
Suasana di dalam ruangan besar masih menegangkan, Safire masih menunggu si pembunuh lainnya maju.
Mata Safire menyipit saat si pembunuh kedua itu maju, putra salah satu Bangsawan itu memegang gelas dengan tangan yang bergetar hebat. Tiba - tiba ia menjatuhkan diri, melempar gelas di tangan nya lalu bersujud.
"Aku yang membunuh Raja, tapi bukan kami yang menyesatkan para pengawal. Itu perbuatan dia!" tangan si pembunuh baru saja akan menunjuk ke arah salah satu Pangeran namun...
Jleb!
Belati menancap di lehernya, seketika tubuhnya tumbang dan si pembunuh Raja mati di tempat.
"Siapa itu?!!" Raja Otis berteriak marah, ia menarik Safire ke dalam dekapannya menghalangi dengan tubuh besarnya untuk melindungi istrinya dari marabahaya.
"Ada pembunuh! Jaga Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu!"
"Amankan Paduka Kaisar dan Ibu Suri!"
Para pengawal berlarian membentuk pagar menghalangi dari seseorang yang mungkin menyerang Raja dan Ratu.
Satu belati terlempar mengarah kepada Raja Otis, namun dengan ketajaman nya Raja Otis menangkap dengan tangan telanjangnya. Seketika darah mengucur dari telapak tangan Raja Otis yang menangkap belati.
"Otis! Tanganmu, ah kepalaku... aku--" tiba - tiba tubuh Safire lemas dan tak sadarkan diri.
"Safire!" teriak Raja Otis.
Duke Vitto yang baru kembali ke dalam ruangan setelah membawa tubuh Duke Alvaro segera berlari ke arah Raja dan Ratu.
"Ada apa?! Apa putriku terluka?!" cemasnya.
"Tidak Ayah! Tapi dia tiba-tiba pingsan saat melihat darah di tanganku."
"Cepat bawa dia, aku akan melindungi mu!"
Raja Otis mengangguk, dia membopong tubuh pingsan Safire melewati jalan yang dibuka para pengawal dengan ditamengi Duke Vitto yang membuka jalan paling terdepan.
"Panggil Daniel!" titah Raja Otis setelah berada di kamar megah Raja.
Tak perlu menunggu lama Daniel datang berlarian, ia baru saja selesai memberi penawar racun pada Duke Alvaro.
"Ada apa?" Daniel duduk di tepi ranjang.
"Aku akan mengambil kotak di lengan bajunya, periksa dia." Raja Otis merogoh kotak yang masih berbentuk kecil lalu menaruh di jari Safire seketika kotak membesar.
Daniel membuka kotak obat mengambil stetoskop memeriksa jantung Safire, memeriksa dengan keseluruhan. Keningnya mengernyit saat melihat ada alat test kehamilan di dalam kotak obat, bahkan ada obat penguat kandungan.
__ADS_1
"Apa Ratu--?" Daniel sendiri terkejut ia menatap Raja Otis.
"Kenapa menatapku? Kamu yang bisa memeriksanya! Apa yang terjadi padanya?!" teriak Raja tak sabar.
"Kemungkinan ada kehidupan baru di dalam perut Ratu, Yang Mulia." Ujar Daniel kini semakin yakin.
"Kehidupan baru?" Raja masih belum mengerti.
"Putriku hamil?" Duke Vitto yang sudah berpengalaman angkat bicara.
"Hamil? A--aku akan menjadi seorang Ayah maksudmu?!" euforia membuncah pada diri Raja Otis, bibirnya tersenyum lebar tak bisa menahan kebahagiannya.
"Harus dipastiskan setelah Ratu bangun dan melakukan test, saya belum bisa mengatakan apapun. Jadi itu baru kemungkinan, belum pasti Yang Mulia."
Raja Otis menciumi wajah Ratu Safire di depan semua yang berada di ruangan itu ia tak memperdulikan nya. "Oh sayang, terima kasih. Di tengah kekacauan di Istana, kamu memberikan kebahagiaan."
Safire terbangun dengan kepala yang pusing apalagi saat tangan berdarah Raja Otis tercium lagi oleh indra penciuman nya. "Oekkkkk... oekkkk...." Safire ingin turun dari ranjang tapi seorang pelayan mendekat membawa wadah dan akhirnya Safire muntah di wadah itu.
