
🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹
Saat matahari masih mengintip
malu-malu, Kenan telah bersiap-siap menjalani rutinitas seperti biasanya, yaitu
berlari pagi. Kali ini ia tidak ingin sendirian. Ia ingin mengajak istrinya
agar mulai hidup sehat. Selain itu ia juga hendak mengenalkan lingkungan
sekitar rumah mereka kepada Indah. Sangat dibutuhkan untuk mengenali
lingkungannya, karena kita hidup tidak sendirian. Ingat, saudara yang terdekat
adalah tetangga. Jadi mulailah dengan mengenal tetangga kanan dan kiri lebih
baik.
“In, bangun. Ayo lari
pagi.”
“Hem...” Indah menutupi
wajahnya dengan bantal ketika merasakan tubuhnya digoncang-goncangkan.
“Ayo, sekalian jalan
pagi, biar kenal dengan lingkungan sekitar.”
“His... masih subuh,
Ken.”
“Ayo, biar sehat.”
Kenan menarik kedua
tangan Indah dan memaksanya bangun.”
“Hoah...” Indah menguap
lebar dengan mengangkat kedua tangannya ketika posisinya sudah duduk. Kembali
kaos putih itu terangkat menunjukkan pusar dan perutnya. Kenan menelan ludah
melihat keseksian Indah. “Nggak usah mandi dulu yah.” Katanya.
“Cuci muka sama sikat
gigi, sana. Aku tunggu di bawah. Bajunya aku siapkan di kamar mandi.” Kata
Kenan. Saking semangatnya mau lari pagi dengan istrinya, Kenan sudah menyiapkan
tiga stel baju training untuk Indah. Karena dilihatnya Indah ini tidak terlalu
suka berolah raga. Tentu saja dia tidak memiliki pakaian olah raga. Bahkan
sepatunya pun sudah disiapkan Kenan. Kemarin ketika membeli kebutuhan rumah
tangga, ia sempatkan membeli sepatu olah raga untuk Indah.
Sekitar sepuluh menit
menunggu Indah, akhirnya Kenan mendapati istrinya itu turun dari lantai atas.
Ia mengenakan training berwarna coklat muda dan sepatu berwarna putih.
“Ken, semuanya baru
ini, dari atas sampai bawah.” Indah tersenyum senang. Ia pun menghampiri Kenan
dan berjalan keluar dari rumah.
Lingkungan perumahan
mereka ternyata banyak dihuni oleh dosen dan rumah kost mahasiswa. Di seberang
rumah ada kost wanita dan di sebelahnya kost pria. Sementara di sebelah Barat
rumah Kenan dan Indah ada rumah dosen yang juga mempunyai kamar untuk dikostkan
kepada mahasiswa. Sedangkan di sebelah timur, mereka bertetangga dengan
keluarga dosen juga. Ayah dan ibunya dosen, dan dua anaknya ada yang menjadi
dosen.
Mereka bedua berlari
pagi ke arah pintu keluar perumahan di sebelah Utara.
“Ken, jangan
cepat-cepat. Kakimu panjang. Kakiku pendek susah menyesuaikannya. Tunggu dong.”
Kata Indah. Ia berusaha mengikuti Kenan, tetapi nafasnya terasa
tersengal-sengal. Dua langkah kami Indah sama juga dengan satu langkah kaki
Kenan. Apalagi Indah bukanlah orang yang senang berolah raga dengan berlari
pagi. Tidak pernah ada agenda kegiatannya untuk berlari pagi. Sekarang ia harus
mengikuti Kenan dengan program berlari pagi lima kali seminggu. Aduh,
sebenarnya Indah tidak yakin akan mampu mengikutinya. Tapi untuk hari pertama,
baiklah ia menuruti keinginan suaminya.
Kenan menghentikan
larinya dan mengunggu Indah yang tertinggal di belakangnya.
“Ini jalan masuk ke
perumahan kita yang lewat Utara, In. Kalau yang lewat Selatan kan kemarin kita
bolak balik lewat sana.” Kenan menerangkan setelah istrinya menyusul.
“Kalau lewat Selatan
horor yah, ada kuburannya.” Indah bergidik ngeri. “Eh, ada yang jualan sarapan.
