THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
46. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Kenan POV


Kami berdua berada di Cafe Hogwarts milikku. Sehari sebelumnya aku menemuinya di kampus untuk membuat janji. Setelah menghadiri seminar salah satu mahasiswanya di pagi hari, ia bersedia meluangkan waktu makan siangnya bersamaku. Dan di sinilah kami siang ini.


Wajahnya yang dewasa terlihat sabar mendengarkan penjelasanku. Ia bertahan tidak mengucapkan kata. Hanya anggukan, deheman dan sedikit perubahan raut wajah.


Tanggapannya ketika mendengarkan cerita, membuatku agak lega. Sebelumnya, aku begitu gugup menceritakannya. Tenggorokanku tercekat seperti ada yang menyumbat suaraku. Lalu sedikit lengkungan senyum di wajahnya, membuatku bertekad mengungkapkan semua.


Perbincangan kami ditemani sepiring steak daging sapi dan sepiring kentang goreng. Aku memilih jus mangga, sedangkan mas Danu jus alpukat.


Ia menghela nafas sebelum berucap. "Kenan, saya senang kamu bersikap terbuka dan menceritakan semuanya. Sejujurnya saya sangat terkejut."


"Maaf mas. Indah belum siap menceritakannya. Namun beberapa hari ini, dia mulai membuka diri, dan menceritakan kepada sahabat-sahabatnya. Saya rasa dia sudah siap. Jadi saya berinisiatif mengatakannya langsung kepada Mas Danu, sebelum Mas Danu tahu dari orang lain."


"Saya sedikit curiga dengan hubungan kalian ketika mengantarkanmu ke ke dokter." Mas Danu menyesap minumannya sedikit.


"Apa kalian saling mencintai?" Mas Danu menatapku tajam.


Dengan mantap kuanggukkan kepalaku. Aku ingat, pernyataan cinta dari mulut Indah beberapa hari yang lalu.


"Kamu berjanji akan membahagiakannya?" Manik matanya tak lepas memerangkap pandanganku.


"Iya mas. Saya akan selalu membahagiakannya." Jawabku tanpa ragu.


"Kalau begitu, saya tidak perlu khawatir melepasnya dengan ikhlas. Indah akan tetap aku anggap sebagai adikku. Dan kamu, suaminya, sama-sama kuanggap adik. Saya akan berbahagia untuk kalian. Kalau sesuatu yang buruk menimpa Indah, kamu orang pertama yang akan saya cari."


"Siap mas." Aku menangkap sedikit kegetiran dari suaranya. Rahangnya sedikit mengeras. Namun, bukan mas Danu namanya jika ia tidak segera menguasai dirinya. Raut wajahnya kembali datar dan dengan perlahan menghabiskan makanannya.


"Sekali lagi maaf mas, saya tidak menceritakannya sejak awal." Kataku lagi.


"It's okay." Dengan santai ia melanjutkan menandaskan isi piring dan minuman di gelasnya.


Seperempat bagian dalam diriku merasa lega. Satu persoalan sudah aku hadapi dan berakhir dengan baik.


Sebagai sesama pria, aku melihat dengan jelas rasa ketertarikan mas Danu terhadap Indah. Aku rasa, tindakanku untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, bisa segera menghentikan harapannya yang besar kepada Indah. Aku kagum melihat kebesaran hati mas Danu.


"Indah tahu kamu bertemu dengan saya?"

__ADS_1


Aku menggeleng.


"Apakah Indah berniat menjelaskannya langsung kepada saya?"


Aku mengedikkan bahu. "Tidak tahu mas. Namun ia pernah mengatakan akan menjelaskannya setelah skripsinya selesai. Karena takut berpengaruh terhadap nilainya."


Mas Danu tersenyum, "Apa saya terlihat seperti orang yang baperan?" Lalu ia terkekeh.


"Saya percaya, mas Danu sangat profesional."


Mas Danu akhirnya selesai menyantap makanannya. Ia menepuk bahuku. "Ok, terima kasih atas kejujuranmu dan terima kasih juga untuk traktirannya. Kebetulan saya masih ada kelas setengah jam lagi. Saya duluan."


Aku berdiri mengikuti mas Danu.


"Terima kasih atas waktunya dan pengertiannya mas. Lain waktu silahkan mpir ke cafe saya." Aku menjabat tangannya dan merasakan ketulusannya melalui genggaman tangannya.


"Ok. Lain kali saya mampir. Cafe yang unik, menunya enak, saya suka. Oh ya, saya ikut klub basket di kompleks perumahan kita, kalau kamu mau bergabung, dipersilahkan. Latihannya hari selasa malam dan kamis malam. Saya perhatikan kamu rajin olahraga." Kata mas Danu.