"Arghh, kepalaku pusing. Kenapa bau darah ini membuatku mual... ada apa denganku?" lirih Safire.
"Anda sepertinya sedang mengandung, Yang Mulia Ratu," ujar Daniel dan menyodorkan alat test kehamilan dari era modern.
"Apa?!"
"Oekkkk... Otis menjauh lah dariku." Safire menutup mulutnya, bau menyengat darah membuatnya pusing dan mual kembali.
Dengan wajah tak mengerti Raja turun dari tepi ranjang berdiri menjauh dari istrinya. "Apa aku bau?"
"Bau darahmu..." Safire seketika menghirup udara saat Raja Otis menjauh.
"Ini sudah biasa Yang Mulia Raja, wanita hamil akan mual jika memang ada yang membuatnya mual." Jelas Daniel.
"Tapi tanganku sudah kamu perban!" protes Raja.
Daniel mengangkat bahu, ia juga tidak mengerti mungkin indra penciuman Ratu Safire terlalu peka.
"Anda tetap harus melakukan tes Yang Mulia Ratu untuk memastikan," sekali lagi Daniel menyodorkan alat test kehamilan.
"Aku akan ke kamar mandi," Safire mengambilnya lalu berjalan perlahan ke kamar mandi. Test bergaris dua, benar saja dia memang sedang hamil.
Safire seketika tersenyum ia tak menyangka akan hamil hanya beberapa kali berhubungan dengan suaminya, dan itu bisa terhitung oleh jari.
"Aku memang hamil," ujar Safire sumringah seraya memperlihatkan alat testpack.
__ADS_1
Kabar kehamilan Ratu pun langsung diumumkan meskipun di tengah kekacauan, Paduka Kaisar begitu bahagia mendengarnya.
Malam itu lolongan serigala milik Safire terdengar aneh, Safire yang tertidur di pelukan suaminya terbangun.
Raja pun ikut terbangun karena merasakan pergerakan Safire, "Sayang, ada apa? Perutmu sakit?"
Safire menggeleng, " Kamu tidak mendengar lolongan Rover?"
"Tunggu," Raja Otis mulai mendengarkan. "Benar, dia melolong. Biar aku yang memeriksanya, kamu tunggu disini."
"Tidak, Rover hanya ramah padaku. Kamu akan kesulitan, aku ikut."
Safire dan Otis keluar kamar di iringi para pengawal, menuju kandang yang khusus dibuat untuk si serigala. Rover masih melolong, ia menyeruduk pintu kandang.
"Ada apa, Rover?" Safire membuka pintu kandang, mengelus kepala si anak serigala.
Rover membuka mulutnya, ada secarik kain di dalam mulut serigala kecil itu.
"Apa ini? Kain?"
"Seperti kain mahal, ini sepertinya jubah Pangeran," sahut Raja.
"Hm, milik siapa?" Safire kebingungan.
Rover meloncat dari pangkuan Safire, berlari menjauh sesekali berhenti dan menatap Safire yang mengikuti dengan berjalan pelan karena sedang mengandung. Rover kembali berlari menuju ruangan penobatan tadi, serigala itu berputar - putar di sana.
"Apa Rover ingin mengatakan siapa yang menyerang mu tadi, Otis?"
"Mungkin." Raja Otis mengangguk.
Serigala kecil itu kembali berlari menuju salah satu kamar.
"Siapa yang sedang mengisi kamar-kamar ini?" ada beberapa kamar disana.
"Para Pangeran sedang bermalam disini, termasuk para Pangeran yang sudah menikah." Jawab sang pelayan yang berada disana.
Rover berlari ke arah salah satu kamar, menggaruk bingkai pintu. Mungkin karena berisik, pintu terbuka dari dalam.
"Ada apa ini?"
"Pangeran Burke!"
Rover langsung menyerbu masuk ke dalam kamar dan mengigit belati yang tergeletak di atas nakas samping ranjang. Belati itu sangat mirip dengan yang dilempar ke arah si pembunuh yang mati tertusuk belati dan belati yang dilempar ke arah Raja Otis. Serigala itu memberikan belati pada tangan Safire, lalu kembali ke dalam menggusur jubah Pangeran Burke yang sobek bagian ujung bawah dan kembali memberikannya pada Safire.
__ADS_1
Serigala pintar! Ini bukti!