
🌺 SELAMAT MEMBACA 🌺
Upil (Luthvia) sedang
duduk di teras sendirian. Ia menekuni sebuah buku yang dibawanya kemarin,
sebuah novel yang baru didapatkannya. Tak lama kemudian datanglah Ben
menghampirinya.
“Pil, dari mana kamu?
Dua hari ini nggak kelihatan. Kata pak ketua, ada kerabat kamu yang meninggal.
Siapa?” Ben menempatkan pantatnya di kursi plastik tepat di hadapan Upil. Wangi
aroma shampo dan sabun menyeruak mengagetkan Upil. Ben tampak segar setelah
menyelesaikan acara mandinya. Ia baru saja datang sekitar setengah jam yang
lalu.
“Ben, kamu ini
bagaimana sih. Diizinkan pulang ke kost, bukannya ponsel tetap aktif, malah
nggak ada signalnya sama sekali.” Upil menepuk pundak Ben dengan novel yang ia
genggam. Ia sangat kesal karena tidak berhasil memberikan kabar penting kepada Ben.
Tiga hari yang lalu
Bennedict mendapat izin untuk pulang, kemudian ia pulang ke kostnya. Dua hari
setelah Ben pulang, Upil mendapat kabar bahwa orang tua Indah meninggal. Ia pun
segera menghubungi Tengklik dan Arif. Mereka bertiga melayat ke rumahnya Indah.
Sangat disayangkan, ketika Upil hendak memberi kabar kepada Ben, ponsel Ben
tidak pernah aktif.
“Kamu kenapa? Kangen
dengan wajah tampanku, heh?” Ben menunjukkan jari telunjuk ke arah wajahnya
sendiri dan tersenyum bangga.
“Tampan embahmu, Ben.”
Upil mengendus kesal. Tampan sih, tapi tukang selingkuh. Batin Upil kesal.
“Embahku, iya sih,
lebih tampan beliau karena bule asli.” Ben kemali menunjukkan senyum mautnya.
Maaf ya Ben, kali ini Upil tidak terpesona. Yang dirasakannya malah ingin
menampar wajah tampan yang berada di hadapannya. Tapi ia takut ketahuan Indah.
Lho, apa sih ini?
“Iya, kalau kamu
bulepotan.” Upil menepuk dahinya sendiri dengan punggung tangannya. Ia sebal
dengan kenarsisan pacar sahabatnya ini.
“Sekarang serius, Pil.
Ada apa kamu hubungin aku dari kemarin? Eh, jawab juga pertanyaan pertamaku,
dari mana aja kamu?”
“Tahu nggak sih, ada
kabar penting banget, terus ponsel kamu nggak aktif. Taro di kulkas aja tuh ponselnya kalau nggak mau dipakai, biar awet. Ben, dengar baik-baik ya, orang tuanya Indah
meninggal. Kami layat ke sana kemarin?”
“Hah...apa?” Ben
mengacak rambutnya dengan tangan kanannya. Ia menyesal, melewatkan informasi
penting ini. Ia tidak menyangka tindakannya untuk mematikan ponselnya selama
pulang ke kost ternyata berakibat seperti ini.
“Indah nggak ngabarin
kamu?” Tanya Upil lagi. Kedua tangannya bersedekap dan bibirnya mengerucut.
“Enggak. Indah nggak
ngabarin aku.” Ben menggeleng.
“Hubungan kalian masih
baik-baik saja atau sudah putus sih? Nggak ada kabar-kabaran lagi kalian?”
Ben terdiam. Pertanyaan
Upil menggelitik hatinya. Sejak KKN ini komunikasi antara keduanya sangat
jarang.
“Nanti aku hubungi
Indah.”
“Jangan lupa. Untung
saja kemarin Indah tidak menanyakan tentang kamu. Kalau dia menanyakanmu, mau
jawab apa coba?”
__ADS_1
“Kamu nggak cerita
apa-apa kan Pil?”
Upil mengendikkan
bahunya, meninggalkan Ben yang masih termangu. Upil masuk kembali ke dalam
rumah setelah sebelumnya melirik ke arah rak sepatu. Di rak yang kedua dari
atas telah bertengger kotak sepatu yang diberikan Ben untuknya. Upil tersenyum
dan pergi masuk ke kamar.
***
Upil berbaring
tidur-tiduran di dalam kamar. Belum terlalu malam, masih pukul sembilan malam.
Ia belum merasa mengantuk. Ia jadi ingin menghubungi Indah, ingin menanyakan
kabarnya. Mungkin saat ini Indah sedang sendirian di rumahnya.
Upil : In, apa kabar?
Indah : Baik. (Indah
tersenyum sembari membayangkan wajah sahabatnya.)
Upil : Masih di rumah?
