
SELAMAT MEMBACA
KENAN POV
Tidak tenang rasanya
meninggalkan Indah karena ada kegiatan fieldtrip ke beberapa buah pabrik
pengolahan makanan di tempat yang jauh dari rumah. Kami menginap selama semalam. Semalam tanpa
kehadiran Indah di sisisku membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ingin
sekali aku melakukan video call ketika malam hari, namun tidak memungkinkan
karena signal yang tidak stabil dan juga kami berempat berada di dalam kamar.
Aku kecanduan menghirup
aroma tubuh Indah, sentuhan kulitnya, sapaannya yang lembut, dan yang paling
membuat ketagihan adalah ciumannya yang bisa menerbangkanku ke langit. Semakin
mengingatnya, aku semakin merindukannya. Bisa tidak ya, di-skip dulu field trip
kali ini? Seperti iklan di channel youtube.
Malam ini keinginan
untuk menyapa wajahnya pun aku urungkan. Maka aku keluar kamar dan menelepon
Indah. Mungkin dengan mendengar suaranya bisa sedikit mengobati rinduku.
Kenan : “Sayang... “
(Aku menyapanya ketika suaranya terdengar di seberang)
Indah : “Hallo Kenan.”
Kenan : “Lagi apa In?”
Indah : “Biasa,
mengerjakan skripsi.”
Kenan : “Di mana?”
Indah : “Di ruang
kerja. Biar nggak takut, aku nyalakan lagu keras-keras. Nanti kalau mau tidur
juga lampunya aku nyalakan saja, agar terang benderang. Hehe...”
Kenan : “Hehe... tidur
di kamar Bik Janet aja kalau takut.”
Indah : “Nggak ah.
Nanti dia streaming drakor di kamarnya. Jadinya malah nggak tidur.”
Kenan : “Jangan terlalu
malam tidurnya yah.”
Indah : “Kenapa baru
nelepon, Ken?”
Kenan : “Oh, jadi
pengen ditelepon nih? Kamu nungguin telepon dariku? Bilang aja kalau pengen
ditelepon.”
Indah : “Hem....
katanya kamu kangen, nggak ketemu sehari.”
Kenan : “Siapa yang
bilang kangen? Aku tadi bilang mau nelepon kamu.”
Indah : “Ih Kenan,
nggak lucu tahu?”
Kenan : “Iya, tapi aku
memang kangen sama kamu.”
Indah : “Hallo... hallo
... hallo ....”
Kenan : “Hallo... hallo
... hallo ....”
Dasar dodol ! Signal
jelek ini tidak bisa diajak bekerja sama dengan orang yang lagi kangen. Aku
hanya bisa menarik nafas dalam, meredam kekesalanku. Sabar, besok juga ketemu.
__ADS_1
Kembali kulangkahkan
kakiku dengan berat menuju ke kamar. Seperti tidak yakin, aku akan bisa tidur nyenyak
malam ini. Mengirimkan pesan teks kepada Indah juga bukan solusi yang baik,
bisa mengganggu Indah yang sedang mengerjakan tugasnya. Mendengar ia bercerita
bahwa ia sedikit takut mengerjakan tugas di ruang kerja, membuatku ingin segera
terbang ke sana. Katanya malam ini ia akan berusaha tidur di kamar kami
walaupun aku tidak ada di sana, belajar berani katanya.
Kulihat ketiga temanku
yang berada di kamar telah terlelap karena waktu menunjukkan hampir pukul 12.
Tapi sayang, mataku ini sulit untuk terpejam. Kucoba berbagai metode yang
sering digunakan orang-orang untuk mendatangkan kantuk. Namun rasa kantuk
seperti enggan menghampiriku. Lalu kubayangkan saja Indah berada di sampingku,
lengkap dengan aroma manisnya dan sentuhan lembutnya.
***
Aku mengetuk pintu
kamar dan tak lama kemudian sosok yang paling aku rindukan menyambutku. Segera saja
kukurung tubuhnya ke dalam pelukanku. Rasanya seperti bertahun-tahun tidak
bertemu. Aku sangat mencintai wanita ini. Namun tubuhku terasa tidak enak.
Indah menggunakan
pakaian andalannya di malam hari, tanktop putih dan celana pendek pink. Ia
tidak suka mengenakan daster karena tampak seperti emak-emak katanya. Dan kalau
pakai celana pendek, lebih mudah bergerak. Bagiku, pakaian jenis ini membuatku
sulit menahan diri. Ingin menyerangnya saat ini juga.
“Sudah makan malam
belum, Ken?” Tanyanya dengan suara lembut.
“Mau makan kamu aja.”
Bisikku di telinganya, tak lupa aku sedikit menggigit cuping telinganya.
