THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
19. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

❤ SELAMAT MEMBACA ❤


Indah dan Kenan


menyelesaikan mengumpulkan barang kebutuhan mereka di dalam troli. Kemudian Ken


mendorong troli itu menuju kasir.


Kenan POV


Aku terkejut melihat Indah yang berlari ke arahku. Sepertinya ia


melihat sesuatu yang aneh. Aku sempat tidak memperhatikannya tadi ketika ia


bilang akan mengambil sabun cuci pakaian. Aku sejak tadi menunggunya di sini


sembari menerima telepon dari papi. Wajahnya berubah menjadi pucat. Aku


khawatir terjadi sesuatu padanya.


“In, kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi?” aku bertanya dengan tatapan  khawatir.


“Tidak apa-apa. Lebih baik kita cepat mencari barang-barang yang kita


butuhkan, Ken. Ini sudah malam. Aku ingin segera makan di rumah.”katanya lagi.


Namun aku melihat kegelisahan di matanya. Ia menggigit-gigit bibir bawahnya.


“Baiklah. Tapi kenapa wajahmu menjadi pucat?” Aku mencoba bertanya lagi


dan memegang dahinya. Ia  hanya


menggeleng lemah. Aku tidak lagi bertanya. Aku menjalankan troli menuju ke rak


berikutnya. Aku mencari barang-barang berdasarkan catatan yang kami bawa dengan


lebih cepat. Aku menyadari sikap aneh Indah. Sejak tadi ia menempel di


punggungku. Aku berusaha untuk tidak menanyakannya. Aku menikmati getaran aneh


yang mengalir dari sentuhan kepalanya di punggungku. Agaknya ia mulai tenang.


Sepanjang perjalanan dari supermarket tadi Ia tidak berkata satu patah


kata pun. Ia menatap lurus ke depan. Aku yakin, ia pikirannya tidak berada di


sini. Pikirannya sedang mengembara entah ke mana. Ada kejadian apa sebenarnya


tadi?


***


Kenan berdalih ingin


mampir ke apotik sejenak, karena belum ada persiapan barang untuk diisikan ke


dalam kotak P3K di rumah.


“In, aku mau mampir ke


apotik dulu. Mau beli barang untuk mengisi kotak P3K. Kamu tunggu sebentar di


sini ya.” Tanpa menunggu jawaban dari Indah, Ken segera meninggalkan Indah


menuju sebuah apotik. Di dalam apotik, sembari menunggu pelayan menyiapkan


barang pesanannya, Ken mengirim pesan kepada kakaknya. Ini sudah malam di


Indonesia. Berarti di sana masih siang. Semoga saja pesannya segera dibalas


oleh Adel.


Ken : Mbak Adel.


Adel : Apa?


Ken : Kalau Indah lagi


galau gimana mengatasinya?


Adel : Kamu lagi


berantem Ken?


Ken : Enggaklah.


Adel : Terus kenapa?


Ken : Nggak tau, dia


kelihatan sedih.


Adel : Mungkin ingat


orang tuanya ya?


Ken : Aku belum nanya,


takut tambah sedih.


Adel : Kasih ice cream


aja. Dia paling suka makanan itu. Bisa untuk memperbaiki moodnya.


Ken : Trims, ya mbak.


Adel : Ya.


Tanpa membuang waktu,


Ken mampir ke minimarket di samping apotik. Ia membeli dua kotak ice cream.

__ADS_1


Kemudian ia kembali ke mobil


Indah POV


Aku dan Ben telah putus lebih dari dua bulan trakhir ini. Tetapi


perasaanku kepadanya masih belum berubah. Rasa memiliki masih ada di dalam


hatiku. Aku masih tidak rela melihat Ben bersama dengan wanita lain. Kenapa


sulit sekali untuk menghilangkan bayang-bayang Ben dari pikiranku? Ben, apa


kamu nggak capek, jalan-jalan terus di kepalaku? Pagi, siang, malam, kamu terus


saja berada di sana.


***


Masih sama, Indah tidak


banyak bicara malam ini. Makan malam dihabiskannya dengan asal-asalan. Padahal


tadi Indah bilang ingin cepat pulang karena lapar. Ketika Ken selesai


menghabiskan makanan di atas piringnya, Indah mengambilkan air putih di gelas.


Disodorkannya kepada Ken. “Ken, aku ke kamar duluan.”


Ken menganggukkan kepalanya.


Indah mencoba


memejamkan matanya. Bayangan Ben kembali muncul di kepalanya. Menyakitkan


sekali. Ternyata tidak mudah melenyapkan kebersamaan mereka yang hampir


berlangsung selama dua tahun itu. Air mata meleleh di pipinya dan isakannya


terdengar, walaupun pelan.


Indah :


Hiks, dadaku sakit, nafasku sesak. Aku seperti kehabisan oksigen.


Setelah membawa piring


ke dapur, Ken mengambil mangkuk. Ia membuka kulkas dan menyendokkan es krim ke


dalam mangkuk kecil. Ia membawanya ke atas, menuju ke kamarnya.


