The Queen Is Doctor Transmigration

The Queen Is Doctor Transmigration
Bab - 44 Kakek Ingin Kamu Menjadi Raja Berikutnya.


__ADS_3

Bab.44


Saat terbangun di pagi hari, Safire tak menemukan keberadaan Pangeran Otis. Dengan tubuhnya yang sedikit pegal apalagi di bagian pinggang karena datang bulan, Safire berjalan dengan kurang semangat ke kamar mandi. Membersihkan diri sebelum seseorang mengetuk pintu untuk sarapan bersama, agenda dia hari ini akan pergi bersama Kaisar menemui Daniel.


Setelah beberapa hari di kediaman Pangeran Alex, kini harus dihadapkan dengan Ibu Alex di meja makan membuat Safire yang malas semakin malas apalagi melihat tatapan tak suka padanya.


Apa saat mendengar kabarku dan Alex berpisah, bibir wanita itu akan tersenyum? Cih! Safire sungguh tak perduli tapi melihat wanita mertua Esmera itu menang karena merasa telah berhasil menyingkirkan menantu yang tak di inginkan membuat Safire kesal.


Apa akan ada saat nya Ibu Alex ini menyesal karena tidak menginginkan menantunya Esmera? Mungkinkah saat itu akan tiba?


Safire duduk menjauh dari Alex maupun Otis, dia duduk di ujung meja sendirian. Semua kepala menoleh pada keanehan nya, kecuali Otis yang sudah sepakat akan saling berjauhan di depan orang lain.


"Esmera, kenapa duduk sendiri disana?" tanya Raja yang sudah menyukai wanita menantunya itu.


"Maaf, Raja. Saya sedang ada masalah dengan perut saya, masalah bulanan wanita. Saya tidak percaya diri bergabung disana, saya akan makan disini untuk beberapa waktu."


"Biarkan Esmera, itu keinginan nya. Segera makan," titah Kaisar.


"Alex, kenapa kamu masih disini? Kembalilah ke kediaman mu," ujar Selir Elyana.


"Ibu, aku sedang menyelidiki penyerangan Levon bersama para petugas. Akan memakan waktu jika pulang-pergi," jawab Alex menolak pergi.


"Ada yang ingin aku bahas dengan kalian semua, ini tentang Alex dan Esmera. Setelah makan berkumpul, lebih cepat akan lebih baik." Ujar Kaisar. "Sekarang diam dan makan dengan tenang."


Setelahnya Kaisar memberitahukan keinginan Esmera untuk berpisah dari Alex, disambut bahagia oleh Selir Elyana. Raja dan Ratu tak menanggapi, Pangeran Otis bahkan hanya diam.


Semua orang bubar setelah pemberitahuan dari Kaisar.


"Kakek, ingin pergi sekarang?" tanya Safire.

__ADS_1


"Tunggu diluar, aku akan bersiap lebih dulu."


"Baik."


Pangeran Otis sedang berdiri di taman bersama Alex, mereka berdua dengan pikirannya masing - masing.


"Bagaimana kamu dan Zabrina? Apa rencanamu sekarang setelah Esmera dan aku resmi berpisah?" tanya Alex.


"Aku dan Zabrina hanya terikat perjanjian yang menguntungkan kedua belah pihak, tidak ada niatan bagiku menikah dengan nya. Bagiku hanya Esmera yang penting." Jawab Otis tegas.


"Kamu masih belum mengerti juga, keinginan Kakek?" tanya Alex.


"Di awal aku tidak mengerti, sekarang aku mengerti dengan jelas keinginan Ayahku. Tapi aku hanyalah seorang adik Raja bukan putranya, tidak penting siapa orang tua Zabrina. Itu tak ada hubungannya denganku," sahut Otis.


"Salah, pikiranmu tak ingin terbuka Paman. Sudah jelas maksud Kakek ingin menikahkan mu dengan Zabrina karena Kakek ingin kamu menjadi Raja berikutnya, dengan dukungan dari keluarga Zabrina." Jelas Alex menyuarakan dugaan pemikiran sang Kakek.


"Apa maksud perkataan Alex, Otis? Maksudku Paman." tanya Safire memelankan suaranya.


Kedua lelaki itu berbalik.


Pangeran Otis ingin melangkah mendekat tapi melihat para pelayan dan prajurit tak jauh dari mereka ia mengurungkan nya. "Alex hanya asal bicara, jangan dipikirkan."


"Alex?" tanya Safire menoleh pada lelaki itu.


Alex melirik ke arah sang Paman, tatapan Otis menyiratkan agar Alex tak mengatakan apapun.


"Seperti yang Paman katakan, aku hanya asal bicara." Jawan Alex akhirnya.


"Tapi aku mendengar Paman akan menjadi Raja dan harus menikah dengan Zabrina, aku merasa tak salah dengar," Safire bukan wanita bodoh, dia tau pasti ada yang disembunyikan darinya.

__ADS_1


"Stttt, Kakek datang," ujar Alex.


Ketiga orang terdiam saat Kaisar keluar dengan para pengawalnya.


"Kakek mau kemana?" tanya Alex maju.


"Ingin ke rumah kenalanku, aku akan mengajak Esmera bersamaku. Ayo." Ajak Kaisar menoleh pada Safire.


Kening Pangeran Otis mengernyit, pasalnya saat bertemu semalam Safire tak mengatakan apa-apa.


"Boleh aku ikut?" pinta Alex.


"Aku juga," timpal Otis.


"Tidak! Kalian seperti kucing jantan yang selalu mengikuti kucing betinanya. Urus saja urusan kalian, ada yang lebih penting daripada ikut bersamaku!" tolak Kaisar seraya menggeleng.


"Ayo pergi, Esmera."


Kaisar dan Safire pun pergi menuju kediaman Daniel dengan kereta kuda Kerajaan.


Alex dan Otis hanya bisa memandang kepergian Safire dengan tak rela.


"Paman, kamu tidak mengikuti kereta kuda Kakek seperti malam itu kau mengikuti ku!" ledek Alex.


"Aku bukan tidak punya nyali mengikuti Esmera dan Ayah, tapi Esmera mengatakan agar aku lebih bijaksana dalam hubungan kami. Aku tidak ingin bertindak gegabah lagi, kami hanya akan sembunyi-sembunyi," sahut Otis.


"Kamu tidak bisa menyembunyikan hubunganmu dengan Esmera dari Kakek, kau tau Kakek bukan orang sembarangan. Mungkin Kakek sudah tau kelakuan sembunyi-sembunyi mu, tapi Kakek masih menutupinya." Timpal Alex kembali.


"Aku tak perduli, yang penting Esmera merasa nyaman." Otis membalikkan tubuh pergi meninggalkan Alex dengan segala pemikirannya.

__ADS_1


__ADS_2