THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
26. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌲 SELAMAT MEMBACA 🌲


“Ken, perih dan panas.”


Indah menyingkapkan kemejanya yang berada di perut dan mengipasinya dengan


selembar kertas yang ia temukan di dalam dashboard mobil. Sementara Kenan masih


menyetir dengan tergesa-gesa.


“Tahan sebentar ya In.”


Tangan kiri Kenan bergerak mengusap bahu Indah.


“Kamu kenapa sih, tadi?


Cewek tadi itu memang sering ya pegang-pegang kamu?” Indah mencebikkan bibirnya


dan menghalau tangan Kenan yang berada di bahunya. Ia masih kesal karena Kenan


menumpahkan kopi kepadanya, bukan ke cewek genit itu tadi.


“Enggaklah In. Dia tadi


hanya mau minta data Praktikum Fisika.” Kenan menjelaskan dengan sabar. Ia


menghindari adanya kesalahpahaman. Walaupun sebenarnya ia juga tahu trik dari


Bella yang selalu mendekatinya.


“Kenapa tangannya dipakai


untuk megang-megang kamu? Tahu nggak sih, itu modus, Kenan. Alasan aja dia mau


minta data. Tapi intinya dia mau genit genitan sama kamu.” Kenapa sih jadi cowok itu nggak peka? Nggak bisa membedakan mana yang


modus dan mana yang tulus. Padahal orang luar juga tahu kalau tingkah lakunya


itu terlihat modus banget. Kenan itu pintar yah, tapi otaknya nggak jalan kalau


menghadapi tukang modus begini.  Pikiran


Indah berkecamuk. Dia juga perempuan, perasaannya lebih tajam menilai yang


seperti itu.


“Hem... entahlah. Aku


nggak mikir sejauh itu.”


“Jangan-jangan kamu


senang ya, dipegang-pegang gitu? Ada cewek cantik, bohay pula, pegang-pegang


kamu.”


“Lebih baik kamu yang


pegang-pegang, Indah. Bukan dia.” Jawaban itu seketika membungkam mulut Indah.


Padahal di otaknya masih banyak yang hendak dikatakannya. Kini terlihat


mulutnya komat kamit bergumam tak jelas. Sementara itu terlihat sedikit


lengkungan pada sudut bibir Kenan. Ia senang menggoda istrinya.


Ruang perawatan di


rumah sakit ini sedikit mengingatkan Indah akan pertemuan terakhirnya dengan


ayah dan bundanya beberapa bulan yang lalu. Aroma obat-obatan ini begitu kuat,


membuat pikiran tentang ayah dan bundanya semakin kuat. Rongga dadanya terasa


penuh sampai ke tenggorokan. Ia terlihat sulit bernafas.


“In, kamu kenapa?”


Kenan yang duduk di sisi Indah terlihat khawatir melihat Indah yang seperti


susah bernafas. Indah tidak lagi memikirkan luka bakar yang sebelumnya


dirasakannya. Beberapa saat yang lalu Indah masih mengipasi perutnya, tidak


perduli dengan perutnya yang sedikit terbuka. Namun kini ia tidak lagi fokus


kepada perutnya. Matanya menatap jauh ke depan tetapi tidak fokus melihat


apapun. Tangannya berhenti mengipasi perutnya. Nafasnya terlihat susah dan


keringat mulai membasahi dahinya.


“Aku teringat ayah dan


bunda kalau di area rumah sakit begini.” Indah berbicara dengan lirih. Namun


tatapannya masih kosong.


Kenan segera merangkul


bahu Indah dan menenangkannya dengan mengusap punggung Indah. Tak lama kemudian


dokter dan perawat datang memberi perawatan kepada Indah. Tidak membutuhkan

__ADS_1


waktu yang lama, setengah jam kemudian mobil hitam yang membawa Kenan dan Indah


telah keluar dari pelataran rumah sakit.


Nampaknya kecemasan


Indah berangsur hilang ketika mereka telah keluar dari rumah sakit. Ia telah


mulai berbicara lagi.


“Luka bakar yang di


perut sepertinya akan meninggalkan bekas. Yah, nggak bisa lagi aku pakai bikini


deh.”


“Siapa yang


memperbolehkan kamu pakai bikini? Nggak boleh ya.”Kenan melirik istrinya yang


masih mengusap perut yang telah dibalut dengan kain kasa. Ia masih


berkonsentrasi dengan menjalankan mobil.


“Ish... kalau di pantai


masa pakai baju kurung? Yang bener aja deh, Ken.” Kembali Indah mencebik,


menunjukkan kekesalannya karena Kenan yang menumpahkan air panas ke perutnya.


“Kalaupun pakai bikini,


yang one piece yah. Jadi perutnya itu nggak untuk dipamer-pamerkan.”


“Ye... siapa juga yang


mau pamer. Cowok itu maunya istrinya ditutup, tapi matanya lihat ke cewek lain


yang terbuka. Dasar egois.”


