
Istana.
Pengawal - pengawal Raja berlarian mengiringi sang Yang Mulia Raja menuju sel tahanan setelah penjaga membawa surat kuasa Menteri Pertahanan.
Tak
Tak
Tak
Penjaga sudah gemetaran saat melihat Raja datang berjalan setengah berlari, seketika si penjaga menjatuhkan diri.
"Yang Mulia!" si penjaga bersujud.
"Kamu membiarkan Pangeran Burke dibawa..!!" Raja Otis meraung marah.
"Sa-saya..."
"Berani sekali wanita itu! Dia pikir dia siapa?! Segera siapkan kereta kuda dan pengawal, aku akan datang ke Mansion Menteri Pertahanan!" titah Raja.
"Yang Mulia Raja!" seseorang datang dengan tergesa - gesa.
"Ada apa?!"
__ADS_1
"Lapor Yang Mulia! Dua Jenderal menarik ratusan prajurit juga satu Komandan meninggalkan Istana dan menuju ke Mansion Menteri Pertahanan."
"Atas perintah siapa?!"
"Menteri Pertahanan Yang Mulia, ini dokumen resmi yang baru datang dari Menteri Duke Amigo."
Raja Otis mengambil gulungan dokumen resmi, ia membukanya.
...--Salam Hormat Pada Yang Mulia Raja--...
Saya, Menteri Pertahanan dan beberapa Menteri serta Bangsawan lain akan mundur dari Istana. Kami sepakat tidak akan mendukung Yang Mulia Raja dan ingin mengangkat Pangeran Kedelapan menggantikan mu menjadi Raja. Hari ini saya akan menikahkan Putri saya Hadley dengan Pangeran Burke, lalu akan mempersiapkan K U D E T 4. Anda bisa turun dari Tahta dengan sukarela atau menunggu kami datang menyerbu dan menurunkan Anda secara tidak hormat dari Tahta.
Kami akan memberi waktu pada Anda seminggu ke depan, jika Anda masih belum turun Tahta dan menyerah kami akan segera menyerang
Raja Otis mencengkram gulungan dokumen resmi dari Menteri Pertahanan, giginya bergemeletuk menahan amarah.
"Lancang!" geramnya.
"Ada berapa yang tinggal?" tanya Raja.
"Dua Jenderal, Panglima, dua Komandan dan prajurit yang lebih sedikit dari yang dibawa ke Mansion Menteri. Sisa prajurit masih berada di perbatasan berjaga disana, apa harus ditarik?"
"Jangan! Meskipun mereka selalu membicarakan orang-orang di Istana tapi kesetiaan mereka pada Istana tidak diragukan. Jangan ganggu mereka," Raja Otis pernah ke camp mereka dan dibicarakan karena rumornya dengan Safire waktu itu namun ia tidak marah karena mereka menjunjung kesetiaan.
__ADS_1
"Kumpulkan para Pangeran dan para Menteri yang masih setia pada Istana!"
"Baik, Yang Mulia."
Raja Otis bergegas menuju ke ruangan Paduka Kaisar, di jalan ia melihat istrinya sedang bermain dengan serigala peliharaan.
"Ratuku, kamu sangat bahagia?" ujar Raja seketika mengurai wajah marah dan cemasnya, ia tersenyum.
"Tentu Yang Mulia Raja, aku akan menjadi seorang Ibu. Pembunuh mendiang Raja dan pelaku penyerangan sudah tertangkap semua, apalagi yang harus dikhawatirkan?" jawab Ratu Safire tersenyum lebar.
"Bagus, teruslah tersenyum seperti sekarang." Raja tidak ingin memberitahukan keadaan Istana yang sedang urgent.
"Kamu mau kemana?" tanya Ratu.
"Ayah ingin bertemu, kamu bermain lah lagi dengan Rover."
"Zabrina dan Ziotta akan datang, dalam surat Alex sudah membaik dan akan kembali kesini. Kamu akan menemui Alex dan mereka bukan nanti?"
"Ya, aku akan menemui mereka. Aku masih harus mengurus sesuatu setelah bertemu Ayah, hati-hati dengan perutmu sayang." Raja mengelus perut rata Safire lalu sekilas mengecup kening Ratu kemudian berlalu pergi dengan para pengawal yang berwajah tegang.
"Ada apa dengan para pengawal itu? Kenapa wajah mereka seperti akan ada peperangan?" Ratu Safire memperhatikan gerak-gerik para pengawal yang gelisah tidak seperti Raja Otis yang terlihat tenang.
"Albian, ada apa dengan mereka?"
__ADS_1
Albian yang belum mengetahui apapun hanya menggeleng, namun melihat kegugupan dan kegelisahan para pengawal Raja sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi.