
❤ SELAMAT MEMBACA ❤
Indah dan Kenan
menyelesaikan mengumpulkan barang kebutuhan mereka di dalam troli. Kemudian Ken
mendorong troli itu menuju kasir.
Kenan POV
Aku terkejut melihat Indah yang berlari ke arahku. Sepertinya ia
melihat sesuatu yang aneh. Aku sempat tidak memperhatikannya tadi ketika ia
bilang akan mengambil sabun cuci pakaian. Aku sejak tadi menunggunya di sini
sembari menerima telepon dari papi. Wajahnya berubah menjadi pucat. Aku
khawatir terjadi sesuatu padanya.
“In, kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi?” aku bertanya dengan tatapan khawatir.
“Tidak apa-apa. Lebih baik kita cepat mencari barang-barang yang kita
butuhkan, Ken. Ini sudah malam. Aku ingin segera makan di rumah.”katanya lagi.
Namun aku melihat kegelisahan di matanya. Ia menggigit-gigit bibir bawahnya.
“Baiklah. Tapi kenapa wajahmu menjadi pucat?” Aku mencoba bertanya lagi
dan memegang dahinya. Ia hanya
menggeleng lemah. Aku tidak lagi bertanya. Aku menjalankan troli menuju ke rak
berikutnya. Aku mencari barang-barang berdasarkan catatan yang kami bawa dengan
lebih cepat. Aku menyadari sikap aneh Indah. Sejak tadi ia menempel di
punggungku. Aku berusaha untuk tidak menanyakannya. Aku menikmati getaran aneh
yang mengalir dari sentuhan kepalanya di punggungku. Agaknya ia mulai tenang.
Sepanjang perjalanan dari supermarket tadi Ia tidak berkata satu patah
kata pun. Ia menatap lurus ke depan. Aku yakin, ia pikirannya tidak berada di
sini. Pikirannya sedang mengembara entah ke mana. Ada kejadian apa sebenarnya
tadi?
***
Kenan berdalih ingin
mampir ke apotik sejenak, karena belum ada persiapan barang untuk diisikan ke
dalam kotak P3K di rumah.
“In, aku mau mampir ke
apotik dulu. Mau beli barang untuk mengisi kotak P3K. Kamu tunggu sebentar di
sini ya.” Tanpa menunggu jawaban dari Indah, Ken segera meninggalkan Indah
menuju sebuah apotik. Di dalam apotik, sembari menunggu pelayan menyiapkan
barang pesanannya, Ken mengirim pesan kepada kakaknya. Ini sudah malam di
Indonesia. Berarti di sana masih siang. Semoga saja pesannya segera dibalas
oleh Adel.
Ken : Mbak Adel.
Adel : Apa?
Ken : Kalau Indah lagi
galau gimana mengatasinya?
Adel : Kamu lagi
berantem Ken?
Ken : Enggaklah.
Adel : Terus kenapa?
Ken : Nggak tau, dia
kelihatan sedih.
Adel : Mungkin ingat
orang tuanya ya?
Ken : Aku belum nanya,
takut tambah sedih.
Adel : Kasih ice cream
aja. Dia paling suka makanan itu. Bisa untuk memperbaiki moodnya.
Ken : Trims, ya mbak.
Adel : Ya.
Tanpa membuang waktu,
Ken mampir ke minimarket di samping apotik. Ia membeli dua kotak ice cream.
__ADS_1
Kemudian ia kembali ke mobil
Indah POV
Aku dan Ben telah putus lebih dari dua bulan trakhir ini. Tetapi
perasaanku kepadanya masih belum berubah. Rasa memiliki masih ada di dalam
hatiku. Aku masih tidak rela melihat Ben bersama dengan wanita lain. Kenapa
sulit sekali untuk menghilangkan bayang-bayang Ben dari pikiranku? Ben, apa
kamu nggak capek, jalan-jalan terus di kepalaku? Pagi, siang, malam, kamu terus
saja berada di sana.
***
Masih sama, Indah tidak
banyak bicara malam ini. Makan malam dihabiskannya dengan asal-asalan. Padahal
tadi Indah bilang ingin cepat pulang karena lapar. Ketika Ken selesai
menghabiskan makanan di atas piringnya, Indah mengambilkan air putih di gelas.
Disodorkannya kepada Ken. “Ken, aku ke kamar duluan.”
Ken menganggukkan kepalanya.
Indah mencoba
memejamkan matanya. Bayangan Ben kembali muncul di kepalanya. Menyakitkan
sekali. Ternyata tidak mudah melenyapkan kebersamaan mereka yang hampir
berlangsung selama dua tahun itu. Air mata meleleh di pipinya dan isakannya
terdengar, walaupun pelan.
Indah :
Hiks, dadaku sakit, nafasku sesak. Aku seperti kehabisan oksigen.
Setelah membawa piring
ke dapur, Ken mengambil mangkuk. Ia membuka kulkas dan menyendokkan es krim ke
dalam mangkuk kecil. Ia membawanya ke atas, menuju ke kamarnya.
