THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
20. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹


Saat matahari masih mengintip


malu-malu, Kenan telah bersiap-siap menjalani rutinitas seperti biasanya, yaitu


berlari pagi. Kali ini ia tidak ingin sendirian. Ia ingin mengajak istrinya


agar mulai hidup sehat. Selain itu ia juga hendak mengenalkan lingkungan


sekitar rumah mereka kepada Indah. Sangat dibutuhkan untuk mengenali


lingkungannya, karena kita hidup tidak sendirian. Ingat, saudara yang terdekat


adalah tetangga. Jadi mulailah dengan mengenal tetangga kanan dan kiri lebih


baik.


“In, bangun. Ayo lari


pagi.”


“Hem...” Indah menutupi


wajahnya dengan bantal ketika merasakan tubuhnya digoncang-goncangkan.


“Ayo, sekalian jalan


pagi, biar kenal dengan lingkungan sekitar.”


“His... masih subuh,


Ken.”


“Ayo, biar sehat.”


Kenan menarik kedua


tangan Indah dan memaksanya bangun.”


“Hoah...” Indah menguap


lebar dengan mengangkat kedua tangannya ketika posisinya sudah duduk. Kembali


kaos putih itu terangkat menunjukkan pusar dan perutnya. Kenan menelan ludah


melihat keseksian Indah. “Nggak usah mandi dulu yah.” Katanya.


“Cuci muka sama sikat


gigi, sana. Aku tunggu di bawah. Bajunya aku siapkan di kamar mandi.” Kata


Kenan. Saking semangatnya mau lari pagi dengan istrinya, Kenan sudah menyiapkan


tiga stel baju training untuk Indah. Karena dilihatnya Indah ini tidak terlalu


suka berolah raga. Tentu saja dia tidak memiliki pakaian olah raga. Bahkan


sepatunya pun sudah disiapkan Kenan. Kemarin ketika membeli kebutuhan rumah


tangga, ia sempatkan membeli sepatu olah raga untuk Indah.


Sekitar sepuluh menit


menunggu Indah, akhirnya Kenan mendapati istrinya itu turun dari lantai atas.


Ia mengenakan training berwarna coklat muda dan sepatu berwarna putih.


“Ken, semuanya baru


ini, dari atas sampai bawah.” Indah tersenyum senang. Ia pun menghampiri Kenan


dan berjalan keluar dari rumah.


Lingkungan perumahan


mereka ternyata banyak dihuni oleh dosen dan rumah kost mahasiswa. Di seberang


rumah ada kost wanita dan di sebelahnya kost pria. Sementara di sebelah Barat


rumah Kenan dan Indah ada rumah dosen yang juga mempunyai kamar untuk dikostkan


kepada mahasiswa. Sedangkan di sebelah timur, mereka bertetangga dengan


keluarga dosen juga. Ayah dan ibunya dosen, dan dua anaknya ada yang menjadi


dosen.


Mereka bedua berlari


pagi ke arah pintu keluar perumahan di sebelah Utara.


“Ken, jangan


cepat-cepat. Kakimu panjang. Kakiku pendek susah menyesuaikannya. Tunggu dong.”


Kata Indah. Ia berusaha mengikuti Kenan, tetapi nafasnya terasa


tersengal-sengal. Dua langkah kami Indah sama juga dengan satu langkah kaki


Kenan. Apalagi Indah bukanlah orang yang senang berolah raga dengan berlari


pagi. Tidak pernah ada agenda kegiatannya untuk berlari pagi. Sekarang ia harus


mengikuti Kenan dengan program berlari pagi lima kali seminggu. Aduh,


sebenarnya Indah tidak yakin akan mampu mengikutinya. Tapi untuk hari pertama,


baiklah ia menuruti keinginan suaminya.


Kenan menghentikan


larinya dan mengunggu Indah yang tertinggal di belakangnya.


“Ini jalan masuk ke


perumahan kita yang lewat Utara, In. Kalau yang lewat Selatan kan kemarin kita


bolak balik lewat sana.” Kenan menerangkan setelah istrinya menyusul.


“Kalau lewat Selatan


horor yah, ada kuburannya.” Indah bergidik ngeri. “Eh, ada yang jualan sarapan.


