
21+
Bab.59
Malam semakin larut, semua kemeriahan pesta pernikahan telah usai menyisakan para lelaki yang masih betah dengan minuman dan obrolannya. Para Pangeran putra Raja Gilmer yang datang masih menggoda Paman mereka dengan malam pengantin sang Paman.
"Paman, kamu masih belum pernah menyentuh wanita. Apa tau bagaimana memuaskan Putri Mahkota?" ledek Pangeran ke -6, Pangeran Alden.
"Hei! Tentu Paman Otis tau, sejak umur kita menginjak 14 tahun kita sudah diajarkan caranya. Kalau Paman masih buta hal itu, berarti Paman bukan pria sejati. Benar bukan, Paman?Kheee... kheee..." Putra bungsu Raja. Pangeran ke -9, Pangeran Dayton.
"Jangan tahan lagi Paman kalian. Paman harus membuka gaun pengantin Bibi kita, Putri Mahkota." Tegur Pangeran ke -5, Pangeran Yale.
Diantara salah satu ke-9 Pangeran, putra Raja Gilmer menatap dingin pada Paman nya Pangeran Otis.
Dulu aku membawa bakteri itu pada Yaron sampai dia mundur dari posisi Putra mahkota, lalu Alex menjadi kandidat kuat pengganti Yaron dan akhirnya berhasil aku singkirkan karena aku lah yang mendatangkan pata tamu untuk menjadi saksi dikala Esmera menjebak Alex akhirnya nama Alex tercemar meskipun saat itu aku gagal menenggelamkan kan Alex. Desas - desus Levon yang akan menjadi Putra mahkota pun sudah hilang, apalagi setelah aku menyerang nya. Namun... aku tak menyangka sekarang malah Paman Otis yang resmi diangkat menjadi Putra Mahkota! Sial! Kenapa Ayah dan Kakek tidak pernah memandangku sekali pun! Batin salah satu Pangeran menatap benci Pangeran Otis, sang Paman.
Pangeran pengincar posisi Putra Mahkota itu berpura - pura tersenyum, mendekati sang Paman. "Paman Otis, ayo aku antar ke kamar pengantin mu. Aku takut kamu gugup dan akhirnya kesasar sepanjang malam berputar - putar di dalam Istana mencari wanita pengantin mu." Oceh si Pangeran Monster yang menyakiti saudara - saudara nya hanya karena menginginkan Tahta.
Tunggu sebentar Paman, sebelum kamu naik Tahta aku akan menghancurkan mu! Janji Pangeran monster.
"Ayo, kita semua mengantar Paman ke kamar pengantin nya kecuali Pangeran Yaron dan Pangeran Levon yang tidak bisa hadir karena sakit mereka." Pangeran kelima, Yale bangkit dari duduknya menghampiri sang Paman.
Alex hanya tersenyum mendengar gurauan - gurauan saudara-saudaranya. Dia juga waspada pada salah satu Pangeran, ia juga tak terlalu khawatir karena sang Paman pun sudah mengantongi nama orang itu.
__ADS_1
"Baik, ayo kita semua pergi mengantar Paman." Alex ikut bangun dari kursinya.
"Alex, sebaiknya kau jangan. Mungkin ini agak canggung, bagaimana pun Putri Mahkota Safire adalah mantan istrimu," tegur Pangeran Yale.
"Itu tak jadi masalah, aku dan Putri Mahkota sudah seperti keluarga sekarang. Ayo, jangan membuat Putri Mahkota menunggu. Angkat tubuh Paman!" teriak Alex semangat.
"Jangan!" Pangeran Otis berlari ingin menghindar seraya tertawa, namun kejaran para keponakan nya sangat cepat dan segera mengangkat tubuh Pangeran Otis yang kini sudah menjadi Putra Mahkota itu tinggi ke atas.
"Hidup Paman! Hidup Paman!" semua Pangeran berteriak seraya menggotong tubuh sang Paman menuju kamar Pengantin dengan gelak tawa mereka yang terdengar membahana menguar ke setiap juru Istana.