Indah : Iya. Empat hari
lagi aku di sini. Sedih, Pil. (Upil dapat merasakan kegetiran Indah. Ia
membayangkan wajah cantik itu mulai menangis lagi.)
Upil : Sabar ya In.
Kalau ketemu pak Sabar di jalan, bawa aja pulang ke rumah, untuk nemenin kamu.
Indah : Ish, apaan sih?
Tapi aku jadi kangen dengan celotehan kamu. Menghiburku banget.
Upil : Sini... luk
peluk dari aku. Jangan nangis. Nanti ditemenin pak sabar.
Indah : Upiiilll....
Upil : In, Ben sudah
menghubungi kamu?
Indah : Iya, sudah.
Katanya kemarin dia pulang ke kost, tapi ponselnya rusak. Jadi sedang
diperbaiki. Dia minta maaf tidak melayat waktu itu.
(mulai kompor deh ini mulut)
Indah : Sepertinya
enggak. Aku merasa hubungan kami semakin jauh.
Upil : Kamu nggak nanya
ke aku, tentang tingkah lakunya di sini?
Indah : Perasaanku, dia
tidak jadi anak baik di sana. Iya kan Pil? Aku merasa begitu sih.
Upil : Iya. Dia bukan
lelaki yang baik, In. (Mulut ini nggak bisa dikontrol. Sori ya Ben, ternyata
sepatunya nggak ngaruh.)
Indah : Tapi kalau
hubungan kami putus, aku masih belum siap Pil. Aku masih sedih dengan kepergian
orang tuaku. Kalau aku putus juga dengan Ben, sementara aku jauh dari kalian...
aku nggak sanggup. Biarlah nanti satu demi satu akan kuselesaikan.
Upil : Ya sudah, nanti
putusnya setelah selesai KKN aja yah.
Indah : Dih. Kok gitu
sih? Kamu berharap banget aku putus.
Upil : Kalau nggak bahagia,
nggak usah dipaksakan. Dan aku tahu sekali siapa Ben itu. Pokoknya kami,
sahabatmu selalu ada untukmu. Jangan merasa sendirian.
Indah : Ok. Trims Pil.
You’re the best.
***
Indah selesai
mengakhiri pesan whatsapp-nya dengan Upil sahabatnya. Ia masih belum mengantuk.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
__ADS_1
“Hallo tante.”
....
“Eh, iya, selamat malam
Mami.”
....
“Sendiri Mi. Lagi
tiduran di kamar Ayah Bunda. Kangen.”
....
“Enggak kok Mi. Sudah
belajar mengiklaskan.”
....
“Iya Mami.”
....
“Nggak perlu Mi. Indah
berani kok. Besok Indah ke rumah Mami.”
....
“Kenan?”
....
“Iya Mi. Itu terserah
Mami saja. Kalau Kenan nggak keberatan, aku setuju saja Mi.”
....
“Nggak pernah Mi. Kenan
nggak pernah menghubungi Indah.”
....
“Mungkin Kenan sibuk,
Mi.”
....
“Iya Mi.”
....
“Ih Mami. Apaan sih Mi.
Itu jangan diomongin dulu deh Mi.”
....
“Mi... malu aku....”
....
“Mami....”
....
“Iya Mi. Selamat malam
juga. Salam untuk semuanya.”
Sebenarnya Indah sangat
senang dengan gaya berbicaranya Helena. Ia memposisikan dirinya sebagai teman
untuk anak-anaknya. Pembicaraannya juga tidak kaku. Tetapi terkadang apa yang
dikatakan Helena membuatnya malu. Itu karena terkadang Helena berbicara terlalu
vulgar, tanpa malu-malu, yang mendengarnya menjadi malu.
Indah menutup
ponselnya. Kata mami pernikahan akan dilaksanakan setelah ujian semester ganjil
ini. Indah menghela nafasnya. Ia tidak tahu, Kenan akan menerima atau menolak
perjodohan ini. Helena belum menceritakan kepadanya. Sekali lagi ia pasrah.
Kalau memang Kenan menyetujui pernikahan ini, berarti Kenanlah yang dipilih
Tuhan mendampingi hidupnya. Berarti ia harus bersiap-siap mengakhiri
hubungannya dengan Ben. Terlebih lagi, Indah memang tidak ingin memperpanjang
hubungannya dengan Ben, bukan hanya karena perjodohan ini. Sudah beberapa bulan
ini Indah memikirkannya dan rasanya ia perlu mencari waktu yang tepat untuk
membicarakannya dengan Ben.
Indah termenung,
memikirkan percakapannya dengan Helena tadi. Dari percakapan itu, Indah menyimpulkan sepertinya Kenan telah
setuju dengan perjodohan ini. Berarti tinggal waktunya saja yang akan
ditentukan.
🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Tuh kan, kalau Ben ditanya Upil, jawabannya ngeles. Terus kasih tampang sok ganteng begini.