Perlahan Ken membuka
pintu kamarnya. Ia melongokkan kepalanya. Indah tidak sadar dengan kehadiran
Ken di dalam kamar. Ken melihat Indah terisak. Melihat itu hatinya merasa
sakit. Ingin sekali menghapus air mata itu. Ingin sekali rasanya merengkuhnya
ke dalam pelukan agar kesedihannya berkurang. Namun Ken belum berani
“In, aku tadi beli es
krim. Kamu mau?”
Indah kaget mendengar
suara Ken. Ia segera bangkit untuk duduk dan mengusap air matanya. Mendengar
Ken menyebut es krim, hatinya jadi sedikit terobati. Yang terbayang di
kepalanya saat ini rasa es krim yang hendak disantapnya. Indah mengulurkan
tangannya kepada Ken. Seulas senyum tipis tergambar di wajah cantiknya.
Ken menyodorkan
semangkuk es krim ke hadapan Indah. Ia merasa senang melihat wajah itu kembali
tersenyum walaupun senyum yang tipis. Ternyata triknya Mbak Adel cukup
berhasil. Tampaknya ia harus lebih sering berkolaborasi dengan Mbak Adel untuk
menaklukan wanita cantik ini.
Kenan :
Kamu akan jatuh cinta kepadaku, Indah Nathalia.
“Kamu nggak ikut makan?
Dari tadi lihat aku makan. Aku kan jadi nggak enakkan. Mau? Mau aku suapin?”
Indah merasa risih ketika menyadari sejak tadi Ken menatapnya makan es krim. Ia
duduk di tempat tidur, di samping Indah dan mengamati Indah.
“Enggak. Aku sudah
cukup kenyang.” Ken merasa es krim ini
membantu Indah meperbaiki moodnya. Terbukti dari percakapan yang dimulai Indah.
“Ya sudah.” Indah
menghabiskan dua sendok terakhir dari mangkuknya.
“Sini. Aku bawa ke
bawah mangkuknya. Sekalian ke bawah. Aku mau ke rumah pak RT dulu. Kalau aku
pulangnya malam, tidurlah dulu.”
__ADS_1
“Mau ngapain ke rumah
pak RT?”
“Mengurus Kartu
Keluarga. Kita keluarga baru di sini, jadi harus membuat KK baru. Aku sudah
minta tolong pak Idrus mengurus surat pindah kita. Nanti minta tolong pak RT
untuk membantu membuatkan KK kita yang baru.”
“Rumah pak RT di mana?”
“Itu di pojok sebelah
Barat, masih satu blok dengan rumah kita. Yang rumahnya ada pohon jambunya.”
“Oh... berarti nggak
jauh ya?”
“Kenapa?”
“Jangan lama-lama. Aku
takut kalau malam-malam di kamar sendirian. Aku ke bawah aja deh. Mau nonton
sama Bik Janet aja. Nanti ke kamarnya kalau kamu sudah pulang.”
“Ya sudah, aku nggak
akan lama-lama di sana.”
Ken keluar dari kamar
menuruni tangga diikuti dengan Indah.
“Aku pergi dulu,
In....”
“Iya.” Kenan berpamitan
kepada Indah dan meninggalkannya di ruang keluarga yang berfungsi juga sebagai
ruang untuk menonton TV dan ruang makan. Letaknya bersisian dengan dapur dan
tangga menuju ke atas.
Indah celingukan
mencari Bik Janet yang tidak terlihat di dapur. Ia kemudian mendekati pintu
kamar Bik Janet yang berada di bawah tangga.
“Bik...”
“Iya Non.” Jawab Bik
Janet dari dalam kamar.
“Nonton TV yuk.” Ajak
Indah ketika Bik Janet telah membuka pintu kamarnya.
“Ayuk Non. Bibik juga
mau nonton.” Mendengar majikannya yang mengajak menonton, Bik Janet terlihat
senang. Ia pun bersemangat menemani majikannya.
“Bibik suka nonton
apa?”
“Sekarang kan banyak
drakor diputar di TV. Jadi Bibik suka nonton itu. Apalagi yang sudah di dubbing
tuh. Wih, enak banget nontonnya. Nggak pakai baca teks lagi. Bibik mah suka
pusing kalau baca teksnya kebanyakan. Jadi nggak fokus lihat pemainnya yang
ganteng-ganteng.”
“Aih... si Bibik
pinteran aja.”
“Aktor favoritnya siapa
sih Bik?”
Bla...bla...bla....
Malam itu Indah
menonton drama Korea kesukaan Bik Janet. Mereka tidak terlalu fokus menonton
sebenarnya. Karena bik Janet lebih sering memberikan ‘iklan’ ke Indah. Iklan
yang isinya gosip tentang aktor dan artis Korea yang sedang booming. Indah
mendengarkan ocehan Bik Janet dengan geli. Ia merasa terhibur dengan celoteh
asisten rumah tangganya yang sangat menyukai drama Korea.
❤❤❤❤❤
Sampai senyum senyum dengar iklan Bik Janet. Katanya lagi senang lihat si dedek Cha Eun Wo.
__ADS_1
Kalau mbak Indah, nggak inget nama nama aktornya, susah diingat, nggak familiar.