
🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹
Sebulan kemudian ....
Siang, pukul 12.
Seorang perawat mengantarkan makanan menggunakan troli.
“Selamat siang mbak.
Ini menu untuk makan siang ya.”
“Oh ya, terima kasih
mbak. Tolong diletakkan di meja saja.” Sahut Indah dari tempat tidurnya.
Biasanya Kenan yang
menerima nampan berisi makanan itu, namun saat ini suaminya itu masih
meringkuk, tertidur di atas sofa. Indah tidak berani membangunkannya. Kenan
terlihat lelah. Sudah dua malam Kenan menemainya di kamar Rumah Sakit ini.
Dengan sabar Kenan merawat Indah yang harus dirawat karena sakit Thypus. Sejak
hari pernikahan itu, mereka belum juga kembali ke rumah karena Indah diminta
dokter harus rawat inap di rumah sakit.
Indah beringsut dari
tempat tidurnya. Perlahan dicobanya untuk menggapai meja tempat diletakkannya
nampan berisi makanan. Gerakannya terbatas karena tangan kirinya dipasang
infus. Pelan-pelan ditariknya ujung nampan yang dapat dicapai oleh tangannya.
Srek... srek... suara tarikannya menimbulkan bunyi dan mengganggu Kenan yang
tertidur lelap.
“Sudah datang
makanannya? Kenapa kamu tidak membangunkanku? Sini kubantu.” Kenan beranjak
dari sofa. Ia menggambil nampan dengan kedua tangannya dan dibawanya menuju
kursi yang terletak di samping tempat tidur Indah.
“Kamu lagi tidur. Aku
nggak mau mengganggu.”
“Aku suami kamu, Indah.
Kalau nggak minta tolong denganku, kamu mau minta tolong siapa?”
“Iya, tapi kamu lelah.”
“Sudahlah, ayo makan,
supaya kamu cepat sembuh.” Kenan menyedokkan makanan dan menyuapkannya pada
mulut Indah.
Indah tidak lagi protes.
Ia memakan makanan itu dengan diam. Diliriknya Kenan, matanya terlihat lelah
karena ada kantung mata di wajahnya. Rambut dan bajunya juga kusut. Indah
memperkirakan, tubuh suaminya pasti juga pegal-pegal karena dua malam ini ia
tidur di sofa. Pasti rasanya sangat tidak nyaman. Atau mungkin malah terasa
sakit. Indah jadi merasa bersalah. Lelaki itu kini harus merawatnya karena
statusnya sekarang adalah suaminya.
“Ken, aku mau pipis.”
Indah berkata dengan ragu-ragu.
“Sini kubantu. Kamu
__ADS_1
sudah bisa berjalan kan?”
“Iya.”
Ken mengambil tabung
infus yang tergantung di tiang penyangga. Ia kemudian memapah tubuh Indah turun
dari tempat tidur dan menuntunnya menuju kamar mandi. Ia menyerahkan botol
infus itu kepada Indah. Indah menerima botol itu dan masuk ke dalam kamar
mandi. Setelah pintu kamar mandi ditutup, Ken berkata, “Kalau kesulitan, bilang
saja. Jangan sungkan.” Ken tidak mendengar Indah menjawab apapun. Ia
menyimpulkan Indah tidak kesulitan.
“In, aku mau keluar
sebentar, mau makan. Kamu tidak apa-apa?”
“Iya, pergilah. Aku
sudah merasa lebih baik hari ini.”
“Aku tidak akan lama.
Aku segera kembali.” Ken keluar dari kamar Indah.
Hari ini Indah merasa
jauh lebih baik daripada kemarin. Kemarin ia tidur seharian, mungkin karena
pengaruh obat dari dokter. Ia tidak
sempat memperhatikan keadaan Ken. Hari ini ia baru melihat keadaan Ken yang
jauh dari kata baik. Wajah yang lelah, rambut acak-acakan, bulu-bulu halus di
wajahnya juga mulai tumbuh. Berati sudah beberapa hari ni Ken tidak sempat
bercukur. Kaus hitam lengan pendek dan celana panjang coklat yang ia pakai
Mungkin juga ia tidak sempat mengambil baju ganti di rumah.
