
Bab.52
Pangeran Otis menyamar dan datang ke pendirian camp, tempat yang rentan terjadi perang di bagian ujung barat perbatasan dengan negara lain. Dia menyamar menjadi seorang prajurit disana, tanpa memperlihatkan siapa dirinya.
Brakkk.
Di sebuah ruangan tempat minum di meja tempat berkumpulnya para prajurit penuh dengan bir - bir minuman. Seorang Kepala prajurit menaruh kakinya di atas meja, sangat sombong dan arogan.
"Apa kalian sudah dengar apa yang terjadi di Istana?" ujar salah satu prajurit.
"Ada kabar apa?" sahut si Ketua.
"Kabarnya putra bungsu Paduka Kaisar, Pangeran Otis ditinggalkan pengantin wanita saat di altar pernikahan... hahahaha..." ujar si prajurit seraya tertawa.
"Stttttt, jangan keras-keras tertawa. Bukankah Pangeran Otis pernah ikut berperang di teluk barat daya dan membunuh Komandan musuh dengan sabetan pedangnya. Pangeran Otis terkenal dengan permainan pedangnya yang paling terhebat diantara para Pangeran putra dan cucu Kaisar. Pangeran Alexander lah, cucu Paduka Kaisar yang bisa menandingi permainan pedang Pangeran Otis. Bahkan dikabarkan Pangeran Otis ada affair dengan istri Pangeran Alex, namun istri Pangeran Alex tak tergoda dan tetap setia pada Pangeran Alex."
__ADS_1
"Ada kejadian seperti itu di Istana? Aku baru tau!"
Gosip-gosip itu terdengar menyakitkan di telinga Pangeran Otis yang sedang menikmati bir di mejanya bersama prajurit lainnya. Merasa dirinya benar - benar seorang pecundang yang kalah dari sang keponakan, Alex.
Dengan cepat Otis berdiri berjalan sempoyongan dengan membawa gelas bir di tangannya keluar dari ruangan minum, tak ingin mendengar suara-suara yang menggosipkan nya lagi.
"Hai, Tuan. Mau aku temani malam ini?" tiba-tiba seorang wanita yang menjajakan dirinya mendekat lalu menempelkan tubuhnya pada tubuh Pangeran Otis.
"Pergi! Jangan ganggu aku..!!"
"Ayolah, aku hanya butuh beberapa perak untuk pelayananku," desak si pe lacur.
Si wanita tersenyum senang merasa sudah mendapatkan buruannya malam itu, "Itu.. aku akan-- arghhtt!"
Alex mencekal lengan si wanita pe lacur dengan keras, lalu menarik dan mendorong tubuh wanita itu menjauhkan dari tubuh Otis. "Pergi...!!!!"
__ADS_1
Alex datang tepat waktu, nafasnya memburu.
Bugh...!!!
Alex memukul wajah sang Paman yang masih teler, "Ba jingan! Kau disini bersenang - senang dengan wanita dan minuman! Di ranjangnya, Safire terluka parah dan tak sadarkan diri! Brengsek!"
Bugh! Bugh!
Alex kalap terus memukuli wajah Pangeran Otis, kemudian dia berjalan menjauh mencari air setelah menemukan satu ember air ia mengguyur tubuh Otis sampai lelaki yang sedang mabuk itu megap - megap tak bisa bernafas lalu terbatuk karena tersedak air.
"Rasakan itu ba jingan! Sialan!" Alex terus memaki.
Setelah mengatur nafasnya, Alex berjongkok menarik baju Pangeran Otis. Wajah sang Paman babak belur karena pukulannya, "Kau pantas mendapatkannya, kau tau apa yang terjadi pada wanita yang mencintaimu! Demi mencarimu, dia kabur dari Istana sendirian. Kau dengar, sendirian! Dia mendengar kau ada di camp pos jaga disini, dia pergi seorang diri menemuimu ba jingan! Demi kamu laki-laki yang tak berguna! Hanya karena sedikit dorongan dari Safire yang menolakmu, kau jadi pecundang seperti ini! Seharusnya dengan semampumu bahkan jika kau mati di tangan Kakek, kau harus pertahankan cintamu dan Safire! Kau pecundang ba jingan menyedihkan! "
Dada Alex kembang kempis terus meluapkan amarahnya.
__ADS_1
Mata mabuk Pangeran Otis terbuka, "Siapa Safire?"
"Safire, wanita yang Paman cintai. Dia bukan Esmera, tapi Safire yang masuk ke dalam tubuh Esmera. Ikut aku ke tempat Safire terbaring sekarat, aku akan menjelaskannya padamu di jalan." Alex menopang tubuh sang Paman yang lemah merangkulkan tangan Pangeran Otis di pundaknya lalu berjalan ke arah kereta kudanya berada.