
🌲 SELAMAT MEMBACA 🌲
“Ken, perih dan panas.”
Indah menyingkapkan kemejanya yang berada di perut dan mengipasinya dengan
selembar kertas yang ia temukan di dalam dashboard mobil. Sementara Kenan masih
menyetir dengan tergesa-gesa.
“Tahan sebentar ya In.”
Tangan kiri Kenan bergerak mengusap bahu Indah.
“Kamu kenapa sih, tadi?
Cewek tadi itu memang sering ya pegang-pegang kamu?” Indah mencebikkan bibirnya
dan menghalau tangan Kenan yang berada di bahunya. Ia masih kesal karena Kenan
menumpahkan kopi kepadanya, bukan ke cewek genit itu tadi.
“Enggaklah In. Dia tadi
hanya mau minta data Praktikum Fisika.” Kenan menjelaskan dengan sabar. Ia
menghindari adanya kesalahpahaman. Walaupun sebenarnya ia juga tahu trik dari
Bella yang selalu mendekatinya.
“Kenapa tangannya dipakai
untuk megang-megang kamu? Tahu nggak sih, itu modus, Kenan. Alasan aja dia mau
minta data. Tapi intinya dia mau genit genitan sama kamu.” Kenapa sih jadi cowok itu nggak peka? Nggak bisa membedakan mana yang
modus dan mana yang tulus. Padahal orang luar juga tahu kalau tingkah lakunya
itu terlihat modus banget. Kenan itu pintar yah, tapi otaknya nggak jalan kalau
menghadapi tukang modus begini. Pikiran
Indah berkecamuk. Dia juga perempuan, perasaannya lebih tajam menilai yang
seperti itu.
“Hem... entahlah. Aku
nggak mikir sejauh itu.”
“Jangan-jangan kamu
senang ya, dipegang-pegang gitu? Ada cewek cantik, bohay pula, pegang-pegang
kamu.”
“Lebih baik kamu yang
pegang-pegang, Indah. Bukan dia.” Jawaban itu seketika membungkam mulut Indah.
Padahal di otaknya masih banyak yang hendak dikatakannya. Kini terlihat
mulutnya komat kamit bergumam tak jelas. Sementara itu terlihat sedikit
lengkungan pada sudut bibir Kenan. Ia senang menggoda istrinya.
Ruang perawatan di
rumah sakit ini sedikit mengingatkan Indah akan pertemuan terakhirnya dengan
ayah dan bundanya beberapa bulan yang lalu. Aroma obat-obatan ini begitu kuat,
membuat pikiran tentang ayah dan bundanya semakin kuat. Rongga dadanya terasa
penuh sampai ke tenggorokan. Ia terlihat sulit bernafas.
“In, kamu kenapa?”
Kenan yang duduk di sisi Indah terlihat khawatir melihat Indah yang seperti
susah bernafas. Indah tidak lagi memikirkan luka bakar yang sebelumnya
dirasakannya. Beberapa saat yang lalu Indah masih mengipasi perutnya, tidak
perduli dengan perutnya yang sedikit terbuka. Namun kini ia tidak lagi fokus
kepada perutnya. Matanya menatap jauh ke depan tetapi tidak fokus melihat
apapun. Tangannya berhenti mengipasi perutnya. Nafasnya terlihat susah dan
keringat mulai membasahi dahinya.
“Aku teringat ayah dan
bunda kalau di area rumah sakit begini.” Indah berbicara dengan lirih. Namun
tatapannya masih kosong.
Kenan segera merangkul
bahu Indah dan menenangkannya dengan mengusap punggung Indah. Tak lama kemudian
dokter dan perawat datang memberi perawatan kepada Indah. Tidak membutuhkan
__ADS_1
waktu yang lama, setengah jam kemudian mobil hitam yang membawa Kenan dan Indah
telah keluar dari pelataran rumah sakit.
Nampaknya kecemasan
Indah berangsur hilang ketika mereka telah keluar dari rumah sakit. Ia telah
mulai berbicara lagi.
“Luka bakar yang di
perut sepertinya akan meninggalkan bekas. Yah, nggak bisa lagi aku pakai bikini
deh.”
“Siapa yang
memperbolehkan kamu pakai bikini? Nggak boleh ya.”Kenan melirik istrinya yang
masih mengusap perut yang telah dibalut dengan kain kasa. Ia masih
berkonsentrasi dengan menjalankan mobil.
“Ish... kalau di pantai
masa pakai baju kurung? Yang bener aja deh, Ken.” Kembali Indah mencebik,
menunjukkan kekesalannya karena Kenan yang menumpahkan air panas ke perutnya.
“Kalaupun pakai bikini,
yang one piece yah. Jadi perutnya itu nggak untuk dipamer-pamerkan.”
“Ye... siapa juga yang
mau pamer. Cowok itu maunya istrinya ditutup, tapi matanya lihat ke cewek lain
yang terbuka. Dasar egois.”
