saja dengan kamu Leon”,ucap Ana


“Why? “,tanya Leon


“Aku bingung memilihnya yang aku lihat hanya harga mahal saja”, bisik Ana dengan bibir setengah ditutup agar pelayan tidak membaca gerakan bibir.


“Baiklah sweety”, ucap Leon


“Kami mau steak daging dengan medium bersama salad dan minumannya anggur dan jus alpukat”, ucap Leon


“Baik tuan, nona, silahkan ditunggu”, ucap pelayan wanita membungkukkan badan dengan sopan lalu pergi.


Sambil menunggu makanan datang Leon dan Ana mengobrol ringan.


“Leon thank you, kamu telah menjadikan aku istrimu”, ucap Ana


“usssttt sweety, kamu jangan ngomong begitu, aku mau menikah denganmu karena aku mencintaimu bukan untuk sebagai mainanku”, ucap Leon dengan tulus.


“Aku merasa pesimis datangnya hari H Leon”, ucapnya


“Jangan pesimis sweety, kamu adalah wanita hal yang terindah yang tidak pernah aku temui”, tulus Leon dengan memberikan kecupan singkat pada bibir ranum Ana membuat dia malu dan pipinya merah merona.


Sedangkan Lisa sedang mencoba gaun baru di kamarnya yang baru dibelikan oleh Johan. Lisa merasa berbunga-bunga hatinya karena tidak sabarnya memakai gaun untuk pesta pernikahan sahabatnya.


Ketika sedang bersenandung tiba-tiba ponselnya berderit, “drrt, drrt, drrrt”, lalu ia men deal up.


“Hallo! “,panggil Lisa


“Akhirnya kamu mengangkat ponsel kamu juga sweety, bagaimana kabar kamu? Apakah balas dendam kamu sudah selesai baby? Aku saat ini merindukan kamu”, ucap seorang lelaki dengan mata terluka sayat sebelah kiri.


“Belum, jangan pernah menghubungiku. Aku sedang menjalankan mode balas dendam, Edgar”, ucap Lisa


“Kapan kamu akan menemuiku baby?”, tanya Edgar


“Sampai situasi aman”, ucap Lisa dengan gigi mengetat.

__ADS_1


“Baiklah, aku tunggu tanggal baiknya sweety dan jangan terlalu mesra dengan bule itu. Aku sangat cemburu”, ucap Edgar. Setelah mendengarkan kalimat terakhir dari Edgar, Lisa langsung mematikan ponselnya.


“Sial, nyawaku berada di tangannya. Aku harus mengakhiri hidupnya agar tidak selalu menggangguku”, batin Lisa dengan menggigit ibu jari sambil mondar-mandir lalu duduk di pinggir ranjangnya.


Sementara Vita sedang asyik main playstation dengan Gilang dan ditemani oleh istrinya bernama Bella. Mereka berteriak saat pionnya terkena tembakan dan melesat menembak.


“Yahhh mati deh, klai ini aku kalah”, gumam Vita membuat Gilang, Bella, kakek Rio terkekeh.


“Sudah mainnya, sekarang kita makan untuk asupan gizi tubuh kita”, ucap Bella dan membantu Gilang berdiri untuk berpindah ke kursi rodanya.


“Humm baunya sangat harum”,puji Vita sambil menggeser kursi makan.


“Ayo, semua makan”, ajak kakek Rio


Mereka makan sambil menikmati semua percakapan yang dilontarkan oleh masing-masing.


Pagi hari Vita berangkat ke sekolah setelah mendapat teriakan dari Gilang dan Minwoo. Hari ini dia berangkat diantar oleh Minwoo dan Lee sejoung. Di dalam mobil Vita terus mendapatkan ceramah Minwoo hingga telinganya terus bergema.


Saat ini ia duduk di pojokkan menunggu bel masuk pelajaran namun setelah pukul delapan lewat tak kunjung ada bunyi bel hanya melihat para murid sibuk kesana-kemari. Vita akan bertanya namun ia urungkan ketika Adit memanggilnya, “Vita! “, teriaknya. Lalu Vita menoleh sumber suara dan Adit menghampurinya dengan membawa kertas pengumuman hasil rapat guru.


“Widihh”, ucap Adit sambil mencubit pipi Vita dengan gemas, “la tidak jumpa, bad girl”, ucapnya.


“Lepasin cubitannya, sakit tahu”,ujar Vita dengan mendengus sebal.


“ouwh, maaf”, kekeh Adit


“Adit, aku mau tanya, kenapa kelasnya tidak masuk-masuk sih. Bukannya ini sudah lewat jam pelajaran”, ucap Vita yang masih bingung


“Itulah efek, seorang murid tidak pernah masuk kelas”,ejek Adit.


