
Abad 17, Mansion Duke Vitto.
Di meja makan panjang seluruh keluarga Duke Vitto berkumpul, Putra yang sudah menikah pun ikut dipanggil oleh Duke Vitto. Duke Vitto hanya mempunyai satu istri dan 2 Putra serta 3 Putri sudah ditambah dengan Safire.
Safire sudah memberi hormat pada kedua kakak laki - laki nya, juga pada sang Ibu istri dari Duke Vitto.
"Kamu sudah menjadi putri tertua-ku, nak. Jadi jangan sungkan - sungkan padaku." Sang Duchess menarik lembut tangan Safire mengelus lembut seakan benar - benar pada putrinya sendiri.
"Ya, Ibu."
"Kak Safire, tentang waktu lalu maafkan aku. Putra Mahkota Otis sangat mencintaimu jadi kami hanya pura - pura. Aku sangat mencintai Capalio, sungguh." Ujar Lady Zabrina.
"Lalu kenapa kamu tidak menikah dengan nya, minta izin lah pada Ayah," sahut Safire lalu menoleh pada sang Duke. "Ayah akan mengizinkan Zabrina menikah, bukan?"
Duke Vitto menghela nafas pelan, "Sebenarnya selama ini aku bukan memandang dari keluarga mana dia berada, namun lelaki itu tidak punya keberanian datang kepadaku meminta berhubungan dengan Zabrina secara langsung. Aku pikir lelaki itu pengecut dan penakut, sangat tidak pantas menjadi menantu ku. Namun, tak disangka dia mempunyai keberanian membawa kabur Zabrina. Hhhh... aku sudah merestui mereka berdua."
"Ayah!" teriak Zabrina senang, mata wanita muda itu berkaca - kaca.
__ADS_1
"Anda sungguh bijak Ayah dan juga sangat pemberani, andai Ayah tidak datang malam kemarin aku tidak tau apa yang akan terjadi pada kami. Tapi, darimana Ayah tau kami diserang?" tanya Safire.
"Ayah menyuruh beberapa pengawal untuk berpatroli untuk keamanan kalian saat datang kesini, tak disangka penjaga patroli mengatakan kalian sedang diserang puluhan berpakaian hitam."
"Jadi begitu, sekali lagi terima kasih Ayah."
"Sudah, sudah. Ayo makan. Kamu suka apa, nak?" tanya Duchess, sang Ibu.
"Aku tidak pilih - pilih makanan Ibu," timpal Safire tersenyum. "Ngomong - ngomong dimana Ziotta?"
Sejak pagi dia belum melihat adik perempuan nya satu lagi, saat Alex dibawa datang ke Mansion dengan terluka setiap ada kesempatan Ziotta akan mendekati Alex dengan wajah sedih.
"Sayang sekali, hati Alex masih untuk satu wanita. Aku tidak bisa membujuk Alex nantinya jika sudah siuman," Safire ikut menggeleng.
"Satu wanita? Apa Putri Abigail? Namun, rumor mengatakan, terakhir kali Pangeran Alex mencekik Putri Abigail. Setelah kejadian itu Putri Abigail pulang ke Mansion Ayahnya, dan sang Ayah Duke Xavic memendam dendam pada Pangeran Alex juga kabarnya dendam pada kamu juga Kak," ujar Lady Zabrina.
Brak!
__ADS_1
Duke Vitto menggebrak meja. "Siapapun yang berani menyentuh anak - anakku, akan mati mengenaskan di tangan ku!"
Meskipun Duke Vitto terkenal keras dalam bertindak bahkan sedikit kolot karena selalu menjunjung norma - norma leluhur bahkan menghormati Kerajaan namun jika menyangkut keluarga nya dia tidak akan berpikir logis dan berbuat kejam pada siapapun seperti malam penyerangan dia tak segan - segan menebas kepala para penyerang tanpa ampun.
"Aku sungguh beruntung mendapatkan Ayah sepertimu," Safire merasa bangga meskipun dia belum mengenal lama Duke Vitto tapi jika Kaisar yang memilih untuknya ia tak ragu sedikit pun.
"Ekhm," Duke Vitto berdehem. "Ayo lanjutkan makan, nanti Ayah akan memberikanmu satu serigala yang masih bayi. Besarkan serigala dan anggap bayimu sendiri, nantinya dia akan selalu melindungi mu. Putra Mahkota Otis tidak akan selalu bersamamu untuk melindungi karena tugas kerajaan yang sangat banyak, kamu harus mulai bisa melindungi dirimu sendiri. Belajar lah pedang pada kakak lelaki mu mumpung kamu masih disini," ujar Duke Vitto.
"Baik, Ayah. Aku juga akan memeriksa kesehatan seluruh keluarga, hanya untuk berjaga - jaga aku ingin kalian semua sehat."
Semua orang tersenyum, mempunyai ahli pengobatan mereka sangat bersyukur apalagi mendengar sembuhnya Kaisar juga pengobatan Pangeran Yaron, bahkan pengobatan Pangeran Levon.
"Ayah dengar kamu juga sedang mempersiapkan pembangunan sakit, apa namanya?"
"Namanya Medical center, pelayanan bagi semua tipe orang sakit dari sakit ringan sampai berat. Aku juga ingin membuka sebuah sekolah medis, kamu juga bisa belajar dan nantinya menjadi Dokter sepertiku Zabrina."
"Benarkah kak? Aku juga ingin sepertimu..." bukan Lady Zabrina yang menyahut melainkan Lady Ziotta berjalan masuk ke dalam ruang makan.
__ADS_1
Safire menoleh pada adik perempuan keduanya, wajah Ziotta sangat murung mungkin karena keadaan Alex yang masih juga belum ada perubahan.