
SELAMAT MEMBACA
Kenan POV
Pagi hari nan cerah di
hari Sabtu menyambut hatiku yang sedang bahagia. Pukul setengah enam pagi aku memulai
aktivitasku dengan jogging bersama Indah. Satu jam kemudian kami telah menyelesaikan acara jogging di
seputaran komplek perumahan kami. Indah ikut menemaniku karena ia tidak mau
cewek – cewek di depan kost yang menemaniku jika tidak ada penjagaan dari
Indah.
Ah Indah, ada-ada saja.
Wajahnya yang cantik
merona merah dan ada titik – titik keringat di dahinya. Hidung dan dagunya juga
terlihat berkilat karena keringat. Namun terlihat cantik.
“Bi...” Indah bersuara
ketika berada di dalam kamar kami. Kepadaku kah ia berbicara? Kalau tidak salah
dengar, ia menyebut ‘Bi’. Apa maksudnya
ya?
Aku mendongakkan kepala
menatap ke arahnya dengan tatapan bertanya.
“Iya, maksudnya kamu,
Ken. Aku panggil Hubby mulai sekarang. Bi itu panggilan singkat dari ‘Hubby’.”
Katanya lagi. Ia berbicara sembari tersenyum manis ke arahku. Rambut
keritingnya yang terurai berkibar-kibar diterpa angin dari AC kamar.
“Oh.” Kataku. Aku
menggeser berdiriku sehingga berada di dekatnya. “Terima kasih, sayang. Aku
merasa spesial.” Tanganku terulur mengusap puncak kepalanya.
Cup... kecupan singkat
mendarat di pipiku.
“Hem... mulai berani
menggoda sekarang ya.” Ia tergelak dan berlari menuju kamar mandi.
***
“Bibik masak nasi
goreng sea food, Den.” Kata Bik Janet sembari menyiapkan hidangan di meja
makan. Kami, aku dan Indah, tidak pernah pilih-pilih menentukan masakan. Apapun
kami makan.
“Aden sudah nggak
alergi lagi kan?” Tambah Bik Janet.
__ADS_1
“Enggak Bik, yang dulu
itu alergi karena ikannya jelek.” Kataku lagi. Siapa yang bisa menolak nasi
goreng seafood buatan Bik Janet? Sedapnya nomer satu.
“Bik, masak apa nih?”
Indah berjalan menghampiri kami di ruang makan.
“Nasi goreng sea food,
Non.” Kata Bik Janet. Tangannya masih sibuk meletakkan piring kosong dan gelas
di atas meja makan.
“Hem... pantas saja...
aromanya bikin laper. Nasi goreng Bik Janet juara pokoknya.” Indah mengacungkan
jempolnya di hadapannya. “Ayo Bi, sarapan.” Ajaknya disertai tatapannya ke
arahku. ‘Bi’... jadi inilah panggilanku sekarang. Menurut Indah, dalam bahasa
Korea, Bi juga berarti hujan.
Kami berdua duduk
berhadapan sembari menghabiskan sarapan. Tiba-tiba saja dering ponsel Bik Janet
mengagetkan kami. Ponselnya tertinggal di meja makan.
Indah menjulurkan
kepalanya untuk melihat layar ponsel. “Bik Janet, mimpi apa sih? Cowok sekeren
ini menelepon pagi-pagi. Ini di layarnya tulisannya Lee Min Ho, lho.” Indah berteriak memanggil Bik Janet.
Dengan canggung Bik
“Aku juga mau Bik, kenalan sama Lee Min Ho, biar bisa ditelepon.”
“Hehe... ini tukang
somay di depan kompleks, Non. Lee Min Ho Kawe.” Bik Janet segera melarikan diri
menjauh dari kami. Sementara Indah tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya obrolan
apaan sih ini? Aku tidak mengerti. Indah masih tidak menghentikan tawanya.
Bahkan terlihat keluar air mata dari sudut matanya.
Apanya yang lucu ya?
“Non, bibik pergi hari
ini boleh?” Tanya Bik Janet kepada Indah ketika mereka bertemu di dapur.
Setelah menyelesaikan sarapan kami, Indah membereskan piring kotor dengan
membawanya ke dapur. Aku tidak lagi mendengar pembicaraan mereka.
Langkahku kuarahkan
menuju ke ruang keluarga. Mataku menangkap keberadaan remote televisi, sebentar
kemudian jari-jari ini telah lincah menari-nari mencari program acara yang enak
dilihat.
“Bibik pergi dulu Den.”
__ADS_1
Bik Janet menghampiriku. Sontak aku terkejut melihat penampilannya, celana
jeans, kaus putih lengan panjang dan outer jeans sepanjang lutut. Belum pernah
aku melihat penampilannya yang sangat kasual seperti ini. Biasanya ia
mengenakan rok panjang dan blousenya.
“Bik Janet mau pacaran,
Bi.” Tiba-tiba saja Indah telah berdiri di sampingku dengan tangan terlipat.
Suaranya menghentikan keterkejutanku.
“Oh, iya Bik. Boleh.
Tapi ingat ya, anak gadis nggak boleh pulang malam-malam. Maksimal jam 11 ya
Bik.” Jawabku. Ia mengangguk patuh, lalu memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi kami. Aku menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu.
“Ck... Bik Janet keren
kan?” Indah menhempaskan pantatnya duduk di sampingku. Sikunya
menyenggol-nyenggol tanganku.
“Kamu penata gayanya?” Tanyaku lagi.
“Iya, aku suruh pakai
baju itu. Biar kelihatan lebih muda. Pacarnya kan brondong.” Tangannya menjulur
mengambil keripik kentang dari toples yang berada di pangkuanku.
“Seperti aku ya?”
Tanyaku spontan.
“Haha... iya Bi.
Seperti aku dan kamu. Aku harus menyesuaikan diri berpenampilan seperti kamu,
biar nggak kelihatan tua.”
“Hanya tiga tahun,
sayang. Bukan 10 tahun, nggak beda-beda amat lah.” Indah tertawa mendengar
jawabanku. Usia hanya sebuah angka bagiku. Tiga tahun bukanlah jarak yang
terlalu jauh. Lagi pula Indah terlihat lebih muda dari umurnya.
“Mau ngapain kita hari
ini, Bi?” Tanya Indah kepadaku. Mulutnya masih dipenuhi dengan keripik kentang.
Hari ini ia memakai hot pants berwarna biru dan kaus hitam berlengan pendek.
“Kamu nggak kerja?” Lanjutnya lagi.
“Aku mau nempel-nempel
aja sama kamu, sayang.” Aku mencondongkan tubuhku hingga kepalaku menempel di
bahunya. “Mumpung Bik Janet nggak ada, aku ingin makan kamu.”
“Ish... “ Indah
mendorong tubuhku menjauh. “Jangan di sinilah.”
"Kalau di kamar boleh ya?" Aku mengedipkan sebelah mataku. Kulihat semburat merah muncul di wajah putih istriku.
__ADS_1
"Boleh ya?" Tanyaku lagi.
Indah memilih berlari menghindariku daripada menjawab pertanyaanku.