
“Vita! Vita! Vita!”, panggil Adit tiga kali sambil berlari dan Vita menoleh ke sumber arah suara dengan menghentikan langkahnya. Lalu Adit merangkul pundak Vita.
“Ada apa memanggil?”, tanya Vita
“Tidak apa-apa, kamu sudah belajar belum untuk hari pertama kamu ujian semester kenaikan kelas?”, tanya Adit
“Sudah..,” jawab Vita singkat
“Beneran sudah, aku kira kamu bisanya hanya ikut balap motor dan berkelahi”, ucap Adit
“Iya aku sudah belajar bagaimana cara menjadi kaya dan banyak duit”, ucap Vita.
“Bisa aja kamu”, ucap Adit sambil mencubit dua pipi Vita dengan gemas dan berjalan beriringan menuju kelas ujian semester.
Sesampainya di depan ruang kelas Adit merasa bersyukur ternyata satu ruangan dengan Vita.
“Vit, ternyata kita satu ruangan, syukur deh. Jadi aku ke kantin tidak perlu nyariin kamu”, ucap Adit yang duduk di meja nomor dua dan Vita di belakang Adit.
“Dit nanti aku contekin ya”, ucap Vita.
“Baiklah, tapi ada syarat yaitu selama aku bisa nyontekin kamu, kamu harus mentraktirku..,” ucap Adit sambil meregangkan otot, “untuk asupan energi Vit”, ucap kembali Adit.
“Baiklah”, ucap Vita.
Bel berbunyi, para murid memasuki ruang ujian. Para pengawas ujian memasuki ruangan ujian yang telah terbagi. Lucas mendapatkan ruangan dimana Vita berada? Mendengar suara tet dua pengawas membagikan soal dan lembar ujian. Kemudian mereka mulai mengerjakan setelah para pengawas mempersilahkan. Mereka serius mengerjakan soal ujian dan Lucas terus mondar mandir sana sini. Para siswa tidak bisa berkutit jika penjagaannya ketat mereka hanya bisa mengandalkan hasil belajar masing-masing dan yang tidak belajar hanya pasrah menerima nasib seperti halnya Vita. Ia kini hanya mengerjakan lima soal dan lainnya ia tinggal dengan menaruh kepala di meja. Lucas saat berpaspasan di meja Vita tersenyum melihat dia yang tertidur. Ia mendekat di telinga Vita saat kepalanya menunduk entah karena ngantuk atau lainnya.
__ADS_1
“Sweety, apa kamu menyerah? Lihatlah saja sweety aku akan beri kamu hukuman”, ucap Lucas. Vita yang hanya menyembunyikan wajahnya di bawah tangan sebagai tempat menindih mendengarkan bisikan Lucas membuat Vita kesal.
Masih ada sepuluh menit, Vita menerima contekan dari Adit. Lalu ia mengerjakan dan Lucas berada di depan melihat itu hanya tersenyum miring. “Sweety lihatlah, aku mendapatkan bukti, dan bagaimana kamu merasakan hukuman itu”, batin Lucas dengan tersenyum licik.
Beberapa menit kemudian terdengar suara bel tet tiga kali sebagai tanda para murid mengumpulkan semua lembar jawaban dan para siswa meninggalkan ruang kelas. Adit bersama Vita pergi ke kantin tetapi terhalang oleh Syifa pengagum rahasia Adit. Ia menyampaikan perintah dari Lucas.
“Vita!!”, teriak Syifa.
“ada apa?”, tanya Vita.
“Kamu di panggil mister tuh”, ucap Syifa.
“Emang ada apaan? “, tanya Adit dan Syifa mengedikan bahu.
“Kenapa dia memanggilku? Ya Tuhan kenapa harus dia yang aku hadapi? Dia terlalu licik untuk aku kalahkan”,batin Vita
“Jika kamu tidak menemui akan ada poin Vit, kata dia”, ucap Syifa.
“Ya sudahlah akan aku temui”, ucap Vita dengan ekspresi kesal. Dia melangkah menuju ruangan Lucas. Dan Adit kali ini mengalah tidak dapat traktiran dari Vita. Ia berjalan di kantin dengan mengajak Syifa dan dia mangut.
“Syif, kayaknya aku harus ajak kamu biar ada teman. Apa kamu mau ke kantin?”, ucap Adit dan Syifa menganggukan kepala.
