THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
9. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌺 SELAMAT MEMBACA 🌺


Upil (Luthvia) sedang


duduk di teras sendirian. Ia menekuni sebuah buku yang dibawanya kemarin,


sebuah novel yang baru didapatkannya. Tak lama kemudian datanglah Ben


menghampirinya.


“Pil, dari mana kamu?


Dua hari ini nggak kelihatan. Kata pak ketua, ada kerabat kamu yang meninggal.


Siapa?” Ben menempatkan pantatnya di kursi plastik tepat di hadapan Upil. Wangi


aroma shampo dan sabun menyeruak mengagetkan Upil. Ben tampak segar setelah


menyelesaikan acara mandinya. Ia baru saja datang sekitar setengah jam yang


lalu.


“Ben, kamu ini


bagaimana sih. Diizinkan pulang ke kost, bukannya ponsel tetap aktif, malah


nggak ada signalnya sama sekali.” Upil menepuk pundak Ben dengan novel yang ia


genggam. Ia sangat kesal karena tidak berhasil memberikan kabar penting kepada Ben.


Tiga hari yang lalu


Bennedict mendapat izin untuk pulang, kemudian ia pulang ke kostnya. Dua hari


setelah Ben pulang, Upil mendapat kabar bahwa orang tua Indah meninggal. Ia pun


segera menghubungi Tengklik dan Arif. Mereka bertiga melayat ke rumahnya Indah.


Sangat disayangkan, ketika Upil hendak memberi kabar kepada Ben, ponsel Ben


tidak pernah aktif.


“Kamu kenapa? Kangen


dengan wajah tampanku, heh?” Ben menunjukkan jari telunjuk ke arah wajahnya


sendiri dan tersenyum bangga.


“Tampan embahmu, Ben.”


Upil mengendus kesal. Tampan sih, tapi tukang selingkuh. Batin Upil kesal.


“Embahku, iya sih,


lebih tampan beliau karena bule asli.” Ben kemali menunjukkan senyum mautnya.


Maaf ya Ben, kali ini Upil tidak terpesona. Yang dirasakannya malah ingin


menampar wajah tampan yang berada di hadapannya. Tapi ia takut ketahuan Indah.


Lho, apa sih ini?


“Iya, kalau kamu


bulepotan.” Upil menepuk dahinya sendiri dengan punggung tangannya. Ia sebal


dengan kenarsisan pacar sahabatnya ini.


“Sekarang serius, Pil.


Ada apa kamu hubungin aku dari kemarin? Eh, jawab juga pertanyaan pertamaku,


dari mana aja kamu?”


“Tahu nggak sih, ada


kabar penting banget, terus ponsel kamu nggak aktif. Taro di kulkas aja tuh ponselnya kalau nggak mau dipakai, biar awet. Ben, dengar baik-baik ya, orang tuanya Indah


meninggal. Kami layat ke sana kemarin?”


“Hah...apa?” Ben


mengacak rambutnya dengan tangan kanannya. Ia menyesal, melewatkan informasi


penting ini. Ia tidak menyangka tindakannya untuk mematikan ponselnya selama


pulang ke kost ternyata berakibat seperti ini.


“Indah nggak ngabarin


kamu?” Tanya Upil lagi. Kedua tangannya bersedekap dan bibirnya mengerucut.


“Enggak. Indah nggak


ngabarin aku.” Ben menggeleng.


“Hubungan kalian masih


baik-baik saja atau sudah putus sih? Nggak ada kabar-kabaran lagi kalian?”


Ben terdiam. Pertanyaan


Upil menggelitik hatinya. Sejak KKN ini komunikasi antara keduanya sangat


jarang.


“Nanti aku hubungi


Indah.”


“Jangan lupa. Untung


saja kemarin Indah tidak menanyakan tentang kamu. Kalau dia menanyakanmu, mau


jawab apa coba?”

__ADS_1


“Kamu nggak cerita


apa-apa kan Pil?”


Upil mengendikkan


bahunya, meninggalkan Ben yang masih termangu. Upil masuk kembali ke dalam


rumah setelah sebelumnya melirik ke arah rak sepatu. Di rak yang kedua dari


atas telah bertengger kotak sepatu yang diberikan Ben untuknya. Upil tersenyum


dan pergi masuk ke kamar.


***


Upil berbaring


tidur-tiduran di dalam kamar. Belum terlalu malam, masih pukul sembilan malam.


Ia belum merasa mengantuk. Ia jadi ingin menghubungi Indah, ingin menanyakan


kabarnya. Mungkin saat ini Indah sedang sendirian di rumahnya.


Upil : In, apa kabar?


Indah : Baik. (Indah


tersenyum sembari membayangkan wajah sahabatnya.)


Upil : Masih di rumah?


Indah : Iya. Empat hari


lagi aku di sini. Sedih, Pil. (Upil dapat merasakan kegetiran Indah. Ia


membayangkan wajah cantik itu mulai menangis lagi.)


