
🌴 SELAMAT MEMBACA 🌴
Indah POV
“Eh, non Indah. Sudah
sampai rumah.” Bik Janet menyapaku. Kebetulan sekali ia sedang menyiapkan makan
malam untuk kami.
“Iya Bik. Masak apa?”
Aku melongok ke dapur, melihat menu masakan sore ini.
“Tempe goreng, sayur
kangkung, sama ikan nila panggang, Non.” Kata bik Janet. Ia membolak-balik ikan
nila di atas panggangan.
“Hem... harumnya itu,
bikin perut keroncongan Bik. Aku mandi dulu deh. Nanti terus makan.”
“Eh iya Non. Itu tadi
bibik jalan ke depan ada siomay enak. Terus bibik beli. Ada di meja kalau non
juga mau.”
“Iya bik.”
“Yang dagang keren
orangnya, Non. Kayak aktor Korea yang baru selesai wamil itu lho, Lee Min Ho.”
Katanya lagi. Pasti deh bakal ada iklan tentang drakor nih.
“Ok bik. Disimpan
ceritanya yah. Aku mandi dulu.” Aku segera berlari ke atas menuju kamar, untuk
mandi dan berbaring sejenak.
Aku terbayang makanan
yang sedang dimasak oleh Bik Janet. Menggugah selera. Lebih baik kutelepon
Kenan. Mungkin dia akan makan malam di rumah. Pasti dia bosan karena hampir
setiap hari makan malam di cafenya.
“Hallo Ken.”
“Hallo.”
“Ken, banyak kerjaan
nggak ?”
“Lumayan, seperti
biasa. Ada apa?”
“Kamu mau makan malam
di rumah nggak? Bik Janet masak tempe goreng, kangkung, dan nila panggang.
Baunya sedap lho.”
“Wah, aku jadi merasa
lapar. Baiklah sebelum jam tujuh aku sampai di rumah. Aku makan malam di rumah
saja. Kamu mau dibawakan apa?”
“Nggak usah deh. Kamu
aja pulang, sudah cukup. See you.”
Konyol yah yang aku
katakan. Terlalu norak nggak ya? Berharap dia segera pulang. Bakal gede rasa
Ken. Ah, sudah terlanjur diucapkan. Mau bagaimana lagi?
Aku segera membersihkan
tubuhku dan berganti pakaian.
Sekarang aku duduk di
ruang keluarga menunggu kedatangan Kenan. Cie... ternyata begini rasanya
menunggu kedatangan suami. Tadi Bik Janet menemaniku menonton acara gosip. Tapi
sekarang ia telah kembali ke kamarnya streaming drakor, katanya hehe....
Aku masih mengunyah
__ADS_1
siomay ketika kudengar suara pintu gerbang dibuka. Pasti Kenan yang datang. Aku
segera keluar ke arah garasi dan membuka pintu garasi. Setelah mobil diparkirkan
di dalam garasi, aku menutup pintu gerbang. Kulihat Kenan keluar dari mobil dan
melihat ke arahku. Seperti biasa, tidak ada senyum. Kenan memang orang yang
irit senyum. Mungkin itu yah caranya supaya tidak mudah menimbulkan kerutan di
wajah. Jadi nggak cepat tua. Ih, apaan sih jadi ngelantur.
“Selamat malam Ken.”
Aku mendekatinya dan mengulurkan tanganku hendak berjabat tangan.
“Biar akrab Ken.
Belajar jadi suami istri beneran.” Kataku berbisik.
Kenan terkekeh melihat
aksiku. Ia membalas uluran tanganku dan mengajakku masuk ke dalam rumah.
“Selamat malam Indah.” Balasnya.
Beberapa menit kemudian
Kenan telah mandi dan berganti pakaian. Kini ia menghampiriku di ruang
keluarga.
“Ayo makan.” Kataku
riang.
Kenan mengikuti
langkahku menuju ruang makan. Aku segera menyiapkan piring dan gelas. Kutata
makanan di meja dan kusendokkan nasi ke atas piringnya. Kami pun makan dengan
lahap.
***
Kenan POV
Terus terang aku
terkejut dengan teleponnya sore tadi. Ia mengajakku makan malam di rumah. Belum
pernah ada yang mengalihkan kebiasaanku makan malam di cafe, kecuali karena
yang ada di rumah. Tentu saja itu membuatku semakin lapar. Aku jadi mengabaikan
tawaran Ferry untuk menemaninya makan. Aku hanya mengisi perutku dengan
sepotong brownis yang tersedia di mejaku.
“Ya elah yang sudah
punya istri mah lain. Mau cepat pulang, biar ketemu istri tercinta. Terus nggak
makan malam di cafe lagi, enakkan makan berdua istri di rumah. Makan sendirian
lagi nih daku.” Kata Ferry dengan nada bercanda.
