
Istana.
Di sebuah ruangan khusus bukti - bukti, Safire serta Daniel memeriksa pedang juga tetesan darah yang dikumpulkan dan jejak kaki juga hal lainnya, mereka berdua sudah seperti seorang detektif. Sedangkan Putra Mahkota Otis dilarang masuk ke ruangan dan sedang mempersiapkan pemakaman untuk Raja Gilmer.
"Pedang sudah dipastikan memang milik suamiku, Otis mengatakan saat dia keluar kamar dia lupa membawa pedang nya. Apa menurutmu pedang itu sudah dicuri sebelum Otis bangun?" tanya Safire dengan bahasa prancis, kebetulan Daniel sangat pintar bahasa itu. Mereka berdua sepakat apapun yang mereka temukan, hanya akan dibagi berdua saja.
"Kemungkinan terbesar itu, sepertinya pedang ini dicuri saat pembunuh itu menghipnotis semua para pengawal." Jawab Daniel setuju dengan perkataan Safire, dia juga mengutarakan pikiran tentang Hipnotisme suatu fenomena yang menyebabkan tidur secara buatan, yang mengakibatkan sang korban secara tidak normal dapat terbuka untuk mengikuti saran/sugesti.
"Jadi, hipnotis massal. Di zaman ini, itu sungguh luar biasa. Pembunuh ini bukan orang sembarangan, tubuhku merinding." Seketika Safire mengelus - elus bulu kuduk yang berdiri karena merinding.
"Hm, aku bukan ahli hipnotis tapi membuat sesuatu untuk menghipnotis agar seseorang bicara jujur sepertinya aku bisa. Namun, kita harus menggunakan metode ini satu kali dan harus berhasil. Jika berulang, si pembunuh akan curiga." Daniel mengelus dagu.
"Kamu yakin bisa membuatnya?"
"Tentu, Dokter Lady Safire." Daniel mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah, kita tinggalkan dulu ini. Kita harus membuat lebih dulu obat penawar untuk Alex, dia harus segera meminumnya atau akan terlambat. Untung saja sebelum aku datang ke Istana, para tabib pulang membawa ramuan - ramuan herbal. Ayo pergi meracik obat nya," Safire membuka sarung tangan medis lalu berdiri dari jongkok nya berjalan keluar ruangan melewati para pengawas yang berdiri tak jauh darinya sejak awal ia menyelidiki bukti.
"Albian, kamu dan dua pengawal lain jaga disini bersama para pengawas itu. Aku tak mempercayai mereka, mengerti!" Safire sedikit mengeraskan suaranya, memberi titah secara formal.
"Baik, Putri Mahkota."
"Jika ada kejanggalan, suruh satu pengawal datang padaku di ruang meracik obat. Mengerti!" sekali lagi Safire memberi titah.
"Baik."
"Ah, kapan pemakaman Raja?" tanya Safire sebelum pergi.
Safire mengangguk, setidaknya ia masih mempunyai banyak waktu meracik obat sebelum ia berganti pakaian untuk pemakaman menemani suaminya.
Sore hari Safire dan Daniel sudah berhasil membuat obat penawar, memasukkan ke dalam botol kecil memanggil salah satu pengawal untuk mengantarkan obat penawar itu pada Duke Vitto, memberi catatan agar Tabib memberikan satu sendok teh obat cair penawar racun itu 2× dalam sehari.
__ADS_1
Setelahnya Safire dengan cepat membersihkan diri berganti pakaian dengan gaun hitam polos, ber make up natural tanpa polesan berwarna. Kemudian Ia menemui Putra Mahkota di ruangan sang Kaisar.
"Ayah Kaisar, suamiku. Aku datang," Safire berjalan mendekati Paduka Kaisar, duduk di samping sang Ayah mertua.
"Berikan tangan mu, Ayah." Safire ingin memeriksa denyut nadi Kaisar.
Kaisar menghela nafas lelah, ia menyodorkan tangan nya pada menantu bungsu nya. "Bukankah kamu lelah setelah memeriksa bukti dan membuat penawar untuk Alex? Sebenarnya acara pemakaman digelar tertutup karena ini masih diselidiki, kamu tidak perlu mengiringi pemakaman."
Safire memeriksa denyut nadi Kaisar, syukurnya denyut nya kuat meskipun tak senormal biasanya. "Setelah pemakaman, Ayah harus istirahat. Aku akan merawat Ayah nanti. Dan mengenai aku, selagi aku masih sanggup aku akan selalu berada di samping Ayah dan suamiku. Jadi, Ayah juga harus kuat."
Kaisar menghembuskan nafas panjang, "Aku percaya pada kalian, jangan sia - siakan kepercayaan ku."
"Baik, Ayah." Jawab Putra Mahkota Otis.
"Paduka Kaisar, kita harus pergi." Ujar seorang penjaga.
__ADS_1
"Ayo kita pergi," Kaisar bangkit dari duduknya berusaha tegar dan menegapkan tubuhnya yang sudah menua.
Pemakaman Raja Gilmer diiringi tangisan Sang Ratu dan keenam Selir, para Pangeran berserta istrinya juga hadir termasuk Pangeran Levon yang sudah membaik dari luka penyerangan dan Pangeran Yaron yang datang memakai masker menutupi mulut dan hidung nya kecuali Alex yang memang sudah tidak ada lagi di abad 17.