“Enggaklah. Mana ada


aku lihat-lihat cewek seksi di luaran sana. Lebih baik kan lihat kamu In, lihat


istri sendiri yang paling cantik.” Tampaknya Kenan mulai meluncurkan jurus rayuan


untuk istrinya. Tetapi yang diberi rayuan, terlihat tidak terlalu memperhatikan


kata-kata Kenan. Indah lebih fokus dengan melihat luka di tangan kirinya. Dan


Kenan sedikit kecewa.


“Tapi serius ini Ken.


bagus-bagus.” Tiba-tiba saja Indah berpikiran seperti itu. Walaupun ia belum


mencintai suaminya, tetapi telah tumbuh rasa posesif akan suaminya. Ia tidak


ingin berbagi dengan orang lain. Bahkan pendangan suaminya tidak untuk


dibagikan, cukup untuk dirinya saja.


“Enggak ya....


Memangnya aku semata keranjang itu? Tapi nanti kalau berbekas, aku ajak kamu


periksa ke dokter kulit langgangan aku.”


Indah segera melihat


Kenan yang sedang menyetir dengan sedikit menyipitkan matanya. “Sebentar,


dokter kulit langganan kamu? Dokter kulit itu biasanya kan dokter kulit dan


kelamin. Kamu periksa apa? Jangan-jangan kamu sering jajan di luar jadi perlu


periksa kesehatan kelamin gitu?”


Ciitt..... seketika


mobil berhenti karena Kenan kaget dengan pernyataan Indah.


“Kenan, hati-hati dong.


Kita bisa kecelakaan nih.” Indah kemudian memukul bahu Kenan.


“Kamu hati-hati juga


kalau ngomong In.”


“Aku kan hanya


penasaran. Kamu periksa apa? Jangan-jangan kamu sering jajan di luar jadi perlu


periksa kesehatan kelamin gitu?”


Kenan mengendus kesal.


Ia kembali menjalankan mobilnya dengan lambat.


Duh, salah lagi. Kenapa


jadi Kenan tersangkanya. Kenan pun menjelaskan agar tidak terjadi salah paham

__ADS_1


di antara mereka. “Enak aja. Pikiran kamu yah In, negatif amat. Kamu pikir aku


ini penganut free sex apa? Enggak gitu, Indah. Aku rutin ke sana karena mau


menghilangkan tato yang pernah aku buat waktu SMA.”


“Habisnya aku heran


tadi. Kalau kamu punya tato kenapa dihilangkan? Kan bagus jadi hiasan di kulit


kamu, biar aja lagi. Memangnya kamu bikin tato di mana?”


“Aku takut kalau mami


pilih pakaian adat dodotan untuk pernikahan kita. Tatonya di punggung, bisa


terlihat semua orang. Dan lagi tatonya ada tulisannya....” Kenan tidak


melanjutkan. Ia rasa pembahasan akan semakin panjang jika ia menceritakan


seluruhnya. Biarlah lain waktu saja ia akan menceritakannya kepada Indah.


“Ada tulisannya? Apa


tuh?” Kembali Indah memincingkan matanya.


“Nanti aja aku


ceritakan.”


“Cerita dong.” Indah


menempelkan kepalanya di bahu kiri Kenan. Dan tangannya mengusap paha sebelah


kiri.


“Enggak. Ini lagi di


jalan lho In. Jangan gangguin orang nyetir.” Kenan merasa kikuk jika Indah


bersikap manja seperti ini.


“Yeh, dimodusin


istrinya sendiri nggak mau. Dimodusin cewek yang tadi diem aja.” Indah segera


menarik dirinya dan kembali duduk tegak di kursi penumpang.


“Bukan gitu. Kalau mau


modusin suami, lihat-lihat waktu dan tempat. Jangan di mobil begini. Siapa yang


nggak suka dimodusin istri cantik seperti kamu.” Kenan kembali berucap.


“Ish.... Mengalihkan


pembicaraan. Aku tanya, tulisan tato kamu apa?” Kembali, rayuan Kenan tidak


ditanggapi oleh Indah.


“Lain kali aku cerita.”


“Yah, bersambung deh.


Mami tahu, kamu punya tato?”


“Tahu kok.”


“Nggak keberatan, kamu


bikin tato?”


“Enggak sih dengat tato


gambarnya, tetapi mami nggak suka tulisannya.”


“Aku jadi penasaran


deh, tulisannya apa.”


“Ya, nanti aja kau


ceritanya.”


“Hem... kamu bikin penasaran.”


Kenan mengantarkan


Indah sampai di rumah mereka.Kemudian, Kenan bermaksud melajukan kendaraannya


menuju kampus.


“Makan dulu sebelum


obatnya diminum. Terus istirahat. Maaf aku nggak bisa pulang cepat karena masih


ada kuliah sampai sore. Nanti juga aku ke cafe dulu sebelum pulang. Baik-baik


di rumah.” Kenan memberi nasihat sebelum Indah turun dari mobil.


“Iya.” Hanya itu yang


dijawab Indah. Kemudian ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2