“Iya, iya, sekarang sekolah sedang membantu membuat kontes sebelum ujian dan aku membawa pengumuman libur juga ujian akhir semester untuk kelas satu sampai kelas dua. Sedangkan kelas tiga akan melakukan perpisahan makanya kami membuat program untuk perpisahan kakak kelas dengan acara kontes agar lebih meriah”, jelas Adit


“Oh ya Vit, kamu dicariin kepala sekolah tuh, bu Maya dari kemarin mukanya seram karena kamu terus membolos. Lebih baik kamu temui dia dan bu Windi wali kelas kamu”, ucap Adit memberitahukan kepada Vita.


“Baiklah, aku ke ruang kepala sekolah dahulu dan baru bu Windi”, ucap Vita


“Hati-hati Vit, sungu milik bu Maya menyeramkan. Takutnya dia menyerudup kamu”, ucap Adit


“Tenang, di dalam tas sudah ada jinakan”, ucap Vita dengan tersenyum tipis sambil berlalu pergi menuju ruang kepala sekolah.


Sesampainya di depan pintu ruang kepala sekolah, Vita mengetuk pintu, “tok, tok, tok”, dan bu Maya yang sedang berbincang dengan Lucas menyuruh orang di luar yang ketuk pintu untuk masuk.


“Masuk!”, perintahnya sambil tersenyum dengan Lucas.


“Siapa sih ganggu orang tang lagi berbincang-bincang”, gumam bu Maya yang masih terdengar oleh Lucas.


“Maaf bu, saya kesini mengganggu anda”, ucap Vita dengan sopan. Lucas yang berada di ruangan sama tersenyum sinis sebelum Vita menyadari.


“Emang kamu ganggu saya”,ucap Bu Maya dengan ekspresi marahnya.


“duduk”, tegas bu Maya


Vita lalu duduk setelah bu Maya mempersilakannya. Ketika kepalanya menengok Vita terkejut melihat Lucas berada di depannya.


“Ngapain uncle itu berada di sini”, batin Vita


“Ada apa?”, tanya bu Maya

__ADS_1


“Saya ke sini karena ibu mencari saya minggu lalu”, ucap Vita.


“Ya, saya ingat. Di sini saya...,” ucapan bu Maya dengan nada marah terpotong oleh Lucas.


“Mohon maaf bu, saya lebih baik permisi dahulu. Silahkan anda menyelesaikan dengan berdua tanpa ada ke saya agar tidak membuat ibu sungkan”, ucap Lucas sambil berlalu pergi keluar ruangan kepala sekolah.


“Makasih mister”, teriak bu Maya. Vita yang berada disana hanya membola dengan tingkah kepala sekolah satu ini.


“Vita”, panggilnya dengan tegas, “ saya sangat jengah dengan perilaku dan ketidak hadiran kamu berturut-turut. Setiap kali guru datang ke saya selalu mengeluh dengan nilai, perilaku, dan ketidak hadiran kamu. Membuat saya pusing. Kamu mau tertinggal di kelas. Jika tidak mau kamu harusnya sering masuk dong. Saya itu sudah pusing malah dipusingin gadis seperti kamu ini! Jadi mulai sekarang saya kasih kesempatan kembali dengan meminta tugas kepada semua guru dan kamu harus selesaikan selama dua minggu sebelum ujian akhir semester datang. You understand!”, ucap bu Maya dengan nada tegas dan penuh amarah.


“Iya understand”, ucap Vita.


“Oh iya, saya punya sesuatu untuk ibu. Ini bukan sogokan kok, ini obat stres untuk ibu Maya”, ucap Vita memberikan kue brownie dua kotak dengan cokelat tiga kotak lalu pamit pergi.


Bu Maya di dalam tersenyum dengan bergumam, “ bagus jika kamu peka. Ini yang saya suka hahaha”, ucapnya dengan membuka kotak cokelat dan memakannya sambil kepala mangut-mangut.


Setelah pergi ke ruang kepala sekolah, Vita berlanjut menemui ibu Windi di kantor.


“Permisi bu Windi”,ucap Vita dengan senyum namun bu Windi menjawab dengan helaan nafas kasar, “haah..”, sambil menujukan ekspresi jengah.


