
Tempat Penyihir.
Lady Hadley ditemani pengawal pribadinya yang bertampang garang dengan pakaian serba hitam mendatangi penyihir yang pernah memberikan padanya jimat untuk mimpi buruk pada Safire. Bahkan jimat hipnotis pada setiap pengawal di Istana di malam pembunuhan mendiang Raja Gilmer.
"Kamu datang," ujar si penyihir.
"Semuanya gagal, jimat yang kamu berikan agar Ayahku terus mendukungku pun sekarang sudah tak mempan lagi!" teriak Lady Hadley kesal, ia mendudukkan dirinya di kursi di depan si penyihir yang sedang sibuk dengan alat-alat sihirnya.
"Aku sudah mengatakan padamu, wanita yang menjadi Ratu bukanlah jiwa dan roh asli. Jiwa itu berasal dari jauh, jiwa kuat dan murni. Jiwa yang selalu ingin menolong bukan menyakiti."
"Maksudmu tidak ada cara untuk membunuhnya?!"
"Ada satu cara, saat seseorang yang dia cintai mati. Jiwa balas dendam dan sakit hatinya akan mencemari hati murninya." Jawab si penyihir.
Lady Hadley memikirkan siapa yang paling dicintai Ratu Safire jawaban nya hanya satu yaitu Raja Otis. Bahkan ia pernah mendengar Ratu Safire rela kabur dari Istana untuk menemukan Raja Otis yang menghilang.
"Bagaimana cara membunuh Raja? Penjagaan nya saja sangat ketat."
"Hm, ada satu cara. Sekali lagi kamu bisa menghipnotis siapapun agar orang itu melihatmu sebagai Ratu Safire, saat kau berubah wujud kau bisa membunuh Raja. Satu tindakan dua hasil. Raja mati dan Ratu menjadi si pembunuh, akhirnya dua-duanya tersingkir." Ucap si penyihir.
__ADS_1
Bibir Lady Hadley tersenyum licik, ia lalu menghafalkan mantra dari si penyihir. Kali ini ia sendiri yang akan menyusup dan mendapatkan hasil akhir dengan kemenangan.
"Benda ini harus selalu ada pada tubuhmu, berisi serbuk halusinasi. Mantra ditambah serbuk itu akan memperkuat hasilnya." Imbuh si penyihir kembali.
"Baik, bayaranmu." Lady Hadley menaruh satu kantong besar berisi emas. "Aku pergi."
................
Mansion Earl Wales.
Setelah semua orang dibagi obat-obatan oleh Safire, malam itu Raja Dan Ratu berada di meja makan dengan makanan yang sudah aman.
"Kamu juga makanlah," Ratu juga mengambilkan makanan kesukaan Raja.
Keromantisan mereka ditatap seseorang dengan kesal, hatinya memang sudah menerima apalagi ingatan - ingatan si pemilik tubuh mengalir padanya namun tetap saja ada goresan yang tidak bisa tersembuhkan.
"Ada apa Alex? Wajahmu seperti tidak suka aku bermanjaan dengan istriku sendiri." Raja Otis menyipitkan matanya.
"Ti-tidak apa-apa, aku..." Morgan kebingungan menjawab.
__ADS_1
"Bukan begitu, Yang Mulia Raja. Alex hanya iri karena kalian begitu mesra, sedangkan dia masih sendiri. Jadi, Alex... apa aku diterima jadi kekasihmu? Kamu tidak akan sendiri lagi dan aku berjanji akan menjadi wanita hebat untukmu. Aku akan belajar menjadi Dokter seperti kak Safire, aku juga akan menjadi wanita yang mencintaimu dengan segenap hatiku." Lady Ziotta menolong Morgan dari kebingungan, namun perkataan Ziotta malah semakin membuat Morgan semakin bingung.
Apa Alex begitu disukai para wanita? Kenapa dalam ingatanku yang berasal dari ingatan nya banyak sekali wanita yang mendekati Alex! Morgan menggeleng pasrah, di dunianya ia seorang menteri tapi tidak begitu digilai para wanita.
"Alex... Ziotta bicara padamu." Safire mendukung pendekatan Ziotta meskipun ia tau cinta Alex hanya untuk Esmera.
"Begini, apa aku bisa bicara denganmu Safire? Ahh... mak--sudku Dokter Safire, Yang Mulia Ratu." Gagap Morgan, ia masih belum terbiasa bahasa formal ala Kerajaan.
"Tanpa meminta ijin dariku?" kesal Raja Otis.
"Maaf Yang Mulia Raja, bolehkah?"
"Ada apa denganmu Alex? Biasanya kamu memanggilku Paman," Raja merasa aneh lagi.
"Pa--man, bolehkah aku bicara sebentar dengan istrimu?" Morgan menghela nafas pelan sangat sulit menyesuaikan diri.
"Hanya 5 menit."
"Uhukk!" Morgan tersedak karena itu waktu yang sangat pendek, tapi akhirnya ia mengangguk.
__ADS_1
Lima menit yang sangat singkat bagi Morgan menjelaskan pada Safire jika dia lah yang merasuki tubuh Alex, namun lima menit yang sangat lama untuk Raja Otis karena tak sabar menunggu pembicaraan mereka berdua selesai.