The Mafia Millioner

The Mafia Millioner
Menemukan yang Telah Lama Hilang


__ADS_3

BERBIJAKLAH DALAM MEMBACA KARENA ADEGAN INI BUKAN UNTUK DITIRU NAMUN HANYA SEBAGAI HIBURAN. 😊


TERIMA KASIH. 🙏


JANGAN LUPA BERI LIKE👍 DAN FAVORITKAN KARYA SAYA


.........


Jinwoo, Vita, Soobin dan lainnya sedang menikmati siaran tv juga canda tawa di tengah rumah sederhana. Kebahagiaan itu hilang sekejap setelah datangnya Park Shin dengan ekspresi marahnya.


“Jinwoo, sekarang kamu bereskan barang kamu dan ikut eomma”, marah park Shin dengan tanpa permisi atau salam hormat untuk ibunya yang sedang duduk langsung mengajak Jinwoo untuk ikut dengan dirinya dan menarik lengan Jinwoo.


“Jinwoo! Dengar kata eomma, tidak!”, bentak dia dengan masih menarik-narik lengan Jinwoo.


“Ayo!”, ajaknya dengan geram dan terus menarik lengan anaknya. Lalu Minwoo tiba-tiba mencekal tangan ibunya yang menarik lengan Jinwoo.


“ Apa yang kau lakukan?!”, bentak Park Shin dengan menghempaskan tangannya.


“Aku tidak akan melepaskan cekalan sebelum eomma melepaskan lengan Jinwoo”, geram Minwoo


“Emang kamu siapa?!”, pekiknya dengan menantang.


“Aku bukan, eomma kamu lagi. Semenjak meninggalkan keluarga kamu demi gadis miskin”, ucapnya dengan geram sambil telunjuk mendorong-dorong dada bidangnya.


Halmonie yang melihat adegan itu pun menangis. “Aduh..Park Shin lepaskan anakmu itu”, perintahnya dengan memohon sambil menarik lengan Park Shin.


“Eomma, jangan ikut campur!”, bentaknya dan menghempaskan tangannya hingga halmonie itu terjatuh ke lantai.


“Kamu, tega ya. Eomma dia itu ibu kamu!”, bentak Minwoo sambil menunjukkan neneknya.


Han Yoora yang berada di samping kejadian dan melihat halmonie itu terjatuh langsung menolongnya.


“Ibu, jangan pernah ikut campur urusan di keluargaku”, perintah Park Shin dengan mata menyalang.


Vita hanya diam melihat karena tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Han Yoora memeluk Soobin dan halmonie untuk melindungi mereka.


“Jinwoo!”, bentak Park Shin


“Kamu tidak ingin melihatku di rumah sakit kan?” ancam Park Shin


“Stop!”, bentak Jinwoo dengan jengah dalam pertengkaran Minwoo dengan ibunya.


“Why! Why!!!”, bentak kembali Jinwoo. “Mengapa eomma selalu menekan kami dengan ancaman kami lahir dari rahim eomma”, geram Jinwoo dengan menunjuk dadanya sendiri. “Jika eomma tidak ikhlas membesarkan kami. Kenapa eomma tidak bunuh kami? Itu akan selesai kan?”, lirih Jinwoo. Lalu Minwoo tiba-tiba menampar, “plak”. “Kenapa kamu bicara seperti itu?”, tanya Minwoo.


“Ahhhhhhhhhhhh!!!!! “, teriak Jinwoo lalu meninggalkan mereka di rumah.


Mereka terdiam dan suasana menjadi hening. Vita yang akan mengejar Jinwoo tiba-tiba rambutnya di jambak dari belakang oleh Park Shin.


“Auchhh..sakit! Ahjumma!”, adu Vita dengan merintih.


“Stop, jika kamu tidak ikut eomma. Dia akan eomma bun*h”, ancam Park Shin sambil menjambak rambut milik Vita.


Vita berusaha untuk menghempaskan tangan Park Shin dengan kasar naas dia terjatuh dan terbentur batu. Lalu Jinwoo berlari setelah melihat eommanya berdarah akibat benturan.


