
Bab.53
Kereta kuda berhenti di sebuah penginapan tak jauh dari camp prajurit, Alex turun dengan Pangeran Otis yang sudah sadar. Tubuh Pangeran Otis bergetar setelah mendengar kenyataan yang sebenarnya perihal Safire.
"Kenapa dia tak menceritakan nya padaku..." gumam Pangeran Otis sepanjang jalan.
"Jangan terjadi apa - apa padanya..."
"Alex... dia akan baik-baik saja bukan..."
Alex membiarkan sang Paman dengan racauan nya, dia sendiri sedang tak baik - baik saja.
Pintu kamar terbuka, Alex dan Otis masuk. Di dalam ada sang pengawal Albian dan Daniel. Sebuah kantong darah terpasang di salah satu kayu yang dibuat sedemikian rupa oleh Daniel agar memudahkan aliran darah mengalir dari kantong darah ke tubuh Safire melalui selang.
__ADS_1
"Untung saja, kotak obat milik Profesor masih bisa membesar dan terbuka saat ditempelkan ke jarinya. Aku bisa melakukan tindakan," ujar Daniel.
Alex mengangguk, "Terima kasih, Daniel."
"Tapi nyawa Dokter Safire masih dalam bahaya, kita masih harus menunggu." Daniel menggeleng.
"Safire... pantas saja malam itu dia ingin aku memanggil dengan nama itu. Malam terakhir kami bersama, malam itu..." bibir Pangeran Otis bergetar menahan tangis, ia mendekat ke arah dipan dimana wanita yang dicintainya terbaring lemah menarik tangan pucat milik wanita itu ke bibir lalu mengecup punggung tangan mungil milik Safire berulang kali.
Masa Depan, 2030.
"Ughhht..." rintihan terdengar dari bibir Safire yang terbaring di ranjang rumah sakit. Setelah 10 hari lalu ia dengan Esmera yang menempati tubuhnya keluar dari rumah sakit, tiba - tiba ia kembali tak sadarkan diri dan Morgan membawanya ke rumah sakit.
"Otis..." gumam Safire.
__ADS_1
"Sayang, kamu bangun. Safire..." Morgan dan Dokter yang sedang memeriksa mendengar suara Safire meskipun hanya gumaman.
Dengan mata yang berat Safire membuka sepasang matanya, wajah yang terasa asing terlihat olehnya. Asing? Bukankah dia Morgan? Tidak! Apa aku kembali ke masa depan?! Otis? Aku benar-benar meninggalkan nya!
"Tidak...!!!" Safire bangkit dari baringan nya, menggelengkan kepalanya dengan panik "Otis! Tidak! Aku tidak ingin meninggalkanmu!"
Morgan kembali tercengang, hari - hari lalu saat mengigau dalam tidur Safire selalu memanggil nama Alex sekarang Safire memanggil nama lelaki lain, Otis. Sebenarnya siapa mereka? Siapa para laki - laki ini?
Di tengah kebingungan Morgan, Safire mencabut selang infus di lengan nya. Dia turun dari ranjang, berjalan ke jendela besar di ruangan rawat menatap ke sekitar diluar. Tanah - tanah luas dengan hutan belantara sudah tidak ada lagi, Istana Kerajaan tidak ada lagi. Kini hanya terlihat bangunan - bangunan mewah menjulang tinggi dengan lampu - lampu yang berpendar begitu terang.
"Aku benar - benar ingin kembali ke sisi Otis. Tuhan... aku tidak keberatan dengan kekuasaan-Mu. Namun, setelah tugasku disini selesai, biarkan aku kembali ke ruang dan waktu dimana lelaki yang aku cintai berada," Safire berdoa menangkupkan kedua tangan nya. Dia bukan seorang penganut agama yang baik, namun dia sadar Keagungan Tuhan adalah diatas segalanya.
"Safire, siapa lagi itu Otis? Setiap hari kamu selalu memanggil nama Alex, seolah merindukan lelaki itu. Aku tidak mengerti, selama setahun ini kita selalu bersama dan aku tidak pernah mendengar kamu mempunyai kekasih selain aku. Sekarang setelah terbangun dari koma dan tak sadarkan diri, dua nama pria yang berbeda kamu panggil. Sebenarnya, siapa mereka?" Morgan tak tahan lagi, merasa dirinya bukan siapa - siapa lagi bagi Safire. Bahkan setelah tersadar dari koma, Safire tak pernah mau ia sentuh sedikit pun selalu berkata ingin kembali. Memangnya Safire ngin kembali kemana?!
__ADS_1