
SELAMAT MEMBACA
INDAH POV
Dua hari ini energiku
terkuras untuk melakukan penelitian di laboratorium. Aku mengambil penelitian
ke bidang mikrobiologi pangan. Sebelum melakukan test terhadap objek
penelitianku, aku melakukan preparasi peralatan dan bahan yang harus
dipersiapkan untuk penelitian. Selain dibantu oleh Arif dan Upil, petugas
laboratorium juga turut membantu kami. Kebetulan kami bertiga memilih topik
yang mirip sehingga preparasi dapat dilakukan bersama-sama. Untuk melakukan
beberapa test sampel yang menjadi objek penelitianku, dilakukan di laboratorium
mikrobiologi.
“Nggak kerasa ya, sudah
sore. Sudah jam 5 lewat, In.” Arif menyusun beberapa puluh cawan petridish ke
dalam sebuah rak. Dengan hati-hati dipindahkannya cawan yang telah terbungkus
kertas itu dari dalam autoclaf. Nantinya cawan petri ini akan diisi media untuk
menanam mikroorganisme, bayangkan saja seperti media tanah untuk menanam tumbuhan.
Setelah ditanam, biasanya cawan petri akan diletakkan ke dalam sebuah inkubator
yang telah diatur suhunya untuk melihat perkembangan mikroorganisme pada suhu
yang telah ditentukan. Autoclaf sendiri berbentuk seperti panci presto besar
yang berfungsi untuk mensterilisasi peralatan ataupun benda menggunakan suhu
dan tekanan tinggi.
Sedangkan aku masih
berkonsentrasi memeriksa peralatan berdasarkan ceklist yang telah aku buat,
seperti pengaduk, tabung reaksi, batang ose, dan tentunya lampu spiritus yang
harus terisi. Peralatan di laboratorium memang banyak dan rumit. Oleh sebab itu
tidak boleh ada satupun yang terlewatkan.
Ini gambar autoclave
Ini gambar peralatan di
lab mikrobiologi. Cawan petridish salah satunya.
“Nanti dulu Rif. Aku
masih mengecek peralatan kita. Jangan lupa kamu cek juga starter bakteri yang
telah kita murnikan.” Jawabku ketika hampir selesai memeriksa barang sesuai
dengan catatanku.
Upil sedang berdiri tak
jauh dari tempatku duduk, mempersiapkan mikroskop dan colony counter.
“Besok kita start dari
jam delapan pagi ya.” Kata Upil kemudian. Ia menghampiriku dan menepuk
pundakku. aku menjawab dengan menganggukan kepala. “Jangan telat Rif. Biar
besok nggak kemalaman pulang.” Upil juga mengingatkan Arif. Sementara Arif yang
telah selesai membereskan cawan petri mengacungkan jempolnya pertanda ia siap
untuk datang tepat waktu.
“In, kemarin aku dan
Arif lihat Kenan di warung sate Pak Sony. Asem banget, pura-pura nggak kenal
__ADS_1
dia sama kami. Mentang-mentang bawa ceweknya. Ceweknya langsung dipeluk,
ditutup gitu, kelihatan takut ketahuan. Heran deh, kalau kami lihat juga nggak
apa-apa kan? Nggak ada hubungannya dengan kami juga.” Upil bercerita kepadaku.
“Mungkin dia takut
ketahuan kita, karena ceweknya jelek.” Arif menambahkan sembari terkekeh.
“Iya juga sih.” Kini
Upil dan Arif tertawa bersama-sama.
Bagaimana denganku? Aku
mengatupkan bibir rapat-rapat. Aku tahu sekali, cewek yang dimaksudkan mereka
itu adalah aku. Kemarin, kami pergi membeli sate karena Bik Janet sedang mudik,
jadi tidak ada yang memasak di rumah. Kenan mengajakku makan sate. Kebetulan
tempat favorit mahasiswa adalah warung sate Pak Sony yang sudah terkenal
seantero kota. Pada saat di tempat parkir, kata Kenan ada temanku yang sedang
berada di sana. Ketika mereka beranjak untuk pulang, sontak Kenan menarikku ke
dalam pelukannya, bahkan menutupi seluruh mukaku dengan jaketnya. Aku tidak
mengira bahwa yang berada di sana adalah Arif dan Upil.
Aku berdiri, membuka
jas putihku, jas yang wajib digunakan pada saat berada di dalam lab. Lalu aku
melipatnya dan meletakkan di atas meja. Arif dan Upil yang masih menggunakan
jas putih, mengikutiku membuka jas dan melipatnya karena kami akan segera
pulang.
