The Queen Is Doctor Transmigration

The Queen Is Doctor Transmigration
Bab - 85 Mendapat Hukuman Yang Setimpal.


__ADS_3

Mansion Earl Wales.


Lady Hadley sudah siap dengan belati nya, berjalan ke samping ranjang dimana Raja Otis sedang tertidur, belati itu terangkat akan menghunus tajam ke arah jantung sang Raja.


Greppp


Rover meloncat ke arah leher Lady Hadley mengigit dengan kuat seketika mengoyak leher Hadley.


"Argghhh! Arghh....." teriakan histeris Lady Hadley semakin lama semakin melemah matanya terbelalak tak percaya sebelum kematian menjemputnya, darah menyembur dari leher yang daging nya terkoyak. Di mulut Rover gumpalan daging Lady Hadley masih digigit tak serigala itu lepaskan.


Ratu Safire dan Raja Otis yang terbangun seketika menatap ngeri pada tubuh Lady Hadley yang tergeletak mengenaskan.


Suara - suara pedang beradu menimbulkan suara berisik akhirnya membangunkan semua orang, bahkan hipnotis yang menidurkan para pengawal menghilang karena yang memakai jimat sudah merenggang nyawa dibunuh oleh Rover.


"Apa yang terjadi? Kenapa wanita itu bisa masuk ke kamar kami?" Raja Otis menatap para pengawal yang masih teler. Sedangkan Ayah mertua Raja bersama para pengikutnya sedang bertarung dengan pria berpakaian hitam.


Melihat para pengawal masih dalam keadaan teler, Raja Otis menatap Alex yang malah berdiri menonton bukan membantu bertarung, "Ah, aku lupa kau bukan Alex! Apa kau tidak bisa bertarung?!" Raja menggeleng pasrah.

__ADS_1


Raja Otis mencabut pedang dari sarungnya lalu ikut bertarung melawan para pria berpakaian hitam, salah satu pria berpakaian hitam itu menerjang maju ingin menusuk Ratu Safire namun Morgan refleks menahan serangan itu. Ia sendiri tak percaya, tubuhnya bergerak sendiri tanpa ia minta seperti sebuah insting.


Ziotta dan Zabrina yang jago bertarung ikut menjaga Ratu Safire memagari tubuh kakak perempuan mereka.


"Pangeran Alex, jangan banyak bergerak karena kamu masih terluka oleh racun. Serahkan padaku, calon istrimu!" ujar Ziotta percaya diri, lalu mulai melawan penjahat berpakaian hitam.


Wanita keren! Apa di abad ini semua wanita bangsawan bisa bertarung! Morgan terpesona.


Setelah pertarungan sengit, Duke Vitto menahan beberapa penjahat itu. "Bawa kami pada orang yang memberikan hipnotis itu!"


"Baik, Yang Mulia Raja."


Kurang dari satu jam, Duke Amigo dengan ditemani beberapa pengawal turun dari kuda. Raja Otis mengira Duke Amigo akan marah lalu menyerang, ia sudah bersiap dengan pedang di tangan akan melawan jika diserang secara mendadak.


Namun, tiba - tiba Duke Amigo bersujud di hadapan Raja Otis. "Hamba memohon ampunan pada Yang Mulia, hamba tidak bisa mendidik putri hamba dengan baik. Hamba akan menanggung hukuman apapun, tapi tolong katakan pada Yang Mulia Ratu untuk mengobati istri dan putra - putra hamba yang sudah sekarat. Hamba mohon..."


Raja Otis memandang Ayah mertuanya, melihat Duke Vitto mengangguk Raja Otis lalu menatap sang Ratu.

__ADS_1


"Aku akan pergi, aku percaya pada Duke Amigo dia tidak akan bermain dengan nyawa istri dan putra - putranya. Aku hanya meminta dua hal nanti, jika aku berhasil mengobati keluargamu. Pertama, terima hukuman mu beserta para pengikutmu yang berniat dan mengancam Raja. Kedua, jika Para Menteri serta Raja telah mengampuni kalian setelah diberi hukuman... maka berjanjilah, kalian semua akan setia dengan segenap jiwa kalian akan melindungi Kaisar juga Raja Otis beserta keturunan nya. Jangan lagi ada pemberontakan pada Istana, mengerti." Tegas Safire memberikan syarat.


"Terima kasih atas kemurahan hatimu, Yang Mulia Ratu. Saya berjanji akan setia memberikan nyawa saya untuk Yang Mulia Raja dan penerusnya. Saya salah... saya memohon ampun." Duke Amigo masih bersujud seraya menundukkan kepalanya.


"Aku akan pergi bersamamu." Safire bersiap mengambil keperluannya.


Raja Otis memandang ke arah Duke Amigo dengan pandangan masih belum percaya. "Aku masih belum mempercayaimu, tapi Ratu-ku memberimu kesempatan jadi jangan sia-siakan, mengerti!"


"Ya, Yang Mulia Raja."


"Kamu tau dimana tempat putrimu melakukan sihirnya, kali ini dia melakukan sihir lagi."


"Mungkin para penjaga yang selalu bersamanya mengetahuinya, Yang Mulia." Lalu Duke Amigo berdiri mendekat pada anak buah Lady Hadley. "Katakan tempat sihir itu pada Raja!"


Akhirnya para pengikut Lady Hadley mengangguk, dan sebagian dari pengawal yang ikut untuk berperang menyerang tempat si penyihir. Si penyihir yang terdesak pun hanya pasrah saat dibawa dengan rantai mengelilingi tubuhnya lalu dimasukkan ke dalam kerangkeng dan akan dibawa ke Istana. Tempat penyihir itu dibakar habis dengan alat - alat sihir yang terdapat di dalamnya.


Peperangan pun urung terjadi, para Menteri serta Bangsawan yang sudah berniat mengguling kan Raja Otis dan Ratu mendapat hukuman yang setimpal. Ada yang masih diberikan kesempatan untuk terus berkontribusi pada Istana, ada juga yang dipenjara dengan hukuman beberapa tahun penjara juga beberapa para Bangsawan yang diturunkan kebangsawanan nya atau dicabut dan menjadi rakyat jelata. Sedangkan Pangeran ke delapan, akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan diasingkan dari Istana serta dari semua orang. Sedangkan Pangeran kedua dijatuhi hukuman seumur hidup tapi masih bisa bertemu dengan istri dan anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2