Kehebohan para Pangeran ditatap oleh Raja Gilmer, sang Ayah. Andai kan semua rukun sampai akhir hayat nya, alangkah hidupnya menjadi sempurna. Namun sayang, Alex sudah melaporkan satu nama Pangeran yang dicurigai menenggelamkan Alex dulu, bahkan menyerang Levon. "Kenapa kamu berbuat sekejam itu pada saudara-saudaramu, putraku. Harusnya kamu mengerti kenapa aku dan Kakekmu tidak pernah memilihmu menjadi kandidat Putra Mahkota, sifat abnormal mu yang sering menyakiti binatang sejak kecil tak bisa berubah. Tangan mu bahkan tega menyakiti binatang dengan kejam, lihatlah sekarang bahkan kau menyakiti saudaramu sampai hampir kehilangan nyawa."
Di dalam kamar pengantin setelah Otis diantar oleh para keponakan nya masuk, suasana sedikit canggung karena keduanya belum pernah memberikan tubuh mereka pada orang lain kecuali ingatan Esmera yang diingat Safire saat malam pertama Esmera bersama Alex. Namun malam itu adalah malam petaka, ia bahkan sudah menutup ingatan itu.
"Haha... haha..." Safire yang awalnya malu dan canggung akhirnya tertawa melihat suaminya berbicara gagap dan salah tingkah. "Otis, maksudku Putra Mahkota aku bisa membuka gaun ku sendiri."
"Safire, ini terasa canggung. Panggil namaku saja jika kita sedang berdua," Otis menggaruk hidung nya yang tak gatal.
"Baik, suamiku." Jahil Safire, benar saja wajah Otis seketika memerah dipanggil suami oleh Safire.
Safire lalu bangun dari duduknya, tangan nya mulai membuka satu - persatu bagian gaun pengantin yang melekat pada tubuhnya. Dalam hitungan detik keseluruhan gaun nya terlepas, menyisakan dalaman gaun tipis menerawang. Dengan satu sentakan, gaun tipis itu pun terlepas dan memamerkan tubuh polos Safire.
Otis hanya memandang tubuh polos Safire tanpa berkedip, terus menatap seolah ingin mengenal tubuh Safire dari ujung kepala sampai ujung kaki.
__ADS_1
"Makanan panas yang dihidangkan akan segera dingin kalau terus ditatap dan tidak dimakan dan dinikmati, itu akan__"
Ucapan Safire terhenti saat tangan besar Otis menarik pinggang Safire dengan sebelah tangan menempelkan pada tubuhnya sendiri, Otis mencium bibir istrinya menyessap begitu dalam. Bibirnya turun ke ceruk leher mulus Safire, menghissap nya. Sebelah tangan nya lagi memainkan pucuk gunung kembar Safire yang menegang karena bergairah.
"Ot... is... kakiku lemas, akhhhhh... aku tak sanggup berdiri lagi... Otis..." errang Safire.
"Panggil aku suamimu..." Otis masih terus melakukan kegiatan nya memancing gairah Safire.
"Suamiku... akhhhhh... plisss..."
Dengan satu gerakan, Otis memangku Safire dan meletakkan tubuh polos istrinya di atas ranjang Pengantin yang sudah disulap dengan taburan kelopak mawar merah bertaburan.
"Istriku... aku akan memuaskan mu malam ini. Aku akan menikmati dengan perlahan, biarkan aku yang kelaparan selama 30 tahun ini melahapmu sampai kenyang..." bisik Otis.
"Kalau begitu makan aku sampai tulangku tak bersisa..." sahut Safire seraya mengelus kepala suaminya.
Otis turun dari ranjang dengan cepat melepas semua pakaian di tubuhnya, lalu naik kembali dan mulai memainkan tubuh istrinya kembali.
"Apa kamu menyukai permainan ku, Istriku?" ujar Otis disela isssapan nya di pucuk dada safire yang menantang nya untuk dihisap.
Jawaban Safire hanyalah tubuh nya yang terus menggeliinjang hebat di bawah kungkungan tubuh polos Otis, nafas Safire memburu tangan nya menekan kepala Otis yang berada di satu gundukan nya menghissap dengan dalam membuat Safire tak bisa memikirkan apapun lagi. "Akhhhh.... Otis..."
Otis tersenyum dan akhirnya menyatukan milik mereka berdua yang sudah siap, malam pengantin pun dimulai sepanjang malam dengan errangan dan lengguhhan yang saling bersahutan dari keduanya.
__ADS_1