
“Monitor satu, dua, tiga, cek cek, kroscek..,” ucap Damien.
“Ya, aku mendengarkan”, ucap Leon dengan diikuti lainnya.
“Kali ini kita tidak boleh gagal, kita harus menyerang mereka. Paling tidak kita menangkap satu anak buah tangan kanan Raymon”,pinta Dominic.
“Kita harus siap..,”tegas Dominic.
“Baik”, serentak bersamaan dan menjalankan aksi sesuai misi dalam rapat yang telah direncanakan.
Mereka menyebar sesuai titik dalam sudut markas ilegal ini. Para penjaga di markas banyak di tumpas selama tidak terdengar pergerakan sedangkan Dominic menghimbau di layar monitor sesuai waktu yang telah dibuat Dante dan Brian. Pemrograman virus tidak dapat bertahan lama. Pemimpin di markas itu akan cepat mengetahuinya. Seluruh jajara aliansi milik Dominic segerah bergegas menemukan informasi dan membawa anak buah Raymond ke markasnya. Dominic menghimbau kembali.
“hallo!”
“hallo!”
“roscek, roscek, ada apa?”
“Aku memberitahu kalian untuk segera bergegas masuk, sebab Raymon datang tidak sesuai dugaan kita. Sebelum ketahuan cepatlah pergi”, tegas Dominic.
“Ya, sir!”, ucap para anak bawahan Dominic. Mereka pergi berjalan dengan sembunyi. Setelah mengintip mereka bergegas kabur. Namun naas mereka dipertemukan kembali wajah licik Rajaswara dengan Raymon yang berada di kubu tengah dan sayap kanan.
Sementara Efrat dan para tetua panik, mereka gusra, ada yang mengusap wajah kasar, ada yang mengumpat sampai menendang bangku membuat orang-orang disekitar kaget.
Tapi Dominic memberikan arahan mereka dari jarak jauh untuk tenang dan memerintahkan Lucas, Adam, dan Steve untuk turun dari mobil sedan.
“Kalian tenanglah, lihat situasi, jangan terlalu gegabah, yang terpenting siapkan senjata kalian untuk melawan. Jangan tersulut emosi karena omongan Raymong atau Rajaswara. Mengerti!”, seru Dominic dengan tegas sambil berkacak pinggang di tangan kirinya dan mondar mandir di depan monitor.
“roscek empat, roscek lima, roscel enam”, panggil Dominic.
“Ya!”, tegas mereka dengan serentak.
“Para pemimpin turunlah, halau musuh agar bawahan kita tidak banyak berkurang!”, perintah Dominic
__ADS_1
“Baiklah, kami akan mainkan peran”, ujar Steve.
“Good”, ucap Jorse dengan tos tangan.
Steve, Lucas dan Adam turun dari mobil sedan setelah mendapatkan aba-aba dari Dominic. Mereka menghampiri para musuh untuk membantu Johan bersama Damien. Raymond yang terkepung terangkat bibirnya dengan sinis. Lalu Raymond menggertak dan berkelit untuk manfaatkan psikis jiwa mereka.
“Wah, wah, kalian benar-benar pengecut, seperti halnya ponakan aku yang di depan maupun yang berada ditempat jauh...”, ledek Raymon.
“Lihatlah Rajaswara”, sambil merentangkan kedua tangannya, “yang selama ini kita takuti-takuti tapi mental mereka pengecut!”, bentak Raymond
Dominic yang mendengarkan dari jarak jauh mengumpat, “f*ck”, dengan menatap monitor dengan serius.
Adam tiba-tiba tertawa mendengar perkataan Raymond dengan keras, “ha ha ha ha”, tawanya mereda lalu meledek, “bukankah yang pengecut itu kamu, lihatlah diri kamu sekarang, kamu bukanlah pemimpin tapi bawahan dari Charles. Kamu hanya dimanfaatkan olehnya sebab kamu memiliki saham yang menguntungkan, apalagi saham dari keluarga Efrat yang nantinya bisa kau jadikan bidak oleh Charles”.
Damien juga ikut berseru, “kasihan diri kamu yang pengecut itu”.
Raymon yang mendengarkan ledekan mereka dia mengepalkan kedua tangan dengan erat lalu tersulut emosi mengeluarkan senjata lalu menembakan ke arah Damien, “dor”, satu kali trmbakan melesat dan tangan kanan Damien hanya tergores.
Kemudian mereka mulai peperangan dengan adu jotos dan tembak menimbak hingga darah berceceran kembali. Namun kali ini tidak banyak korban berjatuhan dari aliansi gabungan milik Dominic.
