THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
44. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Kenan POV


Pagi hari nan cerah di


hari Sabtu menyambut hatiku yang sedang bahagia. Pukul setengah enam pagi aku memulai


aktivitasku dengan jogging bersama Indah. Satu jam kemudian kami  telah menyelesaikan acara jogging di


seputaran komplek perumahan kami. Indah ikut menemaniku karena ia tidak mau


cewek – cewek di depan kost yang menemaniku jika tidak ada penjagaan dari


Indah.


Ah Indah, ada-ada saja.


Wajahnya yang cantik


merona merah dan ada titik – titik keringat di dahinya. Hidung dan dagunya juga


terlihat berkilat karena keringat. Namun terlihat cantik.


“Bi...” Indah bersuara


ketika berada di dalam kamar kami. Kepadaku kah ia berbicara? Kalau tidak salah


dengar, ia menyebut  ‘Bi’. Apa maksudnya


ya?


Aku mendongakkan kepala


menatap ke arahnya dengan tatapan bertanya.


“Iya, maksudnya kamu,


Ken. Aku panggil Hubby mulai sekarang. Bi itu panggilan singkat dari ‘Hubby’.”


Katanya lagi. Ia berbicara sembari tersenyum manis ke arahku. Rambut


keritingnya yang terurai berkibar-kibar diterpa angin dari AC kamar.


“Oh.” Kataku. Aku


menggeser berdiriku sehingga berada di dekatnya. “Terima kasih, sayang. Aku


merasa spesial.” Tanganku terulur mengusap puncak kepalanya.


Cup... kecupan singkat


mendarat di pipiku.


“Hem... mulai berani


menggoda sekarang ya.” Ia tergelak dan berlari menuju kamar mandi.


***


“Bibik masak nasi


goreng sea food, Den.” Kata Bik Janet sembari menyiapkan hidangan di meja


makan. Kami, aku dan Indah, tidak pernah pilih-pilih menentukan masakan. Apapun


kami makan.


“Aden sudah nggak


alergi lagi kan?” Tambah Bik Janet.

__ADS_1


“Enggak Bik, yang dulu


itu alergi karena ikannya jelek.” Kataku lagi. Siapa yang bisa menolak nasi


goreng seafood buatan Bik Janet? Sedapnya nomer satu.


“Bik, masak apa nih?”


Indah berjalan menghampiri kami di ruang makan.


“Nasi goreng sea food,


Non.” Kata Bik Janet. Tangannya masih sibuk meletakkan piring kosong dan gelas


di atas meja makan.


“Hem... pantas saja...


aromanya bikin laper. Nasi goreng Bik Janet juara pokoknya.” Indah mengacungkan


jempolnya di hadapannya. “Ayo Bi, sarapan.” Ajaknya disertai tatapannya ke


arahku. ‘Bi’... jadi inilah panggilanku sekarang. Menurut Indah, dalam bahasa


Korea, Bi juga berarti hujan.


Kami berdua duduk


berhadapan sembari menghabiskan sarapan. Tiba-tiba saja dering ponsel Bik Janet


mengagetkan kami. Ponselnya tertinggal di meja makan.


Indah menjulurkan


kepalanya untuk melihat layar ponsel. “Bik Janet, mimpi apa sih? Cowok sekeren


ini menelepon pagi-pagi. Ini di layarnya tulisannya Lee Min Ho, lho.” Indah berteriak memanggil Bik Janet.


Dengan canggung Bik


“Aku juga mau Bik, kenalan sama Lee Min Ho, biar bisa ditelepon.”


“Hehe... ini tukang


somay di depan kompleks, Non. Lee Min Ho Kawe.” Bik Janet segera melarikan diri


menjauh dari kami. Sementara Indah tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya obrolan


apaan sih ini? Aku tidak mengerti. Indah masih tidak menghentikan tawanya.


Bahkan terlihat keluar air mata dari sudut matanya.


Apanya yang lucu ya?


“Non, bibik pergi hari


ini boleh?” Tanya Bik Janet kepada Indah ketika mereka bertemu di dapur.


Setelah menyelesaikan sarapan kami, Indah membereskan piring kotor dengan


membawanya ke dapur. Aku tidak lagi mendengar pembicaraan mereka.


Langkahku kuarahkan


menuju ke ruang keluarga. Mataku menangkap keberadaan remote televisi, sebentar


kemudian jari-jari ini telah lincah menari-nari mencari program acara yang enak


dilihat.


“Bibik pergi dulu Den.”

__ADS_1


Bik Janet menghampiriku. Sontak aku terkejut melihat penampilannya, celana


jeans, kaus putih lengan panjang dan outer jeans sepanjang lutut. Belum pernah


aku melihat penampilannya yang sangat kasual seperti ini. Biasanya ia


mengenakan rok panjang dan blousenya.


“Bik Janet mau pacaran,


Bi.” Tiba-tiba saja Indah telah berdiri di sampingku dengan tangan terlipat.


Suaranya menghentikan keterkejutanku.


“Oh, iya Bik. Boleh.


Tapi ingat ya, anak gadis nggak boleh pulang malam-malam. Maksimal jam 11 ya


Bik.” Jawabku. Ia mengangguk patuh, lalu memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi kami. Aku menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu.


“Ck... Bik Janet keren


kan?” Indah menhempaskan pantatnya duduk di sampingku. Sikunya


menyenggol-nyenggol tanganku.


“Kamu penata  gayanya?” Tanyaku lagi.


“Iya, aku suruh pakai


baju itu. Biar kelihatan lebih muda. Pacarnya kan brondong.” Tangannya menjulur


mengambil keripik kentang dari toples yang berada di pangkuanku.


“Seperti aku ya?”


Tanyaku spontan.


“Haha... iya Bi.


Seperti aku dan kamu. Aku harus menyesuaikan diri berpenampilan seperti kamu,


biar nggak kelihatan tua.”


“Hanya tiga tahun,


sayang. Bukan 10 tahun, nggak beda-beda amat lah.” Indah tertawa mendengar


jawabanku. Usia hanya sebuah angka bagiku. Tiga tahun bukanlah jarak yang


terlalu jauh. Lagi pula Indah terlihat lebih muda dari umurnya.


“Mau ngapain kita hari


ini, Bi?” Tanya Indah kepadaku. Mulutnya masih dipenuhi dengan keripik kentang.


Hari ini ia memakai hot pants berwarna biru dan kaus hitam berlengan pendek.


“Kamu nggak kerja?” Lanjutnya lagi.


“Aku mau nempel-nempel


aja sama kamu, sayang.” Aku mencondongkan tubuhku hingga kepalaku menempel di


bahunya. “Mumpung Bik Janet nggak ada, aku ingin makan kamu.”


“Ish... “ Indah


mendorong tubuhku menjauh. “Jangan di sinilah.”


"Kalau di kamar boleh ya?" Aku mengedipkan sebelah mataku. Kulihat semburat merah muncul di wajah putih istriku.

__ADS_1


"Boleh ya?" Tanyaku lagi.


Indah memilih berlari menghindariku daripada menjawab pertanyaanku.


__ADS_2