Perlahan Ken membuka


pintu kamarnya. Ia melongokkan kepalanya. Indah tidak sadar dengan kehadiran


Ken di dalam kamar. Ken melihat Indah terisak. Melihat itu hatinya merasa


sakit. Ingin sekali menghapus air mata itu. Ingin sekali rasanya merengkuhnya


ke dalam pelukan agar kesedihannya berkurang. Namun Ken belum berani


“In, aku tadi beli es


krim. Kamu mau?”


Indah kaget mendengar


suara Ken. Ia segera bangkit untuk duduk dan mengusap air matanya. Mendengar


Ken menyebut es krim, hatinya jadi sedikit terobati. Yang terbayang di


kepalanya saat ini rasa es krim yang hendak disantapnya. Indah mengulurkan


tangannya kepada Ken. Seulas senyum tipis tergambar di wajah cantiknya.


Ken menyodorkan


semangkuk es krim ke hadapan Indah. Ia merasa senang melihat wajah itu kembali


tersenyum walaupun senyum yang tipis. Ternyata triknya Mbak Adel cukup


berhasil. Tampaknya ia harus lebih sering berkolaborasi dengan Mbak Adel untuk


menaklukan wanita cantik ini.


Kenan :


Kamu akan jatuh cinta kepadaku, Indah Nathalia.


“Kamu nggak ikut makan?


Dari tadi lihat aku makan. Aku kan jadi nggak enakkan. Mau? Mau aku suapin?”


Indah merasa risih ketika menyadari sejak tadi Ken menatapnya makan es krim. Ia


duduk di tempat tidur, di samping Indah dan mengamati Indah.


“Enggak. Aku sudah


cukup kenyang.”  Ken merasa es krim ini


membantu Indah meperbaiki moodnya. Terbukti dari percakapan yang dimulai Indah.


“Ya sudah.” Indah


menghabiskan dua sendok terakhir dari mangkuknya.


“Sini. Aku bawa ke


bawah mangkuknya. Sekalian ke bawah. Aku mau ke rumah pak RT dulu. Kalau aku


pulangnya malam, tidurlah dulu.”

__ADS_1


“Mau ngapain ke rumah


pak RT?”


“Mengurus Kartu


Keluarga. Kita keluarga baru di sini, jadi harus membuat KK baru. Aku sudah


minta tolong pak Idrus mengurus surat pindah kita. Nanti minta tolong pak RT


untuk membantu membuatkan KK kita yang baru.”


“Rumah pak RT di mana?”


“Itu di pojok sebelah


Barat, masih satu blok dengan rumah kita. Yang rumahnya ada pohon jambunya.”


“Oh... berarti nggak


jauh ya?”


“Kenapa?”


“Jangan lama-lama. Aku


takut kalau malam-malam di kamar sendirian. Aku ke bawah aja deh. Mau nonton


sama Bik Janet aja. Nanti ke kamarnya kalau kamu sudah pulang.”


“Ya sudah, aku nggak


akan lama-lama di sana.”


Ken keluar dari kamar


menuruni tangga diikuti dengan Indah.


“Aku pergi dulu,


In....”


“Iya.” Kenan berpamitan


kepada Indah dan meninggalkannya di ruang keluarga yang berfungsi juga sebagai


ruang untuk menonton TV dan ruang makan. Letaknya bersisian dengan dapur dan


tangga menuju ke atas.


Indah celingukan


mencari Bik Janet yang tidak terlihat di dapur. Ia kemudian mendekati pintu


kamar Bik Janet yang berada di bawah tangga.


“Bik...”


“Iya Non.” Jawab Bik


Janet dari dalam kamar.


“Nonton TV yuk.” Ajak


Indah ketika Bik Janet telah membuka pintu kamarnya.


“Ayuk Non. Bibik juga


mau nonton.” Mendengar majikannya yang mengajak menonton, Bik Janet terlihat


senang. Ia pun bersemangat menemani majikannya.


“Bibik suka nonton


apa?”


“Sekarang kan banyak


drakor diputar di TV. Jadi Bibik suka nonton itu. Apalagi yang sudah di dubbing


tuh. Wih, enak banget nontonnya. Nggak pakai baca teks lagi. Bibik mah suka


pusing kalau baca teksnya kebanyakan. Jadi nggak fokus lihat pemainnya yang


ganteng-ganteng.”


“Aih... si Bibik


pinteran aja.”


“Aktor favoritnya siapa


sih Bik?”


Bla...bla...bla....


Malam itu Indah


menonton drama Korea kesukaan Bik Janet. Mereka tidak terlalu fokus menonton


sebenarnya. Karena bik Janet lebih sering memberikan ‘iklan’ ke Indah. Iklan


yang isinya gosip tentang aktor dan artis Korea yang sedang booming. Indah


mendengarkan ocehan Bik Janet dengan geli. Ia merasa terhibur dengan celoteh


asisten rumah tangganya yang sangat menyukai drama Korea.


❤❤❤❤❤


Sampai senyum senyum dengar iklan Bik Janet. Katanya lagi senang lihat si dedek Cha Eun Wo.

__ADS_1


Kalau mbak Indah, nggak inget nama nama aktornya, susah diingat, nggak familiar.



__ADS_2