THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
38. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


INDAH POV


Dua hari ini energiku


terkuras untuk melakukan penelitian di laboratorium. Aku mengambil penelitian


ke bidang mikrobiologi pangan. Sebelum melakukan test terhadap objek


penelitianku, aku melakukan preparasi peralatan dan bahan yang harus


dipersiapkan untuk penelitian. Selain dibantu oleh Arif dan Upil, petugas


laboratorium juga turut membantu kami. Kebetulan kami bertiga memilih topik


yang mirip sehingga preparasi dapat dilakukan bersama-sama. Untuk melakukan


beberapa test sampel yang menjadi objek penelitianku, dilakukan di laboratorium


mikrobiologi.


“Nggak kerasa ya, sudah


sore. Sudah jam 5 lewat, In.” Arif menyusun beberapa puluh cawan petridish ke


dalam sebuah rak. Dengan hati-hati dipindahkannya cawan yang telah terbungkus


kertas itu dari dalam autoclaf. Nantinya cawan petri ini akan diisi media untuk


menanam mikroorganisme, bayangkan saja seperti media tanah untuk menanam tumbuhan.


Setelah ditanam, biasanya cawan petri akan diletakkan ke dalam sebuah inkubator


yang telah diatur suhunya untuk melihat perkembangan mikroorganisme pada suhu


yang telah ditentukan. Autoclaf sendiri berbentuk seperti panci presto besar


yang berfungsi untuk mensterilisasi peralatan ataupun benda menggunakan suhu


dan tekanan tinggi.


Sedangkan aku masih


berkonsentrasi memeriksa peralatan berdasarkan ceklist yang telah aku buat,


seperti pengaduk, tabung reaksi, batang ose, dan tentunya lampu spiritus yang


harus terisi. Peralatan di laboratorium memang banyak dan rumit. Oleh sebab itu


tidak boleh ada satupun yang terlewatkan.


Ini gambar autoclave



Ini gambar peralatan di


lab mikrobiologi. Cawan petridish salah satunya.



“Nanti dulu Rif. Aku


masih mengecek peralatan kita. Jangan lupa kamu cek juga starter bakteri yang


telah kita murnikan.” Jawabku ketika hampir selesai memeriksa barang sesuai


dengan catatanku.


Upil sedang berdiri tak


jauh dari tempatku duduk, mempersiapkan mikroskop dan colony counter.


“Besok kita start dari


jam delapan pagi ya.” Kata Upil kemudian. Ia menghampiriku dan menepuk


pundakku. aku menjawab dengan menganggukan kepala. “Jangan telat Rif. Biar


besok nggak kemalaman pulang.” Upil juga mengingatkan Arif. Sementara Arif yang


telah selesai membereskan cawan petri mengacungkan jempolnya pertanda ia siap


untuk datang tepat waktu.


“In, kemarin aku dan


Arif lihat Kenan di warung sate Pak Sony. Asem banget, pura-pura nggak kenal

__ADS_1


dia sama kami. Mentang-mentang bawa ceweknya. Ceweknya langsung dipeluk,


ditutup gitu, kelihatan takut ketahuan. Heran deh, kalau kami lihat juga nggak


apa-apa kan? Nggak ada hubungannya dengan kami juga.” Upil bercerita kepadaku.


“Mungkin dia takut


ketahuan kita, karena ceweknya jelek.” Arif menambahkan sembari terkekeh.


“Iya juga sih.” Kini


Upil dan Arif tertawa bersama-sama.


Bagaimana denganku? Aku


mengatupkan bibir rapat-rapat. Aku tahu sekali, cewek yang dimaksudkan mereka


itu adalah aku. Kemarin, kami pergi membeli sate karena Bik Janet sedang mudik,


jadi tidak ada yang memasak di rumah. Kenan mengajakku makan sate. Kebetulan


tempat favorit mahasiswa adalah warung sate Pak Sony yang sudah terkenal


seantero kota. Pada saat di tempat parkir, kata Kenan ada temanku yang sedang


berada di sana. Ketika mereka beranjak untuk pulang, sontak Kenan menarikku ke


dalam pelukannya, bahkan menutupi seluruh mukaku dengan jaketnya. Aku tidak


mengira bahwa yang berada di sana adalah Arif dan Upil.


Aku berdiri, membuka


jas putihku, jas yang wajib digunakan pada saat berada di dalam lab. Lalu aku


melipatnya dan meletakkan di atas meja. Arif dan Upil yang masih menggunakan


jas putih, mengikutiku membuka jas dan melipatnya karena kami akan segera


pulang.