“Eomma!”, panggil Jinwoo dengan mendekat.


“Eomma!”, lirih Minwoo.


“Park Shin”, gumam halmonie lalu pingsan.


“Eomma! Eomma! Eomma!”, panggil Jinwoo tiga kali dengan menggoyangkan tubuhnya yang pingsan.


Vita yang tidak sengaja membuat ibunya Jinwoo terjatuh dan terbentur batu hanya termangu, sedangkan Minwoo langsung bergegas menggendong eommanya ke mobil dan dilarikan ke rumah sakit. Han Yoora pun juga ikut mengantar dengan mobil dibelakangnya. Sebelum pergi Yoora menitipkan Soobin dan halmonie kepada Vita.


“Vit! Aku titipkan mereka”, ucap Yoora yang langsung melesat bersama lainnya.


Vita menghapus air mata menemui Soobin.


“Maafkan aku, Soobin”, lirih Vita dengan menangis.


“Onnie, jangan menangis. Itu bukan salah kamu”, ucap Soobin sambil mengusap air mata Vita juga menenangkannya. Vita masih terisak menangis mengenai kejadian itu sambil menunggu halmonie bangun.


Soobin yang berada di sampingnya pun ikut meneteskan air mata lalu pergi keluar untuk menghilangkan kekesalan yang terjadi di keluarganya.


Usai pingsan sangat panjang halmonie terbangun. Lalu Vita langsung memeluk halmonie dengan tangisan histeris yang di dengar Soobin dari luar yang ikut bersedih.


“Halmonie, maaf”, sesal Vita dengan menangis dan melepas pelukannya.


“Tidak apa-apa. Kamu tidak salah”, ucapnya dengan mengusap tangan Vita dan meneteskan air mata.


“Halmonie memiliki permintaan.., tinggalkan cucuku Jinwoo untuk menebus kesalahan kamu yang telah mendorong ibunya”, ucap halmonie dengan memohon dan memegang tangan Vita.


“Vita, sekarang kamu tenangi di luar. Biarkan, halmonie sendiri di sini”, usirnya. Lalu Vita beranjak dengan mata sembab.


Sedangkan Jinwoo, Minwoo, dan Han Yoora berada di rumah sakit menunggu ibunya siuman dengan duduk dalam suasana hening dan bergelut pikiran masing-masing.


Setelah selang beberapa lama ibunya siuman dengan memegang kepalanya yang nyeri. Jinwoo yang melihatnya langsung memanggil ibunya.


“Eomma!”, panggil Jinwoo dengan mendekat dan diikuti Minwoo di sampingnya sambil merangkul pundak Yoora.


“Jinwoo!”, panggilnya.

__ADS_1


“Jinwoo, eomma mau kamu tinggalkan gadis itu. Jika tidak eomma akan laporkan dia ke kantor polisi mengenai kecelakaan ini dengan alibi dia mendorong eomma”, ancam Park Shin.


“Eomma!’, bentak Minwoo karena keras kepala ibunya.


“Jangan lakukan hal yang aneh. Sudah sakit baru bangun dari siuman masih keras kepala saja”, geram Minwoo dengan kedua tangan mengepal.


“Kamu sudah bukan anakku lagi. Jangan ikut campur”, ucap Park Shin penuh dengan penekanan.


Saat Minwoo akan membuka suara tiba-tiba Sonwoo Kang datang, lalu langsung mendekati istrinya dan menanyakan keadaannya.


“Bagaimana keadaan kamu?”, tanya Sonwoo Kang


“Aku sudah tidak apa-apa”, jawabnya


“Bagaimana kamu bisa seperti ini?”, tanyanya


“Ini hanya kecelakaan”, ucap Park Shin dengan sedikit melirik.


“Ini pasti perbuatan kalian”, bentak Sonwoo Kang, lalu menampar Minwoo dan Jinwoo untuk melampiaskan kemarahannya.


