THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
22. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌴 SELAMAT MEMBACA 🌴


Indah POV


“Eh, non Indah. Sudah


sampai rumah.” Bik Janet menyapaku. Kebetulan sekali ia sedang menyiapkan makan


malam untuk kami.


“Iya Bik. Masak apa?”


Aku melongok ke dapur, melihat menu masakan sore ini.


“Tempe goreng, sayur


kangkung, sama ikan nila panggang, Non.” Kata bik Janet. Ia membolak-balik ikan


nila di atas panggangan.


“Hem... harumnya itu,


bikin perut keroncongan Bik. Aku mandi dulu deh. Nanti terus makan.”


“Eh iya Non. Itu tadi


bibik jalan ke depan ada siomay enak. Terus bibik beli. Ada di meja kalau non


juga mau.”


“Iya bik.”


“Yang dagang keren


orangnya, Non. Kayak aktor Korea yang baru selesai wamil itu lho, Lee Min Ho.”


Katanya lagi. Pasti deh bakal ada iklan tentang drakor nih.


“Ok bik. Disimpan


ceritanya yah. Aku mandi dulu.” Aku segera berlari ke atas menuju kamar, untuk


mandi dan berbaring sejenak.


Aku terbayang makanan


yang sedang dimasak oleh Bik Janet. Menggugah selera. Lebih baik kutelepon


Kenan. Mungkin dia akan makan malam di rumah. Pasti dia bosan karena hampir


setiap hari makan malam di cafenya.


“Hallo Ken.”


“Hallo.”


“Ken, banyak kerjaan


nggak ?”


“Lumayan, seperti


biasa. Ada apa?”


“Kamu mau makan malam


di rumah nggak? Bik Janet masak tempe goreng, kangkung, dan nila panggang.


Baunya sedap lho.”


“Wah, aku jadi merasa


lapar. Baiklah sebelum jam tujuh aku sampai di rumah. Aku makan malam di rumah


saja. Kamu mau dibawakan apa?”


“Nggak usah deh. Kamu


aja pulang, sudah cukup. See you.”


Konyol yah yang aku


katakan. Terlalu norak nggak ya? Berharap dia segera pulang. Bakal gede rasa


Ken. Ah, sudah terlanjur diucapkan. Mau bagaimana lagi?


Aku segera membersihkan


tubuhku dan berganti pakaian.


Sekarang aku duduk di


ruang keluarga menunggu kedatangan Kenan. Cie... ternyata begini rasanya


menunggu kedatangan suami. Tadi Bik Janet menemaniku menonton acara gosip. Tapi


sekarang ia telah kembali ke kamarnya streaming drakor, katanya hehe....


Aku masih mengunyah

__ADS_1


siomay ketika kudengar suara pintu gerbang dibuka. Pasti Kenan yang datang. Aku


segera keluar ke arah garasi dan membuka pintu garasi. Setelah mobil diparkirkan


di dalam garasi, aku menutup pintu gerbang. Kulihat Kenan keluar dari mobil dan


melihat ke arahku. Seperti biasa, tidak ada senyum. Kenan memang orang yang


irit senyum. Mungkin itu yah caranya supaya tidak mudah menimbulkan kerutan di


wajah. Jadi nggak cepat tua. Ih, apaan sih jadi ngelantur.


“Selamat malam Ken.”


Aku mendekatinya dan mengulurkan tanganku hendak berjabat tangan.


“Biar akrab Ken.


Belajar jadi suami istri beneran.” Kataku berbisik.


Kenan terkekeh melihat


aksiku. Ia membalas uluran tanganku dan mengajakku masuk ke dalam rumah.


“Selamat malam Indah.” Balasnya.


Beberapa menit kemudian


Kenan telah mandi dan berganti pakaian. Kini ia menghampiriku di ruang


keluarga.


“Ayo makan.” Kataku


riang.


Kenan mengikuti


langkahku menuju ruang makan. Aku segera menyiapkan piring dan gelas. Kutata


makanan di meja dan kusendokkan nasi ke atas piringnya. Kami pun makan dengan


lahap.


***


Kenan POV


Terus terang aku


terkejut dengan teleponnya sore tadi. Ia mengajakku makan malam di rumah. Belum


pernah ada yang mengalihkan kebiasaanku makan malam di cafe, kecuali karena


yang ada di rumah. Tentu saja itu membuatku semakin lapar. Aku jadi mengabaikan


tawaran Ferry untuk menemaninya makan. Aku hanya mengisi perutku dengan


sepotong brownis yang tersedia di mejaku.


