
Dante pergi ke kediaman Hamilthon untuk memberikan kabar mengenai musuh yang selama ini yang dicari dan sekalian bertemu dengan Devan. Sebelum ia pergi, Dante menemui ke dua wanita yang ia sayangi.
"Mom!"
"Grandma!"
Suara panggilan dari suara berat Dante mereka menoleh ke sumber suara saat tengah asyik menonton program drama.
"Oh my god, cucu grandma yang besar telah pulang", ucapnya.
Dante pergi menghampiri neneknya dengan memberikan pelukan begitu juga untuk ibunya.
"Kamu sudah lama tidak pulang. Grandma merindukanmu". nenek Dante tak bisa membendung air mata.
"Aku juga merindukanmu", ucap Dante.
"Kamu harusnya gak perlu pulang sekalian", ucap Sea dengan tatapan sendu.
"Kamu harusnya jangan katakan seperti itu kepada putramu yang baru kembali", tegur Herlena.
"I'm sory mom", ucap Dante dengan menunduk.
"Aku lakukan bukan sekedar untuk pergi berwisata namun aku lakukan untuk sebuah pekerjaan yang harus aku tanggung jawabi", imbuh Dante.
"Momy tahu. Momy hanya ingin kamu itu menghubungi keluargamu sesekali lewat vidcall. Momy sering khawatir denganmu yang selalu saja los kontak", ucap Sea.
Dante berjalan menghampiri Sea lalu memeluk ibunya dengan erat sambil berkata, "aku merindukanmu dan mencintaimu".
Sea membalas pelukan putranya dengan menitihkan air. Herlena sebagai seorang ibu pun ikut terenyuh. Saat di tengah suasana sedih tiba-tiba Damien dan Efrat datang dengan ekspresi khawatir melihat kedua wanita menangis.
"Ada apa ini?" tanya Efrat.
"Pasti kamu membuat mereka menangis", seru Efrat.
"Bukan", seru Sea.
"Terus apa?!", seru Efrat.
"Kami itu sedang melepaskan rindu atas kepulangan putra kecilku ini", ucap Sea.
"Syukurlah anak itu gak membuatmu sedih", ucap Efrat.
"Apakah kamu akan pergi kembali?", tanya Damien.
"Aku akan pergi ke kediaman Hamilthon. Ada sesuatu yang akan aku sampaikan kepada keluarganya", jawab Dante.
"Apakah sesuatu itu mengenai orang yang selalu bersama dengan Raymond?" Damien bertanya kembali.
"Yap", jawab Dante.
"Sebelum kamu menemui mereka, kamu ikut daddy. Ada sesuatu yang perlu daddy tanyakan", jawab Efrat dan diangguki oleh Dante.
Efrat berpamitan kepada istri dan ibu mertuanya sebelum beranjak dari tempat duduknya. Lalu Efrat pergi dan diikuti kedua putranya. Sampai di ruang kerja Efrat langsung membelakangi ke dua putranya sambil menatap luar jendela dengan ekspresi serius.
"Apakah dia Rajaswara?"
"Ya"
"Bisakah kau ceritakan kepada kami mengenai dia?"
__ADS_1
"Ya, akan aku ceritakan untukmu dad. Namun aku ingin minum anggur dulu", ucap Dante.
Damien pergi mengambilkan sebotol anggur untuknya. Lalu Damien menuangkan anggur ke dalam gelas dan diberikan kepada Dante, ayahnya, dan menuangkan untuk dirinya. Setelah meneguk anggur Dante menceritakan mengenai Rajaswara yang selama ini diintai.
"Ketika aku tertangkap oleh anak buah Raymond, aku melihat sosok laki-laki asia, Raymond memanggil dia, Rajaswara, Aku melihat wajah itu meski aku dalam keadaan hampir kehilangan kesadaran. Aku menguping sedikit mengenai sindikat pengiriman organ. Raymond juga memerintahkan Rajaswara untuk segera membereskan seseorang. Tapi..aku tak ingat karena kesadaranku mulai menurun. Saat kesadaranku menghilang, mereka melemparku ke laut. Ketika aku di tenggelamkan ke laut ada seseorang yang tiba-tiba ikut menceburkan diri untuk menolongku. Aku gak tahu dia siapa", jelas Dante.
"Apakah kamu merekam pembicaraan mereka?", tanya Damien.
"Tentu, itu keahlianku. Aku gak mau sia-sia dalam mematai mereka sampai tubuhku hampir hancur akibat hantaman yang mereka berika kepadaku", ucap Dante.
"Kamu gak pernah berubah juga", sinis Damien.
"Kalau begitu, segeralah kamu pergi kediaman Halminthon. Damien kau juga harus ikut dengannya", perintah Efrat.
"Baik dad", ucap Damien.
Dante pergi ke keluarga Hamilthon bersama Damien. Dante meminta Damien untuk mengemudikan mobil dengan beralasan dirinya masih lelah dan lemah setelah mengalami banyak kekerasan di tubuhnya. Damien pun mengalah dan mengemudikan mobil ke kediaman Hamilthon. Sedangkan Dante menurunkan jok lalu tidur tanpa peduli hal lain.