“Kalian anak tak tahu diuntung!”, bentak Sonwoo Kang.


“Sudahlah, jangan ribut disini”, ucap Park Shin dengan malas.


Saat Minwoo akan meninggalkan ibunya dia memberikan doa, “semoga kamu cepat sembuh”, ujarnya lalu berlalu pergi meninggalkan ibunya yang diikuti Jinwoo.


Pagi menjelang siang saat ini Ana sedang melakukan misi yaitu membantu Lucas menemukan photo yang sama dengan digambar photo yang ia pernah lihat. Saat ini Vita tidak ada di rumah dan Ana diam-diam membuka pintu dengan penjepit lidi. Lalu terbukalah dan Ana masuk.


“Dimana ya?”, gumam Ana sambil melihat di sudut-sudut kamar Vita. Ana mulai aksinya sendiri dengan menggeledah isi dalam laci dan dirak buku. Ana membuka buku satu persatu diatas meja dengan digoyangkan agar photo itu terjatuh sesuai harapan hatinya.


Tiba-tiba ada sebuah photo terjatuh dari dalam buku bacaan komik cerita horor. Lalu mengambilnya.


“ Kenapa photo nya di simpan pada komik horor?”, gumam Ana.


“Wah, ternyata mirip dengan yang dibawa Lucas”, ucap Ana sendiri. Kemudian Ana memasukkan ke dalam saku lalu merapikan barang di tempat semula dan keluar dengan menoleh ke kanan-kiri dengan perasaan lega tidak ketahuan siapa pun di rumah ini. Tapi dengan secara tiba-tiba dikagetkan oleh Lisa dari arah tangga saat menoleh ke belakang.


“Mak ma!”, kaget Ana saat Lisa sedang berjalan tanpa suara.


“Kamu sedang ngapain?”, tanya Lisa.


“A..aku, aku mau turun ke dapur untuk masak karena lapar”, ucap Ana dengan memegang perut ratanya sambil terkekeh.


“Kamu dari mana? Kok pulang pagi? “, tanya Ana bertubi-tubi.


“Hi hi.., aku bermalam dengan Johan”, ucap Lisa dengan menggaruk dagu tidak gatal.


“Ana!”, panggil Lisa dan Ana menoleh, “Aku sekalian buatkan”, ucap Lisa sambil berlalu ke kamar berganti baju.


“Uhmm harum”, Lisa mencium bau aroma masakan lalu menggeser kursi ke belakang dan duduk mengambil makanan yang siap.


“Lis, kamu mau ke salon gak?”, ajak Ana sambil mengambil lauk yang dipanaskan.


“Mau”, dengan mengunyah makanan, “ke salon mana?”, tanya Lisa.


“Ke salon biasanya saja. Udah cucok disana”, ucap Ana yang diangguki Lisa


Setelah selesai makan, Lisa bergantian mencuci alat makan yang kotor. Sedangkan Ana di luar pekarang sedang menelepon Lucas.


“Hallo Lucas!”, panggil Ana.


“Hallo!”, panggilnya.


“Aku menemukannya. Akan aku berikan saat bertemu di pesta”, ucap Ana.


“Baiklah”, ucap Lucas di seberang sana.


Ana merasa lega akhirnya menyelesaikan misi dengan membantu Lucas menemukan seseorang yang telah lama menghilang.


Malam harinya Jinwoo tidak kembali lagi ke rumah halmonie sedangkan Vita masih berada di kamar dimana ia dan Jinwoo tidur bersama.


“Oppa, jika kamu tidak kembali. Berarti jalan ini yang kita akan akhiri untuk putus hubungan yang sudah kita lalui bersama”, seru suara hati Vita dengan air mata terus menetes.


Pada saat Vita sedang melamun sendirian di ruang kamar dengan sambil mengusap air mata yang tanpa henti mengalir tiba-tiba Minwoo masuk dan duduk disamping Vita dengan memberikan sepucuk surat dari Jinwoo.


