
Bab.49
Di dalam ruangan Safire mencoba untuk fokus memperhatikan Daniel menggambar denah yang akan mereka bangun untuk rumah sakit, tetapi pikiran nya terus terganggu suara tawa Pangeran Otis bersama Lady Zabrina di ruangan tamu tadi.
Brakkk !!!
Safire menggebrak meja kesal, marah pada dirinya sendiri karena terpengaruh.
"Hhhhhhh... Daniel selesaikan denahnya, kepalaku sedikit sakit." Safire berjalan ke arah jendela besar yang mengarah ke taman luar lalu berdiri disana memunggungi ketiga lelaki di ruangan itu.
Alex menghampiri Safire, lelaki itu menyandarkan punggung nya di kaca jendela. "Kamu yang ingin bersandiwara tapi kamu yang terlihat berantakan sekarang, apa kamu yakin ingin Paman menikah dengan Zabrina?"
"Diam Alex, bukankah kamu juga senang aku berpisah dengan Pamanmu?!"
"Aku senang, memang... tapi aku lebih senang saat melihatmu ketika bersama Paman, matamu terlihat hidup, wajahmu selalu ceria dan senyuman indah tak pernah lepas dari bibirmu. Lihatlah sekarang, wajahmu sangat suram." Sahut Alex.
"Aku tak akan pernah bisa bersama Otis lagi," Safire menggeleng.
"Sebenarnya apa masalahnya? Kamu bilang Kakek tidak sepenuhnya melarang mu bersama Paman, lalu apa?" rasa penasaran menyerang Alex. Jujur ia memang tidak mendukung Safire bersama sang Paman, namun jika melihat keadaan Safire beberapa hari ini yang sangat tidak bersemangat itu membuatnya ikut merasa sedih.
"Ini sesuatu yang akan kamu tak percayai jika aku mengatakannya, kamu akan mengatakan perkataanku sangat konyol. Kamu akan mengatakan ucapan ku tak masuk akal," jawab Safire.
__ADS_1
"Esmera, aku memang lelaki bodoh yang pernah dibohongi seorang wanita juga lelaki bodoh karena sudah terkena jebakan seorang wanita, namun bukan berarti aku selalu menutup pikiran rasional ku. Katakan saja, mengenai tanggapanku lihat saja nanti."
Safire mengalihkan tatapan nya dari taman diluar ke arah Alex, menatap mata lelaki itu.
Apa aku juga harus mengatakan tentang Esmera? Bukankah yang Alex cintai adalah Esmera?
"Alex, sejak kapan kamu mulai membuka hatimu untukku? Tunggu! Aku hanya bertanya karena penasaran, bukan ingin kembali padamu atau apapun itu," sanggah Safire sebelum Alex salah paham padanya.
"Hm," kini pandangan Alex yang menerawang, menatap para prajurit di luar sana. "Mungkin saat mendengar kamu lah yang menyelamatkanku saat aku tenggelam," jawabnya.
Jadi benar, yang Alex cintai adalah Esmera.
"Hanya karena itu?"
"Hm, Alex... kalau aku katakan aku bukan Esmera, apa kamu percaya? Aku adalah Safire, berasal dari masa depan abad ke -20. Aku terjebak masuk ke dalam tubuh Esmera di malam itu, malam kamu menyiksanya."
Alex seketika menoleh pada Safire, namun ia menemukan mata penuh kejujuran di dalam mata wanita itu. "Kau bercanda padaku?"
"Hahhhhhh...." Safire menghela nafas pelan, benar saja Alex tak akan mentah - mentah mempercayai ucapannya.
"Esmera, otakmu jadi sedikit terganggu karena berpisah dari Paman?" cemas Alex seolah perkataan Safire berasal dari orang gila.
__ADS_1
"Kamu tidak melihat perbedaan kami? Pribadiku dan Esmera? Ah benar! Selama ini kamu tak pernah memperhatikan gerak - gerik Esmera karena tidak mencintainya. Alex, pikirkan ini... aku selalu menolakmu, tapi Esmera selalu mendekati mu mencari perhatianmu di setiap kesempatan. Lihat aku! Tidak ada sedikit pun cinta di mataku untukmu, bukan? Apa kau percaya setelah penyiksaan itu, aku tiba-tiba begitu berubah total?"
Tubuh Alex limbung, dia berpegangan pada bingkai jendela menatap Safire tak percaya. "Kamu... kamu benar-benar gila... maksudmu aku membunuh Esmera malam itu dan orang lain yang memasuki tubuhnya? Haha... kau dengar itu Albian! Kau dengar itu Daniel! ahhhh... " Alex tak bisa mempercayainya tapi dadanya sakit, tangan nya mencengkram jantungnya yang kesakitan.
"Daniel, beri Alex obat penenang. Dia sepertinya shock." Pinta Safire, dia membuka kotak obatnya.
Daniel mendekat, mengambil obat penenang dan suntikan.
"Albian, dudukkan Alex di kursi." Ujar Safire.
Albian ikut mendekat, menarik tubuh Alex yang limbung dan mendudukkan di kursi.
Daniel selesai menyuntikkan obat penenang membuat nafas Alex yang cepat juga detak jantung Alex kembali normal. Tiba - tiba mata Alex basah oleh air mata, lelaki itu menangis karena mempercayai perkataan Safire. Esmera wanita yang sudah menolong nyawanya, wanita yang mencintainya mati malam itu karena penyiksaan darinya.
"Alex... sekarang jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri, aku juga tau kamu sudah menyesalinya. Dunia ini terlalu misterius untuk kita pikirkan dengan otak normal. Akan kukatakan satu hal lagi, bukan hanya aku yang memasuki tubuh Esmera tapi dia juga memasuki tubuhku di masa depan. Kami bertukar jiwa, Esmera masih hidup di duniaku sana."
"Hi-hidup? Esmera tidak mati?"
"Ya, dia tidak mati. Setidaknya jiwa nya tidak mati dan masih hidup." Jawab Safire.
Mata Alex kembali hidup, "Apa aku bisa bertemu dengannya lagi?" lirihnya.
__ADS_1
"Entahlah, aku sudah bilang dunia terlalu misterius untuk kita pikirkan dengan otak normal. Mungkin saja aku kembali ke duniaku, dan Esmera kembali kesini dan bisa bersamamu. Tidak ada yang tau..."
Ya, tidak ada yang tau.... semua adalah misteri dan keajaiban.