
Bab.38
Di kediaman Pangeran Levon, Safire memerintahkan semua orang keluar kecuali yang berkepentingan. Dia juga tak ingin memperlihatkan pada setiap orang kotak ajaibnya, meskipun mungkin saja kabar dia dan kotak ajaibnya sudah menyebar tetapi dia tak ingin terlalu mengekspos nya.
"Putri Abigail, kamu juga keluarlah. Biarkan aku dan Pangeran Alex disini."
" Tapi aku ingin menemani suamiku. Pangeran Alex... aku sedih melihat Pangeran Levon seperti itu, tubuhku sejak semalam tak bertenaga. Bisakah aku tetap disini..." ujar Putri Abigail bersuara lemah dengan wajah sedih lalu tiba - tiba menjatuhkan tubuhnya pada Pangeran Alex. "Akhh!" wanita itu berteriak kecil seraya berpegangan pada tubuh Alex.
Alex bergeming, tak ingin merangkul kan tangan nya pada tubuh Abigail membiarkan kelakuan wanita itu dengan dramanya sendiri. Dia sudah muak dengan Abigail, kini setelah matanya terbuka dia sudah mengerti sifat manipulatif Abigail padanya.
Safire hanya menggeleng melihat kelakuan men jijikkan Abigail, suaminya sedang terbaring sekarat wanita itu malah memanfaatkan kesempatan untuk berdekatan dan merayu lagi Alex.
"Lepaskan tangan mu dari tubuhku!" bentak Alex dengan suara dingin menatap ke bawah ke wajah menyedihkan Abigail.
Kepala Abigail terangkat matanya membulat, dia sudah curiga dengan sikap Alex padanya saat terakhir kali bertemu di Istana. Sekarang saat mencoba bersikap menyedihkan yang biasanya akan meluluhkan hati Alex kini malah mendapatkan tatapan tajam dan suara dingin. Dengan cepat Abigail melepaskan cekalan nya dari tubuh Alex, bersimpuh di lantai dengan menyedihkan. "Kenapa kamu bersikap dingin padaku, Alex. Meskipun aku sudah menikah, kamu bilang aku akan selalu ada di dalam hatimu. Jika aku membutuhkan mu, aku bisa datang padamu."
"Kau serius bertanya???"
"Ya, jawab aku..." lirih Abigail.
__ADS_1
"Alex, aku harus cepat mengobati Pangeran Levon. Bisakah kalian bicara diluar? Dan panggil seseorang, disini aku butuh bantuan."
"Aku akan membantumu," Alex mendekat ke ranjang. "Abigail, keluarlah! Jangan memancing amarahku lagi! Jika kau masih belum menemukan apa kesalahan mu padaku, tunggu aku diluar... nanti akan kukatakan alasanku membencimu!"
"Membenciku?"
"Ya, aku membencimu. Aku ji jik padamu! Selama ini aku dibutakan olehmu, sekarang kau bahkan memperlihatkan sifat aslimu. Di saat suamimu sedang sekarat, kau malah sibuk merayuku membuatku muak! Keluar! Atau aku akan menyuruh pengawal menyeret mu!"
"Astaga Alex! Bisakah kau seret saja dia, ini terlalu memakan waktu!" kesal Safire.
Alex menurut dia berjalan kembali mendekati Abigail, menarik lengan wanita itu yang masih terduduk di lantai untuk berdiri menyeret tubuh Abigail keluar lalu menutup pintu tepat di depan wajah wanita itu.
Pintu dikunci, Alex membalikkan tubuhnya kembali mendekat ke ranjang.
"Pakai sarung tangan ini dan juga masker, bantu aku melebarkan lukanya dengan pinset agar aku bisa menjahit luka di dalam. Luka ini sangat parah aku harus memulai dari dalam, kamu mengerti?"
"Baik," jawab Alex.
Keduanya larut dalam proses pengobatan, tangan terampil Safire dengan cepat membuka membersihkan mencari luka di dalam. Beberapa jam kemudian, Safire bernafas lega mendengar jantung Pangeran Levon berdetak normal meskipun masih terlalu lemah.
__ADS_1
"Selesai." Safire membuka masker melepas sarung tangan medis lalu membuang semua bekas - bekas.
"Aku akan menyuruh pelayan membawakan minum dan makanan untukmu, aku juga ingin bicara dengan Abigail." Ujar Pangeran Alex.
"Hm, pergilah. Sepertinya aku harus melihat dulu perkembangan kondisi Pangeran Levon. Ngomong-ngomong, menurutmu siapa yang menyerang Pangeran Levon? Apa ini berhubungan dengan posisi Putra Mahkota?"
"Mungkin, dulu saat kamu menolongku dari dalam kolam sebenarnya aku juga dicelakai. Ada seseorang yang membuatku tak sadarkan diri dan menenggelamkan ku di kolam. Namun, kamu menolong ku dan aku selamat. Aku berhutang satu nyawa padamu, suatu hari nanti aku akan membalasnya."
"Sudahlah, jangan membicarakan masalah itu, jadi memang benar semua ini karena masalah posisi Putra Mahkota. Apa kamu mencurigai salah satu diantara para Pangeran?"
Alex mengangguk, "Aku sudah mencurigai salah satu saudaraku, tapi bukti-bukti masih aku kumpulkan. Sekarang dia menyerang Levon, aku akan menyelidiki dan mencari bukti-bukti lain."
"Alex, semalam juga ada yang menyerang ku. Itu--"
"Apa?! Beraninya! Kenapa orang itu mengincar mu?! Apa itu abigail?! Aku akan mencekiknya sampai mati!" pikiran Pangeran Alex seketika menduga Abigail karena hanya wanita itu yang membenci Safire saat ini.
Pangeran Alex dengan amarahnya pergi keluar kamar menuju Putri Abigail.
"Alex...! Astaga pria itu dengan segala amarahnya!" rutuk Safire menggeleng pasrah, biarlah. Paling - paling Alex bertengkar hebat dengan kata - kata tidak mungkin Alex akan mencekik Abigail.
__ADS_1