Dekat juga dengan tempat kita.” Indah menunjuk ke arah penjual yang sedang

__ADS_1


sibuk melayani pembeli. Para penjual itu hanya berjualan menggunakan meja dan


beberapa rak. Berarti mereka hanya berjualan sebentar. Mungkin hanya untuk


sarapan, jam 7 pagi biasanya para pedagang telh menyelesaikan jualannya.


Pelanggan  tidak ada yang makan di


tempat, namun dibungkus untuk dimakan di rumah. Ada nasi kuning, nasi uduk, dan


beberapa meter di utaranya ada penjual gudeg. Agaknya penjual gudeg yang paling


banyak pembelinya. Sepertinya banyak orang menyukai gudeg.


Indah melihat ada yang


berbeda dengan para pembeli. Kebanyakan yang membeli nasi nasi kuning adalah


pria muda. Mereka terlihat menggoda penjualnya. Sedangkan pembeli nasi uduk dan


gudeg adalah dari semua kalangan. Indah memperhatikan lagi, si penjual nasi


kuning. Oh, pantas saja dikerubungi pria muda. Tenyata penjualnya Mbak cantik


berambut panjang dengan baju yang agak ketat membalut tubuh seksinya. Bisa aja


si Mbaknya cari peluang.


Eh, tiba-tiba Mbak


cantik menatap Kenan dan menyapa, “Cari sarapan nasi kuning mas?” Kenan segera


menggeleng dan berlalu begitu saja. Lha ini, Indah yang berdiri di dekat Mbak


cantik tidak disapa, dilirik pun tidak.


“Embaknya naksir kamu,


Kenan.” Kata Indah menyenggol lengan Kenan.


“Biasa aja, banyak yang


naksir.” Kenan berkata dengan cuek, tanpa menatap Indah. Ia kembali berlari.


“Dih... pe de banget


jadi orang.” Indah mengerucutkan bibirnya. Melihat itu Kenan berbalik


menghampiri Indah lagi. Ia pun menarik tangan istrinya dan mengajak berlari


lagi.


Hampir satu jam lamanya


Indah dan Kenan keliling komplek. Mereka kembali ke rumah saat menjelang pukul


enam. Mentari telah bersinar semakin terang. Membuat mereka berdua terbelalak


melihat pemandangan di depan rumah mereka, tepatnya di kost seberang rumah.


Penghuni kostnya sedang berlalu lalang di halaman kost. Ternyata penghuninya


cantik-cantik. Pantas saja Kenan memilih membeli rumah di sini, batin Indah.


“Ken, kamu milih beli


“Enggaklah. Aku malah


nggak tahu kalau di seberang itu kost putri. Kan papi yang beli, lewat agen


property. Aku tinggal masuk saja. Kenapa, kamu cemburu?” Kenan masuk rumah


tanpa menunggu jawaban.


“Siapa juga yang


cemburu.” Indah lirih berkata. Seolah ia berbicara kepad dirinya sendiri.


“Selamat pagi Non.


Kalau mau sarapan, bibik sudah siapkan nasi goreng.” Bik Janet menyapa dan


menawarkan nasi goreng yang aromanya telah tercium sejak membuka pintu


rumah.


“Iya bik. Nanti aku


makan. Mau mandi dulu. Bik, Kenan kalau pagi minumnya apa ya?”


“Minum kopi pakai gula


aren, Non. Non Indah mau buatin suami ya?” Bik Janet bertanya, tak lupa ia mengedipkan


sebelah matanya. Wih, bik Janet ini tau aja kalau Indah berusaha menjadi


seorang istri. Walaupun sebenarnya yang jadi pemicunya adalah si embak cantik


pejual nasi kuning dan embak-embak cantik di depan rumah mereka.


Indah pun membuatkan


kopi untuk Kenan sebelum ia menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Saat Indah telah berada


di kamar, Kenan baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit


pinggangnya dan sebagian tubuh yang masih basah. Glek... Indah menelan ludahnya


demi melihat roti sobek suaminya dan sedikit V line yang terekspose. Buru-buru


Indah mengambil pakaian dari lemari. “Ken, minum kopinya sudah aku siapkan di


bawah.” Kata Indah tergesa-gesa. Sekali lagi tanpa melihat suaminya yang


topless. Ia segera berlari ke kemar mandi dan tak sempat mendengar jawaban


Kenan.


