The Queen Is Doctor Transmigration

The Queen Is Doctor Transmigration
Bab - 81 Mendengar Dari Mulut ke Mulut.


__ADS_3

Esok harinya Raja Otis serta rombongan hampir tiba di kediaman Earl Wales, di setiap jalan yang di lewati para rakyat berjajar dalam dingin nya salju yang turun.


Raja Otis menyibak kain jendela kereta kuda, menatap antrian panjang mengarah ke kediaman Earl Wales.


"Berhenti!" teriak Raja.


Kereta kuda seketika berhenti, salah satu pengawal mendekat. "Ada apa Yang Mulia?"


"Tanyakan, mereka sedang apa di tengah udara dingin?" Raja Otis memandang pada orang-orang yang hanya memakai pakaian tipis serta syal usang bahkan mantel mereka tak kalah usang nya.


"Baik."


Tak lama si pengawal kembali, "Yang Mulia, keluarga mereka ada yang sakit. Mendengar dari mulut ke mulut jika Yang Mulia Ratu sedang berada di kediaman Earl Wales jadi mereka berdatangan kesini ingin meminta obat."


"Apa gejala mereka sama dengan istri Earl Wales?"


"Ya, Yang Mulia."


"Kalau begitu bawa aku secepatnya ke Mansion Earl Wales, aku harus membantu istriku."


"Baik. Jalan!" teriak pengawal itu, kereta kuda kembali maju diiringi kuda - kuda para pengawal serta kereta kuda yang membawa persiapan perang juga alat domestik yaitu alat - alat kegunaan untuk sehari- hari.


Baru saja kereta kuda berhenti Raja Otis sudah meloncat turun, ia sudah tak sabar bertemu Ratu Safire. Satu hari yang menyiksa saat tak bertemu wanita yang dicintainya.

__ADS_1


"Ratuku!!" teriaknya tak sabar.


Semua orang menoleh ke arah suara, orang - orang yang memakai masker menutupi mulut dan hidung mereka menatap Raja. Saat melihat siapa yang datang mereka bersujud memberi hormat.


"Bangunlah!" Raja Otis tidak suka penghormatan formal.


"Suamiku, aku disini." Wajah Ratu Safire tertutup masker, tangan nya melambai senang.


Raja Otis mendekat ke arah sang Ratu, memeluknya tanpa memperdulikan orang yang melihat nya.


"Bagaimana keadaanmu? Bayi kita?"


"Aman, aku baik-baik saja."


"Antrian diluar sangat banyak, kamu pasti kelelahan." Raja Otis melihat keringat di kening sang Ratu padahal cuaca sangat dingin. "Lihatlah cuaca dingin, tapi kamu berkeringat."


"Terima kasih, tapi aku harus bekerja kembali. Kamu pergilah istirahat, pasti kamu juga capek karena perjalanan."


"Aku tidak capek sama sekali, aku akan membantumu. Ada yang bisa aku bantu?"


"Baiklah, bawa racikan obat yang aku minta dan berikan pada Daniel."


"Baik." Raja tidak memerintah siapapun, ia sendiri mengambil racikan obat yang dibuat para tabib di Istana di dalam kereta kuda lalu memberikan pada Daniel yang sedang menyiapkan obat pada banyak plastik berukuran kecil.

__ADS_1


"Ini obat yang dibuat para tabib sesuai catatan istriku."


Daniel mengambil nya lalu memeriksa racikan obat itu.


"Dimana Alex dan yang lainnya?" tanya Raja.


"Anda tidak melihat Pangeran Alex? Bukankah dia tidak pernah berjauhan dari Dokter Safire?"


"Tidak berjauhan dari istriku?"


"Ya, sangat lengket tak mau berjauhan. Anehnya, Pangeran Alex juga sekarang mengerti tentang obat-obatan."


"Hm, aku akan melihatnya. Sejak datang ke Istana kembali, memang sikapnya aneh. Aku kira dia masih memikirkan Esmera tapi dari Pandangan nya pada Safire itu terasa berbeda seolah Alex sangat merindukan istriku."


"Ya, memang aneh." Daniel mengiyakan.


Raja Otis kembali ke tempat Safire memeriksa dan memberikan kantong obat pada orang - orang yang mengantri di ruang besar milik Earl Wales, benar saja kini saat ia dengan fokus melihat ternyata Alex tak jauh berada di belakang Safire sesekali membantu istrinya dengan tatapan aneh.


Ziotta tiba - tiba sudah berada di samping Raja Otis. "Salam Yang Mulia Raja, apa Anda sedang memperhatikan Pangeran Alex?"


Raja Otis terlonjak kaget, putri bungsu Duke Vitto ini memang tidak ada bedanya dengan sang kakak Lady Zabrina selalu tidak terduga.


"Hm."

__ADS_1


"Sejak bangun dari tak sadarkan dirinya, Pangeran Alex lebih banyak diam. Dia selalu ingin secepatnya datang ke Istana dan terus menanyakan kak Safire. Awalnya aku kira dia ingin meminta diobati dan semacamnya, namun sejak masuk Istana Pangeran Alex selalu memperhatikan kak Safire diam-diam dari jauh. Seolah ingin mendekat tapi tak berani, namun tak ingin juga berjauhan."


Raja Otis semakin menatap tajam Alex, raut wajah keponakan nya itu sedikit berbeda. Jika dulu ada raut wajah arogan atau kepercayaan diri yang tinggi, namun kini wajah itu seperti menyembunyikan sesuatu yang tidak bisa ia baca dari raut wajah saja.


__ADS_2