
Istana.
Di dalam kamar, tubuh kaku Raja Gilmer masih tergeletak di atas lantai yang terbuat dari batu pualam tertutup jubah kerajaan. Belum ada yang berani menyentuh sebelum keseluruhan pemeriksaan.
Tubuh Paduka Kaisar tak berhenti bergetar merasakan kesedihan yang begitu memilukan, mata sendu nya menatap jasad sang Putra yang sudah terbujur kaku dan dingin.
"Kenapa ada yang tega membunuh putraku, membunuh seorang Raja," lirih pelan Kaisar.
"Ayah, bukan aku. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri, aku buka pelakunya." Putra Mahkota terus duduk tak jauh dari jasad sang kakak, namun pihak pemeriksa tidak memperbolehkan Putra Mahkota mendekati jasad sang Raja.
"Jangan bicara apapun, dinding di Istana pun mendengar. Semua para pengawal mengatakan hal yang sama, mereka disuruh olehmu untuk membubarkan diri dari depan kamar kakakmu, lalu tak lama kakakmu dibunuh. Jika ingin bicara membela dirimu, kumpulkan bukti dan nyatakan dirimu tak bersalah setelah bukti ada. Jangan terlihat seperti seorang pembual, kamu mengerti!" mata Kaisar begitu percaya pada Putra bungsunya, ia yakin Putra Mahkota Otis tidak akan melakukan hal keji membunuh saudaranya sendiri hanya karena ingin secepatnya menjadi Raja seperti perkataan Menteri pengadilan padanya yang mengatakan itu adalah motif dari Putra Mahkota membunuh.
"Baik, Ayah."
Putra Mahkota Otis keluar dengan didampingi beberapa petugas pengadilan, ia memanggil pengawal pribadinya. "Apa semalam kamu juga menghilang dari depan kamarku karena aku memerintahkan mu?"
"Ya, Putra Mahkota. Anda dengan jelas menyuruh kami menjauh dari kamar Anda tadi malam."
Putra Mahkota merasa tidak pernah memerintahkan seperti itu, ia harus tenang dan menganalisa setiap hal kecil sekalipun.
__ADS_1
"Ba jingan! Kau adiknya! Kau sudah diangkat menjadi Putra Mahkota, Otis! Kenapa masih serakah dan membunuh kakak mu! Kau begitu tamak...!!!" teriak Ratu seraya memukul - mukul tubuh Putra Mahkota.
Para Selir juga maju dengan amarah di wajah mereka, seperti ingin mencakar wajah sang Putra Mahkota.
"Hatimu busuk, Otis!" ujar Selir Elyana, Ibu Alex.
"Kalian jangan menyalahkan putraku! Otis belum terbukti bersalah!" Ibu Otis, Selir terakhir Kaisar mendekat menerobos para selir Raja.
"Tidak apa - apa, Ibu. Jangan pikirkan, aku akan mencari bukti jika aku tak bersalah." Putra Mahkota Otis menenangkan sang Ibu.
"Suamiku!" teriak Safire yang baru saja datang ke Istana, Kaisar sengaja mengirim seseorang untuk memanggil Safire dan Daniel.
Safire berlari memeluk suaminya, ia tak mengindahkan tatapan semua para selir karena ia nampak tidak sopan berlarian di hadapan mereka.
Putra Mahkota Otis menahan tubuh Safire yang memeluknya, mengelus rambut sang istri yang teramat dirindukan. "Kenapa pulang? Dalam surat aku sudah mengatakan tunggu aku menjemput di rumah Ayahmu."
"Kamu pikir setelah mendengar kejadian yang menimpa padamu, aku akan diam saja." Safire melepaskan pelukan nya, ia mengelus wajah tirus suaminya. "Lihatlah wajahmu, begitu tirus dan kuyu. Ikut denganku, aku akan memberikan vitamin agar tubuhmu bersemangat kembali."
"Di pagi begini? Kamu ingin aku bersemangat?" tanya Putra Mahkota berpura - pura salah tafsir ucapan Safire.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Safire.
"Vitamin ku hanya kamu, jadi bukankah membuatku bersemangat itu__Hmpp!"
Safire menutup mulut suaminya, ia akhirnya mengerti kemana arah pembicaraan Putra Mahkota. "Kamu!"
"Aku hanya bercanda, sayang. Aku terlalu gugup," seketika wajah Putra Mahkota kembali lesu.
"Ikut aku," Safire menarik tangan Putra Mahkota menuju kamar mereka meninggalkan para selir dengan segala kemarahan dan kesedihan karena telah kehilangan suami mereka.
Di dalam kamar dengan telaten Safire merawat Putra Mahkota Otis, membuka kotak ajaib mengambil vitamin dan segera memasang selang infusan.
"Infus sebentar sebelum kamu sibuk lagi, masalah pembunuhan Raja aku dan Daniel akan membantumu memeriksa tempat perkara. Aku akan melakukan visum dengan memeriksa sidik jari, DNA darah, pemeriksaan bukti jejak. Aku juga akan memeriksa jejak di pedang atau apakah ada jejak senjata lain. Andalkan aku," Safire selesai memasang infus sambil bicara.
"Kenapa aku sangat beruntung mendapatkan mu, padahal aku bukan siapa-siapa." Ujar Otis merasa dirinya tak berguna.
"Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan, Otis. Jangan selalu menganggap dirimu lemah karena pasti kelebihan mu yang pintar dalam menganalisis data suatu saat akan sangat membantumu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri," Safire ikut naik ke atas ranjang lalu berbaring memeluk suaminya. "Sebentar saja, biarkan aku memelukmu melepaskan kerinduanku padamu."
Putra Mahkota mengecup pucak kepala Safire, menaruh sebelah wajah diatas kepala istri nya lalu menutup mata menenangkan diri. Safire adalah obat penenang nya, vitamin serta kekuatan besar untuknya.
__ADS_1