
Saat ini keluarga Kang sedang berkabung atas kematian Jinwoo Kang. Halmonie menangis di dengan memukul dadanya karena tidak dapat melindunginya namun malah membuat dia mengalami kesulitan dan kesakitan mendalam.
“Jinwoo, maafin halmonie ini yang tidak bisa melindungimu sehingga mengakibatkan kamu pergi, hhuhhuh...,” dengan bersungkur dan menangis terisak.
Sedangkan Park Shin menangis terisak dan menyalahkan Vita yang bahkan tidak tahu situasi yang dialami oleh Jinwoo Kang.
“Jinwoo, ini semua salah anak sial*n itu, kamu jadi seperti ini, hhuhhuh...”
Minwoo beserta keluarga kecilnya hanya duduk menatap foto sang adik.
Sementara Vita hanya bisa menunggu di luar menunggu peti itu terangkat dan menuju ke tempat makam. Dia berjongkok sembunyi di balik dinding dengan menangisi kepergian Jinwoo secara tiba-tiba.
Dua jam kemudian mereka keluar setelah upacara kematian. Vita beranjak dari jongkoknya setelah melihat orang-orang keluar dengan jas hitam membawa peti Jinwoo. Dia lalu mengikuti secara diam-diam hingga ke tempat pemakaman. Saat Jinwoo dikebumikan, mereka menangis untuk melihat dia terakhir kali.
“Jinwoo!”, teriak histeris Park Shin.
Halmonie yang melihat isakan histeris Park Shin begitu sebal karena gara-gara dia Jinwoo menjadi pergi jauh.
“Dasar Park Shin, bermuka tebal setelah anaknya ia kobankan”, batin halmonie.
Vita yang sembunyi di balik pohon menangis dengan membekap bibirnya. “hhuhhuh...”, tangis Vita dengan merosot dibawah pohon.
Setelah setengah jam lamanya mereka telah bubar dan pergi dari pemakaman, halmonie yang sudah mengetahui sejak tadi jika Vita mengikuti diam-diam dengan menutup wajahnya dengan topi hitamnya dan penutup setengah wajah dengan masker hitamnya.
“Vita, keluarlah”, panggil halmonie yang lengannya di pegang oleh Minwoo. Lalu Vita keluar setelah Minwoo dan istrinya terkejut karena tiba-tiba halmonie memanggil Vita.
__ADS_1
“Halmonie.., aku kesini hanya ingin menganyarkan oppa ke tempat terakhir”, ucap lirih Vita dengan menunduk dan tangan kirinya mengusap lengan kanannya.
“Kemarilah dan mendekat untuk mendo’akan Jinwoo”,perintah halmonie. Vita menatap halmonie, Minwoo, dan Yoora, untuk memastikan mereka mengizinkan untuk mendekati pemakaman Jinwoo. Mereka menganggukkan kepala lalu Vita mendekat dan berjongkok. Kemudian mengatakan sesuatu untuk Jinwoo dengan air mata menetes.
“Oppa”, panggil Vita dengan suara lirih sambil mengusap batu nisan.
“Oppa, maaf aku tidak bisa menemanimu saat kamu masih hidup. Ketika..kamu kesulitan dalam kegelapan yang menghantuimu. Maaf jika aku terlambat memberimu penerangan cahaya. Meski kau datang dimipiku dengan senyuman tetap saja aku akan kesepian melewati hidupku. Hhuhhuh..,” isak Vita di atas makam Jinwoo dengan mengusap nisan miliknya.
“ Vit..,”panggil Yoora dengan mengusap pundak.
“Vit, halmonie ingin kamu untuk menginap di rumah kami. Ada sesuatu yang harus kamu tahu”, ucap Yoora. Lalu Vita berdiri mengikuti Yoora dan naik mobil milik Minwoo. Mereka bersama-sama menuju rumah halmonie.
Beberapa lama kemudian mereka telah sampai di pelataran halaman milik halmonie. Lalu mereka turun dari mobil itu. Halmonie memimpin jalan dan diikuti mereka. Yoora menawarkan Vita untuk duduk sedangkan Yoora bersama anak dan suaminya pergi ke kamar.
Beberapa saat kemudian halmonie datang membawa kotak berwarna coklat di serahkan pada Vita.
“Vit, ini kotak yang harus halmonie sampaikan kepadamu dari Jinwo”, dengan menyerahkan kotak coklat itu, “ambilah”,perintahnya, “dan bukalah isinya”, perintah kembali halmonie.