Dekat juga dengan tempat kita.” Indah menunjuk ke arah penjual yang sedang
__ADS_1
sibuk melayani pembeli. Para penjual itu hanya berjualan menggunakan meja dan
beberapa rak. Berarti mereka hanya berjualan sebentar. Mungkin hanya untuk
sarapan, jam 7 pagi biasanya para pedagang telh menyelesaikan jualannya.
Pelanggan tidak ada yang makan di
tempat, namun dibungkus untuk dimakan di rumah. Ada nasi kuning, nasi uduk, dan
beberapa meter di utaranya ada penjual gudeg. Agaknya penjual gudeg yang paling
banyak pembelinya. Sepertinya banyak orang menyukai gudeg.
Indah melihat ada yang
berbeda dengan para pembeli. Kebanyakan yang membeli nasi nasi kuning adalah
pria muda. Mereka terlihat menggoda penjualnya. Sedangkan pembeli nasi uduk dan
gudeg adalah dari semua kalangan. Indah memperhatikan lagi, si penjual nasi
kuning. Oh, pantas saja dikerubungi pria muda. Tenyata penjualnya Mbak cantik
berambut panjang dengan baju yang agak ketat membalut tubuh seksinya. Bisa aja
si Mbaknya cari peluang.
Eh, tiba-tiba Mbak
cantik menatap Kenan dan menyapa, “Cari sarapan nasi kuning mas?” Kenan segera
menggeleng dan berlalu begitu saja. Lha ini, Indah yang berdiri di dekat Mbak
cantik tidak disapa, dilirik pun tidak.
“Embaknya naksir kamu,
Kenan.” Kata Indah menyenggol lengan Kenan.
“Biasa aja, banyak yang
naksir.” Kenan berkata dengan cuek, tanpa menatap Indah. Ia kembali berlari.
“Dih... pe de banget
jadi orang.” Indah mengerucutkan bibirnya. Melihat itu Kenan berbalik
menghampiri Indah lagi. Ia pun menarik tangan istrinya dan mengajak berlari
lagi.
Hampir satu jam lamanya
Indah dan Kenan keliling komplek. Mereka kembali ke rumah saat menjelang pukul
enam. Mentari telah bersinar semakin terang. Membuat mereka berdua terbelalak
melihat pemandangan di depan rumah mereka, tepatnya di kost seberang rumah.
Penghuni kostnya sedang berlalu lalang di halaman kost. Ternyata penghuninya
cantik-cantik. Pantas saja Kenan memilih membeli rumah di sini, batin Indah.
“Ken, kamu milih beli
“Enggaklah. Aku malah
nggak tahu kalau di seberang itu kost putri. Kan papi yang beli, lewat agen
property. Aku tinggal masuk saja. Kenapa, kamu cemburu?” Kenan masuk rumah
tanpa menunggu jawaban.
“Siapa juga yang
cemburu.” Indah lirih berkata. Seolah ia berbicara kepad dirinya sendiri.
“Selamat pagi Non.
Kalau mau sarapan, bibik sudah siapkan nasi goreng.” Bik Janet menyapa dan
menawarkan nasi goreng yang aromanya telah tercium sejak membuka pintu
rumah.
“Iya bik. Nanti aku
makan. Mau mandi dulu. Bik, Kenan kalau pagi minumnya apa ya?”
“Minum kopi pakai gula
aren, Non. Non Indah mau buatin suami ya?” Bik Janet bertanya, tak lupa ia mengedipkan
sebelah matanya. Wih, bik Janet ini tau aja kalau Indah berusaha menjadi
seorang istri. Walaupun sebenarnya yang jadi pemicunya adalah si embak cantik
pejual nasi kuning dan embak-embak cantik di depan rumah mereka.
Indah pun membuatkan
kopi untuk Kenan sebelum ia menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Saat Indah telah berada
di kamar, Kenan baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit
pinggangnya dan sebagian tubuh yang masih basah. Glek... Indah menelan ludahnya
demi melihat roti sobek suaminya dan sedikit V line yang terekspose. Buru-buru
Indah mengambil pakaian dari lemari. “Ken, minum kopinya sudah aku siapkan di
bawah.” Kata Indah tergesa-gesa. Sekali lagi tanpa melihat suaminya yang
topless. Ia segera berlari ke kemar mandi dan tak sempat mendengar jawaban
Kenan.