Orang tua Ken tidak
dapat menunggu Indah karena setelah acara pernikahan itu, mereka bertolak ke Singapura.
Keduanya mengurus kepentingan bisnisnya yang tidak dapat ditinggalkan. Sesekali
Jenny, adiknya Ken, datang menjenguknya, tetapi waktu itu Indah tidak dalam
posisi sadar dengan kehadiran orang-orang yang menjenguknya. Rasa kantuknya
mengalahkan segalanya.
Indah masih merasa canggung dengan status
barunya sebagai seorang istri. Walaupun Ken merawatnya dengan sabar, tetapi
masih ada rasa aneh yang mengganggunya. Ken yang biasanya memanggil Indah
dengan sebutan ‘Kakak Jelek’ kini berubah menyebut ‘aku, kamu dan namanya
Indah.’ Mungkin perlu waktu untuk terbiasa mendengarnya.
***
Seorang dokter muda
tinggi maskulin, berwajah ramah, dan berkacamata datang ke kamar Indah. Seperti
biasa, pagi ini ada visit dokter. Dokter itu ditemani oleh seorang perawat
laki-laki yang membawa catatan. Ia mencatat beberapa data dari ucapan dokter
muda itu. Ini adalah hari kelima Indah berada di rumah sakit.
“Selamat pagi.” Kata
pak dokter dengan senyum ramahnya. dr Andri, begitu nama yang tertera di jas
putihnya.
__ADS_1
“Selamat pagi dokter.”
Jawab Indah diiringi dengan senyum ramahnya.
“Bagaimana keadaannya,
mbak Indah?”
“Hari ini jauh terasa
lebih baik, pak dokter.”
“Apakah masih ada
keluhan?”
“Tidak ada pak dokter.
Apakah sudah boleh pulang?”
“Baik, kita lihat dulu
hasil cek terakhir. Nanti akan dikabarkan oleh perawat kalau mbak Indah sudah
boleh pulang. Tapi jangan lupa, kalau sudah di rumah makanan harus dijaga,
tidak boleh pedas, asam, dan tidak bersantan ya. Nanti kalau sudah pulih, baru
boleh makan lagi.”
“Iya dokter.”
“Nanti saya resepkan
obat untuk diminum di rumah, kalau hari ini pulang.”
“Baik pak dokter.
Terima kasih.”
Dr Andri dan perawat
keluar dari pintu, bersamaan dengan Ken yang akan masuk ke dalam. Sebelum
masuk, Ken mengambil kesempatan untuk berbicara kepada dokter muda itu di luar.
Indah tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Ia terlalu gembira mendengar
kata pulang tadi.
“Ken, kemungkinan aku
sudah bisa pulang.”
“Kamu merasa sudah
sehat?”
“Iya. Badanku sudah lebih
enakan. Aku juga tidak merasa selalu mengantuk seperti kemarin. Kamu darimana
Ken? Apa kamu sudah mandi? Kamu belum ganti baju dari kemarin. Apa kamu nggak
bawa baju ganti?”
“Hem.... tampaknya kamu
sudah sembuh, In. Pagi ini kamu sudah sangat cerewet.” Ken tersenyum mendengar
ocehan dari Indah. Ocehan di pagi ini terdengar indah, seperti nama istrinya
ini. Itu menyatakan bahwa pagi ini istrinya telah sehat seperti sedia kala.
***
Siang hari, pukul 1.
Pak Idrus, sopir keluarga Smith menjemput Indah dan Ken di rumah sakit. Setelah
Ken membereskan usuran administrasi, ia membantu pak Idrus mengangkat
barang-barang dari kamar rumah sakit menuju mobil.
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1