“Vit, ini untuk kamu dari Jinwoo”, ucap Minwoo sambil mengusap kepalanya lalu pergi meninggalkan Vita sendirian membaca surat dari Jinwoo.


Saat Minwoo sudah keluar istrinya menanyakan keadaan Vita di dalam.


“Bagaimana Oppa?”, tanya Yoora dengan khawatir. Minwoo menjawab dengan menaikkan pundaknya.


Flashback on


“Hyung!”, panggil Jinwoo.


“Apa bisa kau menemaniku sebentar?”, tanya Jinwoo.


Minwoo berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepala dan Ia menyuruh istrinya untuk menunggunya di mobil.


“Yoora, apa bisa kamu menungguku di mobil dulu?”, tanya Minwoo yang diangguki Yoora.


“Ini tidak akan lama”, ujarnya untuk Yoora.

__ADS_1


Minwoo dan Jinwoo mencari kafe terdekat di rumah sakit ini. Mereka duduk di pojokkan.


“Ada apa?”, tanya Minwoo


“Aku ingin menitipkan surat untuk Vita, tolong berikan kepadanya dan tunggui aku sebentar untuk menulis surat. Tolong bantu aku, hyung”, ucap Jinwoo sambil memegang tangan Minwoo dengan menatapnya lalu diangguki oleh Minwoo.


Beberapa menit berlalu, Jinwoo menyelesaikan surat yang ia tulis untuk Vita dengan lewat Minwoo.


“Apa kau yakin? Surat ini tidak kau berikan sendiri?”, tanya Minwoo dengan jawaban menggeleng Jinwoo.


“Jinwoo, dengarkan hyung. Ini semua salah hyung, jadi kamu tidak perlu berpisah dengannya. Tetaplah kalian bersama. Biarkan hyung yang akan bertanggung jawab”, ucap Minwoo dengan memohon dan memegang tangan Jinwoo. Tapi ia tetap kekeh untuk meninggalkan Vita yang sudah menemaninya tiga tahun dalam hidupnya. Meski iya, masih kecil tapi pikiran dewasanya selalu sejalan dengan dirinya dan nyaman. Namun itu terhenti setelah surat itu sampai di tangan Vita.


“Baiklah, Oppa akan berikan. Semoga kamu tidak menyesal”, ucap Minwoo pada adiknya dengan meninggalkan dia sendirian.


Flasback off


Vita yang masih di dalam kamar menangis saat membaca surat dari Jinwoo


^^^“Dear Jinwoo untuk Vita^^^


Maafkan aku, jika aku mengambil keputusan sepihak. Ini jalan yang terbaik buat kita untuk putus hubungan. Terima kasih, kamu sudah mengisi hari-hari oppa yang kesepian dengan bibir cerewetmu dan rengekanmu. Aku ingin kita dapat mengenang masing-masing momen bahagia yang kita lalui tanpa mmelupakan meski jarak kita kejauhan. Aku sangat senang saat bersamamu. Jiwa kesepian yang aku alami sejak kecil terselimuti dengan tingkah konyol kamu, yang membuat aku selalu tertawa. Kamu orang yang selalu memiliki sifat bebas sehingga membuatku nyaman. Terima kasih, oppa akan selalu di hatimu sampai kapanpun. Oppa mencintaimu.


Bye Jinwoo”.


Setelah membaca surat Vita menangis lalu menghapus air mata.


“Jika itu yang terbaik, aku selalu mendukung keputusanmu. Maaf membuatmu selalu kewalahan karena sifat konyolku. Aku akan tetap menyimpan momen bahagia ini. Semoga kamu juga bahagia”, batin Vita dengan memandang langit malam tanpa cahaya binta atau rembulan. Seolah mereka mendengarkan kesedihan dari Jinwoo.


Di tengah kesedihan Vita karena putus hubungan yang terjalin tiga tahun, saat ini Ana sedang bersenang-senang bersama semua sahabatnya dalam menghadiri pernikahan Camila dan Ares di Bandung. Mereka merupakan rekan bisnis jadi saling mengenal satu sama lain.


