THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
39. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


KENAN POV


Tidak tenang rasanya


meninggalkan Indah karena ada kegiatan fieldtrip ke beberapa buah pabrik


pengolahan makanan di tempat yang jauh dari rumah. Kami  menginap selama semalam. Semalam tanpa


kehadiran Indah di sisisku membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ingin


sekali aku melakukan video call ketika malam hari, namun tidak memungkinkan


karena signal yang tidak stabil dan juga kami berempat berada di dalam kamar.


Aku kecanduan menghirup


aroma tubuh Indah, sentuhan kulitnya, sapaannya yang lembut, dan yang paling


membuat ketagihan adalah ciumannya yang bisa menerbangkanku ke langit. Semakin


mengingatnya, aku semakin merindukannya. Bisa tidak ya, di-skip dulu field trip


kali ini? Seperti iklan di channel youtube.


Malam ini keinginan


untuk menyapa wajahnya pun aku urungkan. Maka aku keluar kamar dan menelepon


Indah. Mungkin dengan mendengar suaranya bisa sedikit mengobati rinduku.


Kenan : “Sayang... “


(Aku menyapanya ketika suaranya terdengar di seberang)


Indah : “Hallo Kenan.”


Kenan : “Lagi apa In?”


Indah : “Biasa,


mengerjakan skripsi.”


Kenan : “Di mana?”


Indah : “Di ruang


kerja. Biar nggak takut, aku nyalakan lagu keras-keras. Nanti kalau mau tidur


juga lampunya aku nyalakan saja, agar terang benderang. Hehe...”


Kenan : “Hehe... tidur


di kamar Bik Janet aja kalau takut.”


Indah : “Nggak ah.


Nanti dia streaming drakor di kamarnya. Jadinya malah nggak tidur.”


Kenan : “Jangan terlalu


malam tidurnya yah.”


Indah : “Kenapa baru


nelepon, Ken?”


Kenan : “Oh, jadi


pengen ditelepon nih? Kamu nungguin telepon dariku? Bilang aja kalau pengen


ditelepon.”


Indah : “Hem....


katanya kamu kangen, nggak ketemu sehari.”


Kenan : “Siapa yang


bilang kangen? Aku tadi bilang mau nelepon kamu.”


Indah : “Ih Kenan,


nggak lucu tahu?”


Kenan : “Iya, tapi aku


memang kangen sama kamu.”


Indah : “Hallo... hallo


... hallo ....”


Kenan : “Hallo... hallo


... hallo ....”


Dasar dodol ! Signal


jelek ini tidak bisa diajak bekerja sama dengan orang yang lagi kangen. Aku


hanya bisa menarik nafas dalam, meredam kekesalanku. Sabar, besok juga ketemu.

__ADS_1


Kembali kulangkahkan


kakiku dengan berat menuju ke kamar. Seperti tidak yakin, aku akan bisa tidur nyenyak


malam ini. Mengirimkan pesan teks kepada Indah juga bukan solusi yang baik,


bisa mengganggu Indah yang sedang mengerjakan tugasnya. Mendengar ia bercerita


bahwa ia sedikit takut mengerjakan tugas di ruang kerja, membuatku ingin segera


terbang ke sana. Katanya malam ini ia akan berusaha tidur di kamar kami


walaupun aku tidak ada di sana, belajar berani katanya.


Kulihat ketiga temanku


yang berada di kamar telah terlelap karena waktu menunjukkan hampir pukul 12.


Tapi sayang, mataku ini sulit untuk terpejam. Kucoba berbagai metode yang


sering digunakan orang-orang untuk mendatangkan kantuk. Namun rasa kantuk


seperti enggan menghampiriku. Lalu kubayangkan saja Indah berada di sampingku,


lengkap dengan aroma manisnya dan sentuhan lembutnya.


***


Aku mengetuk pintu


kamar dan tak lama kemudian sosok yang paling aku rindukan menyambutku. Segera saja


kukurung tubuhnya ke dalam pelukanku. Rasanya seperti bertahun-tahun tidak


bertemu. Aku sangat mencintai wanita ini. Namun tubuhku terasa tidak enak.


Indah menggunakan


pakaian andalannya di malam hari, tanktop putih dan celana pendek pink. Ia


tidak suka mengenakan daster karena tampak seperti emak-emak katanya. Dan kalau


pakai celana pendek, lebih mudah bergerak. Bagiku, pakaian jenis ini membuatku


sulit menahan diri. Ingin menyerangnya saat ini juga.


“Sudah makan malam


belum, Ken?” Tanyanya dengan suara lembut.


“Mau makan kamu aja.”


Bisikku di telinganya, tak lupa aku sedikit menggigit cuping telinganya.