“Baiklah, ayo kita ke kantin”, ajak Adit dengan berjalan duluan yang diikuti Syifa.
Sedangkan Vita sedang menghadapi Lucas.
__ADS_1
“Ada apa anda memanggil saya?”, tanya Vita yang masih berdiri.
“Saya memanggil kamu, ingin memberikan hukuman bagi siswa yang mendapatkan contekan”, ucap Lucas
“Oh ya, aku tidak menyontek apa-apa”,sangkal Vita.
“Baiklah, akan aku berikan bukti agar kamu dan teman kamu mendapatkan poin. Jika kamu tidak merasa kasihan”, ucap Lucas beranjak dari duduknya dan berpindah duduk dipinggir meja.
“Bapak itu mau nya apaan sih? “,jengkel Vita. Lucas hanya tersenyum miris dengan pikiran penuh dengan kelicikan. Saat Vita akan melontarkan kalimat tiba-tiba tubuhnya terasa melayang lalu ia meronta dengan menggerakkan kakinya dan memukul dada bidangnya sambil meminta berteriak meminta di turunin.
Luc membawa Vita dalam pangkuan di Sofa lalu membarinkan tubuhnya di paha dengan tengkurap dan menyingkap rok sekolahnya lalu Lucas menampar bokong Vita. Vita berteriak, “Anda keterlaluan berani melakukan senonoh”, marah Vita dengan kaki terus di gerakkan dan tangannya ingin menurunkan rok yang tersingkap oleh Lucas tetapi tidak dapatkan malah yang didapatkan tangannya terus dihempaskan.
“plak”, ketiga kali yang dilakukan Lucas dengan mengatakan, “ini hukuman bagi gadis pemalas”, ucap Lucas sambil menampar bokongnya.
Beberapa lama kemudian bel masuk berbunyi. Lucas menghentikan masa hukuman dan membangunkan Vita dari tengkurapnya dengan mendudukkan tubuhnya di atas paha miliknya dan nada mengancam.
“ingatlah sweety, masa kontrak berlaku seperti hari ini. Nanti pulang sekolah pulanglah bersamaku. Jangan kabur. Jika membangkan kamu akan dapatkan lebih dari ini”, ucap Lucas dengan nada rendah dan dingin. Lalu Lucas menurunkan Vita yang berekspresi marah dan langsung melesat berlari. Lucas melihat Vita marah hanya tersenyum tipis.
Vita berjalan ke ruang ujian dengan bergumam berbagai umpatan untuk Lucas, “ dasar orang gila, b*r*sek, pokoknya nyebelin”.
Sementara Ana sedang asyik menikmati bulan madu bersama Leon di pulau milik keluarga Leonard. Ana sedang menikmati pemandangan di balik jendela dan tiba-tiba Leon memeluknya dari belakang.
“Leon!”, peringatan Ana karena bibir nakalnya.
“ya sweety”, ucap Leon pura-pura tidak tahu dan masih betah menikmatinya.
__ADS_1
“Leon! “, peringatan Ana dengan keras saat bibir nakal itu menggigit pundaknya. Namun Leon hanya terkekeh dan membalikan tubuh Ana lalu melakukan kembali bulan madu sebagai suami istri sejak satu minggu lalu. Ana yang menghadapi Leon cukup lelah namun menikmati semua sentuhan yang diberikan suaminya tanpa mengenal waktu. Baik saat menikamti pemandangan, hiburan dibawah laut dan lain sebagainya. Semua momen tercetak layaknya sebuah video klip di kepala dua sejoli dalam kebahagiaan.
Setelah membersihkan badan Leon mengajak Ana pergi makan malam yang penuh keromantisan seperti hari-hari lalu. Leon tidak pernah habis akal memberikan banyak kejutan untuk Ana sehingga Ana selalu berdoa apa yang di lakukan di hidupnya masa kini ia berharap bukan sebuah klise semata namun dapat dirasakan di kehidupan selanjutnya. Meski ia tahu bahwa hidup tidak seterusnya bahagia pasti ada pahitnya. Tetapi bagi Ana tidak ada salahnya menginginkan sebuah klise masa kini untuk tetap bertahan. Ana selalu berdoa untuk rumah tangganya dan kehidupan selanjutnya.