The Queen Is Doctor Transmigration

The Queen Is Doctor Transmigration
Bab - 43 Sekali saja panggil aku Safire.


__ADS_3

Bab.43


Setelah Alex pergi dari kamarnya, tiba - tiba perut Safire kesakitan. Gejala nya seperti datang bulan, saat memeriksanya ke kamar mandi benar saja. "Obat datang bulan, pliss."


Safire membuka kotak obat, sayangnya hanya ada obat pereda nyeri namun tidak ada pembalut Safire terpaksa mencari kain.


Dia membaringkan tubuhnya, sebelah tangan menutupi matanya yang tertutup.


Di depan pintu kamar Safire, Pangeran Otis yang ingin masuk ke kamar dihadang Pengawal baru dari Kaisar. "Maaf, Pangeran. Mulai hari ini saya akan menggantikan Anda menjaga Putri Esmera."


Kening Pangeran Otis mengerenyit, "Atas perintah siapa? Ayahku?"


"Ya, atas titah Yang Mulia Paduka Kaisar."


Pangeran Otis menatap pintu kamar Safire, ia membalikkan tubuh menuju kamar Kaisar meminta penjelasan.


"Ayah, aku masuk."


"Ini sudah malam, ada apa? Pendekatan mu dengan Zabrina berjalan lancar?"


"Biasa saja. Aku datang ingin bertanya, kenapa aku tidak diperbolehkan masuk ke kamar Esmera? Kenapa Ayah mengganti pengawal pribadinya? Aku masih ingin mengawalnya sendiri." Protes Pangeran Otis.


Kaisar berdecak kesal, "Kau pikir aku tidak tau apa yang ada dalam otakmu! Dalam matamu aku melihat cinta untuk Esmera, Otis... dia adalah istri keponakanmu. Selama ini aku diam saja karena menunggumu mempunyai calon istri lagi, sekarang kau sudah bersama Zabrina. Mulai dekatkan diri dengan gadis itu, Esmera aman bersama pengawal baru. Kau juga tau, Albian adalah pengawal terpercaya ku."


"Ayah... aku--"


"Jangan bantah aku! Mulai sekarang jauhi Esmera! Dia memang sudah meminta pembatalan pernikahan dengan Alex, tapi bukan berarti para Menteri dan Bangsawan akan menerima hubungan mu dengan Esmera. Menikahlah dengan Zabrina! Sekarang pergi! Aku ingin istirahat!" usir Kaisar.


Pangeran Otis menatap sang Ayah dengan kecewa, berbalik pergi dari sana.


Setelah pergi, pengawal Kaisar bernama Gerg keluar dari persembunyian. "Kaisar."


"Hm, terus jaga Otis dan Esmera dari balik bayangan. Aku sedang mempertimbangkan Otis menjadi Putra Mahkota sebagai penerus Raja kakaknya, ini harus dirahasiakan. Otis harus menjadi lebih kuat dengan bantuan keluarga Zabrina, Duke Vitto akan memperkuat posisi Otis karena kedudukan Duke Vitto paling disegani. Selain dia mantan Jenderal perang, dia juga mempunyai pengaruh dalam hal politik. Posisi Otis nantinya akan kuat dengan Duke Vitto di belakang nya, beruntung putrinya menyukai Otis juga. Aku ingin semuanya berjalan lancar, pernikahan mereka." Mata Kaisar menerawang jauh, dia juga pernah mencintai seorang wanita, demi tahta bahkan dia rela meninggalkan wanita yang dicintainya. Otis juga pasti bisa melepaskan cinta nya, demi tahta bukan?


Tuk!


Tuk!

__ADS_1


Suara berisik kerikil beradu dengan kaca jendela terdengar saat Safire baru saja akan masuk ke alam mimpi. Ia seketika membuka matanya, mendengarkan suara - suara itu.


"Esmera, Esmera..." suara seseorang memanggil dari luar jendela terdengar dari arah bawah.


Safire turun dari ranjang, merapatkan gaun tidur menutupi tubuh. Dia menyibak tirai jendela mengintip ke arah bawah, matanya membelalak. "Otis?"


Dengan cepat Safire membuka jendela lebar, "Kamu sedang apa? Bukankah kamu sedang pergi bersenang - senang dengan Zabrina?!" bisik Safire, masih terdengar kekesalan dari suaranya.


"Buka lebar jendelanya, kamu minggir. Aku akan bergelantung di dahan pohon lalu ke pinggir jendela. Awas!"


Safire tak mengerti apa yang akan dilakukan Pangeran Otis tapi dia tetap menurut. Membuka jendela lebar, berdiri menunggu di kamar.