Upil : Sabar ya In.


Kalau ketemu pak Sabar di jalan, bawa aja pulang ke rumah, untuk nemenin kamu.


Indah : Ish, apaan sih?


Tapi aku jadi kangen dengan celotehan kamu. Menghiburku banget.


Upil : Sini... luk


peluk dari aku. Jangan nangis. Nanti ditemenin pak sabar.


Indah : Upiiilll....


Upil : In, Ben sudah


menghubungi kamu?


Indah : Iya, sudah.


Katanya kemarin dia pulang ke kost, tapi ponselnya rusak. Jadi sedang


diperbaiki. Dia minta maaf tidak melayat waktu itu.


(mulai kompor deh ini mulut)


Indah : Sepertinya


enggak. Aku merasa hubungan kami semakin jauh.


Upil : Kamu nggak nanya


ke aku, tentang tingkah lakunya di sini?


Indah : Perasaanku, dia


tidak jadi anak baik di sana. Iya kan Pil? Aku merasa begitu sih.


Upil : Iya. Dia bukan


lelaki yang baik, In. (Mulut ini nggak bisa dikontrol. Sori ya Ben, ternyata


sepatunya nggak ngaruh.)


Indah : Tapi kalau


hubungan kami putus, aku masih belum siap Pil. Aku masih sedih dengan kepergian


orang tuaku. Kalau aku putus juga dengan Ben, sementara aku jauh dari kalian...


aku nggak sanggup. Biarlah nanti satu demi satu akan kuselesaikan.


Upil : Ya sudah, nanti


putusnya setelah selesai KKN aja yah.


Indah : Dih. Kok gitu


sih? Kamu berharap banget aku putus.


Upil : Kalau nggak bahagia,


nggak usah dipaksakan. Dan aku tahu sekali siapa Ben itu. Pokoknya kami,


sahabatmu selalu ada untukmu. Jangan merasa sendirian.


Indah : Ok. Trims Pil.


You’re the best.


***


Indah selesai


mengakhiri pesan whatsapp-nya dengan Upil sahabatnya. Ia masih belum mengantuk.


Tiba-tiba ponselnya berdering.

__ADS_1


“Hallo tante.”


....


“Eh, iya, selamat malam


Mami.”


....


“Sendiri Mi. Lagi


tiduran di kamar Ayah Bunda. Kangen.”


....


“Enggak kok Mi. Sudah


belajar mengiklaskan.”


....


“Iya Mami.”


....


“Nggak perlu Mi. Indah


berani kok. Besok Indah ke rumah Mami.”


....


“Kenan?”


....


“Iya Mi. Itu terserah


Mami saja. Kalau Kenan nggak keberatan, aku setuju saja Mi.”


....


“Nggak pernah Mi. Kenan


nggak pernah menghubungi Indah.”


....


“Mungkin Kenan sibuk,


Mi.”


....


“Iya Mi.”


....


“Ih Mami. Apaan sih Mi.


Itu jangan diomongin dulu deh Mi.”


....


“Mi... malu aku....”


....


“Mami....”


....


“Iya Mi. Selamat malam


juga. Salam untuk semuanya.”


Sebenarnya Indah sangat


senang dengan gaya berbicaranya Helena. Ia memposisikan dirinya sebagai teman


untuk anak-anaknya. Pembicaraannya juga tidak kaku. Tetapi terkadang apa yang


dikatakan Helena membuatnya malu. Itu karena terkadang Helena berbicara terlalu


vulgar, tanpa malu-malu, yang mendengarnya menjadi malu.


Indah menutup


ponselnya. Kata mami pernikahan akan dilaksanakan setelah ujian semester ganjil


ini. Indah menghela nafasnya. Ia tidak tahu, Kenan akan menerima atau menolak


perjodohan ini. Helena belum menceritakan kepadanya. Sekali lagi ia pasrah.


Kalau memang Kenan menyetujui pernikahan ini, berarti Kenanlah yang dipilih


Tuhan mendampingi hidupnya. Berarti ia harus bersiap-siap mengakhiri


hubungannya dengan Ben. Terlebih lagi, Indah memang tidak ingin memperpanjang


hubungannya dengan Ben, bukan hanya karena perjodohan ini. Sudah beberapa bulan


ini Indah memikirkannya dan rasanya ia perlu mencari waktu yang tepat untuk


membicarakannya dengan Ben.


Indah termenung,


memikirkan percakapannya dengan Helena tadi. Dari percakapan itu,  Indah menyimpulkan sepertinya Kenan telah


setuju dengan perjodohan ini. Berarti tinggal waktunya saja yang akan


ditentukan.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Tuh kan, kalau Ben ditanya Upil, jawabannya ngeles. Terus kasih tampang sok ganteng begini.



__ADS_2