
Bab.22
"Siapa di sana?" Safire mendekati sosok yang tak jauh darinya.
"Ini aku, pemilik tubuh yang kau masuki."
"Esmera? Benar ini kamu?"
"Ya."
"Syukurlah kamu kembali, ayo masuk ke dalam tubuhmu lagi. Aku harus kembali ke dalam tubuhku," Safire bersemangat.
"Kau tidak bisa kembali, sebelum menemukan sesuatu."
"Sesuatu?"
"Ya. Aku harus pergi, kuberikan tubuhku padamu. Sepertinya sekarang aku bukan lagi pemilik tubuh itu, kau harus tinggal di dunia ini selamanya. Safire... ikuti kata hatimu, kau juga akan menemukan jawaban di dunia ini..."
"Tunggu! Jawaban apa maksudmu?! Jangan pergi! Esmera! Esmera!" tapi sejauh apapun Safire berlari sosok itu semakin menjauh dan akhirnya menghilang.
Kilasan berubah, kini Safire berada di dalam mobil untuk bertemu seorang narasumber yang menelepon mengatakan jika mengetahui obat untuk virus yang sedang ditelitinya.
Brukkk!!!! Brakkkk!!!!!
__ADS_1
Mobil yang ditumpangi Safire terguling-guling hampir 10 meter jauh nya. Safire yang terjepit di dalam mobil sulit bernafas, darah mengalir deras dari kepalanya.
"Jangan... mati... tidak... ingin... mati... aku masih... harus mendapatkan... antivirus nya..." namun seketika pandangan Safire menggelap.
"Tidak! Aku tidak boleh mati!" teriak Safire dengan mata terpejam.
"Putri! Putri! Esmera!"
Pangeran Otis mendengar suara teriakan dari dalam kamar, ia yang sedang berjaga memeriksa diluar kamar juga sedang mencari tempat yang nyaman untuk tidur malam itu seketika berlari masuk.
Mata Safire terbuka, bernafas tersengal-sengal. Nampak tubuh Safire bercucuran keringat, tiba - tiba ia mencengkram lengan Pangeran Otis.
"Tidak! Dia pergi! Esmera pergi! Aku harus kembali pada duniaku! Aku tidak ingin terjebak disini! Panggil Esmera kembali! Panggil dia! hhhhhh..." tubuh Safire bergetar hebat, matanya tidak fokus.
Nafas Safire berangsur normal, tubuhnya berhenti gemetar. Matanya kembali menutup, tapi cengkraman nya di pakaian Pangeran Otis malah semakin erat.
Pangeran Otis tak tega melepas paksa cekalan Safire dari pakaian nya, akhirnya ia membiarkan nya. Pangeran Otis duduk bersandar di nakas kecil di pinggir ranjang, duduk di lantai menunggu Safire terbangun.
Posisi mereka berdua seperti itu semalaman, Pangeran Otis yang mengantuk tak kuasa lagi menahan kantuk yang menerjang. Ia tertidur dengan masih terduduk di lantai bersandar pada nakas kecil, sedangkan Safire tertidur kembali dengan tubuhnya berada di pinggir ranjang serta tangan yang masih mencengkram pakaian Paman kecil nya.
Klontang!!!
Pagi hari tiba, suara sesuatu terbentur lantai membangunkan Pangeran Otis dan Safire dari tidur mereka. Keduanya mengucek mata mereka yang masih mengantuk.
__ADS_1
Pangeran Otis yang tersadar lebih dulu, dia menoleh ke samping.
Safire juga sudah tersadar sepenuhnya, merasakan ada hembusan nafas di telinga dan sebelah pipinya. Kepalanya berbalik ke samping, terkejut. "A-apa yang terjadi?"
Pangeran Otis hanya tersenyum lalu bangkit dari duduknya di lantai. "Ada kelinci yang berani di siang hari tapi ketakutan di malam hari. Aku hanya menemani sang kelinci imut agar bisa tidur nyenyak dan tak berteriak dalam tidurnya lagi."
Senyuman Pangeran Otis semakin lebar saat melihat mata Safire membelalak lebar, Safire sepertinya teringat kejadian semalam.
"Kamu! Jaga mulutmu. Disini, tidak ada yang terjadi. Sekarang layani Putri Esmera, aku harus pergi sebentar." Ujar Pangeran Otis pada pelayan wanita yang masih berdiri kaku di dekat ranjang.
"B-baik, Pangeran." Jawab si pelayan.
"Kamu mau kemana?" Safire tak ingin ditinggalkan, merasa dirinya masih tak aman. Entah dari mimpi buruknya atau dari sesuatu yang belum ia mengerti kenapa dirinya terjebak di dunia itu.
"Aku hanya pergi sebentar, sejak kemarin aku belum membersihkan tubuhku dan mengganti pakaianku. Apalagi semalam ada yang menarik baju--"
"Pergilah," Safire memalingkan wajahnya, malu akan kelakuannya semalam. Itu karena kejadian yang bertubi-tubi di hari kemarin, juga karena bermimpi buruk.
Pangeran Otis tersenyum melihat wajah malu Safire, ia mengelus kepala Safire seperti mengelus kepala anak kecil. " Paman kecil-mu akan kembali, hmmp!" godanya.
Pangeran Otis menahan tawa yang akan menyembur keluar, setelah keluar dari kamar tawa kerasnya diluar terdengar oleh Safire.
"Kenapa jika bersamanya aku manja dan bertingkah seperti anak kecil, aishh!" gerutu Safire kesal pada dirinya sendiri karena di dunia aslinya dia adalah seorang wanita mandiri.
__ADS_1