Huff!


Pangeran Otis berhasil masuk ke dalam kamar setelah memanjat dahan pohon yang merambat ke dinding kamar. Pangeran Otis menghampiri Safire lalu dengan satu kali tarikan memasukkan tubuh wanita itu ke dalam pelukan. "Aku merindukan mu, seharian ini aku selalu memikirkan mu. Esmera... Esmera..." tangan besarnya menelusuri punggung Safire mengelus lembut.


"Ada apa? Kenapa kamu masuk melalui jendela? Pintu--"


"Hmppp!!" suara Safire teredam ciuman ketakutan Otis, ketakutan akan kehilangan wanitanya.


"Heii, ada apa? Kenapa gelisah, pelan-pelan... Otis... lihat aku, lihat mataku. Katakan apa yang terjadi?" Safire menangkup wajah Pangeran Otis yang gelisah dengan kedua tangan menahan nya agar Pangeran Otis menatapnya.


"Ayah sepertinya tau aku menyukaimu, Ayah ingin aku menjauhimu... aku tak akan sanggup. Esmera... aku dan Zabrina hanya berpura-pura menjadi dekat. Kami berjanji hanya akan saling membantu, Zabrina tau aku sangat menyukaimu. Zabrina juga sudah mempunyai kekasih... dia hanya bersandiwara denganku."


"Benarkah?" tanya Safire.


"Ya, maafkan aku karena membuatmu kesal. Kami benar-benar hanya berteman tapi Ayah ingin kami menikah. Aku hanya ingin kamu, Esmera."


"Shhh... tenanglah. Kamu orang bijaksana dan pintar, jangan gegabah dan pikirkan masalah ini dengan hati-hati. Kabur? Kita? Itu bukan solusi," Safire menggeleng.


Pangeran Otis sedang hilang akal, dia gelisah pikirannya buntu.


"Otis, aku janji kita akan hadapi ini bersama. Tapi, jangan gegabah. Kita akan hati-hati, pikirkan jalan yang terbaik. Jika perpisahan kita sementara yang terbaik untuk saat ini, kita harus berpisah. Aku akan mengokohkan keberadaan ku di Istana, saat waktunya tiba aku tidak akan membuatmu dicemooh oleh semua orang karena bersamaku yang adalah mantan istri keponakanmu. Ya? Dengarkan aku."


Pangeran Otis menghembuskan nafas panjang, berulang kali menghirup dan menghembuskan nafas. Berusaha berpikir jernih dan menenangkan pikirannya.


"Aku mengerti." Pangeran Otis menarik tubuh Safire ke dalam pelukan. "Tapi, aku tidak sanggup jika harus berpisah meskipun hanya sementara, aku hanya akan mencuri-curi waktu untuk bertemu denganmu seperti saat ini."

__ADS_1


"Apa kamu sudah merasa tenang? Mau aku beri obat penenang?" tanya Safire.


Pangeran Otis menggeleng, "Kamu penenangku, hanya kamu yang bisa menenangkan ku."


"Arghht!" perut Safire melilit.


"Ada apa?" cemas Pangeran Otis.


"Masalah wanita, perutku sakit."


"Wanita?"


"Itu, masalah bulanan."


"Bulanan?" Pangeran Otis masih belum mengerti.


"Astaga, aku sedang datang bulan. Mengerti." Safire berjalan ke ranjang duduk di tepian ranjang. "Aku akan tidur, pergilah ke kamarmu." Ujar Safire seraya membaringkan tubuhnya.


"Aku akan disini menemanimu, nanti malam aku pergi."


Safire ingin menolak tapi tatapan mata penuh cinta Pangeran Otis padanya akhirnya membuatnya pasrah. "Kunci pintunya, tidurlah di ranjang di sampingku. Jangan seperti waktu itu kamu tidur di lantai, kamu pasti kedinginan."


Pangeran Otis berjalan ke pintu menguncinya, lalu mengunci jendela. Kemudian ikut naik ke atas ranjang menarik tubuh Safire dalam dekapan. "Tidurlah, kesayanganku."


"Otis..."


"Hm?"


"Sekali saja panggil aku Safire," pinta Safire.


"Nama siapa itu?"


"Panggil saja, aku suka nama itu." Jawab Safire.


"Tidurlah, Safire. Cintaku." Pangeran Otis mengecup kening Safire lembut.


Safire tersenyum, merasa hangat di hatinya saat kekasihnya memanggil dengan nama aslinya.

__ADS_1


__ADS_2