Beberapa lama kemudian mereka telah sampai tepat di depan kediaman Hamilthon. Damien mematikan mesin mobil sedannya lalu membangunkan adiknya dengan menepuk pipinya. Dante terbangun setelah kena cubitan di pipinya yang dilakukan oleh Damien. Dante menggeliat dengan merenggangkan kedua tangannya yang terasa kaku. Lalu ia turun dari mobil. Damien mengingatkan adiknya agar kalau tidur harusnya di lakukan di rumah namun Dante membalas dengan berkata, "aku baru saja pulang mana ada sih waktu untuk tidur. Kamu seharusnya memperhatikan adikmu".
"Baiklah, akan aku lebih perhatikan lagi sikapmu yang terlalu sembrono", ucap Damien.
"Itu lebih baik", senyum Dante yang terlihat bodoh di mata Damien.
Damien menekan tombol rumah beberapa kali. Lalu pintu tersebut terbuka menampakkan seorang pelayan yang dikenal di keluarga Hamilthon.
"Mrs. Martha, apakah tuan ada di rumah?" tanya Damien.
"Kebetulan tuan, dia ada di rumah dan tengah berkumpul. Silakan masuk", ucap Martha.
"Thank you", ucap Damien.
"Hai aunty".
"Dante!", seru Alena.
"Kapan kau kembali? Momy sangat mengkhawatirkan kamu sayang sampai ia sering terserang darah tinggi akibat memikirkan kamu", ucap Alena.
"Tadi pagi aunty".
"Mari duduk dulu" Alena mempersilakan Dante dan Damien.
"Apakah kamu lupa denganku cucu bodoh?", tanya grandma queen.
"No, aku tak pernah bisa melupakan kamu. Bagaimana aku bisa melupakan wanita secantikmu, grandma", gombal Dante.
"Banyak gombal", sindir grandma queen.
Dante tersenyum bodoh dengan menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Lalu ia menyapa Vita.
"Hai Vit"
"Hai juga"
"Apakah sapaanmu untukku hanya begitu?"
"Tentu"
"Dasar pelit"
__ADS_1
"Biarkan saja"
Alena menengahi perdebatan antara Vita dan Dante yang tidak mengenakan.
"Kalian kesini tak hanya menyapa dan sekedar berkunjung. Pasti ada yang ingin kalian sampaikan kepada uncle Hamilthon", ucap Alena.
"Tebakan aunty benar-benar tepat", seru Dante mengunyak kue kering yang dihidangkan.
"Kalau begitu, aunty akan panggilkan Hamilthon dahulu. Ia ada di ruang kerja bersama Lucas dan Devan", ucap Alena.
"Kami saja yang menghampiri mereka", ucap Damien.
"Baiklah, mari aunty antar kalian ke ruang kerja suamiku", ucap Alena.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang kerja Hamilthon. Sampai di depan pintu kerja Hamilthon, Alena mengetuk pintu beberapa kali. Lalu Hamilthon menjeda pembicaraan mengenai pekerjaan dan permasalahan organisasi yang dimilikinya. Hamilthon menyuruh Devan membukakan pintu. Devan pun menuruti perintah ayahnya. Saat kenop pintu berputar, Dante bersiap menyapa orang yang membukakan pintu. Lalu terpampanglah wajah Devan.
"Hai Dev"
"Dante! Masuklah"
"Kalau begitu momy pergi untuk memberikan kalian ruang", ucap Alena.
"Thank you mom".
Devan lalu mengajak Damien dan Dante masuk. Efrat mendongakkan kepala setela mendengar sapaan suara berat dari Dante saat tengah serius membaca dokumen-dokumen di tangannya.
"Hallo apa kabarmu Dante?" tanya Efrat memeluk keponakannya.
"I'm okay".
"Syukurlah jika kau baik-baik saja", ucap Efrat.
"Ada perihal apa yang ingin kau sampaikan setelah menghilang berminggu-minggu?", tanya Lucas.
Dante berdehem menetralkan suaranya dan langsung ikut bergabung dengan Lucas duduk di sofa dan diikuti oleh Damien.
"Ada hal yang harus saya sampaikan kepada kalian", ucap Dante.
"Hal apa?", tanya Devan.
"Mengenai Rajaswara".
"Lagi, lagi Rajaswara", sinis Lucas.
"Ada apa dengannya?" tanya Devan
"Ia berada di pelabuhan timur Amerika bersama Raymond", ucap Dante membuat Efrat dan Devan terkejut.
"Itu hal yang tidak mengagetkan", ucap Lucas.
"Ya, tentu kamu tidak akan terkejut karena kamu tahu kerjasama Raymond dengannya".
"Kalian pun juga telah mengetahui", ucap Lucas.
"Apa yang ingin kamu tunjukkan untuk kami?" tanya Lucas.
"Aku telah merekam pembicaraan mereka melalui jam yang aku modif dengan alat penyadap saat aku tertangkap dan dieksekusi oleh mereka". Dante mengeluarkan barang berupa flashdisk.
"Kalau begitu kita dengarkan bersama-sama. Mungkin saja Lisa juga berada di sana", ucap Dante.
__ADS_1