The Queen Is Doctor Transmigration

The Queen Is Doctor Transmigration
Bab - 36 Maaf dan Terima Kasih.


__ADS_3

Bab.36


Safire sudah selesai memasang perban di lengan terluka Alex. "Apa ada luka yang lain?"


Alex menggeleng, "Pergilah, sepertinya luka Paman sangat parah."


"Jangan khawatir, dia masih bisa tertawa dan bercanda denganku. Luka nya tidak terlalu dalam, aku yakin dalam seminggu sudah membaik." Safire membenahi kotak obatnya berniat keluar. Seketika kotak obat mengecil.


"Esmera, darimana kamu belajar mengobati?"


"Entahlah, mungkin sejak dari dalam kandungan ibuku."


Maksud Safire ingin bercanda tapi wajah Alex malah tetap murung, lelaki sulit.


"Hhhhhh, sudahlah. Kamu sedikit pun tak bisa bercanda, aku pergi. Jangan sampai lukamu terkena air, tunggu aku yang mengganti perban mu atau kamu bisa menyuruh tabib disini."


"Esmera..."


Safire baru melangkahkan kakinya menuju keluar kamar, tapi suara serak menyedihkan Alex menghentikan langkahnya. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Alex. "Ya?"


"Maaf dan terima kasih. Maafkan aku karena tidak mencintaimu disaat kamu mengharapkan nya dan terima kasih karena sudah berjuang mendapatkan hatiku. Setidaknya, aku pernah ada dalam hatimu."

__ADS_1


Safire tersenyum, "Aku terima maaf dan terima kasihmu. Aku juga minta maaf untuk segalanya, karena menjebak mu waktu itu meskipun aku akhirnya menolong mu dari wanita seperti Abigail. Kalau aku tak menjebak mu sepertinya kamu sudah menikah dengan wanita berwajah dua itu. Dan... terima kasih karena sudah mau melepaskan ku. Meskipun kamu tidak mengucapkan nya secara langsung padaku, tapi aku bisa merasakan nya. Jaga dirimu, jangan sakit."


Setelah mengatakan nya Safire berbalik pergi dari sana.


Di dalam kamar tempat nya berbaring, Pangeran Otis terbangun. Ingin turun dari ranjang tapi masih kesakitan, ingin menyusul Safire yang mungkin sedang bersama Alex.


Pangeran Otis menyesali perkataan nya tadi pada Safire, menjadi sok bijak menyuruh kekasihnya pergi menemui Alex namun nyatanya hatinya tak tenang. Rasa cemas dan cemburu bercampur menjadi satu.


"Dasar bodoh, kenapa menyuruhnya menemui Alex sendiri. Harusnya aku mengatakan untuk pergi bersama, bodoh."


"Siapa yang bodoh? Kamu?" Safire masuk dan langsung mendengar Pangeran Otis mengoceh sendiri. Safire berjalan ke arah lemari untuk mencari gaun ganti, gaun yang dipakainya sudah tak nyaman dipakai.


"Kamu sudah memeriksa Alex?" tanya Pangeran Otis seraya menatap gerak - gerik kekasihnya yang memunggunginya.


Apa dia cemburu? Aku akan menjahilinya! Batin Safire.


"Hm, sudah. Lukanya parah, sepertinya aku harus memeriksa lagi nanti malam dan harus ke kamarnya."


Hening! Tak ada jawaban dari kekasihnya.


Safire penasaran, membalikkan tubuh dan terbelalak. "Apa yang kau lakukan?! Kenapa turun dari ranjang?! Kembali!"

__ADS_1


Namun Pangeran Otis tak ingin mendengar atau mematuhi bentakan Safire. Terus berjalan dengan menahan rasa sakit di perutnya.


Safire berlari langsung memeluk tubuh Pangeran Otis, "Kamu gila! Ada apa denganmu! Lihat! Lukamu berdarah lagi!"


Pangeran Otis tak memperdulikan lukanya lagi, "Jangan temui Alex sendirian lagi, aku takut kehilanganmu."


"Baik! Sekarang kembali ke ranjang dan berbaringlah." Safire merangkul bahu Pangeran Otis membantu memapah pria itu.


"Esmera..."


Kepala Safire berbalik ke samping.


Cup!


Pangeran Otis mengecup bibir Safire, tak cukup hanya mengecup lelaki itu membuka bibir Safire dengan lidahnya mulai mengecap bibir wanita itu. Semakin lama semakin dalam, nafas mereka berdua terdengar menderu. Tubuh Safire bergairah, begitu pun tubuh Otis.


Safire yang melepaskan lebih dulu ciuman nya, "Lukamu akan semakin parah, jangan bandel Otis. Aku tau kamu sedang cemburu, tapi hubungan ku dan Alex benar-benar sudah berakhir. Kami sudah mengakhirinya, kamu bisa tenang sekarang."


"Esmera, aku tau kita baru bersama. Namun, cinta tak mengenal waktu, bukan? Ada kalanya seperti cintamu untuk Alex sedari dulu tapi berakhir sia-sia, meskipun aku baru memulai denganmu tapi aku sangat mencintaimu. Apa aku salah terlalu cepat mencintaimu?"


Safire menggeleng, "Cinta itu datang disaat yang tepat, bukan seberapa lama cinta itu hadir. Cinta hadir diantara kita meskipun kita baru memulai hubungan ini, menurutku cinta kita sempurna."

__ADS_1


Pangeran Otis tersenyum bahagia, namun wajahnya seketika meringis tapi dia masih tersenyum bodoh. "Hehe... perutku sakit."


Safire tertawa melihat tingkah bodoh Pangeran Otis. Tawanya menular pada Pangeran Otis dan akhirnya mereka tertawa bersama, menaruh harapan pada hubungan yang baru saja terjalin dengan cinta yang hadir begitu cepat namun terasa begitu indah.


__ADS_2