“Ah, geli.” Ia
“Aku beres-beres dulu
ya, terus mandi. Nggak usah disiapkan makan malam. Kami tadi sudah makan nasi
bungkus.” Kataku. Lalu tas ranselku kuletakkan di lantai, kuambil pakaian dari
lemari dan handuk dari jemuran handuk. Indah membuka ranselku dan memilah-milah
barang-barangku. Aku tersenyum melihatnya. Tahukah dirinya, perhatian kecil
seperti itu bisa membuatku semakin mencintainya.
Selepas mandi aku
merasakan ada yang aneh di tubuhku. Seluruh tubuhku terasa gatal-gatal dan
perutku menjadi mual. Bahkan di tanganku mulai terlihat ruam-ruam berwarna
merah. Aku keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk.
“In, tolong periksa di
badanku, kenapa gatal-gatal semua ya?” Aku mendekati Indah yang sedang
mengumpulkan pakaian kotorku ke dalam keranjang. Ia kemudian memeriksa tubuhku
mulai dari leher, tangan, dada, punggung dan kaki.
“Ken, merah-merah
semua. Rasanya bagaimana?”
“Gatal. Gatal sekali.
Perutku juga mual, rasanya ingin muntah.”
“Kamu seperti orang
terkena alergi. Apa kamu alergi makanan?”
“Seingatku aku nggak
pernah alergi makanan apapun.”
“Obat mungkin. Kamu mengonsumsi
obat?” Aku menggeleng sembari menggaruk-garuk telingaku yang mulai terasa gatal
__ADS_1
dan panas. “Kamu makan apa tadi?”
“Tadi sore aku makan
nasi bungkus. Pakai ikan tongkol.”
“Itu mungkin. Ikan
tongkol.”
“Biasanya nggak apa-apa
makan ikan tongkol.”
“Mungkin ikan
tongkolnya kurang segar. Jadi kadar histaminnya tinggi, kamu jadi alergi. Ayo
kita ke dokter aja. Kamu pakai baju dulu.” Indah segera berganti pakaian
mengenakan celana jeans panjang dan kaus biru berlengan panjang. Aku pun segera
berpakaian.
“Aku antar pakai Omer
ya? Aku nggak bisa mengendarai mobil.” Ah iya, aku baru ingat, Indah belum
pernah aku ajarkan menyetir mobil. Tak apalah diantar menggunakan motor. Tapi
pasti aneh ya, lelaki tinggi besar begini dibonceng cewek mungil macam Indah.
Aku tidak bisa protes karena rasa gatal ini bisa menggangguku. Lebih baik aku
menjadi penumpang yang menurut.
Kami turun menuju ke
lantai satu dengan beriringan.
“BIK JANET....” Indah
berteriak dengan suara nyaring.
“Iya Non.” Dengan tergopoh-gopoh
Bik Janet menghampiri kami dengan ponsel tergenggam di tangannya. Suara – suara
masih terdengar dari ponselnya. Pasti si Bibik ini sendang streaming drakor.
“Bik, kami mau ke
dokter ya.”
“Siapa yang sakit Non?
Apa Non mau ngecek kehamilan.”
“Ish, bibik apaan sih?
Aku mau nganter Kenan. Tuh lihat badannya merah-merah dan gatal-gatal.
Sepertinya kena alergi, Bik.”
“Ya ampun Aden...
sampai begitu? Itu mukanya sudah mulai bengkak pula.” Bik Janet menatap horor
ke arahku. Segera saja aku melihat tampilanku di depan cermin. Astaga dragon,
bengkaknya gila nih. Indah ikut-ikutan menatapku dengan tatapan horor. Terlihat
kecemasan dari pancaran wajahnya.
Indah tergesa-gesa
membuka pintu garasi dan mengeluarkan motor. Tiba-tiba saja suara klakson mobil
inova hitam mengejutkan kami. Kaca jendela terbuka dan muncullah sosok Mas Danu
di sana.
“Mau ke mana In,
malam-malam begini?” Teriaknya dari mobil.
“Mau mengantar Kenan ke
dokter mas.”
Mendengar jawaban
Indah, Mas Danu segera menawarkan diri.
“Sudah, aku antar saja,
daripada malam-malam begini kalian naik motor.” Indah yang panik segera saja
menyetujui ajakan Mas Danu. Tanpa sungkan ia menarik tanganku dan berjalan ke
arah mobil mas Danu. Dengan canggung aku pun mengikuti langkah cepatnya.
Aku membayangkan suasana kikuk di dalam mobil nanti.
__ADS_1
Apa yang akan kami katakan jika Mas Danu bertanya tentang kami?
***