The Queen Is Doctor Transmigration

The Queen Is Doctor Transmigration
Bab - 68 Apa Bukti-Bukti Ini Disabotase?


__ADS_3

Abad 17


Istana.


Di dalam sel dingin Pangeran kedua menggigil kedinginan, ia sudah dipindahkan ke ruangan sel biasa. Tidak ada lagi sel khusus, tidak ada lagi kenyamanan.


Selama seminggu Putra Mahkota Otis menyelidiki penyerangan padanya, namun semua berakhir buntu. Bukti - bukti tidak mengarah pada Pangeran kedua namun jejak orang lain pun tidak ada.


"Meskipun aku belum menemukan bukti dan saksi penyerangan mu padaku, tapi kamu tetap akan diadili karena kejahatan mu pada saudara - saudara mu. Pengadilan akan digelar tertutup, Pangeran Levon sudah sembuh dan akan bersaksi juga kesaksian dari Yaron. Hanya menunggu Alex, karena dia belum bisa diobati. Pengadilan akan diadakan 2 hari lagi, bersiaplah." Ujar Putra Mahkota pada Pangeran dua.


"Kenapa aku tidak diperbolehkan bertemu siapapun?" protes Pangeran kedua.


"Itu sudah kesepakatan Paduka Kaisar dan Yang Mulia Raja, Ayah dan kakak sepakat tak akan memberi akses padamu untuk apapun termasuk menghubungi bala bantuan mu. Jangan repot - repot menghubungi Ayah mertuamu juga. Duke Elton sudah sepakat dengan kami, dia menerima setiap hukuman padamu."


"Itu tidak mungkin! Ayah mertuaku sangat menyayangiku! Aku ingin bertemu dengan nya!" teriak Pangeran kedua tak terima.


"Terlambat! Semua sudah terlambat bagimu, Bancroft!" Putra Mahkota tak ingin bicara lagi membalikkan tubuh pergi keluar dari sel kecil yang dingin itu.


"PAMAN...!!!"


Putra Mahkota Otis tak mengindahkan teriakan keponakan nya. Ia terus berjalan menuju ke ruangan pemeriksaan bukti - bukti, beberapa bukti itu ia rasa tak masuk akal. Ia duduk di kursi, membuka lagi berkas - berkas bukti yang terlampir.

__ADS_1


"Apa bukti - bukti ini disabotase? Namun siapa? Duke Elton dan Putri Isabel sudah diselidiki dan tak ada kaitan nya dengan setiap kejahatan Pangeran Bancroft. Jika memang ada orang lain dibalik penyerangan malam itu, kira - kira siapa?" Putra Mahkota memijit pelipis yang terasa nyeri karena berhari - hari menyelidiki kasus penyerangan padanya. Seketika ia mengingat Safire, merindukan istrinya yang masih berada di kediaman Duke Vitto karena lebih aman berada disana. Di Istana banyak orang - orang berbeda keluar masuk, meski keamanan Istana tinggi tetapi tidak dipungkiri apapun bisa terjadi.


"Aku merindukanmu, sayang..."


...................


Mansion Duke Vitto.


Trang


Trang


Trang


"Istirahat Kak! Plisss!" Safire sudah terengah - engah.


"Kamu lembek!" ejek sang kakak.


"Ayolah kak Keenan." Wajah Safire memelas.


Keenan tersenyum, pria yang sudah beristri berusia 38 tahun itu menghentikan penyerangan pada sang adik. "Baik, istirahatlah."

__ADS_1


"Ahhh... pinggangku!" teriak Safire. "Dimana bayiku berada?"


Safire merindukan suaminya, namun rasa rindu itu terobati dengan anak serigala miliknya. Safire berjalan menuju kandang Rover, namun di tengah perjalanan seseorang memanggilnya.


"Salam, Putri Mahkota Safire."


Langkah Safire terhenti, berbalik menatap seorang wanita anggun dan sangat cantik bahkan terkesan ramah. "Ya, siapa?"


"Saya Hadley, putri dari Menteri Perang Duke Amigo," Lady Hadley mengangkat pinggiran gaun nya memberi hormat.


"Aku juga datang, salam Putri Mahkota." Putri Abigail berjalan mendekat berjalan anggun dari arah pintu.


"Salam, apa kalian datang ingin menemui Zabrina atau Ziotta?" tanya Safire dia merasa tak punya urusan dengan mereka berdua.


"Kami datang ingin menjenguk Pangeran Alexander, kami mendengar Pangeran terluka dan belum sadarkan diri. Boleh kami melihatnya?" ujar Lady Hadley.


"Tentu, pelayan akan mengantar kalian berdua. Permisi," tak ingin berlama Safire melangkah menjauh kembali berjalan menuju kandang Rover.


Mata Lady Hadley dan Putri Abigail menyipit, entah apa yang dipikirkan yang pasti ada niatan buruk dan terselubung dari kedua wanita itu pada Safire.


______

__ADS_1


...Judulnya harusnya pengantin baru yang terpisahkan dan gak bisa swadipapap 😌😜...


__ADS_2