“Ehem... friends, aku
mau terus terang deh. Yang dipeluk Kenan itu adalah aku. Yang disembunyikan
berganti-ganti. Tentu saja tampang mereka terkejut. Bahkan Upil menutup
mulutnya dengan tangan kanannya, seperti menahan agar ia tidak mengeluarkan
suara dengan keras.
“Kamu selingkuh, In?”
Tanya Arif kemudian.
“Astaga, ya enggaklah.
Gila apa, aku selingkuh. Apa aku punya tampang selingkuh gitu?”
“Ya kan kamu sudah
bersuami. Kenapa peluk-pelukan sama Kenan? Terus ditutup Kenan seperti takut
kalau ketahuan? Itu kan yang namanya selingkuh. Kami jadi semakin curiga. Jangan
main-main dong dengan pernikahanmu, In.” Kini Upil berbicara lagi. Ya ampun,
mereka malah menyangka aku berselingkuh.
“Kenan itu suamiku,
friends.” Ucapku lagi.
“HAAAAA?” Kedua
sahabatku itu membulatkan matanya dengan mulut ternganga.
“Are you kidding me?”
Arif bertanya lagi.
“No. Kenan is my secret
brondong husband, Rif. Benar. Lihat deh, kalau nggak percaya, bentar lagi dia
jemput aku. Aku nggak sama Omer ini.” Dua hari ini aku tidak diperbolehkan
Kenan pergi dengan Omer karena ia takut jika aku pulang terlalu malam. Tidak
__ADS_1
baik menggunakan motor malam-malam, katanya. Ah, memang beda ya, perhatian
banget. Sebelumnya, aku terbiasa menggunakan motor ke manapun, bahkan
seringkali sampai larut malam. Apalagi kalau sudah kumpul bersama ketiga
sahabatku, pasti tidak kenal waktu.
“Brondong itu suami
kamu In?” Upil masih juga tidak percaya dengan penjelasanku.
“Iya.” Kataku lagi.
“INDAH, KAMU HUTANG
PENJELASAN.” Arif berkata dengan sangat keras. Aku berjengit mendengar suaranya
yang memenuhi ruang laboratorium yang tidak terlalu besar ini. Dan lebih
terkejut lagi ketika suara kenop pintu masuk diputar, lalu masuklah sosok yang
kami bicarakan sejak tadi, suami
brondongku.
Kenan masuk dengan
wajah datarnya, tanpa ekspresi apapun. Ia berjalan menghampiriku dengan langkah
panjangnya. Jangan tanyakan wajah Arif dan Upil yang semakin tercengang.
“Sudah selesai,
sayang?” Ehem... panggilan sayang ini sudah beberapa hari terdengar di
telingaku, namun rasanya masih sama, selalu membuat hatiku meleleh.
“Sudah Ken.” Kataku.
Segera saja aku membereskan barang-barangku dan mengambil sling bag berwarna
biru di atas meja.
“Perkenalkan
teman-teman, Kenan suamiku. Suami brondongku, Upil.” Kataku dengan menahan
tawa. Uh, lucu banget melihat tampang kedua temanku itu. Aku pun mengapit
lengan Kenan mengajaknya keluar dari ruangan. “Bye friends. See you tomorrow.”
Aku melambaikan tangan kiriku kepada mereka. Masih sempat kulihat Upil dan Arif
yang saling berpandangan keheranan. Aku yakin, mereka tidak akan tidur nyenyak
nanti malam. Pasti nanti salah satu dari mereka menghubungiku minta penjelasan
dariku.
“Lega kalau
teman-temanmu sudah tahu ya?” Tanya Kenan ketika kami telah sampai di mobil.
“Iya. Tapi tetap saja
susah sekali mereka mau percaya kalau kamu itu adalah suamiku. Malah mereka
bilang aku selingkuh dengan kamu. Ck, gila nggak?” Kenan terkekeh mendengar
ceritaku.
“Jadi mereka yang kamu
hindari kemarin sewaktu di warung Sate Pak Sony?” Tanyaku lagi.
“Iya. Karena itu mereka
nanya kamu?”
“Iya. Aku cerita karena
mereka menduga kamu malu memperlihatkan cewek yang bersamamu karena jelek. Ya
jelaslah aku mengaku kalau yang dipeluk adalah aku.” Mendengar ceritaku Kenan
tertawa terpingkal-pingkal. Sampai ia tidak sanggup menghidupkan mesin mobil.
Mungkin ada cicak di perutnya ya, tertawanya sampai seperti itu, Kenan.
__ADS_1