“Ya elah yang sudah


punya istri mah lain. Mau cepat pulang, biar ketemu istri tercinta. Terus nggak


makan malam di cafe lagi, enakkan makan berdua istri di rumah. Makan sendirian


lagi nih daku.” Kata Ferry dengan nada bercanda.


“Makanya punya istri,


Fer.” Kataku membalasnya.


“Nanti deh, nunggu dapat yang bening kayak istri kamu. Biar bikin betah.” Lalu


ia pergi meninggalkan aku yang masih duduk di dalam kantor. Dasar Ferry, bukannya


dulu pacarnya cantik-cantik ya? Tapi tetap saja dia nggak betah, hanya hitungan


bulan.  Akibatnya sekarang berburu lagi


mencari cewek bening, seperti katanya tadi. Mungkin kalau ada kloningannya Dian


Sastrowardoyo, dia baru berhenti gonta ganti pacar.


Ketika aku membuka


pintu gerbang, Indah keluar dari dalam rumah dan berlari kecil membukakan pintu


garasi. Ia menyambutku dengan senyum sejuta pesonanya. Membuatku berdebar-debar.


Kupegang dada ini, takut jantungku terlontar keluar. Lalu kupegang perut ini,


seperti banyak kupu-kupu beterbangan. Ah, lebay pula aku.


Kejutan masih


berlanjut. Ketika aku keluar dari mobil, ia menyapaku.


“Selamat malam Ken.”

__ADS_1


Indah mendekatiku dan mengulurkan tangannya mengajakku berjabat tangan.


“Biar akrab Ken.


Belajar jadi suami istri beneran.” Katanya berbisik.


Aku terkekeh


melihatnya. Kubalas uluran tangannya dan kuajak masuk ke dalam rumah. “Selamat


malam Indah.” Balasku senang.


Aku langsung naik ke


tangga dan menuju kamar. Badanku terasa sangat lengket dan bau. Aku pun


membersihkan diri di kamar mandi. Tidak perlu waktu lama, aku telah kembali


turun ke lantai satu. Kudapati Indah sedang berada di ruang keluarga menonton


televisi. Ada piring yang berisi siomay. Kuperkirakan tinggal separuh porsi


tergeletak di meja.


Mendengar suara langkah


kakiku, ia mengalihkan pandangan dari televisi. Ia memutar tubuhnya ke arahku


dan dengan riangnya berkata, “Ayo makan.” Aku mengikutinya ke arah ruang makan.


Makan malam kami ini


sungguh berbeda. Ia menemani makan dengan suasana hati yang ceria, tidak


seperti kemarin malam. Tanpa terasa hidangan di meja pun telah berpindah ke


dalam perut kami. Indah lalu meletakkan piring kotor ke dapur. Lalu ia


menyusulku naik.


Indah langsung menuju


ke ruang kerja. Ia segera menyiapkan tugasnya. Aku pun masuk ke dalam ruang


kerja dan bersiap juga hendak mengerjakan tugasku.


“Ken, aku nggak bisa


bikin tampilan yang bagus di power point itu. Pakai animasi yang gerak-gerak.


Juga pakai suara dan gambar-gambar menarik. Kamu bisa?” Indah menatap ke arahku.


Sinar matanya mengharapkan aku bisa membantunya.


“Buat saja poin-poin


yang hendak kamu tulis. Nanti aku yang memparbaiki tampilannya.” Untunglah aku


terbiasa membuat bahan presentasi seperti itu, belajar dari asisten papi yang


sering membuat materi presentasi papi.


“Asyik.” Ia terlihat


senang dan bertepuk tangan. Tak lama kemudian tangan mungilnya telah lincah


mengetik di depan laptopnya. Aku pun berkonsentrasi mengerjakan tugas kuliahku.


Kami duduk di kursi


yang saling memunggungi. Belum lama aku menekuni laporanku, Indah menoleh ke


arahku. “Eh, kamu mengerjakan laporan praktikum Fisika?”


“Iya.” Jawabku.


“Sebentar, aku carikan


laporanku. Sepertinya masih ada. Kamu bisa melihatnya untuk perbandingan.”


Indah segera keluar kamar dan mengaduk-aduk kardus yang berada di samping


ruanganku. Kemudian ia masuk membawa buku bersampul biru.


“Nih, masih ada.” Ia


menyodorkan buku itu kepadaku. Aku menerimanya dan segera membukanya.


Beruntungnya aku punya istri kakak kelas, jadi bisa pinjam laporan dan bukunya.


Tapi hanya sampai semester dua. Semester selanjutnya tentu tidak akan sama lagi


karena kami berbeda jurusan.


Begini rasanya bekerja


dan belajar ditemani istri. Pengalaman yang baru bagiku. Terasa menyenangkan


dan membahagiakan.

__ADS_1


***


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2