Indah telah selesai
membersihkan diri dan berpakaian. Ia sedikit mengoleskan lipstik berwarna
peach, menggoreskan sedikit pensil alisnya, dan memakai maskara di bulu mata
__ADS_1
lentiknya. Berdandan sedikit ketika menemui dosen pembimbing tak apa kan?
Barangkali melihat wajah segar ini sang dosen ikut segar pikirannya dan
konsultasinya berjalan lancar. Begitu kira-kira pikiran Indah.
Indah segera turun
untuk sarapan bersama Ken. Kenan telah menunggu di depan meja makan sembari
membaca koran. Sejenak Kenan mengamati Indah yang telah duduk di hadapannya.
“Kamu dandan? Mau ke
mana?” Tanya Kenan menyelidik.
“Mau ke kampus. Yah
dandan sedikitlah Ken, masa polos gitu. Bikin mata yang lihat sepet.” Kata
Indah cuek. Ia telah memindahkan nasi goreng di piringnya dan piring Kenan.
“Acara apa di kampus?
Bukannya teori kuliahnya sudah habis?”
“Mau konsultasi bahan
seminar proposal dengan dosen pembimbing.”
“Oh, mau ketemu dosen
pembimbing? Nggak usah dandan gitu In. Minta digodain pak dosen?”
“Nggak tebel kok make
up yang aku pakai. Masih kelihatan flawless. Digodain siapa? Kamu ngarang deh.”
Indah mengerucutkan bibirnya.
“Itu, minta digodain
dosen kamu yang masih muda itu.” Kenan mulai menyuapkan nasi goreng ke
mulutnya. Namun ia masih melihat Indah dengan tatapan datar.
“Mas Danu maksud kamu?
Ye... kamu cemburu ya?” Indah terkekeh melambaikan tanggannya di hadapan Kenan.
“Santai ya, aku banyak yang naksir. Tapi udah taken. Nggak usah khawatir.
Nih...aku pakai terus cincin kawinnya.” Indah menunjukkan cincin yang tersemat
jari manisnya. Kenan mengendus jengkel.
“Nanti berangkatnya
bareng, pulangnya juga samaan.” Kenan berkata lagi.
“Eh, aku sama Omer
aja.”Indah menjawab Kenan.
“Omer siapa?”
“Yamah* Mi* Merah itu,
aku manggilnya Omer. Nanti aku pergi ke mana-mana lho Ken. Masa mau kamu antar
antar terus. Kamu kan juga kuliah nanti malah terganggu. Terus sorenya aku
ngasih les privat di dua tempat. Jadi banyak acara. Nggak papa kok, nggak usah
kamu antar.”
“Ya udah kalau kamu mau
naik motor saja. Kamu ngasih les privat?”
“Iya, lumayan, seminggu
tiga kali. Kan buat tambah-tambah karena aku nggak dapat bantuan dana lagi dari
orang tua, Ken. Dan juga persiapan kalau nanti sudah lulus dan belum langsung
kerja.”
“Oh begitu. Tapi
sekarang kamu tanggung jawab aku. Kalau kamu butuh apa-apa tinggal pakai ini.
Tapi aku nggak batasi kamu. Mau kerja juga nggak masalah. Yang penting kamu
senang dengan pekerjaan tambahan kamu. Bukan karena kekurangan uang ya. Kalau
butuh, kamu tinggal minta sama aku. Aku ini suami kamu.” Kenan memberikan
sebuah kartu kepada Indah. “Passwordnya nomor mahasiswa kamu.”
“Beneran ini Ken? Ehm...
tahu juga kamu nomor mahasiswaku. Terima kasih banyak ya. Boleh aku peluk?”
Indah berkata dengan manja.
Kenan mengangguk dengan
canggung. Indah pun memeluk Kenan dari belakang. Ia mengalungkan tangannya ke
leher Kenan. Kepalanya ditempelkan ke kepala Kenan dan dibisikkannya “Terima
kasih, Kenan.”
Tubuh Kenan menegang,
namun senang. Beruntung saja ia tidak tersedak. Sejujurnya ia kaget dengan
tingkah Indah pagi ini. Yah, mereka suami istri tetapi belum akrab.
Indah sama juga dengan
perempuan yang lainnya yah. Dikasih kartu langsung meleleh. Nggak musim lagi
dikasih bunga, nggak bisa untuk belanja.
__ADS_1
***
🌹🌹🌹🌹🌹