THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
16. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹


Sebulan kemudian ....


Siang, pukul 12.


Seorang perawat mengantarkan makanan menggunakan troli.


“Selamat siang mbak.


Ini menu untuk makan siang ya.”


“Oh ya, terima kasih


mbak. Tolong diletakkan di meja saja.” Sahut Indah dari tempat tidurnya.


Biasanya Kenan yang


menerima nampan berisi makanan itu, namun saat ini suaminya itu masih


meringkuk, tertidur di atas sofa. Indah tidak berani membangunkannya. Kenan


terlihat lelah. Sudah dua malam Kenan menemainya di kamar Rumah Sakit ini.


Dengan sabar Kenan merawat Indah yang harus dirawat karena sakit Thypus. Sejak


hari pernikahan itu, mereka belum juga kembali ke rumah karena Indah diminta


dokter harus rawat inap di rumah sakit.


Indah beringsut dari


tempat tidurnya. Perlahan dicobanya untuk menggapai meja tempat diletakkannya


nampan berisi makanan. Gerakannya terbatas karena tangan kirinya dipasang


infus. Pelan-pelan ditariknya ujung nampan yang dapat dicapai oleh tangannya.


Srek... srek... suara tarikannya menimbulkan bunyi dan mengganggu Kenan yang


tertidur lelap.


“Sudah datang


makanannya? Kenapa kamu tidak membangunkanku? Sini kubantu.” Kenan beranjak


dari sofa. Ia menggambil nampan dengan kedua tangannya dan dibawanya menuju


kursi yang terletak di samping tempat tidur Indah.


“Kamu lagi tidur. Aku


nggak mau mengganggu.”


“Aku suami kamu, Indah.


Kalau nggak minta tolong denganku, kamu mau minta tolong siapa?”


“Iya, tapi kamu lelah.”


“Sudahlah, ayo makan,


supaya kamu cepat sembuh.” Kenan menyedokkan makanan dan menyuapkannya pada


mulut Indah.


Indah tidak lagi protes.


Ia memakan makanan itu dengan diam. Diliriknya Kenan, matanya terlihat lelah


karena ada kantung mata di wajahnya. Rambut dan bajunya juga kusut. Indah


memperkirakan, tubuh suaminya pasti juga pegal-pegal karena dua malam ini ia


tidur di sofa. Pasti rasanya sangat tidak nyaman. Atau mungkin malah terasa


sakit. Indah jadi merasa bersalah. Lelaki itu kini harus merawatnya karena


statusnya sekarang adalah suaminya.


“Ken, aku mau pipis.”


Indah berkata dengan ragu-ragu.


“Sini kubantu. Kamu

__ADS_1


sudah bisa berjalan kan?”


“Iya.”


Ken mengambil tabung


infus yang tergantung di tiang penyangga. Ia kemudian memapah tubuh Indah turun


dari tempat tidur dan menuntunnya menuju kamar mandi. Ia menyerahkan botol


infus itu kepada Indah. Indah menerima botol itu dan masuk ke dalam kamar


mandi. Setelah pintu kamar mandi ditutup, Ken berkata, “Kalau kesulitan, bilang


saja. Jangan sungkan.” Ken tidak mendengar Indah menjawab apapun. Ia


menyimpulkan Indah tidak kesulitan.


“In, aku mau keluar


sebentar, mau makan. Kamu tidak apa-apa?”


“Iya, pergilah. Aku


sudah merasa lebih baik hari ini.”


“Aku tidak akan lama.


Aku segera kembali.” Ken keluar dari kamar Indah.


Hari ini Indah merasa


jauh lebih baik daripada kemarin. Kemarin ia tidur seharian, mungkin karena


pengaruh  obat dari dokter. Ia tidak


sempat memperhatikan keadaan Ken. Hari ini ia baru melihat keadaan Ken yang


jauh dari kata baik. Wajah yang lelah, rambut acak-acakan, bulu-bulu halus di


wajahnya juga mulai tumbuh. Berati sudah beberapa hari ni Ken tidak sempat


bercukur. Kaus hitam lengan pendek dan celana panjang coklat yang ia pakai


Mungkin juga ia tidak sempat mengambil baju ganti di rumah.