“Makanya punya istri,
Fer.” Kataku membalasnya.
“Nanti deh, nunggu dapat yang bening kayak istri kamu. Biar bikin betah.” Lalu
ia pergi meninggalkan aku yang masih duduk di dalam kantor. Dasar Ferry, bukannya
dulu pacarnya cantik-cantik ya? Tapi tetap saja dia nggak betah, hanya hitungan
bulan. Akibatnya sekarang berburu lagi
mencari cewek bening, seperti katanya tadi. Mungkin kalau ada kloningannya Dian
Sastrowardoyo, dia baru berhenti gonta ganti pacar.
Ketika aku membuka
pintu gerbang, Indah keluar dari dalam rumah dan berlari kecil membukakan pintu
garasi. Ia menyambutku dengan senyum sejuta pesonanya. Membuatku berdebar-debar.
Kupegang dada ini, takut jantungku terlontar keluar. Lalu kupegang perut ini,
seperti banyak kupu-kupu beterbangan. Ah, lebay pula aku.
Kejutan masih
berlanjut. Ketika aku keluar dari mobil, ia menyapaku.
“Selamat malam Ken.”
__ADS_1
Indah mendekatiku dan mengulurkan tangannya mengajakku berjabat tangan.
“Biar akrab Ken.
Belajar jadi suami istri beneran.” Katanya berbisik.
Aku terkekeh
melihatnya. Kubalas uluran tangannya dan kuajak masuk ke dalam rumah. “Selamat
malam Indah.” Balasku senang.
Aku langsung naik ke
tangga dan menuju kamar. Badanku terasa sangat lengket dan bau. Aku pun
membersihkan diri di kamar mandi. Tidak perlu waktu lama, aku telah kembali
turun ke lantai satu. Kudapati Indah sedang berada di ruang keluarga menonton
televisi. Ada piring yang berisi siomay. Kuperkirakan tinggal separuh porsi
tergeletak di meja.
Mendengar suara langkah
kakiku, ia mengalihkan pandangan dari televisi. Ia memutar tubuhnya ke arahku
dan dengan riangnya berkata, “Ayo makan.” Aku mengikutinya ke arah ruang makan.
Makan malam kami ini
sungguh berbeda. Ia menemani makan dengan suasana hati yang ceria, tidak
seperti kemarin malam. Tanpa terasa hidangan di meja pun telah berpindah ke
dalam perut kami. Indah lalu meletakkan piring kotor ke dapur. Lalu ia
menyusulku naik.
Indah langsung menuju
ke ruang kerja. Ia segera menyiapkan tugasnya. Aku pun masuk ke dalam ruang
kerja dan bersiap juga hendak mengerjakan tugasku.
“Ken, aku nggak bisa
bikin tampilan yang bagus di power point itu. Pakai animasi yang gerak-gerak.
Juga pakai suara dan gambar-gambar menarik. Kamu bisa?” Indah menatap ke arahku.
Sinar matanya mengharapkan aku bisa membantunya.
“Buat saja poin-poin
yang hendak kamu tulis. Nanti aku yang memparbaiki tampilannya.” Untunglah aku
terbiasa membuat bahan presentasi seperti itu, belajar dari asisten papi yang
sering membuat materi presentasi papi.
“Asyik.” Ia terlihat
senang dan bertepuk tangan. Tak lama kemudian tangan mungilnya telah lincah
mengetik di depan laptopnya. Aku pun berkonsentrasi mengerjakan tugas kuliahku.
Kami duduk di kursi
yang saling memunggungi. Belum lama aku menekuni laporanku, Indah menoleh ke
arahku. “Eh, kamu mengerjakan laporan praktikum Fisika?”
“Iya.” Jawabku.
“Sebentar, aku carikan
laporanku. Sepertinya masih ada. Kamu bisa melihatnya untuk perbandingan.”
Indah segera keluar kamar dan mengaduk-aduk kardus yang berada di samping
ruanganku. Kemudian ia masuk membawa buku bersampul biru.
“Nih, masih ada.” Ia
menyodorkan buku itu kepadaku. Aku menerimanya dan segera membukanya.
Beruntungnya aku punya istri kakak kelas, jadi bisa pinjam laporan dan bukunya.
Tapi hanya sampai semester dua. Semester selanjutnya tentu tidak akan sama lagi
karena kami berbeda jurusan.
Begini rasanya bekerja
dan belajar ditemani istri. Pengalaman yang baru bagiku. Terasa menyenangkan
dan membahagiakan.
__ADS_1
***
🌴🌴🌴🌴🌴