“Sweety!”, panggil Leon, lalu Ana menoleh saat sedang mengobrol dengan Clarisa dan Adele.


“Ada apa?”, tanya Ana.


Sebelum menjawab Leon menyapa dua wanita yang dia kenal, “Hai girls”, sapa Leon.


“Hai”, jawab mereka bersamaan.


“Kami tinggal dulu ya, an”, pamit Adele dengan beriringan bersama Clarisa.


“Aku mau mengajak kamu berdansa”, ajak Leon yang diangguki oleh Ana. Leon menarik tangan Ana ke tengah untuk ikut berdansa dengan pasangan lainnya.


“Ana, aku tidak sabar ingin menikahi kamu”, ucap Leon dengan mengecup bibir Ana tanpa permisi.


“Leon!”, kesalnya, “bersabarlah dan jangan ngomong ngaco kamu”, ucap Ana.


“Aku tidak sabar baby, aku akan bilang ke mereka kami ingin menikah secepatnya. Jika bisa besok lusa”, ucap Leon mendapatkan injakan kaki dari Ana lalu meninggalkan Leon yang selalu mesum.


Ana pergi berkumpul dengan Laura yang sedang mengobrol dengan Lisa dan Raina. Ketika saat sedang mengobrol Lucas menepuk bahu Ana. Lalu ana terperanjat.


“Lucas! Kamu ngagetin aja”, ucap Ana


“Apa kita bisa ngobrol sebentar?”, tanya Lucas dengan wajah dingin.


“Ya, tentu”, ucap Ana


Ana mengikuti langkah Lucas sampai di halaman belakang dekat kolam renang.


“Apa aku boleh meminta photonya?”, tanya Lucaa


“Ok, sebentar”, Ana mengambilkan di dalam tas selempang kecil yang ia bawa kesana kemari.


“Thank you”, ucap Lucas.


“Sama-sama”


Keesokan paginya Vita sudah mengepak barang untuk pulang ke Indonesia. Lalu ia berpamitan dengan halmonie, Soobin, Han Yoora, dan Minwoo.


“Onnie, aku pamit dan terima kasih sudah memberikan momen seperti seorang kakak yang memarahi adiknya”,


“Soobin, ada hadiah untuk kamu dalam kamar yang aku tempati. Jangan bertengkar dengan eomma kamu ya”,


“Halmonie, maaf dan beribu maaf. Terima kasih”, ucap Vita sambil memeluknya dengan tangisan pecah dan pelukkan itu diikuti oleh Soobin dan Yoora.


“Pokoknya kamu tetap selalu berhubung ya”, ucap Yoora


“Onnie, saranghae” ucap Soobin dengan memberi bentuk cinta yang besar.


Jinwoo yang mengintip kejauhan hanya dapat mengurai air mata. Karena momen bahagia tak akan terulang kembali untuknya.


Vita dan Minwoo menaiki taxi yang di pesan untuk menuju ke bandara. Beberapa jam kemudian Vita dan Minwoo telah sampai di bandara.


Saat di tengah akan masuk ke bandara. Vita berpamitan dengan Minwoo dan berpelukkan.


“Jika sudah sampai, hubungi oppa ya”, ucap Minwoo dengan mengusap kepala yang tertutupi topi putihnya.


“Bye, Oppa”, dengan melambaikan tangan yang di balas oleh Minwoo.


“Jinwoo, kamu bodoh. Gadis itu sangat spesial untuk mengisi harimu karena eomma. Semoga keputusan kamu membuat kalian bahagia di jalan masing-masing”, batin Minwoo dengan menyuarakan hati mendoakan pasangan yang terpusah karena ibunya.


Minwoo bernafas kasar”ahhh”, lalu meninggalkan bandara setelah punggung mungil Vita menghilang dan kembali pada keluarga kecilnya.

__ADS_1


Vita yang berada di pesawat sedang menangis karena kesedihan dan menghapus air mata berkali-kali.


__ADS_2