Orang tua Ken tidak


dapat menunggu Indah karena setelah acara pernikahan itu, mereka bertolak ke Singapura.


Keduanya mengurus kepentingan bisnisnya yang tidak dapat ditinggalkan. Sesekali


Jenny, adiknya Ken, datang menjenguknya, tetapi waktu itu Indah tidak dalam


posisi sadar dengan kehadiran orang-orang yang menjenguknya. Rasa kantuknya


mengalahkan segalanya.


 Indah masih merasa canggung dengan status


barunya sebagai seorang istri. Walaupun Ken merawatnya dengan sabar, tetapi


masih ada rasa aneh yang mengganggunya. Ken yang biasanya memanggil Indah


dengan sebutan ‘Kakak Jelek’ kini berubah menyebut ‘aku, kamu dan namanya


Indah.’ Mungkin perlu waktu untuk terbiasa mendengarnya.


***


Seorang dokter muda


tinggi maskulin, berwajah ramah, dan berkacamata datang ke kamar Indah. Seperti


biasa, pagi ini ada visit dokter. Dokter itu ditemani oleh seorang perawat


laki-laki yang membawa catatan. Ia mencatat beberapa data dari ucapan dokter


muda itu. Ini adalah hari kelima Indah berada di rumah sakit.


“Selamat pagi.” Kata


pak dokter dengan senyum ramahnya. dr Andri, begitu nama yang tertera di jas


putihnya.

__ADS_1


“Selamat pagi dokter.”


Jawab Indah diiringi dengan senyum ramahnya.


“Bagaimana keadaannya,


mbak Indah?”


“Hari ini jauh terasa


lebih baik, pak dokter.”


“Apakah masih ada


keluhan?”


“Tidak ada pak dokter.


Apakah sudah boleh pulang?”


“Baik, kita lihat dulu


hasil cek terakhir. Nanti akan dikabarkan oleh perawat kalau mbak Indah sudah


boleh pulang. Tapi jangan lupa, kalau sudah di rumah makanan harus dijaga,


tidak boleh pedas, asam, dan tidak bersantan ya. Nanti kalau sudah pulih, baru


boleh makan lagi.”


“Iya dokter.”


“Nanti saya resepkan


obat untuk diminum di rumah, kalau hari ini pulang.”


“Baik pak dokter.


Terima kasih.”


Dr Andri dan perawat


keluar dari pintu, bersamaan dengan Ken yang akan masuk ke dalam. Sebelum


masuk, Ken mengambil kesempatan untuk berbicara kepada dokter muda itu di luar.


Indah tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Ia terlalu gembira mendengar


kata pulang tadi.


“Ken, kemungkinan aku


sudah bisa pulang.”


“Kamu merasa sudah


sehat?”


“Iya. Badanku sudah lebih


enakan. Aku juga tidak merasa selalu mengantuk seperti kemarin. Kamu darimana


Ken? Apa kamu sudah mandi? Kamu belum ganti baju dari kemarin. Apa kamu nggak


bawa baju ganti?”


“Hem.... tampaknya kamu


sudah sembuh, In. Pagi ini kamu sudah sangat cerewet.” Ken tersenyum mendengar


ocehan dari Indah. Ocehan di pagi ini terdengar indah, seperti nama istrinya


ini. Itu menyatakan bahwa pagi ini istrinya telah sehat seperti sedia kala.


***


Siang hari, pukul 1.


Pak Idrus, sopir keluarga Smith menjemput Indah dan Ken di rumah sakit. Setelah


Ken membereskan usuran administrasi, ia membantu pak Idrus mengangkat


barang-barang dari kamar rumah sakit menuju mobil.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2