
Abad 17, Istana.
Putra Mahkota Otis tidak bisa tidur dengan nyenyak, ia gelisah semalaman. Akhirnya ia terbangun dengan tubuh berkeringat nafas tersengal - sengal seolah baru saja ada seseorang yang mencekik nya. Ia turun dari ranjang berjalan keluar kamar ingin mencari udara segar di halaman kecil di samping, namun bayangan seseorang seperti sedang mengendap mengagetkan nya membuat langkah nya terhenti.
"Kejar! Dia menyerang Yang Mulia Raja!" teriak seseorang dari arah ruangan tidur Raja Gilmer.
"Siapa kau?! Jangan lari!" teriaknya lagi.
Tubuh Putra Mahkota Otis seketika siaga, saat meraba pedang ternyata ia lupa membawa pedang nya.
BRUKKKK
Tubuh seseorang menabrak tubuh Putra Mahkota Otis dengan keras, baru saja Otis ingin menahan orang itu ada seseorang yang memukul kepalanya dari belakang seketika tubuh Putra Mahkota ambruk ke depan dengan posisi tubuh tertelungkup.
"Bagus, waktu yang tepat! Gesekkan gagang pedang pada tangan nya dan masukan pedang berlumuran darah ini pada genggaman tangan nya. Darah Raja yang menempel di tubuhmu tempelkan pada tubuh Putra Mahkota!" titah orang yang lebih dominan.
"Selesai! Ayo pergi!"
Keduanya pergi dari sana meninggalkan tubuh Putra Mahkota Otis tak sadarkan diri di lantai.
.................
Mansion Duke Vitto.
Di kamar besarnya hal yang sama tengah terjadi pada Safire, mungkin karena terhubung oleh perasaan yang kuat tidur Safire pun tak bisa nyenyak layaknya Putra Mahkota Otis. Tubuhnya berkeringat dan gelisah.
Tiba - tiba mata Safire terbuka, seseorang sedang berada di atas tubuhnya dengan mengacungkan belati ke arah jantung nya.
JLEB
__ADS_1
"Arghtt!" Safire memegang dada nya yang berdarah, matanya terbelalak melebar menatap darah di tubuhnya. "S-siapa ka...mu?" disela rasa sakitnya.
"Aku adalah ib lis yang akan merenggut semua kebahagian mu! Setelah ini aku akan membunuh suami tercintamu!" orang itu mencabut belati yang tertancap di jantung Safire sekali lagi mengacungkan belati dan menusuk Safire, dan untuk kedua kalinya ditusuk Safire bahkan sudah tak merasakan sakit lagi.
"TIDAK..!!!"
Hosh
Hosh
Hosh
Teriakan kencang terdengar saat Safire terbangun dari mimpi buruk, ia memegang jantung nya yang terasa ditusuk dengan nafas memburu.
Pintu kamar terbuka, para pengawal berlarian masuk. "Putri Mahkota, ada apa?!"
"Ada... hhhh... penyusup... jantungku ditusuk...." Safire terengah - engah masih memegangi Jantung nya.
"Ada apa?!" Duke Vitto dan Duchess masuk, bahkan saudara - saudara nya.
Duchess mendekati Safire yang berkeringat banyak, ia mengelap keringat dengan sapu tangan yang terbuat dari kain sutra sangat lembut di wajah Safire. "Ada apa dengan keringat ini?"
"Ibu, jantungku berdarah... lihatlah ada yang menusukku tadi." Safire masih terengah - engah kehabisan nafas.
"Jantungmu baik-baik saja, sayang. Lihat, tubuhmu tidak ada darah." Duchess menyadarkan Safire yang terus gelisah tubuhnya bergetar hebat. Sang Duchess memeluk Safire menenangkan.
"Kak Safire, minum lah dulu. Sepertinya kamu bermimpi buruk," Zabrina maju membawa gelas berisi air putih.
Safire meminum dengan sekali teguk, setelah sedikit tenang matanya berkeliling ke penjuru kamar lalu memeriksa tubuhnya sendiri. Benar saja tidak terjadi apa - apa padanya, ia menarik nafas lega.
__ADS_1
"Maaf, aku sepertinya bermimpi buruk dan malah menganggu malam kalian. Tidurlah lagi, aku tidak apa-apa." Ujar Safire.
"Aku akan menemani kakak tidur," ucap Zabrina.
"Aku juga," tambah Ziotta.
"Ya sudah, kalian berdua temani kakak kalian. Istirahatlah, semoga mimpi buruk mu tak datang lagi." Duchess mengusap pelan rambut Safire.
"Terima kasih, Ibu. Maaf Ayah, maaf kakak." Safire menatap menyesal pada Ayah dan kedua saudara lelakinya.
"Jangan dipikirkan, tidurlah lagi."
Safire mengangguk, ia menggeserkan tubuhnya memberi ruang untuk kedua adiknya.
Setelah semua orang keluar hanya tinggal Zabrina dan Ziotta di kamar dan mereka berdua sudah mengapit tubuh Safire yang berada di tengah ranjang.
"Kenapa tiba-tiba kak Safire bermimpi buruk?" heran Zabrina.
"Apa tadi Putri Abigail masuk ke kamar ini?" timpal Ziotta.
"Ya, aku mengijinkan karena Lady Hadley meminta juga."
"Apa Putri Abigail sengaja masuk dan menaruh mantra jahat di kamar ini?" otak Ziotta seketika berpikiran jelek, ia tak pernah mempercayai Putri Abigail.
"Astaga! Itu bisa saja! Ziotta turun, ayo periksa kamar ini! Temukan benda aneh, pasti ada mantra pengikat di benda itu!" Zabrina seketika loncat dari atas ranjang.
..................
Istana.
__ADS_1
Pagi tiba... hiruk pikuk pelayan yang biasanya selalu hilir mudik di dalam Istana kini harus ter-intrupsi oleh kejadian semalam. Tak ada pelayan yang boleh mendekat dalam jarak 100 langkah ke kamar sang Raja yang ditemukan meninggal karena terbunuh, dan terduga pelaku pembunuhan adalah Putra Mahkota Otis.