“Ehem... friends, aku


mau terus terang deh. Yang dipeluk Kenan itu adalah aku. Yang disembunyikan


berganti-ganti. Tentu saja tampang mereka terkejut. Bahkan Upil menutup


mulutnya dengan tangan kanannya, seperti menahan agar ia tidak mengeluarkan


suara dengan keras.


“Kamu selingkuh, In?”


Tanya Arif kemudian.


“Astaga, ya enggaklah.


Gila apa, aku selingkuh. Apa aku punya tampang selingkuh gitu?”


“Ya kan kamu sudah


bersuami. Kenapa peluk-pelukan sama Kenan? Terus ditutup Kenan seperti takut


kalau ketahuan? Itu kan yang namanya selingkuh. Kami jadi semakin curiga. Jangan


main-main dong dengan pernikahanmu, In.” Kini Upil berbicara lagi. Ya ampun,


mereka malah menyangka aku berselingkuh.


“Kenan itu suamiku,


friends.” Ucapku lagi.


“HAAAAA?” Kedua


sahabatku itu membulatkan matanya dengan mulut ternganga.


“Are you kidding me?”


Arif bertanya lagi.


“No. Kenan is my secret


brondong husband, Rif. Benar. Lihat deh, kalau nggak percaya, bentar lagi dia


jemput aku. Aku nggak sama Omer ini.” Dua hari ini aku tidak diperbolehkan


Kenan pergi dengan Omer karena ia takut jika aku pulang terlalu malam. Tidak

__ADS_1


baik menggunakan motor malam-malam, katanya. Ah, memang beda ya, perhatian


banget. Sebelumnya, aku terbiasa menggunakan motor ke manapun, bahkan


seringkali sampai larut malam. Apalagi kalau sudah kumpul bersama ketiga


sahabatku, pasti tidak kenal waktu.


“Brondong itu suami


kamu In?” Upil masih juga tidak percaya dengan penjelasanku.


“Iya.” Kataku lagi.


“INDAH, KAMU HUTANG


PENJELASAN.” Arif berkata dengan sangat keras. Aku berjengit mendengar suaranya


yang memenuhi ruang laboratorium yang tidak terlalu besar ini. Dan lebih


terkejut lagi ketika suara kenop pintu masuk diputar, lalu masuklah sosok yang


kami bicarakan sejak tadi,  suami


brondongku.


Kenan masuk dengan


wajah datarnya, tanpa ekspresi apapun. Ia berjalan menghampiriku dengan langkah


panjangnya. Jangan tanyakan wajah Arif dan Upil yang semakin tercengang.


“Sudah selesai,


sayang?” Ehem... panggilan sayang ini sudah beberapa hari terdengar di


telingaku, namun rasanya masih sama, selalu membuat hatiku meleleh.


“Sudah Ken.” Kataku.


Segera saja aku membereskan barang-barangku dan mengambil sling bag berwarna


biru di atas meja.


“Perkenalkan


teman-teman, Kenan suamiku. Suami brondongku, Upil.” Kataku dengan menahan


tawa. Uh, lucu banget melihat tampang kedua temanku itu. Aku pun mengapit


lengan Kenan mengajaknya keluar dari ruangan. “Bye friends. See you tomorrow.”


Aku melambaikan tangan kiriku kepada mereka. Masih sempat kulihat Upil dan Arif


yang saling berpandangan keheranan. Aku yakin, mereka tidak akan tidur nyenyak


nanti malam. Pasti nanti salah satu dari mereka menghubungiku minta penjelasan


dariku.


“Lega kalau


teman-temanmu sudah tahu ya?” Tanya Kenan ketika kami telah sampai di mobil.


“Iya. Tapi tetap saja


susah sekali mereka mau percaya kalau kamu itu adalah suamiku. Malah mereka


bilang aku selingkuh dengan kamu. Ck, gila nggak?” Kenan terkekeh mendengar


ceritaku.


“Jadi mereka yang kamu


hindari kemarin sewaktu di warung Sate Pak Sony?” Tanyaku lagi.


“Iya. Karena itu mereka


nanya kamu?”


“Iya. Aku cerita karena


mereka menduga kamu malu memperlihatkan cewek yang bersamamu karena jelek. Ya


jelaslah aku mengaku kalau yang dipeluk adalah aku.” Mendengar ceritaku Kenan


tertawa terpingkal-pingkal. Sampai ia tidak sanggup menghidupkan mesin mobil.


Mungkin ada cicak di perutnya ya, tertawanya sampai seperti itu, Kenan.

__ADS_1


__ADS_2