Indah telah selesai


membersihkan diri dan berpakaian. Ia sedikit mengoleskan lipstik berwarna


peach, menggoreskan sedikit pensil alisnya, dan memakai maskara di bulu mata

__ADS_1


lentiknya. Berdandan sedikit ketika menemui dosen pembimbing tak apa kan?


Barangkali melihat wajah segar ini sang dosen ikut segar pikirannya dan


konsultasinya berjalan lancar. Begitu kira-kira pikiran Indah.


Indah segera turun


untuk sarapan bersama Ken. Kenan telah menunggu di depan meja makan sembari


membaca koran. Sejenak Kenan mengamati Indah yang telah duduk di hadapannya.


“Kamu dandan? Mau ke


mana?” Tanya Kenan menyelidik.


“Mau ke kampus. Yah


dandan sedikitlah Ken, masa polos gitu. Bikin mata yang lihat sepet.” Kata


Indah cuek. Ia telah memindahkan nasi goreng di piringnya dan piring Kenan.


“Acara apa di kampus?


Bukannya teori kuliahnya sudah habis?”


“Mau konsultasi bahan


seminar proposal dengan dosen pembimbing.”


“Oh, mau ketemu dosen


pembimbing? Nggak usah dandan gitu In. Minta digodain pak dosen?”


“Nggak tebel kok make


up yang aku pakai. Masih kelihatan flawless. Digodain siapa? Kamu ngarang deh.”


Indah mengerucutkan bibirnya.


“Itu, minta digodain


dosen kamu yang masih muda itu.” Kenan mulai menyuapkan nasi goreng ke


mulutnya. Namun ia masih melihat Indah dengan tatapan datar.


“Mas Danu maksud kamu?


Ye... kamu cemburu ya?” Indah terkekeh melambaikan tanggannya di hadapan Kenan.


“Santai ya, aku banyak yang naksir. Tapi udah taken. Nggak usah khawatir.


Nih...aku pakai terus cincin kawinnya.” Indah menunjukkan cincin yang tersemat


jari manisnya. Kenan mengendus jengkel.


“Nanti berangkatnya


bareng, pulangnya juga samaan.” Kenan berkata lagi.


“Eh, aku sama Omer


aja.”Indah menjawab Kenan.


“Omer siapa?”


“Yamah* Mi* Merah itu,


aku manggilnya Omer. Nanti aku pergi ke mana-mana lho Ken. Masa mau kamu antar


antar terus. Kamu kan juga kuliah nanti malah terganggu. Terus sorenya aku


ngasih les privat di dua tempat. Jadi banyak acara. Nggak papa kok, nggak usah


kamu antar.”


“Ya udah kalau kamu mau


naik motor saja. Kamu ngasih les privat?”


“Iya, lumayan, seminggu


tiga kali. Kan buat tambah-tambah karena aku nggak dapat bantuan dana lagi dari


orang tua, Ken. Dan juga persiapan kalau nanti sudah lulus dan belum langsung


kerja.”


“Oh begitu. Tapi


sekarang kamu tanggung jawab aku. Kalau kamu butuh apa-apa tinggal pakai ini.


Tapi aku nggak batasi kamu. Mau kerja juga nggak masalah. Yang penting kamu


senang dengan pekerjaan tambahan kamu. Bukan karena kekurangan uang ya. Kalau


butuh, kamu tinggal minta sama aku. Aku ini suami kamu.” Kenan memberikan


sebuah kartu kepada Indah. “Passwordnya nomor mahasiswa kamu.”


“Beneran ini Ken? Ehm...


tahu juga kamu nomor mahasiswaku. Terima kasih banyak ya. Boleh aku peluk?”


Indah berkata dengan manja.


Kenan mengangguk dengan


canggung. Indah pun memeluk Kenan dari belakang. Ia mengalungkan tangannya ke


leher Kenan. Kepalanya ditempelkan ke kepala Kenan dan dibisikkannya “Terima


kasih, Kenan.”


Tubuh Kenan menegang,


namun senang. Beruntung saja ia tidak tersedak. Sejujurnya ia kaget dengan


tingkah Indah pagi ini. Yah, mereka suami istri tetapi belum akrab.


Indah sama juga dengan


perempuan yang lainnya yah. Dikasih kartu langsung meleleh. Nggak musim lagi


dikasih bunga, nggak bisa untuk belanja.

__ADS_1


***


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2