“Vita, kamu itu tidak pernah masuk apalagi nilai kamu pas-pasan!, kamu ingin naik atau tinggal kelas sih!, saya sudah pusing dengan perilaku dan ketidakhadiran kamu di kelas, guru-guru pada protes ke saya karena kamu sering tidak pernah ijin atau absen!.., sekarang saya suruh kamu buku semua pelajaran kerjakan dan pelajaran bahasa inggris kamu temui gurunya. Dia guru baru dan memiliki ruang sendiri yang dahulu di pakai untuk ruang UKS. Bawa buku ini ingat yang di katakan ibu Maya jangka waktu dua minggu sebelum ujian!”, ucap bu Windi dengan ekspresi jengah, marah, dan kesal. Vita mengangguk dan membawa setumpuk buku dari pelajaran lain. Vita hanya menghela nafas melihat banyak buku yang harus ia kerjakan.


Vita duduk dengan menaruh banyak buku di meja sambil meletakkan kepala diatas meja. Adit yang melihat ekspresi Vita lalu menghampiri dengan memanggil namanya, “Vita!”, lalu ia menoleh dan kembali meletakkan kepala di meja.


“Waow, ternyata tugas ibu negara banyak nih”,sindir Adit sambil terkekeh


“Vit, semangat dong. Oh ya besok ke rumah aku, akan aku pinjamkan buku-buku mungkin tugasnya sama. Kalau tidak sama itu derita kamu”, ucap Adit.


“Yahh, padahal kalau sama tugasnya pasti aku cepat menyelesaikan tugas. Dengan setumpuk buku ini bagaimana bisa terselesaikan dua minggu jika tidak ada contekkan”, lesu Vita. Adit yang melihat kelesuan Vita dengan menawarkan diri ia akan membantu dengan mengajarkan tugas yang sulit.


“Sudah, sudah, tetap semangat”, ucap Adit dengan mengusap rambut. Kemudian saat mereka sedang bercakap ada salah satu siswi memanggil Vita.


“Vita!, kamu di cariin guru bahasa inggris yang baru tuh. Dia menyuruh kamu untuk mengambil tugas”, ucap siswi berambut pendek itu.


“Ya”, dengan helaan nafas kasar, “hhaa..”.


Vita berjalan dengan lesu sedangkan Adit melihat Vita lesu. Ia menyuruhnya untuk semangat.


Sampainya di depan pintu Vita mengetuk pintu, “tok, tok, tok”, orang yang berada di dalam menyuruhnya masuk. Vita membuka pintu lalu dengan sopan, “permisi pak, saya ke sini...,” ucapannya terpotong ketika kursinya berputar mengarah kepadanya dengan terkejut. Lucas yang melihat ekspresi Vita hanya tersenyum miring.


“C’mon sit down”, ucap Lucas namun Vita tidak mendengarkan karena keterkejutannya.


“Ngapain dia ke sini bukankah dia sudah memiliki banyak pekerjaan. Orang asing tiba-tiba menjadi guru..,” batin Vita


“Vita!”, panggil Lucas dan ia menoleh, “sit down”, perintahnya.


“Ya, saya tahu kamu kesini mau meminta tugas. Jika kamu ingin mendapatkan nilai tuntas. Saya menawarkan dengan bijak kamu menandatangani isi kontrak kosong atau tugas setumpuk. Kamu pasti tahu kan tugas kamu sudah menumpuk segunung jika aku tambahkan pasti tidak akan sampai dua minggu selesai”, ucap Lucas


“Ini guru atau bukan sih, masa ama muridnya seperti itu. Jika aku ambil kontrak kosong itu sangat mencurigakan tetapi aku tidak akan selesai dua minggu untuk menyelesaikan tugas”, batin Vita masih lama menimang.


“C’mon Vita”, ucap Lucas dengan beranjak berdiri lalu memutar kursi yang di duduki Vita, “cepatlah”, bisik Lucas dengan mata menajam sambil membelai bibir ranum Vita. Lalu Vita menghempaskan tangan kekar Lucas dengan mengatakan, “mister jangan kurang ajar”,ucapnya. Lucas berdecak, “ck”.


“Apa jawaban kamu?”, ucap Lucas di depan wajahnya dengan jarak satu inci. Tak kunjung menjawab Vita, tiba-tiba Lucas menarik tengkuk mencium bibir dengan pelan dan lebih dalam. Vita terkejut saat Lucas mencium lalu ia langsung meronta-ronta dengan memukul dada bidangnya. Ketika nafasnya pendek dan pukulan tidak ada darinya, Lucas melepaskan ciuman itu. Lalu Lucas bangkit dan langsung menyodorkan kertas kosong dengan matre 10.000.


“Cepat tanda tangani kontrak kosong atau masih betah di sini”, ucap Lucas dengan sinis dan Vita mendengus dengan menandatangi kontrak kosong lalu langsung pergi.


“M*s*m!”, teriak dibatin Vita dengan berjalan menuju kelas sambil menghentakkan kaki.

__ADS_1


__ADS_2