
Masa Depan, 2030.
Kondisi Morgan sangat buruk para Dokter terus berusaha menyelamatkan nyawa sang Menteri. Detektif mengejar pelaku penembakan, sedangkan Detektif lain menunggu diluar ruang operasi.
Beberapa jam Dokter akhirnya berhasil menyelamatkan nyawa Morgan dan kondisi nya stabil. Tubuh Morgan dibawa ke ruang ICU yang sama dengan ruang ICU tubuh Safire dirawat.
Roh Esmera membelalak melihat siapa yang masuk ke ruang ICU dengan banyak peralatan medis yang terhubung.
Morgan! Ada apa dengan nya?!
Ranjang Morgan bersebelahan dengan ranjang Safire, para perawat memeriksa sekali lagi alat - alat medis yang terhubung di tubuh Morgan kemudian keluar.
Wush!
Tiba - tiba Roh seorang lelaki dengan memakai baju abad pertengahan dengan jubah terlampir di punggung melayang di depan roh Esmera yang juga melayang.
"Alex!"
Roh Esmera menatap tak percaya dengan penglihatan nya, dia mengucek mata untuk memastikan penglihatan nya. "Alex..! Ini benar kamu?!"
Roh Alex hanya mematung, apa dia tidak salah lihat. Esmera melayang di depan nya, dia menatap dirinya sendiri ternyata hal yang sama terjadi padanya. "Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu padaku saat tertusuk panah?"
Mata Alex merotasi ruangan, banyak benda yang tidak ia kenali. Namun ia teringat perkataan Safire yang sering bercerita tentang dunia nya abad -20, gambaran itu sangat mirip dengan apa yang diceritakan. Tunggu!
Alex berbalik menatap Esmera yang melayang di hadapan nya, "I-ini kamu Esmera? Esmera asli?"
"Alex... ini benar - benar kamu? Kamu menyusul ku kesini? Tidak mungkin bukan?" Esmera tak mempercayainya.
__ADS_1
"Apa aku ada di masa depan? Aku ada di dunia Safire? Aku akhirnya menyusul mu?" Sama hal nya dengan Alex, ia belum mempercayai nya.
"Jadi benar ini kamu... Alex..." Roh Esmera menutup mulut dengan kedua tangan.
"Esmera! Ini kamu! Ahhh... aku sangat merindukanmu. A-aku... maafkan aku Esmera... aku sangat menyesal... aku mohon maafkan aku..." Roh Alex melayang mendekati roh Esmera dengan wajah penuh penyesalan.
Roh Esmera menggeleng bisa bertemu lagi dengan lelaki yang ia rindukan seolah semua kesakitan nya tidak penting lagi, seolah semua telah sirna begitu saja. "Aku sudah lama memaafkan mu Alex. Safire sudah menceritakan semuanya, perubahan mu dan penyesalan mu..."
"Aku merindukanmu, Esmera..."
"Aku juga Alex..."
Roh keduanya saling berdekatan, baru saja Alex ingin menarik roh Esmera memeluknya tiba - tiba sebuah sinar terang menyilaukan mata keduanya.
"Arghttt! Esmera! Tidak!"
"Alex!!!"
Bunyi monitor yang terhubung ke tubuh Morgan dan tubuh Safire berbunyi berbarengan, garis gelombang hijau - ECG (jejak jantung) di monitor tiba - tiba bergaris lurus. Para Dokter berlarian masuk, mencoba mengembalikan detak jantung pasien.
"1... 2... 3..." Dokter menekan Automated External Defibrillator (AED) perangkat portabel memberikan sengatan listrik melalui dada ke jantung untuk mengembalikan irama jantung Morgan.
Dokter lain nya melakukan hal sama pada tubuh Safire. "1... 2... 3..."
Beberapa kali cobaan akhirnya keduanya terselamatkan. Dua pasang mata terbuka, menatap tak fokus karena silau oleh cahaya dan orang - orang yang ber-jas putih.
"Tuan Morgan, Anda bisa melihat saya?" tanya salah satu Dokter.
__ADS_1
"Nona Safire, Anda bisa menatap jari saya?" tanya Dokter lain.
"A-apa ini? Apa in-i ingatan Safire? Arghtt..." Esmera yang kembali memasuki tubuh Safire merasa kepala nya sakit karena gambaran - gambaran ingatan Safire si pemilik tubuh menyerbu masuk ke dalam ingatan nya.
Alex yang memasuki tubuh Morgan pun meringis kesakitan, ingatan si pemilik tubuh menyerbu. "Apa ini? Gambaran apa ini?!"
"Alex!" teriak Esmera teringat lelaki itu yang datang padanya tadi sebelum tiba - tiba sebuah sinar datang.
Seketika Alex menoleh ke arah samping, "Aku disini, kamu Safire atau Esmera?"
"A-pa kamu... Morgan.. atau A-lex?" gagap Esmera.
"Aku Alex..."
"Aku Esmera, Alex... ohhhh..." mata Esmera berkaca - kaca.
"Jadi ini tubuh Safire, kamu masuk lagi ke tubuhnya..." lirih Alex.
"Dan... kamu masuk ke dalam tubuh Morgan, Alex."
Keduanya tersenyum bahagia, menatap dengan penuh cinta.
"Esmera, aku mencintaimu."
"Alex, aku juga mencintaimu..."
Para Dokter dan perawat saling bersitatap kebingungan dengan apa yang keduanya bicarakan, memanggil nama lain dari si pemilik tubuh.
__ADS_1