“Ah, geli.” Ia


“Aku beres-beres dulu


ya, terus mandi. Nggak usah disiapkan makan malam. Kami tadi sudah makan nasi


bungkus.” Kataku. Lalu tas ranselku kuletakkan di lantai, kuambil pakaian dari


lemari dan handuk dari jemuran handuk. Indah membuka ranselku dan memilah-milah


barang-barangku. Aku tersenyum melihatnya. Tahukah dirinya, perhatian kecil


seperti itu bisa membuatku semakin mencintainya.


Selepas mandi aku


merasakan ada yang aneh di tubuhku. Seluruh tubuhku terasa gatal-gatal dan


perutku menjadi mual. Bahkan di tanganku mulai terlihat ruam-ruam berwarna


merah. Aku keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk.


“In, tolong periksa di


badanku, kenapa gatal-gatal semua ya?” Aku mendekati Indah yang sedang


mengumpulkan pakaian kotorku ke dalam keranjang. Ia kemudian memeriksa tubuhku


mulai dari leher, tangan, dada, punggung dan kaki.


“Ken, merah-merah


semua. Rasanya bagaimana?”


“Gatal. Gatal sekali.


Perutku juga mual, rasanya ingin muntah.”


“Kamu seperti orang


terkena alergi. Apa kamu alergi makanan?”


“Seingatku aku nggak


pernah alergi makanan apapun.”


“Obat mungkin. Kamu mengonsumsi


obat?” Aku menggeleng sembari menggaruk-garuk telingaku yang mulai terasa gatal

__ADS_1


dan panas. “Kamu makan apa tadi?”


“Tadi sore aku makan


nasi bungkus. Pakai ikan tongkol.”


“Itu mungkin. Ikan


tongkol.”


“Biasanya nggak apa-apa


makan ikan tongkol.”


“Mungkin ikan


tongkolnya kurang segar. Jadi kadar histaminnya tinggi, kamu jadi alergi. Ayo


kita ke dokter aja. Kamu pakai baju dulu.” Indah segera berganti pakaian


mengenakan celana jeans panjang dan kaus biru berlengan panjang. Aku pun segera


berpakaian.


“Aku antar pakai Omer


ya? Aku nggak bisa mengendarai mobil.” Ah iya, aku baru ingat, Indah belum


pernah aku ajarkan menyetir mobil. Tak apalah diantar menggunakan motor. Tapi


pasti aneh ya, lelaki tinggi besar begini dibonceng cewek mungil macam Indah.


Aku tidak bisa protes karena rasa gatal ini bisa menggangguku. Lebih baik aku


menjadi penumpang yang menurut.


Kami turun menuju ke


lantai satu dengan beriringan.


“BIK JANET....” Indah


berteriak dengan suara nyaring.


“Iya Non.” Dengan tergopoh-gopoh


Bik Janet menghampiri kami dengan ponsel tergenggam di tangannya. Suara – suara


masih terdengar dari ponselnya. Pasti si Bibik ini sendang streaming drakor.


“Bik, kami mau ke


dokter ya.”


“Siapa yang sakit Non?


Apa Non mau ngecek kehamilan.”


“Ish, bibik apaan sih?


Aku mau nganter Kenan. Tuh lihat badannya merah-merah dan gatal-gatal.


Sepertinya kena alergi, Bik.”


“Ya ampun Aden...


sampai begitu? Itu mukanya sudah mulai bengkak pula.” Bik Janet menatap horor


ke arahku. Segera saja aku melihat tampilanku di depan cermin. Astaga dragon,


bengkaknya gila nih. Indah ikut-ikutan menatapku dengan tatapan horor. Terlihat


kecemasan dari pancaran wajahnya.


Indah tergesa-gesa


membuka pintu garasi dan mengeluarkan motor. Tiba-tiba saja suara klakson mobil


inova hitam mengejutkan kami. Kaca jendela terbuka dan muncullah sosok Mas Danu


di sana.


“Mau ke mana In,


malam-malam begini?” Teriaknya dari mobil.


“Mau mengantar Kenan ke


dokter mas.”


Mendengar jawaban


Indah, Mas Danu segera menawarkan diri.


“Sudah, aku antar saja,


daripada malam-malam begini kalian naik motor.” Indah yang panik segera saja


menyetujui ajakan Mas Danu. Tanpa sungkan ia menarik tanganku dan berjalan ke


arah mobil mas Danu. Dengan canggung aku pun mengikuti langkah cepatnya.


Aku membayangkan suasana kikuk di dalam mobil nanti.

__ADS_1


Apa yang akan kami katakan jika Mas Danu bertanya tentang kami?


***


__ADS_2