
Persiapan perang sedang dilakukan, Raja Otis meminta setiap orang yang terlibat menutup mulut mereka agar sang Ratu tidak mengetahuinya karena Raja sendiri akan ikut turun berperang dan meninggalkan Ratu di Istana.
"Yang Mulia, apa tidak sebaiknya memberitahukan peperangan ini pada Yang Mulia Ratu." Bujuk sang keponakan Pangeran Yale, seorang Panglima.
Raja tetap menggeleng, "Ratu pasti memaksa ikut dengan alasan menjadi medis disaat para prajurit terluka, aku mengenal betul sifatnya."
"Yang Mulia Raja benar, aku sendiri sudah cukup menjadi medis disana. Yang Mulia Ratu sedang mengandung, itu tidak baik untuk kesehatan Ibu dan janin dalam perut." Timpal Daniel.
Setiap orang mengangguk. "Ratu sedang mengandung anak pertama, jika itu seorang anak laki-laki akan menjadi Putra Mahkota. Keinginan Yang Mulia sudah benar."
"Kita sudah menyiapkan tiga hari ini, besok satu hari lagi terakhir. Lusa kita akan menyerang, jangan ada yang terlewatkan."
"Ya."
"Yang Mulia!!!" seseorang menerobos masuk dengan panik.
Wajah Raja Otis menegang firasatnya buruk, "Katakan!"
"Yang Mulia Ratu sedang bersiap akan pergi ke kediaman Earl Wales, keadaan istri Earl Wales sedang buruk. Earl sendiri yang datang ke Istana, meminta Ratu untuk mengobati istrinya."
"Earl Wales! Bukankah kediaman nya ada di dekat daerah Duke Amigo?" Raja Otis seketika berdiri. "Kenapa kau baru datang memberitahukan nya padaku!"
__ADS_1
Raja Otis berlari kencang jantungnya berdegup kencang, bagaimana jika istrinya tak meminta ijin lebih dulu padanya dan sudah pergi. "Safire! Jangan terjadi apa-apa padamu!"
Saat melihat wajah istrinya langkah berlari Raja terhenti, wanita itu sedang berdiri sudah memakai mantel hangat karena diluar sana salju turun sejak semalam. Sebenarnya perang pun akan terkendala karena salju tiba-tiba turun, namun semua sudah direncanakan dengan matang tak bisa lagi dibatalkan.
"Istriku, Ratu." Raja tersenyum lalu merangkul pinggang sang istri.
"Salam, Yang Mulia Raja." Hormat Earl Wales.
"Aku dengar ada hal darurat?" tanya Raja.
"Ya, Yang Mulia Raja. Maaf jika saya datang kesini meminta Yang Mulia Ratu untuk melihat keadaan istri saya. Setiap Tabib sudah memeriksa, namun belum ada perubahan. Lalu sekarang anak-anak saya juga terkena, saya bingung harus kemana mencari seseorang yang pintar mengobati. Saya tau Yang Mulia Ratu mengobati dengan ajaib, jadi saya memberanikan diri datang kesini." Earl Wales menunduk menyedihkan.
"Tidak! Kamu sedang mengandung! Aku tak akan mengijinkan kamu pergi kemanapun, bahaya diluar sana," Raja menggeleng menolak.
"Aku akan mengajak pergi Daniel, juga Zabrina dan Ziotta. Juga beberapa pengawal pemberian Ayah Kaisar dan Ayahku."
"Kalau begitu biarkan Daniel yang pergi, aku tetap tak mengijinkan mu!" tegas Raja.
"Ada apa denganmu?! Bukankah aku hanya akan keluar Istana, sudah tak ada bahaya dari para Pangeran. Mereka sudah ditangkap, memang nya ada bahaya apa lagi dengan banyaknya pengawal?" Safire tak mau kalah.
Akhirnya Raja menarik tangan Safire menuju kamar mereka lalu mengunci pintu kamar.
__ADS_1
"Kamu ingin mengurungku?" Safire terperangah tak percaya.
"Ya! Aku akan mengurung mu jika perlu!"
"Kenapa Otis?!" wajah Safire memerah, ia tak bisa menahan emosinya. "Kamu juga tau aku seseorang yang tidak bisa mendengar orang lain kesakitan! Aku harus pergi! Ini wabah bahaya! Jika aku tak mencegah dan mengobati, maka itu akan merebak kemana-mana! Kau ingin orang-orang mati! Diluar sana banyak rakyat jelata yang juga akan terkena penyakit ini!"
Raja Otis dilema, sudah lama ia tak berdebat dengan istrinya. Apalagi ia juga sangat tau perasaan Safire yang memang selalu berjiwa menolong.
"Seberapa parah penyakit menular ini?"
"Aku menduga itu kolera, penyebaran nya sangat cepat. Aku harus bergegas pergi."
"Safire, aku harus menceritakan sesuatu. Alasanku melarangmu bukan hanya itu bahaya untukmu karena kamu mengatakan itu penyakit menular, tapi sebenarnya aku dan para Menteri sedang bersiap menyerang ke daerah Duke Amigo. Duduklah, aku akan menceritakannya."
Raja Otis lalu menceritakan semua dari awal, dari Pangeran Burke yang dibawa pergi juga tentang ancaman Duke Amigo hingga perencanaan akan pergi untuk berperang.
Safire terus memijit kepalanya yang terasa berdenyut sakit, kenapa harus sekarang disaat dia hamil. Kenapa banyak malapetaka terjadi dan juga harus terjadi peperangan.
________
NOTE : Seperti karya-karyaku yang lain yang nggak pernah berjilid - jilid panjang, karya yang satu ini juga nggak bakal banyak Part- nya. Mungkin akan STOP di Part 90-an. Terima kasih yang terus memberikan dukungan nya meskipun ceritanya semakin kesini semakin membosankan ya soalnya terasa sepi banget pembacanya makin kesini. Hehe... love you all 😍❤️😘
__ADS_1