Mereka kembali dengan wajah lebam dan terluka karena tembakan. Sedangkan empat anak buahnya Dominic bersama aliansi lain menguburkan dengan hormat dan memberikan jaminan untuk keluarga yang ditinggalkan.
Kali ini misi mereka tidak terlalu banyak kegagalan dengan membawa dua anak buah Raymond yang saat ini mereka di taruh dalam gudang yang gelap dengan mata tertutup.
Sementara mereka diobati, sedangkan Dominic sedang berusaha mengungkap takbir dari anak buah Raymond yang ditemani Dante dan Brian.
Dominic duduk dibangku dengan senyum sinis. Ia kemudian melontarkan kata kepada dua krucul Raymond.
“Sebutkan informasi tentang Raymond jika tidak kalian akan mendapatkan cambukan dan siksaan dari anak buahku”, dengus Dominic.
“Aku tidak akan pernah memberikan informasi kepada kamu!”, teriaknya.
“Baiklah jika itu mau kalian berdua”,tandas Dominic. Dominic memerintahkan dengan mengkode anak buahnya untuk menghukum mereka yang tergrlantung di tiang besi. Anak buah Dominic mencabuk, “ciak, ciak, ciak___”, mereka berteriak, “arghhh, arghhh__”. Dominic menyuruh anak buahnya berhenti dengan mengangkat tangan kanannya.
__ADS_1
Dominic menanyakan rasa dari cambukan yang diberikan anak buahnya. “Bagaimana rasanya kulit kalian tercabik-cabik?”, dengan bibir terangkat sinis.
Anak buah Raymond tetap kekeh dan tidak menggubris perkataan Dominic. Lalu Dominic melanjutkan hukuman mereka hingga sampai menggunakan lidi besi yang sangatlah panas untuk mencabuk tubuh mereka sampai salah satu anak buah Raymond mencoba menyebutkan informasi tentang siasat bosnya.
“S..Stop! Baiklah akan aku beberkan”, ungkapnya yang berambut hitam keriting itu.
“Bagus”, puji Dominic.
“Kamu gila! Tidak tahu terima kasih sudah pernah diberi hati saat kamu tidak bisa makan dan minum..”, bentak teman sebelahnya yang berkulit hitam itu. Karena dia banyak mengoceh tiba-tiba Dominic melayangkan tembakan tepat di dada dekat jantung. Suara tembakan menggema di ruang bawah tanah. Pria yang berambut keriting merasa takut lalu membeberkan setelah mendengar suara tembakan.
“Katakanlah”, ketus Dominic dengan nada rendah.
“Tu..tuan Raymon akan menjual organ-organ tubuh manusia, dia juga sudah menyewa pembunuh sadis di Indonesia. Di..dia anak Rajaswara bernama Lisa..,” bebernya.
“Lisa!”, sebut Dante dengan terkejut dan tidak percaya.
“Lisa yang selama ini tinggal di.. da..dan pernah ada disekitar kami”, lontar Dante dengan suara bergetar setelah menerima anggukan, Dominic menyelesaikan dengan menembak dia, “dorr!”, tepat di jantung dengan bergumam, “semoga tempat kamu bukan neraka setelah menebus dosamu dengan mengungkapkan tabir ini”, dan menembak sekali lagi, “dorr”, tepat di kepala bagian tengah.
Dante lalu beranjak berdiri menemui Lucas dengan lainnya yang pernah dekat dengan Lisa. Sebaliknya Brian hanya berdiam dan tidak tahu apa yang terjadi.
Kali ini merupakan boomerang bagi mereka terutama Lucas, Johan,dan Leon. Dante berlari menuju ruang dimana mereka berada? dengan wajah gusar.
"Lucas!", panggil Dante dan Lucas heran melihat wajah Dante yang pucat.
"Ini gawat untuk kalian, sebab pasangan kalian dalam bahaya!", ungkap Dante.
"Bahaya, kenapa?", tanya Hamilton.
"Ternyata Lisa adalah putri dari Rajaswara!", tandas Dante
"Apa?!", terkejut mereka yang mengenal Lisa.
"Jo..Johan, apakah kamu sudah mengetahui itu?", tanya Dante yang melihat ekspresi Johan yang datar.
__ADS_1
"Aku mengetahui dia memiliki rencana jahat namun mengenai Lisa anak siapa? aku baru tahu hari ini", ungkap Johan.
Lucas yang mendengarkan itu, langsung tersulut emosi dengan mengumpat, "oh ****". Sebaliknya Alena yang mendengarkan kabar itu menjatuhkan nampan yang diatas ada beberapa gelas hingga terdengar suara pecahan"pyarr". Hamilton sebagai suaminya menghampiri Alena yang hampir pingsan.