Vita menerima dan membuka isi kotak cokelat milik Jinwoo. Setelah dibuka ternyata ada beberapa foto saat dia dan Jinwoo bersama dengan tersimpan dalam kotak itu. Dia juga menemukan sebuah kotak kecil, saat dibuka terdapat kalung yang dahulu ia janjikan semasa hidupnya. Kemudian ada sebuah surat warana biru. Vita mengambil lalu membuka dengan menghembuskan nafas sejenak sebelum membaca surat itu beserta buku harian abu-abu.
Isi surat dari Jinwoo, “ to. Vita, Hai Vita, apa kabarmu? Kamu di sana pasti baik-baik saja karena oppa tidak ngrecokin kamu.
Oppa merindukanmu, bahkan di saat suntuk aku selalu membuka membuka jendela memandang langit malam meski terkadang tidak ada bintang sama sekali. Oppa selalu mencurahkan isi hati kepada langit malam jika aku sedang merindukanmu.
Aku merindukan kamu setiap hari mengenai rengekan dari bibir kecilmu,tingkah konyol, main basket, dan semuanya aku merindukan sosok kamu. Namun sayang kita harus dipisahkan oleh waktu dengan paksaan. Terkadang oppa ingin jadi dilahirkan kembali dari rahim sosok ibu yang tidak egois. Tetapi kita tidak bisa meminta itu karena itu kuasa Tuhan.
__ADS_1
Terkadang jadi manusia dewasa itu sangat sulit. Aku berharap kamu jadi orang dewasa dengan menjalani seauai kemauanmu dan bahagia, tidak sepertiku. Oppa akan selalu melindungimu meski jarak kita jauh dan aku selalu dihatimu. Berbahagialah di duniamu. Terimakasih kau telah mengisi hari-hari gelapku. Saranghae💗
By. Jinwoo Kang
Setelah membaca isi surat dari Jinwoo Vita menangis kembali. Tangisan itu terdengar oleh halmonie, Minwoo, Yoora, dan Soobin yang berada di ujung ruangan masing-masing. Di rumah kecil itu di penuhi suara isakan tangisan mereka atas kepergian Jinwoo yang begitu cepat.
“Oppa, saranghae”, ucap Vita dalam isak tangis sambil memeluk buku harian yang belum di baca dan surat kecil dari Jinwoo yang telah di baca.
Minwoo yang berada di kamar sambil memangku Soobin, ia mengeluarkan isi hatinya, "Jinwoo maafkan hyung yang telah membuat kamu kesulitan selama ini. Maafkanlah hyung-mu ini tidak peka pada perasaan kamu selama ini. Maafkanlah Jinwoo, yang audah membebankan kamu dalam keluarga ini. Maaf, atas kesedihan yang kau lalui", sambil meneteskan air mata.
Sementara Park Shin masih saja diam di kamar dan menyalahkan semua pada Vita.
"Ini semua gara-gara gadis si*l itu, ya, dia yang telah membuatmu menderita. Aku akan balas atas kemantian anakku Jinwoo. hhuhhuhhuh...
"Jinwooo! hhuhhuh...!", isak tangis dari orang terdekat.
Malamnya Vita menatap langit di bawah pohon dengan air mata yang tidak bisa dibendung. Dia juga belum rela jika Jinwoo pergi. Sedangkan Minwoo dan halmonie melamun di ruang tamu melihat punggung Vita yang terduduk dengan memegang buku harian yang belum mampu ia baca.
Rasa sakit menimbulkan pedih dan luka bagi yang ditinggal
"Harusnya kamu tidak muncul dimimpiku, aku menjadi begitu bersalah setelah kamu hadir di mimpiku dengan senyuman kamu", gumam Vita sambil menghapus air mata yang terus mengalir.
"Kamu sudah janji akan bahagia setelah mengambil keputusan kamu, namun apa? kamu pergi tanpa pamit dan hanya muncul di mimpiku. Oppa, kamu bodoh, jika kau tidak bahagia kenapa tidak lari saja. Malah pergi begitu jauh", gerutu Vita yang terus menangisi kepergian Jinwoo.
Begitupun halmonie dan Minwoo, mereka menangis tanpa henti karena sebuah penyesalan terhadap Jinwoo yang berpura-pura senyum namun hatinya dipenuhi beban dan kegelapan yang menghantuinya.
__ADS_1