"Baik mas. Saya akan hubungi mas nanti. Sewaktu SMA saya aktif ikut basket mas. Saya akan bergabung." Ia tersenyum lalu memutar tubuhnya dan meninggalkanku.


***


Beberapa hari ini Kenan sangat sibuk. Ia bilang dalam seminggu ada lima kali praktikum. Selain itu setelah dari kampus, ia bekerja di cafenya. Akhir-akhir ini cafe sangat ramai pengunjung sehingga dibutuhkan tenaga tambahan.


Seandainya saja aku tidak disibukkan dengan skripsi, aku sangat senang bisa membantu Kenan di sana.


Hubunganku dengan Kenan baik-baik saja, kami semakin dekat. Kami tidak lagi sungkan untuk saling bercerita. Bahkan aku merasakan sangat membutuhkan sosoknya sebagai pendengar ceritaku.


Siang ini aku berada di kampus. Ada janji bertemu dengan dosen pembimbing 1 pukul 1. Beliau adalah pak Heri Sutanto. Dosen senior berumur menjelang 60an. Kulitnya kecokelatan, berambut keriting, tubuh tinggi agak gemuk, dan berkacamata. Beliau adalah dosen pengampu mata kuliah Mikrobiologi Pangan.


Kini aku duduk hormat di hadapannya, melihat tangannya yang membolak balik skripsiku yang telah mencapai bab IV yang berisi hasil dan pembahasan.


Tidak banyak coretan yang ia buat dalam berkasku. Sebelum ia memeriksa berkas, aku mendahuluinya dengan sedikit presentasi hasil penelitianku beberapa hari yang lalu. Ia mengajukan beberapa pertanyaan yang bisa kujawab. Ia juga menyampaikan beberapa pendapatnya yang menambah pengetahuanku.


Sosok pak Herri adalah dosen pembimbing yang tegas, serius, tetapi ia sangat baik dan tidak pernah menjatuhkan pendapatku. Empat kali aku menghadapnya dan aku mengagumi sosoknya.


"Anda bisa masuk ke bab berikutnya tentang kesimpulan, sesuai dengan pendapat yang telah diutarakan tadi. Selanjutnya, Anda dapat berkonsultasi dengan dosen pembimbing kedua. Dari saya sudah cukup."


"Baik pak. Terima kasih."

__ADS_1


"Pertemuan selanjutnya dengan saya setelah dosen pembimbing kedua acc. Anda tinggal menentukan jadwal ujian yang telah ditentukan bagian akademik. Sampai bertemu kembali di ruang sidang." Aku menyambut uluran tangan pak Herri dengan hangat.


Satu langkah telah kulalui. Kini aku akan menemui Mas Danu untuk konsultasi lebih lanjut.


Kakiku melangkah yakin melewati koridor kampus menuju ruang mas Danu. Baru saja aku hendak masuk, kulihat di pintunya, tertulis 'tidak ada'.


Petugas di depan ruang mas Danu memandangku, " Mau ketemu pak Danu?" tanyanya.


"Iya bu."


"Beliau masih mengajar sampai jam 3."


Aku melirik ke arloji di tangan, lima belas menit lagi.


" Boleh saya menunggu beliau di sini?" Tanyaku.


Tanganku memainkan ponsel untuk menghabiskan waktu. Kulihat ada notifikasi instagram. Kenan memfollow IG-ku. Aku pun follback.


Oh God, ia memposting foto muffin yang kubuat dua hari yang lalu dengan caption 'made by love ❤' dalam feednya. Kulihat ada ratusan like dan komen. Penasaran aku dengan followernya. Ternyata lebih dari 1.000k. Banyak juga. Apa dia sepopuler itu?


Mengingat captionnya membuat wajahku panas dan tak mampu menahan senyuman.


"Indah."


Sapaan bersuara berat itu mengejutkanku. Sontak aku berdiri dan mengangguk ke arahnya. " Mau ketemu saya?"


"Iya." jawabku masih berusaha menetralkan keterkejutanku.


"Ayo." ajaknya.


Aku mengikutunya masuk ke dalam ruangan. Hembusan ac seketika menerpa wajahku. Hemm.... sejuk.


"Duduk In." Aku segera duduk di sebuah kursi yang berada di depan meja mas Danu.


"Selamat ya, atas pernikahan kamu." Katanya.


Terima kasih. Eh iya, apa? Nggak salah dengar kan aku?


***

__ADS_1



__ADS_2