“Enggaklah. Mana ada
aku lihat-lihat cewek seksi di luaran sana. Lebih baik kan lihat kamu In, lihat
istri sendiri yang paling cantik.” Tampaknya Kenan mulai meluncurkan jurus rayuan
untuk istrinya. Tetapi yang diberi rayuan, terlihat tidak terlalu memperhatikan
kata-kata Kenan. Indah lebih fokus dengan melihat luka di tangan kirinya. Dan
Kenan sedikit kecewa.
“Tapi serius ini Ken.
bagus-bagus.” Tiba-tiba saja Indah berpikiran seperti itu. Walaupun ia belum
mencintai suaminya, tetapi telah tumbuh rasa posesif akan suaminya. Ia tidak
ingin berbagi dengan orang lain. Bahkan pendangan suaminya tidak untuk
dibagikan, cukup untuk dirinya saja.
“Enggak ya....
Memangnya aku semata keranjang itu? Tapi nanti kalau berbekas, aku ajak kamu
periksa ke dokter kulit langgangan aku.”
Indah segera melihat
Kenan yang sedang menyetir dengan sedikit menyipitkan matanya. “Sebentar,
dokter kulit langganan kamu? Dokter kulit itu biasanya kan dokter kulit dan
kelamin. Kamu periksa apa? Jangan-jangan kamu sering jajan di luar jadi perlu
periksa kesehatan kelamin gitu?”
Ciitt..... seketika
mobil berhenti karena Kenan kaget dengan pernyataan Indah.
“Kenan, hati-hati dong.
Kita bisa kecelakaan nih.” Indah kemudian memukul bahu Kenan.
“Kamu hati-hati juga
kalau ngomong In.”
“Aku kan hanya
penasaran. Kamu periksa apa? Jangan-jangan kamu sering jajan di luar jadi perlu
periksa kesehatan kelamin gitu?”
Kenan mengendus kesal.
Ia kembali menjalankan mobilnya dengan lambat.
Duh, salah lagi. Kenapa
jadi Kenan tersangkanya. Kenan pun menjelaskan agar tidak terjadi salah paham
__ADS_1
di antara mereka. “Enak aja. Pikiran kamu yah In, negatif amat. Kamu pikir aku
ini penganut free sex apa? Enggak gitu, Indah. Aku rutin ke sana karena mau
menghilangkan tato yang pernah aku buat waktu SMA.”
“Habisnya aku heran
tadi. Kalau kamu punya tato kenapa dihilangkan? Kan bagus jadi hiasan di kulit
kamu, biar aja lagi. Memangnya kamu bikin tato di mana?”
“Aku takut kalau mami
pilih pakaian adat dodotan untuk pernikahan kita. Tatonya di punggung, bisa
terlihat semua orang. Dan lagi tatonya ada tulisannya....” Kenan tidak
melanjutkan. Ia rasa pembahasan akan semakin panjang jika ia menceritakan
seluruhnya. Biarlah lain waktu saja ia akan menceritakannya kepada Indah.
“Ada tulisannya? Apa
tuh?” Kembali Indah memincingkan matanya.
“Nanti aja aku
ceritakan.”
“Cerita dong.” Indah
menempelkan kepalanya di bahu kiri Kenan. Dan tangannya mengusap paha sebelah
kiri.
“Enggak. Ini lagi di
jalan lho In. Jangan gangguin orang nyetir.” Kenan merasa kikuk jika Indah
bersikap manja seperti ini.
“Yeh, dimodusin
istrinya sendiri nggak mau. Dimodusin cewek yang tadi diem aja.” Indah segera
menarik dirinya dan kembali duduk tegak di kursi penumpang.
“Bukan gitu. Kalau mau
modusin suami, lihat-lihat waktu dan tempat. Jangan di mobil begini. Siapa yang
nggak suka dimodusin istri cantik seperti kamu.” Kenan kembali berucap.
“Ish.... Mengalihkan
pembicaraan. Aku tanya, tulisan tato kamu apa?” Kembali, rayuan Kenan tidak
ditanggapi oleh Indah.
“Lain kali aku cerita.”
“Yah, bersambung deh.
Mami tahu, kamu punya tato?”
“Tahu kok.”
“Nggak keberatan, kamu
bikin tato?”
“Enggak sih dengat tato
gambarnya, tetapi mami nggak suka tulisannya.”
“Aku jadi penasaran
deh, tulisannya apa.”
“Ya, nanti aja kau
ceritanya.”
“Hem... kamu bikin penasaran.”
Kenan mengantarkan
Indah sampai di rumah mereka.Kemudian, Kenan bermaksud melajukan kendaraannya
menuju kampus.
“Makan dulu sebelum
obatnya diminum. Terus istirahat. Maaf aku nggak bisa pulang cepat karena masih
ada kuliah sampai sore. Nanti juga aku ke cafe dulu sebelum pulang. Baik-baik
di rumah.” Kenan memberi nasihat sebelum Indah turun dari mobil.
“Iya.” Hanya itu yang
dijawab Indah. Kemudian ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
🌲🌲🌲🌲🌲