
Bab.46
Di dalam kereta kuda sepulang dari kediaman Daniel, mata Safire terus menatap keluar membuka tirai jendela kereta kuda menaruh tangan di bawah dagu menyangganya dengan tatapan menerawang.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Kaisar.
"Hanya ini itu, Kakek. Anda tidak bertanya apa - apa padaku sejak tadi, bukankah banyak hal yang ingin Kakek tanyakan padaku?" jawab Safire tanpa berbalik, dia masih merasa takjub dengan keajaiban pertukaran jiwanya dengan Esmera.
"Aku tidak perlu bertanya tentangmu, dari kekaguman dan ucapan-ucapan Daniel yang membanggakan kehebatanmu aku tau kamu orang hebat di duniamu. Apa kamu datang ke abad ini di malam penyiksaan Alex padamu?"
Safire menarik sanggaan tangannya dari ambang jendela kereta kuda, berbalik menatap sang Kaisar. "Ya."
__ADS_1
"Begitu, jadi kamu ingin berpisah dengan Alex karena kamu memang tidak mempunyai perasaan pada Alex seperti Esmera?" tanya Kaisar kembali.
"Ya, Esmera lah yang sangat mencintai Alex. Itu lah yang aku yakini dari ingatan yang ditinggalkan Esmera padaku."
"Jadi, yang kamu cintai apakah putra bungsuku, Otis?" tanya Kaisar blak blakan.
Safire tak terkejut mendapatkan pertanyaan itu, dia menimang jawaban apa yang akan terdengar baik di telinga Kakek Kaisar.
"Apa aku tidak boleh mencintai Pangeran Otis, Kakek?"
"Apa kamu sungguh-sungguh mencintai Otis, akan selalu bersamanya dalam keadaan apapun? Kamu adalah jiwa dari masa depan Safire, apa kamu tidak berpikir bagaimana jika suatu hari jiwamu dan Esmera bertukar kembali? Saat itu kamu akan meninggalkan Otis dengan semua kesakitan nya. Bukankah kalian lebih baik tidak memulai sejak awal jika ada kemungkinan kamu kembali ke masa depan?"
__ADS_1
Jantung Safire berdetak cepat mendengar perkataan Kaisar, itu benar! Apa yang diucapkan Kaisar padanya adalah suatu kemungkinan, bagaimana jika dia kembali ke masa depan disaat mereka berdua sudah saling mencintai sampai rela mati? Bagaimana dengan Otis yang ia tinggalkan? Apa Esmera yang kembali mengambil alih tubuhnya akan mencintai Otis seperti dirinya?
"Kakek, aku..." akhirnya tak ada kata-kata keyakinan yang bisa Safire ucapkan.
"Safire... Aku ingin menjadikan Otis Putra Mahkota, untuk penerus kakaknya menjadi Raja. Aku menginginkan Zabrina karena dia putri dari Duke Vitto, mantan Jenderal dan mempunyai posisi kuat dalam hal politik. Posisi Otis akan mengakar kuat sebagai Putra Mahkota jika Duke Vitto menjadi mertuanya, apa sekarang kamu mengerti kenapa aku ingin Otis dan Zabrina menikah?" jelas Kaisar.
Safire mengeratkan genggamannya di pinggiran gaun, seketika rasa percaya dirinya melemah. Dia hanya seseorang dengan bakat mengobati, bukan wanita dengan background kekuasaan besar seperti Zabrina. Apa dia harus menyerah untuk bersama Pangeran Otis?
"Kakek... Apa dengan aku menyerah pada Pangeran Otis, posisi Pangeran Otis untuk menjadi Putra Mahkota akan kuat? Apa aku benar-benar tak bisa membantunya dalam posisiku saat ini?" suara Safire bergetar menahan kesedihannya, dia sungguh tak ingin berpisah dari Otis.
Kaisar menggeleng, "Bukan itu saja, kamu bisa saja bertambah kuat dan menancapkan akarmu dengan kuat di Istana sampai para Menteri dan Bangsawan tak meremehkan mu. Aku bisa membantu, namun... meskipun itu semua bisa terjadi apa kamu yakin jiwamu akan selamanya tinggal di abad ini?"
__ADS_1
Sekali lagi ucapan Kaisar menghantam Safire, akhirnya air mata lolos bergulir membasahi wajahnya.
Otis... Otis... Apa benar aku harus mengakhirinya denganmu?