
Bab.35
Saat Safire selesai, mata Pangeran Otis sudah terpejam. Dia mengumpulkan satu - persatu peralatan, membuang beberapa yang tidak bisa dipakai lagi.
"Sekarang Aku tinggal mencari Alex," Safire bangun menarik selimut menyelimuti tubuh tinggi Pangeran Otis mengecup kening lelaki itu sekilas kemudian keluar kamar.
Diluar bibi Neri menunduk, sedang menunggu Safire untuk meminta maaf.
"Ada apa bibi?"
"Sa-saya ingin minta maaf dan terima kasih karena Cello sekarang sudah sembuh."
"Syukur kalau Cello sudah sembuh, aku juga sudah memaafkan mu. Dimana Alex?"
"Pangeran ada di kamar nya."
"Hm," Safire melangkahkan kakinya menuju kamar Alex berdasarkan ingatan Esmera. Dalam ingatan, Esmera sering berjalan menyusuri lorong ini menuju kamar Alex setiap tengah malam tapi hanya bisa berdiri di depan pintu tanpa berani mengetuk atau menerobos masuk. Esmera tidak menginginkan apa - apa, wanita itu hanya ingin disayang oleh Alex.
"Kasihan sekali kamu Esmera, tapi kamu memulai dengan cara yang salah dan berakhir dalam masalah," gumam Safire mengasihani Esmera.
__ADS_1
Tok Tok Tok.
"Alex, ini aku Esmera."
Tak ada jawaban dari dalam kamar.
Safire mencoba membuka pintu tangan nya, pintu terbuka. "Alex, aku masuk."
Safire memberanikan diri melangkahkan kakinya melewati ambang pintu, kamar sedikit temaram. Penerangan dari lampu minyak sangat kecil, Safire membiasakan penglihatan nya. Dia melihat Alex berdiri di depan jendela memunggunginya, darah masih mengucur dari lengan atas yang tadi ditebas Pangeran Otis.
Dengan langkah ragu Safire mendekati Alex, membuka kotak obat dan menaruhnya di atas ranjang. Mengambil gunting untuk menyobek lengan baju Alex agar memudahkan nya mengobati lelaki itu.
"Alex, kalau kamu masih menghargai ku... izinkan aku mengobati lukamu."
"Alex, lebih bijak lah. Sampai kapan kamu ingin berbuat sesukamu? Sekali ini saja pikirkan orang lain, kamu tidak bisa memaksakan perasaan orang padamu. Aku juga dulu terus berusaha mendapatkan hatimu setiap hari tapi hanya tatapan dan sikap dinginmu yang aku dapatkan. Bahkan aku setiap malam berdiri di depan pintu kamarmu, ingin kamu membelaiku. Apa saat itu hatiku tidak lebih sakit darimu sekarang?! Alex, cinta itu masalah waktu. Jika kamu melewatkan waktu yang tepat, semuanya akan berakhir... seperti cintaku padamu, semua sudah usai."
Tubuh Alex bergetar, sekuat tenaga menahan suara tangisannya tapi masih terdengar oleh Safire.
Safire merasa kasihan, pada Esmera yang mengharapkan cinta Alex di sepanjang hidupnya dan kasihan pada Alex yang terlambat mencintai.
__ADS_1
"Alex, lepaskan aku dari hidupmu."
Safire tak menunggu jawaban Alex, maju mendekat menyobek lengan baju lelaki yang sedang menangis pilu itu dengan terampil menggunakan gunting.
Alex menangis dalam diam, menatap dari pantulan jendela wajah cantik yang dia sia - siakan selama ini. Menyia - nyiakan wanita yang pernah mencintainya sepenuh hati.
Aku sudah terlambat... Dia kini milik lelaki lain... Esmera...
***
Masa Depan.
"ALEX...!!!" Esmera terbangun dari mimpi buruknya, dia bangkit dari baringan memegang dadanya yang berdenyut sakit. "Alex, apa kau sedang terluka disana? Kenapa hatiku sakit? Arghh...!!" Esmera memukul - mukul dadanya menunduk merintih kesakitan.
"Safire! Ada apa sayang? Dadamu sakit?" Morgan baru saja kembali dari luar, seketika dia terkejut berlari mendekati ranjang rawat.
Esmera menggeleng, air mata menetes membasahi punggung tangan Morgan.
"Ada apa? Kenapa menangis? Kamu bermimpi buruk? Tentang kecelakaan?"
__ADS_1
Sekali lagi Esmera menggeleng, dia semakin mengeraskan tangisan nya.
Morgan kebingungan, apa yang harus dia lakukan? Akhirnya hanya menarik tubuh wanita yang merintih kesakitan itu ke dalam pelukan, menenangkan nya.